24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kapan Kolaborasi Seni Bisa Pentas di Panggung Ardha Candra pada Pesta Kesenian Bali?

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Esai

Penampilan kolaborasi antara Tambuco, Sanggar Sekar Sakura dan Sanggar Suar Agung di Pesta Kesenian Bali 2016./ Foto: Eka Prasetya

FANTASTIS! Satu kata itu saja sudah cukup menggambarkan peristiwa yang terjadi pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38, pada 25 Juni 2016, setahun lalu. Saat itu, pukul 21.00 malam, sebuah peristiwa kolaborasi seni yang aktif nan atraktif tengah berlangsung di Wantilan Taman Budaya Bali. Tiga bangsa dengan dua warna musik yang berbeda, saling mengisi, saling melengkapi, dan saling menghormati.

Malam itu, budaya barat dan budaya timur bertemu. Seni musik tradisi melebur dengan musik modern. Ratusan pasang mata menjadi saksi pertemuan dan kolaborasi musik yang berbeda. Wantilan Taman Budaya Bali penuh sesak oleh pengunjung yang ingin menyaksikan momen bersejarah tersebut.

Malam itu, tiga bangsa berbeda, yakni Indonesia, Jepang, dan Meksiko, berbagi panggung. Gamelan jegog yang mewakili seni tradisi, serta perkusi yang mewakili musik modern, dikolaborasikan. Hasilnya? Fantastis!

Penonton menyaksikannya dengan terpana. Kata-kata barangkali tak cukup menggambarkan betapa magis dan memukaunya peristiwa yang terjadi malam itu. Sungguh tak disangka kesenian tradisi seperti jegog, bisa berkolaborasi dengan musik modern seperti perkusi. Padahal keduanya memiliki laras tembang yang berbeda.

Di Jembrana, jegog menjadi kesenian yang tidak bisa dipisahkan dalam setiap upacara adat dan keagamaan. Dalam hal kesenian, jegog selalu menjadi primadona di Jembrana. Tari-tari kekebyaran pun sebisa mungkin diiringi dengan jegog.

Ketika gamelan jegog ditabuh oleh warga Bali, apalagi warga Jembrana, barangkali itu hal yang biasa bagi. Tentu hal tak bisa saat gamelan jegog ditabuh oleh sekelompok warga negara Jepang. Malam itu penonton hanya bisa melongo ketika melihat puluhan warga negara Jepang yang menghimpun diri dalam Sekaa Jegog Sekar Jepun, menabuh jegog. Mereka lebih atraktif dan lebih energik ketimbang penabuh yang berasal dari Jembrana.

Pementasan makin memukau ketika Tambuco – kuartet pemain perkusi asal Meksiko yang sudah empat kali menjadi nominasi peraih Grammy Awards – melakukan kolaborasi dengan gamelan jegog.

Kuartet Tambuco, tetap memainkan perkusi. Mereka menambah instrumen perkusi modern, dengan instrumen perkusi klasik yakni kendang dan gong. Sementara gamelan jegog ditabuh oleh Sekaa Jegog Sekar Jepun, serta dibantu beberapa penabuh dari Sekaa Jegog Suar Agung Jembrana.

Ketika gamelan jegog berkolaborasi dengan alat perkusi, hal itu menjadi sangat magis. Gamelan jegog harus banyak mengalah. Karena gamelan ini memiliki laras slendro empat nada. Sementara perkusi yang dibawa Tambuco, memiliki laras diantonis dengan tujuh nada. Nada ndaing pada jegog menjadikannya unik, sehingga memudahkan proses kolaborasi.

Tambuco, Sekaa Jegog Suar Agung, dan Sekaa Jegog Sekar Jepun harus bekerja selama delapan bulan, sebelum akhirnya berkolaborasi pada PKB ke-38. Mereka bekerja di Nagoya, Jepang, untuk menciptakan sebuah harmoni nada musik tradisi yang berkolaborasi dengan musik modern. Kecintaan pada musik tradisi di Bali, membuat mereka mengesampingkan ego. Mereka juga tak memikirkan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk melahirkan sebuah karya.

Hampir tak ada cela dalam pementasan malam itu. Satu-satunya kekurangan, barangkali hanya lokasi pementasan. Kolaborasi itu dipentaskan di sudut panggung terbuka, yakni di Wantilan Taman Budaya. Seandainya kolaborasi seni itu dimainkan di Panggung Terbuka Ardha Candra, tentu akan lebih memukau.

Kolaborasi antara musik barat dengan musik timur, barangkali menjadi titik kompromi tertinggi dalam pelaksanaan PKB ke-38. Itu satu-satunya kolaborasi seni tradisi dan modern yang saya temukan, sepanjang tahun 2016 lalu.

