26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moratorium Hotel di Bali: Seberapa Penting?

Chusmeru by Chusmeru
September 19, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MENTERi Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Pariwisata dan Ekononomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno satu nada dan satu irama tentang moratorium pembangunan hotel di Bali.

Kedua menteri itu memandang Bali sudah tidak baik-baik saja. Luhut Panjaitan sempat mengeluarkan peringatan keras agar tidak ada lagi lahan persawahan yang digunakan untuk membangun akomodasi pariwisata. Tidak ada lagi orang membuat vila di sawah. Sawah biarlah sawah, supaya Bali jadi Bali yang unik (detikbali, 3 September 2024).

Selain itu, Luhut juga meminta agar pihak imigrasi dan Kepolisian Daerah Bali lebih tegas menyikapi turis asing yang berulah di Bali. Turis yang seperti itu harus langsung dideportasi dan dimasukkan ke daftar hitam agar tidak bisa kembali ke Indonesia.

Senada dengan Luhut, Menparekraf Sandiaga Uno bakal melakukan moratorium hotel untuk menjaga kualitas pariwisata Indonesia. Menurutnya, pemerintah sedang menggodok sejumlah kebijakan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas pariwisata di Tanah Air. Salah satunya penghentian konversi lahan pertanian hingga moratorium pembangunan hotel (CNBC Indonesia, 2 September 2024).

Menurut Sandiaga Uno, moratorium pembangunan hotel berdasarkan potensi kepadatan yang membuat situasi tidak aman dan tidak nyaman, khususnya di Bali Selatan. Terutama pembangunan hotel yang tidak memiliki aspek keberlanjutan serta penghentian konversi dari lahan pertanian menuju lahan komersial.

Tertinggal Kereta

Apa yang akan dilakukan Menko Marves dan Menparekraf sesungguhnya bukan barang baru. Sejak awal masyarakat, akademisi, dan pelaku pariwisata di Bali sudah mengusulkan moratorium pariwisata, termasuk pembangunan hotel dan sengkarut konversi lahan.

Gagasan kedua menteri itu merupakan kebijakan yang terlambat. Ibaratnya, Luhut dan Sandiaga tertinggal kereta cepat pariwisata. Bali dan pariwisatanya seperti kereta cepat yang berjalan tanpa masinis, zig-zag, banyak melenceng.

Sinyal dan rambu-rambu juga diabaikan kereta cepat pariwisata itu. Sementara penumpang kereta begitu berjubel. Akibatnya, pariwisata Bali menjadi sarat beban. Laju perkembangannya tak terkendali, dan dalam banyak kasus sering terjadi benturan kebijakan dan kepentingan.

Meski terlambat, kebijakan moratorium hotel dan larangan konversi lahan masih dianggap penting, karena dapat mencegah pariwisata Bali semakin porak-poranda. Kuncinya bukan ada pada kedua menteri yang sebentar lagi pensiun dari Kabinet Jokowi. Masyarakat, pemerintah daerah Bali, dan seluruh pemangku kepentingan pariwisata Bali perlu dilibatkan.

Dari Hulu ke Hilir

Memperbaiki pariwisata Bali yang kian menjurus rusak diperlukan langkah yang tepat, bukan hanya taktis semata. Kebijakan yang strategis juga perlu dirancang. Itu semua harus dimulai dari hulu, bukan mengatasi hilirnya saja.

Moratorium hotel adalah kebijakan di hilir yang dilakukan dengan keterpaksaan setelah Bali menyandang banyak masalah. Sementara kajian di hulunya tidak dilakukan sejak awal. Ini yang membuat pariwisata Bali seolah sulit untuk dibenahi.

Moratorium itu penting. Konservasi lahan pertanian juga penting. Akan tetapi lebih penting jika sebelum kebijakan itu diterapkan, dilakukan dulu kajian tentang daya dukung pariwisata Bali. Berapa sesungguhnya kemampuan Bali menerima kunjungan wisatawan dengan luas wilayahnya yang dimanfaatkan untuk bisnis pariwisata?

Berapa jumlah hotel dan vila, berapa jumlah kamar yang ideal bagi Bali? Kajian daya dukung seperti itu hingga kini belum dilakukan. Akibatnya, pembangunan hotel dan vila setiap tahun terus bertambah. Jumlah kamar hotel juga terus bertambah. Dan ketika Bali dituding overtourism, banyak pihak yang menampiknya; dengan alasan ketersediaan kamar hotel di Bali masih banyak.

