1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Bee Dances” : Menembus Batas, Melebur Identitas

Arif Wibowo by Arif Wibowo
May 3, 2024
in Ulas Pentas
“Bee Dances” : Menembus Batas, Melebur Identitas

Bee Dances : Ninus menari secara tunggal di Halaman Puri Agung Kaleran, Tabanan. Foto : Amrita Dharma

SOROT layar menghadirkan sang penari, Ninus dan Karreth Schaffer, yang menarasikan gagasan koreografinya bertajuk “Bee Dances”. Masih berada dalam satu layar, pertunjukan pun dimulai dengan menghadirkan dua penari yang melakukan gerak koreografi tak beraturan. Koreografi yang ditampilkan dengan iringan musik petikan dawai doublebass yang sangat sederhana, seakan mengikuti ritme gerak para penari. Alih-alih penari bergerak mengikuti iringan musik.

Format pertunjukan yang tampil dalam rangkaian kuratorial “The (Famous) Squatting Dance : Merayakan Marya” di halaman Puri Agung Kaleran, Tabanan (Sabtu, 27/4/2024), ini cukup ekperimental. Mengingat keterbatasan dengan berbagai alasan seperti ketidak-mungikinan para penari hadir secara bersama karena alasan terbatasnya jarak dan waktu.

Pada kondisi itu rupanya Ninus dan kurator pertunjukan Wayan Sumahardika cukup jeli merajut sebuah jalinan tari dan film documenter yang disambung secara runtut dan bergantian antara rekaman audio visual pada layar yang menghadirkan enam penari dengan koreografi tunggal dalam sebuah panggung. Ninus hadir bersama para penabuh gamelan di tengah panggung yang disaksikan langsung oleh penonton.

Hingga di bagian akhir pertunjukan, audience dibawa untuk mengingat kembali Tari Oleg Tamulilingan melalui sebuah video yang menampilkan proses sang penari berhias sambil bermonolog menceritakan tarian itu. Kemudian hadirlah tari Oleg Tamulilingan yang romantis itu oleh sepasang penari laki-laki dan perempuan dari Komunitas Seni Arjuna Production.

Ekperimen ini cukup menjembatani karakter seni pertunjukan yang bersifat tak kekal (ephemeral). Melalui silang media, keterbatasan bukan lagi menjadi halangan untuk menghadirkan repertoar koreografi beserta gagasannya secara utuh.

Lahir dari keragaman latar belakang identitas budaya, bahasa, geografi dan karakter individu, Bee Dance hadir selaras dengan gagasan kuratorial “Membaca Marya”. Gagasan masa lalu laku koreografi Marya yang cukup monumental di zamannya itu dibaca ulang dalam konteks masa kini. Ketika, realitas Bali dihadapkan pada kenyataan yang tak mungkin terhindar dari pertemuan arus kebudayaan dari berbagai lokus global.

Bee Dances : Ninus dan Karreth Schaffer menyampaikan narasi dan gagasannya dalam sebuah video yang tampil pada layar pertunjukan | Foto : Amrita Dharma

Ninus berkolaborasi dengan Karreth Schaffer, koreografer yang berbasis di Berlin, Jerman. Pertemuan keduanya menggagas garapan koreografi yang berusaha mempertemukan bentuk koreografi Barat dengan Timur yaitu tari tradisi Bali. Karreth Schaffer yang memiliki basis pengalaman tubuh barat itu mempelajari tari tradisional selama di Bali. Pengalaman itulah yang kemudian mendorongnya bersama Ninus untuk mencoba kemungkinan mempertemukan bahasa koreografi dari ragam pengalaman tubuh melalui enam penari.

Tiga penari dari luar negeri di antaranya Karreth Schaffer, Tatiana Mejia dan Vilja Mihalovsky. Sedangkan dari Indonesia: Ninus, K.S Gitaswari Prabhawita dan I Putu Wibi Wicakasana. Ketiga penari Indonesia pun juga tak berasal dari identitas yang homogen.

