23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kumpulan Cerpen “Ngantosang Ulungan Bulan” Karya Carma Mira Raih Hadiah Sastra Rancage 2023: Apa Saja Keunggulannya?

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
January 31, 2024
in Kritik Sastra
Kumpulan Cerpen “Ngantosang Ulungan Bulan” Karya Carma Mira Raih Hadiah Sastra Rancage 2023: Apa Saja Keunggulannya?

Buku kumpulan cerpen Ngantosang Ulungan Bulan karya Carma Mira

BUKU kumpulan cerpen Ngantosang Ulungan Bulan (Menanti Bulan Jatuh) karya Carma Mira (Klungkung, Bali, 31 Agustus 1991) ditetapkan sebagai buku sastra Bali modern terbaik tahun 2023. Buku yang diterbitkan Pustaka Ekspresi, Tabanan, itu dianugerahi Hadiah Sastra Rancage 2024 untuk kategori sastra Bali modern.

Selain karena enak dibaca dan menampilkan tema orisinal, apakah kelebihan antologi cerpen Ngantosang Ulungan Bulan sehingga ditetapkan sebagai buku terbaik tahun 2023? Bagaimana gambaran karya-karya lainnya? Laporan audio visual, bisa disimak di sini.

Banyak Buku Baik

Penerbitan buku sastra Bali modern tahun 2023 ditandai munculnya banyak buku baik, bentuk dan isinya. Ada kumpulan puisi yang liris, inovatif, imajinatif dengan tema dan amanat aktual. Ada antologi cerpen dengan alur cerita menarik, konflik kuat berlapis, dan padat amanat.

Ke-12 buku sastra Bali yang terbit 2023

Karena nominasi buku terbaik untuk hadiah sastra Rancage hanya satu, tidak mungkin memilih lebih dari satu. Buku-buku yang baik lainnya, dengan berbagai pertimbangan, tidak mendapat anugerah tetapi tetap hadir sebagai karya mulia dan patut diapresiasi pecinta sastra Bali.

Syukur dunia sastra Bali memiliki pengarang-pengarang yang memiliki passion berkesenian, bukan (semata) untuk mencari anugerah material. Karya-karya mereka dan karya pengarang lainnya sudah dan selalu akan hadir sebagai pilar kelestarian seni budaya Bali.

Rata-rata 10 Judul per Tahun

Setiap tahun jumlah buku sasatra Bali modern yang terbit relatif stabil, yakni rata-rata 10-an judul. Kenaikan atau penurunan dari angka 10 tidak pernah drastis.

Pada tahun 2023 terbit 12 judul, meningkat dua judul dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 10 judul. Sama dengan tahun sebelumnya, buku-buku yang terbit tahun 2023 ini pun sebagian besar diterbitkan oleh penerbit Pustaka Ekspresi, Tabanan, Bali. Yang lainnya diterbitkan Mahima (Singaraja) dan Oase (Sukoharjo, Jawa Tengah).

Yang terakhir ini penting dicatat karena biasanya buku sastra Bali modern diterbitkan penerbit yang beralamat di Bali.

Selain lewat buku, karya sastra Bali juga muncul di media massa (cetak dan daring), seperti rubrik Angripta Rum (koran Nusa Bali), rubrik Media Swari (koran Pos Bali), Ajeg Bali (koran Media Bali), dan Suara Saking Bali, sebuah majalah daring berbahasa Bali.

Untuk pertama kalinya, terbit majalah berbahasa Bali yang baru, yaitu Sentir (Suluh/ Lampu), Vol. 1 (Juli-September 2023), dengan keberkalaan tiga bulan sekali. Majalah ini memuat puisi, cerita pendek, dan profil sastrawan. Banyak karya yang terbit di rubrik-rubrik sastra media massa tersebut yang kemudian dikumpulkan penulisnya untuk diterbitkan menjadi buku.

Dapat dikatakan bahwa kehidupan sastra Bali modern mendapat dukungan dari dua lembaga: penerbit dan media massa.

