25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan

Son Lomri by Son Lomri
August 13, 2024
in Ulas Rupa
Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan

Dek Geh atau Tegeh Maheri menari di atas monumen sapi duwe | Foto: tatkala.co

PAMERAN Seni Instalasi Partisipatif Teo-Ekologis Sampi Duwe karya I Nyoman “Polenk” Rediasa di Desa Tambakan, Kubutambahan, Buleleng, Selasa, 6 Agustus 2024, benar-benar dibuka dalam suasana sakral, mirip-mirip ritual dalam tradisi khas desa.

Kesakralan itu tak hanya terasa dari apa yang telah Polenk Rediasa perbuat pada tulang belulang sapi duwe itu, melainkan juga pada apa yang kemudian terjadi pada tulang sapi duwe itu. Tulang itu adalah sisa-sisa dari ritual adat istiadat yang tertinggal sejak puluhan tahun silam, barangkali ratusan tahun silam.

Ia mengumpulkan kembali tulang belulang bersama warga dalam membentuk karya seni instalasi. Mereka, baik Polenk maupun warga itu, adalah seniman. Dengan pendekatan partisipatif teo-ekologis, kiranya Polenk berhasil membawa suasana intim pada karyanya selain hubungannya dengan manusia di Desa Tambakan, pula masyarakat dengan leluhurnya melalui seni instalasi ini. Polenk sendiri adalah seniman yang lahir di Desa Tambakan.

Sebelum benar dipastikan karya itu diujikan dalam bentuk disertasi pada hari yang sama, karya itu juga dipersembahkan untuk masyarakat, dan bagaimana karya seni instalasi itu diresmikan dengan upacara tak biasa. Dalam satu waktu yang bersamaan ada pertunjukan tarian tubuh bisu, bisa disebut tari kontemporer, dan pembacaan syair-syair puisi terkait leluhur, alam, dan lingkungan sekitar.

Tegeh alias Dek Geh menrai di sela instalasi bambu dan tulang karya Polenk Rediasa | Foto: tatkala.co/Hizkia

Pameran ini kiranya bisa memperkuat akar tradisi di Desa Tambakan dengan seni instalasi karya Polenk. Dan, sebagai sebuah karya seni, karya Polenk ini memang terasa lain.. Maksudnya, lebih hidup, lebih punya jiwa, punya roh, juga kekuatan untuk menyihir.

Di tengah upacara misalnya, ada kleneng atau genta dibunyikan seperti pada upacara adat umumnya. Tegeh, atau bernama lengkap I Made Tegeh Okta Maheri, menari di sela-sela suara genta, dan tariannya bergerak mengikuti bentuk konstruk tanah yang bergelombang, menanjak dan miring. Ia menari seperti dibawa angin dan roh suci dari arah monumen sampi duwe yang berdiri dengan bentuk yang lebih besar karya Polenk itu.

Menyusuri bunyi lonceng dan mantra, air tirta yang terpercik ke tanah bersama doa, ia berjalan begitu teatrikalnya. Sebuah semiotis jika ia menari, menujukkan tubuhnya untuk leluhur, pula—mempersembahkan jika kehidupan adalah mengakar, mengikuti tanah dimana manusia dilahirkan dan dibesarkan bersama leluhur.

Tulang kepala sampi duwe dalam seni instalasi karya Polenk Rediasa | Foto: tatkala.co/Hizkia

Seni Instalasi Partisipatif Teo-Ekologis Sampi Duwe adalah bagian utama dari desertasi Polenk Rediasa untuk diuji, untuk mendapatkan gelar doktor dari kampusnya, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Setelah pameran dibuka, dan pertunjukkan dipertunjukkan, tim penguji dari ISI Denpasar langsung menggelar ujian tertutup. Hadir dalam tim salah satunya Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana.

***

Polenk dalam disertasinya ini, menambah rasa “hidup” dari sebuah tradisi—yang tak hanya terus dilakukan, tapi juga bagaimana pandangan masyarakat terhadap sebuah tradisi yang tidak bisa hanya diagungkan, melainkan juga mengakar sehingga orang melakukannya terus-menerus.

Dan, akar semacam itulah yang membaut Polenk, dengan  sangat dalam hendak menjelaskan melalui bahasa—dalam bentuk nyata seni instalasi ini. Di samping, karyanya akan dijumpai banyak wisatawan suatu hari nanti, karena seni instaladi itu memang akan jadi monumen yang berdiri terus di desa itu sepanjang waktu.

