24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kapan Kolaborasi Seni Bisa Pentas di Panggung Ardha Candra pada Pesta Kesenian Bali?

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Esai

Penampilan kolaborasi antara Tambuco, Sanggar Sekar Sakura dan Sanggar Suar Agung di Pesta Kesenian Bali 2016./ Foto: Eka Prasetya

FANTASTIS! Satu kata itu saja sudah cukup menggambarkan peristiwa yang terjadi pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38, pada 25 Juni 2016, setahun lalu. Saat itu, pukul 21.00 malam, sebuah peristiwa kolaborasi seni yang aktif nan atraktif tengah berlangsung di Wantilan Taman Budaya Bali. Tiga bangsa dengan dua warna musik yang berbeda, saling mengisi, saling melengkapi, dan saling menghormati.

Malam itu, budaya barat dan budaya timur bertemu. Seni musik tradisi melebur dengan musik modern. Ratusan pasang mata menjadi saksi pertemuan dan kolaborasi musik yang berbeda. Wantilan Taman Budaya Bali penuh sesak oleh pengunjung yang ingin menyaksikan momen bersejarah tersebut.

Malam itu, tiga bangsa berbeda, yakni Indonesia, Jepang, dan Meksiko, berbagi panggung. Gamelan jegog yang mewakili seni tradisi, serta perkusi yang mewakili musik modern, dikolaborasikan. Hasilnya? Fantastis!

Penonton menyaksikannya dengan terpana. Kata-kata barangkali tak cukup menggambarkan betapa magis dan memukaunya peristiwa yang terjadi malam itu. Sungguh tak disangka kesenian tradisi seperti jegog, bisa berkolaborasi dengan musik modern seperti perkusi. Padahal keduanya memiliki laras tembang yang berbeda.

Di Jembrana, jegog menjadi kesenian yang tidak bisa dipisahkan dalam setiap upacara adat dan keagamaan. Dalam hal kesenian, jegog selalu menjadi primadona di Jembrana. Tari-tari kekebyaran pun sebisa mungkin diiringi dengan jegog.

Ketika gamelan jegog ditabuh oleh warga Bali, apalagi warga Jembrana, barangkali itu hal yang biasa bagi. Tentu hal tak bisa saat gamelan jegog ditabuh oleh sekelompok warga negara Jepang. Malam itu penonton hanya bisa melongo ketika melihat puluhan warga negara Jepang yang menghimpun diri dalam Sekaa Jegog Sekar Jepun, menabuh jegog. Mereka lebih atraktif dan lebih energik ketimbang penabuh yang berasal dari Jembrana.

Pementasan makin memukau ketika Tambuco – kuartet pemain perkusi asal Meksiko yang sudah empat kali menjadi nominasi peraih Grammy Awards – melakukan kolaborasi dengan gamelan jegog.

Kuartet Tambuco, tetap memainkan perkusi. Mereka menambah instrumen perkusi modern, dengan instrumen perkusi klasik yakni kendang dan gong. Sementara gamelan jegog ditabuh oleh Sekaa Jegog Sekar Jepun, serta dibantu beberapa penabuh dari Sekaa Jegog Suar Agung Jembrana.

Ketika gamelan jegog berkolaborasi dengan alat perkusi, hal itu menjadi sangat magis. Gamelan jegog harus banyak mengalah. Karena gamelan ini memiliki laras slendro empat nada. Sementara perkusi yang dibawa Tambuco, memiliki laras diantonis dengan tujuh nada. Nada ndaing pada jegog menjadikannya unik, sehingga memudahkan proses kolaborasi.

Tambuco, Sekaa Jegog Suar Agung, dan Sekaa Jegog Sekar Jepun harus bekerja selama delapan bulan, sebelum akhirnya berkolaborasi pada PKB ke-38. Mereka bekerja di Nagoya, Jepang, untuk menciptakan sebuah harmoni nada musik tradisi yang berkolaborasi dengan musik modern. Kecintaan pada musik tradisi di Bali, membuat mereka mengesampingkan ego. Mereka juga tak memikirkan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk melahirkan sebuah karya.

Hampir tak ada cela dalam pementasan malam itu. Satu-satunya kekurangan, barangkali hanya lokasi pementasan. Kolaborasi itu dipentaskan di sudut panggung terbuka, yakni di Wantilan Taman Budaya. Seandainya kolaborasi seni itu dimainkan di Panggung Terbuka Ardha Candra, tentu akan lebih memukau.

Kolaborasi antara musik barat dengan musik timur, barangkali menjadi titik kompromi tertinggi dalam pelaksanaan PKB ke-38. Itu satu-satunya kolaborasi seni tradisi dan modern yang saya temukan, sepanjang tahun 2016 lalu.