Jumlah buku terbit 12 judul tahun 2023 terdiri atas 6 buku kumpulan cerpen, 5 kumpulan puisi, dan sebuah majalah yang memuat puisi dan cerita pendek (Lihat tabel di bawah). Dari antologi puisi itu, ada satu antologi karya bersama dari siswa SMP 2 Sawan, Bali Utara, yang berjudul Nyurat Rasa Ngupapira Basa (Menulis Rasa Merawat Bahasa). Judulnya mengandung pesan yang cocok dikobarkan, terutama di kalangan siswa yang akan menjadi generasi masa depan Indonesia, yang wajib menjaga bahasa nasional dan bahasa daerah.

Dilihat dari umur pengarang, rentangnya adalah dari pengarang kelahiran 1959 (usia 65 tahun) yaitu Ngakan Made Kasub Sidan hingga kelahiran 2000 (usia 24 tahun) yaitu Ni Wayan Antari. Kebanyakan pengarang tergolong usia produktif untuk berkarya. Kehadiran penulis produktif memancarkan optimisme bahwa sastra Bali modern akan terus berkelanjutan.

Secara umum, karya sastra Bali yang terbit tahun 2023, baik berupa antologi puisi maupun cerpen menunjukkan kreativitas pengarang Bali dalam pencarian estetika ekspresi. Tiap pengarang menyajikan gaya yang berbeda-beda. Minat, latar belakang pendidikan, daerah asal pengarang yang berbeda-beda ikut menentukan gaya ekspresi mereka. Pengarang dari Klungkung dan Karangasem (Bali Timur) dan Singaraja (Bali Utara) misalnya memiliki dialek bahasa Bali yang sedikit berbeda sehingga estetika bahasa mereka juga terasa berbeda.

Akan tetapi, karena mereka sama-sama menulis tentang Bali, sebagai orang Bali, dalam lingkungan budaya Bali, dalam periode waktu yang sama dengan situasi sosial yang sama, maka karya-karya mereka memiliki persamaan dalam tema, misalnya tema tentang pandemi Covid-19, tema sosial politik umum atau isu menjelang pemilu, penyakit sosial seperti korupsi, romantika remaja jatuh cinta, dan isu-isu masalah domestik.

Antologi Puisi

Dari lima antologi puisi yang terbit, bisa dicatat hadirnya puisi-puisi pendek, ditulis dengan irama kuat dalam bunyi suku kata terakhir, tema-tema kritik sosial, puisi tentang tempat wisata atau bersejarah, dan pandemi Covid. Muncul juga beberapa puisi tentang makanan dan minuman yang diungkapkan penyair antara lain untuk mengartikulasikan rasa sedih, duka, dan cinta.

Antologi puisi Cangkik den Bukit karya Komang Sujana, memuat 68 judul puisi, tampil menarik dengan tema politik, pandemi covid, dan tema-tema lokal tentang tempat-tempat populer di Singaraja seperti daerah wisata Lovina dan Pelabuhan Buleleng. Sujana adalah alumni S1 dan S2 Pendidikan Bahasa dari Undiksha Singaraja, dan kini menjadi guru bahasa Bali di SMPN 2 Sawan, Bali Utara.

Dalam antologinya ini, pembaca bisa menyimak puisi berjudul “Senja ring Pelabuhan Buleleng” mengingatkan pada sajak Chairil “Senja di Pelabuhan Kecil”, melukiskan pelabuhan Buleleng sebagai tempat rekreasi dan romantik remaja.

Kekhasan sajak-sajak Komang Sujana terletak pada ungkapan yang ringkas, irama yang terjaga dengan permainan bunyi yang mengesankan, dan penggarapan secara orisinal tema-tema yang umum. Contoh sajak “Covid Siangolas’, dengan empat bait dengan kalimat/ frase pendek, bersyair dari kalimat pertama sampai akhir: Pagantung tastas/ Jinah telas/ Sesepelan Telas// (Tumpuan habis/ Duit habis/ Simpanan habis).

