26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rai Sri Artini# Cara Mengenangmu, Pohon Puisi, Sungai di Belakang Rumah

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
February 2, 2018
in Puisi

Lukisan Nyoman Erawan

SABDA PALON

/1/
Udara malam berdesir
Membelai perut buncitmu
Sepotong cahaya lahir
Seusai ketuban pecah dari rahim mulut
Selarik kidung jawa membelai anganmu
Bhre Kerthabumi termangu diantara huruf-huruf yang lahir
Dari kulum liurmu

/2/
Musim dingin. Paling dingin
Tiang-tiang istana menggigil
Air mata membeku hanya cemas bersijatuh
Menjadi warna darah yang berceceran di alun-alun ibukota
Menjadi saksi pertikaian
Kau berjanji berjaga di gerbang kehidupan dan kematian

/3/
Mengapa kau berduka ?
Aku rela menyaru dalam tubuh manusia
Memulai perjalanan dari sudut sunyi sekali pun
Memastikan mercusuar nusantara terjaga

/4/
Buah Pala. Kau tahu rasanya ?
Kecaplah dalam lidahmu
Kau akan merasa tetap hidup
Diantara asin peluh kuli-kuli di pelabuhan
Atau diantara lolong tangis Dewi Amaravati
Saat giginya tanggal

/5/
Nujummu selalu jadi kompas
Jarum jam dalam jiwamu berpacu dengan
Waktu reinkarnasi
Sebab kau sangatlah peduli
Pada jejaring laba-laba di sudut langit istana
Laksana arus pikirmu yang tajam

/6/
Napak tilas. Bumi Swarnadwipa kau pilih
Diantara tempat di peta
Kau abadi memilih lahir dari rahim nusantara
Bersulih ke riuh dunia untuk satu cita-cita

Tegaljaya, Maret 2017

CARA MENGENANGMU

Seperti itulah aku senantiasa mengenangmu
Kuntum-kuntum kenangan kami mekarkan
Memilah dan memilih buku-buku diantara debu-debu kotak usang
Kukecup peluhmu untuk mengumpulkan tekad atau
Menarik canda tawamu ke lingkaran energiku agar
Menyala semangat yang taksa
Kucatat cuaca dan peringai hari keenam bulan Juli
Mengaksarakan jiwamu dalam sayapku
Mematangkan barisan doa
Dan mencelupkan roti tawar ke dalam susu yang manis
Kuniatkan menguapi dingin dengan memahami kepergianmu
Sebab jika tak demikian,
Stigma ini akan selalu tertatah di hitam yang liang
Seperti itulah aku senantiasa mengenangmu
Menghidangkan kematian dalam nampan waktu
Membersihkan lumut-lumut di atas batu pijak yang licin
Dan mengarak jiwamu di setiap kata dalam puisi
Sebab Tuhan selalu lahir dari jiwamu paling ceruk

Kerobokan, Juni 2017

POHON PUISI

Di hatiku tak boleh apa pun dan siapa pun mencatat luka
Tidak juga kau
Kau boleh mampir di tamannya
Menulis puisi dan tawa dari serbuk kehidupan
Mestilah kau menumbuhkan segala yang patut
Bukan menciptakan jarak dan melabeli
Terang atau gelap
Pantas atau tidak
Dua tiga pelor mungkin mampir
Namun tak akan berdiam lama
Sebab pohon-pohon puisi mengusirnya sebelum kau melapar
Dalam rasa asing
Di hatiku kata-kata tak boleh mati
Meski puting beliung menari
Mestilah kutiup ruh dalam kata yang mati suri
Agar ia tetap nyala pohon-pohon puisi
Bangkit dari kefanaan yang hujan

Tegaljaya, Juni 2017

TELAGA AGENG LINGSAR

Titipkanlah kalimat permohonan dalam koin-koin ini
Terbanglah lalu berendamlah di dasar telaga
Dingin air telaga akan memeram segala permohonan
Sebelum terbang ke langit ketujuh

Seorang perempuan menangis di tepi telaga
Memohon anaknya kembali
Ia titipkan nama anaknya dalam koin dan
Karam dalam perayaan kematian
Bersenyawa dengan air mata dan bayangan yang
Ia ciptakan sendiri

Di telaga ini air mata menjelma lumut-lumut di dasarnya
Emosi bersulih menjadi bebatuan
Menciptakan jarak antara bumi dan langit

Perempuan itu kuyup dalam tangis
Sebab lima tahun kemudian langit terbelah
Tongkat yang menjelma ikan
Membagikan ruh anak-anak dalam tubuhnya
Ia menjerit dalam rasa hampa

Lalu ia berhenti menangis
Ketika sepotong cahaya lahir dari koin-koin
Dan saat itu juga ia berhenti
Menciptakan bayangan sendiri

Tegaljaya, Juni 2017

SUNGAI DI BELAKANG RUMAH

Cuaca mengeras di wajahmu
Membentuk lintasan dosa dan doa
Matahari selalu berdetak menjauh dari matamu
Rumpun alis rebah memisahkan berkas-berkas rindu yang sekarat
Lidahmu sayup-sayup menggemakan nyanyian ibu
Antara lelap dan jaga

Lalu
Kau pulang ke sungai di belakang rumah
Merumahkan kental sesal yang mengganggu tidur
Kau hanyutkan air mata, kata-kata berikut pertanyaan-pertanyaan

Sungai itu yang dulu jernih
Kini keruh oleh limbah
Sebab keras kepalamu telah berkeping-keping
Daun-daun canging berhamburan memungut lendir-lendir sesal
Molekul-molekul air menanti dengan sabar
muntahan lapili jiwamu
juga mantra-mantra ganjil dari mulut berbau kencur

Kau berjanji akan meminangnya menjadi puisi
Sebab ia telah melahirkanmu setiap hari
Ia pun berjanji akan membawamu
Ke luas lepas samudera tak berbatas

Tegaljaya, Juni 2017

SEPASANG KUNANG-KUNANG

Mengawali perjalanan ini
Kita tak mau berhitung kecuali kesanggupan
Untuk saling melengkapi

Kita berharap ada pagi yang lain
Tak pincang lagi dengan irama baru
Duduk di serambi senja
Menatap kemilau langit
Melahirkan nyanyian dari uap kopi
Menepikan kerikil-kerikil yang menahan
Telapak kaki

Kita dapat mengingat
Ayat-ayat dalam kitab
Yang menyala di ufuk waktu
Atau bagian tubuh yang mulai bertumbuh
Sehingga saat sabit cuaca menyayat
Kita tetap bisa tersenyum

Sebab kita tak ingin terlambat
Memekarkan kuntum jiwa
Sebelum cangkang senja renta dan retak
Kita tak ingin hanya menafsir lalu
Mengarang cerita sendiri
“ Terlalu boros energi,” Katamu

Lebih baik menjadi sepasang kunang-kunang
Berbagi cahaya
Sebab bukan hanya kita yang tumbuh
Melainkan semesta

Tuka, Juni 2017

Tags: Puisi
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Saat Fidget Spinner Menyerang, Orang Tua pun Rogoh Dompet Demi Mainan Tak Dipahami

Next Post

Pukul 5.15 Pagi

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails
Next Post

Pukul 5.15 Pagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co