Tahun ini, pada PKB ke-39, juga hanya ada satu kolaborasi seni barat dengan timur yang akan dipentaskan. Kelompok teater asal Perancis, Les Grandes Personnes akan berkolaborasi dengan Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana yang bermarkas di Desa Melinggih Kelod, Gianyar.

Les Grandes Personnes merupakan sanggar teater boneka yang terbentuk pada tahun 1998 lalu di pinggiran Kota Paris, Perancis. Biasanya mereka memainkan boneka setinggi empat meter, yang bentuknya menyerupai Barong Landung dalam seni tradisi Bali. Boneka itu dimainkan sedemikian rupa dalam sebuah konsep drama.

Kelompok teater ini sering berpartisipasi dalam berbagai festival di Perancis. Mereka juga sering mewakili Perancis dalam berbagai ajang di negara lain. Tahun 2016 lalu, Les Grandes Personnes juga sempat tampil pada ajang PKB.

Sementara Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana, dikenal sebagai komunitas budaya yang kerap mencicipi panggung internasional. Kehadiran sanggar ini di Desa Melinggih Kelod, menarik banyak wisatawan untuk datang ke sana.

Komunitas ini dipimpin Dewa Rai Budiasa. Dia pernah menetap di Jerman dan Prancis selama 17 tahun bersama adiknya, Dewa Putra Diasa. Komunitas Budaya Yasa Putra juga pernah meraih penghargaan terbaik dari Committee Internationale of Folklore Festival, ketika melawat ke Perancis pada tahun 2011 lalu.

Les Grandes Personnes dan Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana, rencananya mementaskan kolaborasi seni, pada 6 Juli mendatang di Madya Mandala, Taman Budaya Bali. Pementasan ini sangat layak dinanti, karena satu-satunya kolaborasi seni timur-barat yang muncul dalam jadwal.

Kolaborasi seni selalu memberikan warna tersendiri pada ajang PKB. Perpaduan seni budaya barat dengan timur, selalu menampilkan kejutan-kejutan yang memukau. Sayangnya pementasan kolaborasi seni tak pernah mendapat tempat di Panggung Terbuka Ardha Candra.

Selama ini Ardha Candra terkesan eksklusif. Hanya kesenian tertentu saja yang bisa tampil di panggung ini. Kesenian itu adalah gong kebyar, baleganjur, serta Pop Bali. Selebihnya, tidak ada kesenian lain yang pentas di Ardha Candra selama PKB.

Tentu tak ada salahnya menjadwalkan pementasan kolaborasi seni di Panggung Terbuka Ardha Candra. Toh hanya ada satu agenda semacam itu. Tak dipungkiri kolaborasi seni akan memberikan warna baru bagi kesenian di Bali. Kolaborasi seni juga menambah wawasan baru bagi penikmat, pengamat, hingga penggiat seni.

Kolaborasi seni membuat pengunjung penasaran dan berbondong-bondong datang ke PKB. Kolaborasi seni selalu memberikan kejutan-kejutan yang dinanti, tanpa harus menghapus dan mengesampingkan seni tradisi di Bali. Kesan bahwa PKB menjadi suatu rutinitas tahun yang monoton dan membosankan, perlahan bisa dihapus.

Sesekali kolaborasi seni juga perlu mendapat tempat di Panggung Terbuka Ardha Candra. Meski bukan seni kegemaran seperti gong kebyar atau wayang cenkblonk, jerih payah dan kerja keras seniman dalam menciptakan sebuah karya kolaborasi juga perlu dihargai. Jika tak bisa menghargainya dengan angka rupiah, setidaknya berikan ruang di panggung terbuka. Panggung terbuka sudah memiliki magnet dan ruhnya sendiri. Seni apa pun yang ditampilkan di panggung terbuka, pasti akan ditonton ribuan pasang mata.

Semoga pada PKB yang akan datang, kolaborasi seni barat dengan timur bisa mendapat prioritas. Penambahan satu atau dua agenda kolaborasi seni semacam itu di tahun mendatang, tak akan mempengaruhi komposisi 60 persen seni klasik, 20 persen seni kontemporer, 20 persen seni populer, yang selama ini dijaga. Semoga kolaborasi budaya barat dan timur sesekali bisa dipentaskan di Panggung Terbuka. Toh mementaskan satu kolaborasi seni tidak akan membuat panitia dan pemerintah merugi. (T)

Tags: baliPesta Kesenian BaliSeni
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

“Megandu”, Permainan Tradisional dari Tanah Ole – Catatan Festival ke Uma 2017

Next Post

Air, Tirtha (Patirtan), Toya (Patoyan), & Beji dalam Tradisi Jawa Kuna

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post

Air, Tirtha (Patirtan), Toya (Patoyan), & Beji dalam Tradisi Jawa Kuna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co