Ninus berlatar budaya urban ibu kota, sedangkan kedua penari Gita dan Wibi sama-sama berasal dari Bali, namun Gita selama ini hidup di lingkungan budaya Solo-Jawa. Hanyalah Wibi yang memang merepresentasikan ke-balian-nya, karena tumbuh dan berkarya dengan akar tradisi Bali yang dominan. Keragaman biografi budaya yang membentuk pengalaman tubuh masing-masing individu penari itu menciptakan interpretasi bahasa koreografi yang beragam.

Tari Oleg Tamulilingan merupakan warisan karya I Marya sebagai pengembangan dari koreografi Igel Jongkok menjadi pintu masuk untuk menjelajahi kemungkinan koreografi Bee Dances. Oleg Tamulilingan yang dipesan oleh John Coast pada tahun 1952 itu awalnya terinspirasi tari balet berpasangan. Namun, dengan sentuhan Marya, tari pesanan itu berhasil menjadi koreografi dengan cita rasa Bali ala Marya dengan sentuhan unsur gerakan jongkok dan duduk.

Bee Dances juga terinspirasi gerakan lebah yang dikenal Waggle Dance pada Lebah madu Asia dan Eropa (Apis cerana dan Apis mellifera) ketika melakukan penyerbukan yang diteliti oleh Zoologist Jerman, Karl van Frisch. Maka, lahirlah Bee Dances sebuah interpretasi kelanjutan dari Oleg Tamulilingan yang mengibaratkan pertemuan Eropa – Asia, Timur – Barat menjadi sebuah dialog antar budaya dan geografi.

Bee Dances : Ninus menari dengan gerakan tari Bali | Foto : Amrita Dharma

Transfer Teknik Koreografi Lintas Tubuh yang Beragam

Pada konteks Indonesia, kebaragaman masyarakat kita memang tak bisa terhindarkan dengan dunia tari yang menjadi simbol masing-masing etnis. Bahkan tari telah menjadi simbol kebanggaan yang sangat menonjol bagi masyarakat karena akan mengikat kesadaran identitas kebudayaanya melalui bahasa koreografi.

Sadar atau tidak, individu yang lahir dari etnis tertentu akan merasa “aneh” jika menikmati tarian dari etnisnya ditarikan oleh orang yang tumbuh di luar lingkungan budaya dimana tarian itu berasal. Misalnya, Orang Jawa yang menari Bali, bahasa tubuhnya akan terlihat berbeda, begitu juga sebaliknya. Hingga kadang memunculkan kelakar, “Kurang metaksu..!” atau sebalikanya, “kurang Njawani..!”. Orang Aceh ketika menari tarian dari Papua juga akan menunjukkan bahasa tubuh yang asing bagi orang Papua, begitu juga sebaliknya. Keadaan Ini menunjukkan bahasa tubuh sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya, sosial dan bahkan geografi lingkungan.

Pada saat Ninus tampil melakukan koreografi tunggal ada beberapa hal yang patut menjadi diskusi menarik tertkait tentang keterhubungan bahasa tubuh individu dengan latar belakang kebudayaannya. Ninus menjadi preseden menarik untuk memahami bagaimana cara kerja hubungan tubuh dengan latar belakang sosial budaya yang membentuknya.

Ninus merupakan individu yang tumbuh di kawasan urban sekitar Jakarta dan Bandung yang kosmopolit. Keadaan itu tentu sangat mempengaruhi bahasa tubuhnya dalam melakukan koreografi pada tarian tradisi Bali. Ia, tidak mungkin melakukan agem yang sempurna atau nyeledet secara tajam dan dinamis selayaknya gerakan teknik dasar tari Bali.

Bee Dance melalui Ninus sebagai representasinya bukan berbicara tentang teknik dan pakem sebuah tarian, tapi merupakan eksperimen dan introgasi atas kemungkinan pengetahuan koreografi bisa menyebrang, menjalar dan menyebar dari tubuh satu ke tubuh lainnya, dari etnis budaya satu dengan lainnya.

Di tengah kemajuan teknologi dan informasi yang mudah dijangkau telah mendorong akses pengetahuan yang semakin demokratis. Keadaan ini menumbuhkan kemungkinan baru akan sebuah pengetahuan dan teknik koreografi bisa dipraktikkan oleh siapa pun tanpa mengenal batas budaya dan geografi.