Ini bagus, karena tradisi masyarakat di sana akan lebih dikenal, tentunya—lebih terakar jelas ada kehidupan yang berarti di balik gunung.

“Melalui pendekatan eko-art, seni instalasi ini mengungkapkan; apa dan ada apa dibalik ritual. Membuka tafsir baru yang selama ini cenderung bermakna vertical common sense dan tak terbantahkan. Dengan karya seni instalasi membedah makna ritual yang yang dapat mencerna rasio. Adapun proses perwujudan seni instalasi interaktif di ruang publik Desa Tambkan ini, melibatkan banyak masyarakat desa sebagai pelaku seni dan pemberi makna terhadap seni itu sendiri,” kata Polenk.

Dek Geh menari di sekitar monumen Sampi Duwe yang merupakan bagian dari seni instalasi karya Polenk Rediasa | Foto: tatkala.co/Hizkia

Dalam pertunjukan satu waktu antara upacara, tarian dan pembacaan puisi, hanya ada instrument bunyi dalam pengiringan Tegeh—yang berhubungan antara dirinya dengan tarian bisu itu. Hanya ada suara angin, sunyi penonton tertegun, bunyi lonceng kekhusyukan pada upacara, dan kata-kata—“Sapi peliharaan dewa-dewi//dituntun makhluk samar baik hati..” dari penyair Made Adnyana Ole.

Adnyana Ole membacakan puisinya yang berjudul Sapi Dewa-Dewi pada pementasan itu setelah I Wayan Redika selesai membaca dalam satu pertunjukan.

“..Dia ingat siapa yang melepasliarkan tubuhnya dalam kandungan rimba raya dan semak belukar kehidupan..” kata Adnyana Ole, penyair paruh baya itu.

Tegeh mengelilingi orang-orang suci yang merapal mantra dan doa, melewati penyair sedang membacakan puisi sepenuh usia. Tariannya semakin bisu dan panas menimpanya membayang, tetapi udara gunung menyecap dingin.

Tarian bisu itu digiringnya dari tubuh yang lentur, ia menyelinap pembatas pohon—yang di setiap sampingnya adalah tulang kepala sapi leluhur yang dijadikan sebuah seni instalasi.

Rektor ISI Denpasar Wayan “Kun” Adnyana memasang tulang kepala sebagai tanda dibukanya pameran seni instalasi sampi duwe karya Polenk Rediasa | Foto: tatkala.co/Hizkia

Matanya meresapi bagaimana serat dan kerasnya tulang sapi itu menempel di depan matanya sangat dekat, ia menemukan harapan. Sesekali ia menonjolkan wajahnya seperti keluar dari jendela dengan setengah tubuh di ruas pagar. Ia memanjat ke atas setinggi pohon baru ditanam. Tariannya bisu, tapi dapat kita rasakan jika Tegeh melemparkan satu percakapan bahwa ia sedang diberkati leluhur di dalam itu.

Tidak lama, ia keluar dari pagar pohon yang mengitari tubuhnya. Ia kembali ke tanah setelah memanjat itu dan kembali menari di tanah—membawa berkat. Ia bagi dengan tarian indah menuju patung besar sebuah monumen Sampi Duwe. Ia naik kembali ke atas untuk memandang alam Desa Tambakan dengan hamparan luas gunung dan hutan, juga kebun jeruk yang subur di bawah patung.

Puisi Made Adnyana Ole, terdengar… “Kuberi kau daging empuk, serat protein//Tulang batu gunung dan kulit penahan dingin//Maka hiduplah segala ritual dan kata-kata//Nyaring semua permintaan, licin seluruh pemberian!..” [T]


Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Seni Instalasi Karya Polenk Rediasa Dibuat Dari Tulang Tengkorak “Sapi Duwe” di Desa Tambakan-Buleleng
Catatan Pentas “Maha Wasundari” Intur 2024: Perayaan dan Refleksi Keagungan Bumi
Berimajinasi Bersama Repertoar “Canson” Karya Noé Clerc Trio dari Prancis
Tags: bulelengDesa TambakanISI DenpasarPolenk Rediasaseni pertunjukanSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Kebermaknaan Hidup di PKP Community Centre, di Payangan-Gianyar

Next Post

Aneka Rasa di Tanah Kaldera

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Aneka Rasa di Tanah Kaldera

Aneka Rasa di Tanah Kaldera

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co