Antologi bersama siswa SMPN 2 Sawan Nyurat Rasa Ngupapira Basa (Menulis Rasa Merawat Bahasa) yang memuat 56 sajak, karya 12 siswa. Pilihan tema dan estetika sajak-sajak mereka mirip dengan sajak-sajak Komang Sujana, guru bahasa Bali sekaligus mentor sastra mereka. Tema Covid-19 misalnya muncul dari tiga siswa dengan sudut pandang berbeda. Sajak-sajak mereka terasa polos, dibandingkan dengan karya mentornya, Komang Sujana. Apresiasi pantas diberikan kepada Komang Sujana sebagai pembimbing yang membina lahirnya calon-calon penulis sastra Bali.

Antologi Pasisi Lawar lan Sake (Pesisir Lawar dan Sake) karya Wayan Esha Bhaskara (memuat 64 puisi. Judul antologi menarik karena keanehannya berjejer sebagai judul yang tanpa makna eksplisit. Ternyata judul ini berasal dari tiga judul puisi yang memang tidak ada kaitan tekstual sama sekali.

Puisi “Pesisir” mengungkapkan tentang romantisme remaja yang hendak menghanyutkan rindunya di pantai, sake tentang minuman yang memabukkan, dan lawar makanan khas Bali yang enak tapi menyesakkan. Hal lain yang menarik dari antologi ini adalah hadrinya sajak-sajak tentang makanan-minuman: sake, lawar, kopi, kelepon, dan nasi jinggo. Ada yang ditulis semata untuk menggambarkan makanan tersebut, ada juga yang menjadi metafora untuk renungan kehidupan.

Antologi puisi Poleng karya Eka Murdiatika Yasa memuat 41 puisi yang dominan mengambil tema kritik sosial dengan menjadikan berbagai isu sebagai landasan kritik seperti covid (corona) dan isu politik. Kritik sosial dalam puisi dengan bunyi akhir sama seperti syair itu banyak diarahkan untuk membangun kesadaran ajeg Bali, agar Bali lestari, tidak rusak atau hancur karena kelalaian.

Dalam menyampaikan kritik, penyair yang bekerja sebagai penyuluh bahasa Bali ini terkadang mengambil posisi kritik langsung (puisi “Propokasi”) bisa juga mengambil posisi halus menyindir (puisi “Ampura” [“Maaf”), atau satire (puisi “Beli Bali” dan “Bali Lali” [Bali Lupa]).

Buku puisi terakhir, yaitu Geguritan Sraya Kanti Atma Luwih (Nama Empat Tokoh Cerita: Wayan Sraya, Made Kanti, Nyoman Atma, Ketut Luwih) karya IBW Widiasa Keniten, peraih dua kali hadiah sastra Rancage. Buku ini agak lain dengan antologi puisi di atas karena ditulis dalam bentuk bait-bait khas yang disebut pupuh (tembang), seperti sinom, ginada, pucung, durma. Melihat karakteristik puisi ditulis menggunakan pupuh, Geguritan Sraya Kanti Atma Luwih) ini lebih pas dimasukkan ke dalam genre sastra Bali tradisional, daripada sastra Bali modern.

Karakteristik lainnya dari geguritan karya sastrawan yang sangat produktif ini adalah narasi disampaikan lewat cerita dalam cerita, mendekati bentuk cerita berbingkai. Sejauh isinya dicermati, puisi tradisional ini menyampaikan pesan moral universal, yakni pentingnya kesadaran setiap insan menegakkan kebenaran dan mewujudkan kesucian.

Antologi Cerpen

Enam kumpulan cerpen yang terbit 2023 menunjukkan dua estetika utama, yaitu cerpen cerpen-cerpen non-konvensional (absurd) dan konvensional.

