26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kapan Kolaborasi Seni Bisa Pentas di Panggung Ardha Candra pada Pesta Kesenian Bali?

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Esai

Penampilan kolaborasi antara Tambuco, Sanggar Sekar Sakura dan Sanggar Suar Agung di Pesta Kesenian Bali 2016./ Foto: Eka Prasetya

FANTASTIS! Satu kata itu saja sudah cukup menggambarkan peristiwa yang terjadi pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38, pada 25 Juni 2016, setahun lalu. Saat itu, pukul 21.00 malam, sebuah peristiwa kolaborasi seni yang aktif nan atraktif tengah berlangsung di Wantilan Taman Budaya Bali. Tiga bangsa dengan dua warna musik yang berbeda, saling mengisi, saling melengkapi, dan saling menghormati.

Malam itu, budaya barat dan budaya timur bertemu. Seni musik tradisi melebur dengan musik modern. Ratusan pasang mata menjadi saksi pertemuan dan kolaborasi musik yang berbeda. Wantilan Taman Budaya Bali penuh sesak oleh pengunjung yang ingin menyaksikan momen bersejarah tersebut.

Malam itu, tiga bangsa berbeda, yakni Indonesia, Jepang, dan Meksiko, berbagi panggung. Gamelan jegog yang mewakili seni tradisi, serta perkusi yang mewakili musik modern, dikolaborasikan. Hasilnya? Fantastis!

Penonton menyaksikannya dengan terpana. Kata-kata barangkali tak cukup menggambarkan betapa magis dan memukaunya peristiwa yang terjadi malam itu. Sungguh tak disangka kesenian tradisi seperti jegog, bisa berkolaborasi dengan musik modern seperti perkusi. Padahal keduanya memiliki laras tembang yang berbeda.

Di Jembrana, jegog menjadi kesenian yang tidak bisa dipisahkan dalam setiap upacara adat dan keagamaan. Dalam hal kesenian, jegog selalu menjadi primadona di Jembrana. Tari-tari kekebyaran pun sebisa mungkin diiringi dengan jegog.

Ketika gamelan jegog ditabuh oleh warga Bali, apalagi warga Jembrana, barangkali itu hal yang biasa bagi. Tentu hal tak bisa saat gamelan jegog ditabuh oleh sekelompok warga negara Jepang. Malam itu penonton hanya bisa melongo ketika melihat puluhan warga negara Jepang yang menghimpun diri dalam Sekaa Jegog Sekar Jepun, menabuh jegog. Mereka lebih atraktif dan lebih energik ketimbang penabuh yang berasal dari Jembrana.

Pementasan makin memukau ketika Tambuco – kuartet pemain perkusi asal Meksiko yang sudah empat kali menjadi nominasi peraih Grammy Awards – melakukan kolaborasi dengan gamelan jegog.

Kuartet Tambuco, tetap memainkan perkusi. Mereka menambah instrumen perkusi modern, dengan instrumen perkusi klasik yakni kendang dan gong. Sementara gamelan jegog ditabuh oleh Sekaa Jegog Sekar Jepun, serta dibantu beberapa penabuh dari Sekaa Jegog Suar Agung Jembrana.

Ketika gamelan jegog berkolaborasi dengan alat perkusi, hal itu menjadi sangat magis. Gamelan jegog harus banyak mengalah. Karena gamelan ini memiliki laras slendro empat nada. Sementara perkusi yang dibawa Tambuco, memiliki laras diantonis dengan tujuh nada. Nada ndaing pada jegog menjadikannya unik, sehingga memudahkan proses kolaborasi.

Tambuco, Sekaa Jegog Suar Agung, dan Sekaa Jegog Sekar Jepun harus bekerja selama delapan bulan, sebelum akhirnya berkolaborasi pada PKB ke-38. Mereka bekerja di Nagoya, Jepang, untuk menciptakan sebuah harmoni nada musik tradisi yang berkolaborasi dengan musik modern. Kecintaan pada musik tradisi di Bali, membuat mereka mengesampingkan ego. Mereka juga tak memikirkan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk melahirkan sebuah karya.

Hampir tak ada cela dalam pementasan malam itu. Satu-satunya kekurangan, barangkali hanya lokasi pementasan. Kolaborasi itu dipentaskan di sudut panggung terbuka, yakni di Wantilan Taman Budaya. Seandainya kolaborasi seni itu dimainkan di Panggung Terbuka Ardha Candra, tentu akan lebih memukau.

Kolaborasi antara musik barat dengan musik timur, barangkali menjadi titik kompromi tertinggi dalam pelaksanaan PKB ke-38. Itu satu-satunya kolaborasi seni tradisi dan modern yang saya temukan, sepanjang tahun 2016 lalu.