Berkaca pada bahasa tubuh Ninus dan koreografinya, Bee Dances membawa kita memahami eksperimen teknik dasar tari Bali menyebar dan mengarungi raga di luar batas ruang budaya dan geografi Pulau Bali. Jika Marya berhasil “melokalkan” koreografi balet yang berasal dari tanah Eropa itu menjadi koreografi Bali yang membumi.

Maka, Bee Dances mencoba mengulang metode Marya, dengan cara menukar arah dengan “mengekspor” koreografi Bali keluar dari habitat ruang budayanya. Sehingga, koreografi Bali juga memiliki daya tawar tidak hanya sebagai objek penerima, namun juga sebagai subjek yang bergerak menembus batas dan berdialog dengan ragam tubuh, budaya dan geografi.

Tari Oleg Tamulilingan pada akhir pertunjukan Bee Dance oleh Komunitas Seni Arjuna Production | Foto : Amrita Dharma

Sebagai catatan, sepanjang pertunjukan Bee Dance menghadirkan pengalaman lintas dimensi ruang dan waktu yang unik, antara koreografi dan gamelan tabuh Gong  Kebyar yang hadir di panggung dengan film-tari yang menghadirkan koreografi lengkap enam penari. Gagasan-gagasan karya banyak dihadirkan melalui monolog-monolog pertanyaan, pernyataan dan introgasi yang gamblang dan menajamkan perspektif kita mengenai bagaimana koreografi menjadi medium pertukaran budaya.

Ditengah menariknya gagasan yang ditawarkan koreografi Bee Dances, durasi pertunjukan yang cukup lama perlu menjadi catatan khusus bagi koreografer dan kurator pada saat pertunjukan malam itu. Di tengah keberagaman audience, menampilkan bahasa koreografi yang asing dan berjarak dengan kesehariaan masyarakat akan mengurangi kemampuan audience menangkap pesan dan gagasan utamanya. Alangkah baiknya film-tari dengan bahasa koreografi yang asing pada layar itu  porsinya disesuaikan secara berimbang dengan pertunjukan koreografi di atas panggung yang sesungguhnya.

Sekali lagi, Bee Dance menghadirkan cara pandang baru bagaimana pengetahuan koreografi berbasis tradisi bisa menyebar, menjalar dan memasuki tubuh-tubuh yang memiliki latar belakang yang beragam. Mengulang semangat dan metode kerja Marya yang berhasil melokalkan balet berpasangan dengan bahasa dan kosmologi tarian Bali. Maka, Bee Dance membaliknya dengan menebar dan mendialogkan koreografi Bali hingga menembus batas-batas ruang identitas budaya yang beragam. [T]

BACA artikel ULAS PENTAS atau artikel lain dari ARIF WIBOWO

Menyuarakan Isu Lingkungan melalui Tari Kontemporer  “Sambil Menyelam Minum Plastik”
Menjelajahi Laku Jongkok dalam Koreografi “The (Famous) Squatting Dance : Jung Jung te Jung” di Teater Salihara
Ritus Tari Seblang di Olehsari : Menari Bersama Leluhur dan Merayakan Dialog Antarbudaya Bali-Blambangan
Seni Memahat Diri | Catatan Workshop Gerak “Tubuh Setengah Jadi”
Tags: I Ketut Maryakesenian baliKetut MarioMerayakan MaryaOleg Tamulilinganseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sehat atau Kuat?

Next Post

Hari Buruh Sedunia: Kerja Keras Seorang Juru Parkir

Arif Wibowo

Arif Wibowo

Lulusan Sarjana Arsitektur yang tertarik dengan isu-isu ketimpangan sosial dan lingkungan perkotaan sehingga lebih memilih untuk terlibat pada praktik arsitektur lansekap yang berfokus pada perancangan ruang publik dengan harapan semakin banyak ruang hijau di kawasan kota. Selain itu ia juga gemar menikmati seni tari, pertunjukan dan musik tradisi khususnya di Jawa dan Bali.

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Hari Buruh Sedunia: Kerja Keras Seorang Juru Parkir

Hari Buruh Sedunia: Kerja Keras Seorang Juru Parkir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co