Setali tiga uang dengan moratorium hotel, konversi lahan juga harus dikaji dari hulunya. Jika banyak persawahan yang hilang karena bisnis pariwisata, maka pertanyaannya mengapa masyarakat menjual sawahnya? Mengapa begitu mudah Subak disulap menjadi resort pariwisata? Sejauh mana pemerintah memiliki perangkat hukum yang kuat untuk melindungi Subak?

Jika sekarang baru berpikir untuk membuat aturan konversi lahan, maka sudah terlambat. Meski aturan itu sangat penting bagi perlindungan lahan pertanian maupun perkebunan agar tidak beralih fungsi menjadi lahan pariwisata.

Mentalitas Pejabat dan Masyarakat

Kondisi pariwisata Bali yang kian parah tak terlepas dari mentalitas pejabat pusat dan daerah, serta masayarakat Bali sendiri. Ketegasan pejabat yang berwenang dalam kebijakan pembangunan pariwisata sangat diragukan. Termasuk juga keseriusan untuk menata pariwisata Bali agar lebih baik.

Betapa tidak? Bagaimana mungkin wisatawan asing bisa dengan leluasa melakukan bisnis pariwisata di Bali dalam jangka waktu lama? Bagaimana bisa wisatawan asing memiliki vila dan menjualnya dengan harga murah?

Di mana ketegasan pejabat ketika tebing kapur dikeruk untuk pembangunan vila. Mengapa setelah viral di media, baru dilakukan upaya untuk menghentikan pembangunan itu? Celakanya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sandiaga Uno baru akan mengumpulkan data-data terkait pembangunan vila itu. Selama ini ke mana saja sang menteri itu?

Apa yang dilakukan pejabat pusat dan daerah ketika 5 dari 1.595 subak di Bali hilang pada tahun 2018? Data yang dimiliki Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali sungguh menyeramkan. Masifnya pembangunan dan alih fungsi lahan pertanian mengakibatkan sekitar 2.000 hektare sawah di Bali lenyap setiap tahun (detiktravel, 10 September 2024).

Konglomerat dan beberapa pejabat pusat di kementerian memiliki hotel dan vila di Bali. Harapannya, mereka memiliki prosedur perizinan pembangunan yang benar, tidak melanggar tata ruang, dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Andai pun tidak, apakah pejabat di Bali berani membatalkan perizinan dan menghentikan proses pembangunannya?

Mentalitas masyarakat pun patut dipertanyakan. Wacana moratorium yang dilontarkan pemerintah belum tentu didukung semua masyarakat, lantaran masih ada masyarakat yang menganggap bahwa moratorium itu bertentangan dengan hak perdata masayarakat, bertentangan dengan kebebasan masyarakat untuk memanfaatkan dan menjual lahannya.

Masih ada warga yang dengan berbagai alasan menjual lahan miliknya kepada investor untuk dibangun fasilitas pariwisata. Mereka tak berpikir tentang arti penting moratorium, tak mau tahu arti penting konservasi lahan.

Bagi mereka yang penting dapat uang, bisa buat rumah mewah, beli mobil bagus; dan ketika lahan yang mereka jual berdampak buruk pada lingkungan dan pariwisata, itu bukan urusan mereka. Pun ketika lahan mereka ternyata menjadi milik bule yang berbisnis di Bali, mereka tak peduli.

Sejatinya, masalah penting terkait moratorium dan konversi lahan bukan semata tekanan terhadap lingkungan. Lebih jauh lagi, berkaitan dengan citra pariwisata Bali dan Indonesia di mata dunia. Ini bisa merugikan bagi industri pariwisata Indonesia, namun akan menguntungkan bagi negara lain yang menjadi kompetitor Indonesia dalam bisnis pariwisata.

Kondisi pariwisata Bali akan menjadi “bulan-bulanan” bagi negara lain untuk promosi pariwisatanya. Tampaknya betul kata pemeo, merusak lebih mudah daripada membangun. Citra pariwisata yang terlanjur buruk perlu waktu lama untuk memperbaikinya. [T]

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Membedah Problematika Pariwisata Daerah
Digitalisasi Pariwisata: Tantangan dan Keniscayaan

Urgensi Penerapan ESG dalam Bisnis Pariwisata

Urgensi Penerapan ESG dalam Bisnis Pariwisata

Kasino di Bali: Perjudian dengan Aroma Pariwisata

Kasino di Bali: Perjudian dengan Aroma Pariwisata

Kontribusi MICE dalam Ekosistem Pariwisata

Kontribusi MICE dalam Ekosistem Pariwisata

Mengenal Pedesaan lewat Wisata “Live in”

Tags: moratorium hotelPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pura Segara Giri Simora Perekat 13 KK Warga Hindu Bali di Kabupaten Kaimana, Papua Barat

Next Post

Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San

Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co