Tahun ini, pada PKB ke-39, juga hanya ada satu kolaborasi seni barat dengan timur yang akan dipentaskan. Kelompok teater asal Perancis, Les Grandes Personnes akan berkolaborasi dengan Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana yang bermarkas di Desa Melinggih Kelod, Gianyar.

Les Grandes Personnes merupakan sanggar teater boneka yang terbentuk pada tahun 1998 lalu di pinggiran Kota Paris, Perancis. Biasanya mereka memainkan boneka setinggi empat meter, yang bentuknya menyerupai Barong Landung dalam seni tradisi Bali. Boneka itu dimainkan sedemikian rupa dalam sebuah konsep drama.

Kelompok teater ini sering berpartisipasi dalam berbagai festival di Perancis. Mereka juga sering mewakili Perancis dalam berbagai ajang di negara lain. Tahun 2016 lalu, Les Grandes Personnes juga sempat tampil pada ajang PKB.

Sementara Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana, dikenal sebagai komunitas budaya yang kerap mencicipi panggung internasional. Kehadiran sanggar ini di Desa Melinggih Kelod, menarik banyak wisatawan untuk datang ke sana.

Komunitas ini dipimpin Dewa Rai Budiasa. Dia pernah menetap di Jerman dan Prancis selama 17 tahun bersama adiknya, Dewa Putra Diasa. Komunitas Budaya Yasa Putra juga pernah meraih penghargaan terbaik dari Committee Internationale of Folklore Festival, ketika melawat ke Perancis pada tahun 2011 lalu.

Les Grandes Personnes dan Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana, rencananya mementaskan kolaborasi seni, pada 6 Juli mendatang di Madya Mandala, Taman Budaya Bali. Pementasan ini sangat layak dinanti, karena satu-satunya kolaborasi seni timur-barat yang muncul dalam jadwal.

Kolaborasi seni selalu memberikan warna tersendiri pada ajang PKB. Perpaduan seni budaya barat dengan timur, selalu menampilkan kejutan-kejutan yang memukau. Sayangnya pementasan kolaborasi seni tak pernah mendapat tempat di Panggung Terbuka Ardha Candra.

Selama ini Ardha Candra terkesan eksklusif. Hanya kesenian tertentu saja yang bisa tampil di panggung ini. Kesenian itu adalah gong kebyar, baleganjur, serta Pop Bali. Selebihnya, tidak ada kesenian lain yang pentas di Ardha Candra selama PKB.

Tentu tak ada salahnya menjadwalkan pementasan kolaborasi seni di Panggung Terbuka Ardha Candra. Toh hanya ada satu agenda semacam itu. Tak dipungkiri kolaborasi seni akan memberikan warna baru bagi kesenian di Bali. Kolaborasi seni juga menambah wawasan baru bagi penikmat, pengamat, hingga penggiat seni.

Kolaborasi seni membuat pengunjung penasaran dan berbondong-bondong datang ke PKB. Kolaborasi seni selalu memberikan kejutan-kejutan yang dinanti, tanpa harus menghapus dan mengesampingkan seni tradisi di Bali. Kesan bahwa PKB menjadi suatu rutinitas tahun yang monoton dan membosankan, perlahan bisa dihapus.

Sesekali kolaborasi seni juga perlu mendapat tempat di Panggung Terbuka Ardha Candra. Meski bukan seni kegemaran seperti gong kebyar atau wayang cenkblonk, jerih payah dan kerja keras seniman dalam menciptakan sebuah karya kolaborasi juga perlu dihargai. Jika tak bisa menghargainya dengan angka rupiah, setidaknya berikan ruang di panggung terbuka. Panggung terbuka sudah memiliki magnet dan ruhnya sendiri. Seni apa pun yang ditampilkan di panggung terbuka, pasti akan ditonton ribuan pasang mata.

Semoga pada PKB yang akan datang, kolaborasi seni barat dengan timur bisa mendapat prioritas. Penambahan satu atau dua agenda kolaborasi seni semacam itu di tahun mendatang, tak akan mempengaruhi komposisi 60 persen seni klasik, 20 persen seni kontemporer, 20 persen seni populer, yang selama ini dijaga. Semoga kolaborasi budaya barat dan timur sesekali bisa dipentaskan di Panggung Terbuka. Toh mementaskan satu kolaborasi seni tidak akan membuat panitia dan pemerintah merugi. (T)

Tags: baliPesta Kesenian BaliSeni
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

“Megandu”, Permainan Tradisional dari Tanah Ole – Catatan Festival ke Uma 2017

Next Post

Air, Tirtha (Patirtan), Toya (Patoyan), & Beji dalam Tradisi Jawa Kuna

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Air, Tirtha (Patirtan), Toya (Patoyan), & Beji dalam Tradisi Jawa Kuna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co