Tahun ini, pada PKB ke-39, juga hanya ada satu kolaborasi seni barat dengan timur yang akan dipentaskan. Kelompok teater asal Perancis, Les Grandes Personnes akan berkolaborasi dengan Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana yang bermarkas di Desa Melinggih Kelod, Gianyar.

Les Grandes Personnes merupakan sanggar teater boneka yang terbentuk pada tahun 1998 lalu di pinggiran Kota Paris, Perancis. Biasanya mereka memainkan boneka setinggi empat meter, yang bentuknya menyerupai Barong Landung dalam seni tradisi Bali. Boneka itu dimainkan sedemikian rupa dalam sebuah konsep drama.

Kelompok teater ini sering berpartisipasi dalam berbagai festival di Perancis. Mereka juga sering mewakili Perancis dalam berbagai ajang di negara lain. Tahun 2016 lalu, Les Grandes Personnes juga sempat tampil pada ajang PKB.

Sementara Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana, dikenal sebagai komunitas budaya yang kerap mencicipi panggung internasional. Kehadiran sanggar ini di Desa Melinggih Kelod, menarik banyak wisatawan untuk datang ke sana.

Komunitas ini dipimpin Dewa Rai Budiasa. Dia pernah menetap di Jerman dan Prancis selama 17 tahun bersama adiknya, Dewa Putra Diasa. Komunitas Budaya Yasa Putra juga pernah meraih penghargaan terbaik dari Committee Internationale of Folklore Festival, ketika melawat ke Perancis pada tahun 2011 lalu.

Les Grandes Personnes dan Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana, rencananya mementaskan kolaborasi seni, pada 6 Juli mendatang di Madya Mandala, Taman Budaya Bali. Pementasan ini sangat layak dinanti, karena satu-satunya kolaborasi seni timur-barat yang muncul dalam jadwal.

Kolaborasi seni selalu memberikan warna tersendiri pada ajang PKB. Perpaduan seni budaya barat dengan timur, selalu menampilkan kejutan-kejutan yang memukau. Sayangnya pementasan kolaborasi seni tak pernah mendapat tempat di Panggung Terbuka Ardha Candra.

Selama ini Ardha Candra terkesan eksklusif. Hanya kesenian tertentu saja yang bisa tampil di panggung ini. Kesenian itu adalah gong kebyar, baleganjur, serta Pop Bali. Selebihnya, tidak ada kesenian lain yang pentas di Ardha Candra selama PKB.

Tentu tak ada salahnya menjadwalkan pementasan kolaborasi seni di Panggung Terbuka Ardha Candra. Toh hanya ada satu agenda semacam itu. Tak dipungkiri kolaborasi seni akan memberikan warna baru bagi kesenian di Bali. Kolaborasi seni juga menambah wawasan baru bagi penikmat, pengamat, hingga penggiat seni.

Kolaborasi seni membuat pengunjung penasaran dan berbondong-bondong datang ke PKB. Kolaborasi seni selalu memberikan kejutan-kejutan yang dinanti, tanpa harus menghapus dan mengesampingkan seni tradisi di Bali. Kesan bahwa PKB menjadi suatu rutinitas tahun yang monoton dan membosankan, perlahan bisa dihapus.

Sesekali kolaborasi seni juga perlu mendapat tempat di Panggung Terbuka Ardha Candra. Meski bukan seni kegemaran seperti gong kebyar atau wayang cenkblonk, jerih payah dan kerja keras seniman dalam menciptakan sebuah karya kolaborasi juga perlu dihargai. Jika tak bisa menghargainya dengan angka rupiah, setidaknya berikan ruang di panggung terbuka. Panggung terbuka sudah memiliki magnet dan ruhnya sendiri. Seni apa pun yang ditampilkan di panggung terbuka, pasti akan ditonton ribuan pasang mata.

Semoga pada PKB yang akan datang, kolaborasi seni barat dengan timur bisa mendapat prioritas. Penambahan satu atau dua agenda kolaborasi seni semacam itu di tahun mendatang, tak akan mempengaruhi komposisi 60 persen seni klasik, 20 persen seni kontemporer, 20 persen seni populer, yang selama ini dijaga. Semoga kolaborasi budaya barat dan timur sesekali bisa dipentaskan di Panggung Terbuka. Toh mementaskan satu kolaborasi seni tidak akan membuat panitia dan pemerintah merugi. (T)

Tags: baliPesta Kesenian BaliSeni
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

“Megandu”, Permainan Tradisional dari Tanah Ole – Catatan Festival ke Uma 2017

Next Post

Air, Tirtha (Patirtan), Toya (Patoyan), & Beji dalam Tradisi Jawa Kuna

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post

Air, Tirtha (Patirtan), Toya (Patoyan), & Beji dalam Tradisi Jawa Kuna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co