Antologi cerpen yang terbit tahun 2023

Antologi cerpen Ada karya Komang Adnyana yang memuat 11 judul cerpen tampil khas dan dapat dikategorikan cerpen-cerpen non-konvensional. Absurditas dalam cerpen-cerpen di sini terasa karena narasinya menampilkan dunia dengan cara lain, mislanya sangat imajinatif, simbolik, dan minimalis. Kalimat-kalimatnya pendek-pendek, jauh dari kalimat biasa. Kekhasan lain dari antologi ini terletak pada judul-judul cerpen yang semuanya dimulai dengan kata “Ada”, misalnya “Ada Celeng Mamaca Cerpen” (Ada Babi Membaca Cerpen) dan “Ada Cerita Untuk Peteng” (Ada Cerita tentang Malam).

Seperti judulnya, cerpen tentang babi membaca cerpen melukiskan babi sebagai tokoh utama. Cerita ini melukiskan proses kreatif pengarang muda menulis cerita-cerita satire yang membuat babi sebagai pembaca menjadi emosional dan tersinggung merasa kena kritik.

Dengan menggunakan kalimat-kalimat pendek, pengarang Komang Adnyana yang pernah meraih haduah sastra Rancage 2012 ini menulis narasi atau adegan dengan cara yang tidak logis, simbolik, imajinatif, dan minimalis. Diperlukan pembacaan berulang dan pembaca sastra serius untuk dapat menafsirkan narasi simbolik dan imajinatif dari cerpen-cerpen non-konvensional ini.

Antologi cerpen Nasak Karbitan (Matang karena Karbit) karya Ardana Bukian berisi 16 cerita pendek. Cerita-cerita dalam antologi ini tergolong cerita konvensional, mengisahkan kehidupan dalam konteks keluarga, pendidikan (sekolah), kehidupan remaja, dan kehidupan sosial yang berkaitan dengan budaya. Kisah-kisah ini digunakan pengarang yang sehari-hari menjadi guru bahasa Indonesia di SMKI Kubu Tambahan Bali Utara ini untuk menyampaikan pesan moral atau kritik sosial.

Cerpen “Nasak Karbitan” yang menjadi judul antologi ini mengisahkan ketidakberesan orang-orang yang ingin mendapatkan kehormatan dan status lebih tinggi dengan menjadi dukun padahal tidak berilmu, menjadi pendeta padahal perilaku masih keduniawian alias belum matang, atau dipaksa matang dengan karbit.

Dalam cerpen “Sing Ja Amah Leak” (Bukan karena Diserang Setan) adalah cerpen yang hendak mendidik masyarakat untuk mengubah mindset dari percaya takhyul bahwa penyebab penyakit adalah setan menjadi percaya ilmu kesehatan. Amanat yang terlalu kuat membuat unsur cerita (kisah yang menghibur) dari keseluruhan cerpen-cerpen dalam antologi ini seperti menjadi unsur nomor dua.

Antologi cerpen Klangen Ngeberang Angen (Riang Menerbangan Angan) karya Made Suar-Timuhun, memuat 13 cerpen, juga tergolong kisah-kisah konvensional. Menariknya, cerpen-cerpen dalam antologi ini mengangkat tema-tema yang berkaitan dengan kehidupan kontemporer, kekinian. Hal ini bisa dibaca dalam cerpen “Petani Youtuber”, juga dalam dua cerpen tentang Covid. Cerpen “Klangen Ngeberang Angen” mengisahkan pemuda yang pandai membuat layang-layang, tetapi kreativitasnya dihalangi oleh pemuda yang iri-hati. Kisah ini tersaji dalam alur dan konflik berlapis, dengan happy ending, yang membuat pesan moralnya sangat jelas, bahwa spirit untuk berbuat baik tidak akan pernah bisa dibendung oleh perilaku iri-hati yang anagonistik.

Kekuatan cerpen-cerpen Made Suar-Timuhun dalam antologi ini, tidak merata, dalam arti ada yang alur dan narasinya indah serasi, ada juga yang hadir sebagai sketsa tanpa alur yang sekuat karya lainnya.

Kumpulan cerpen Mrebutin Angin (Memperebutkan Angin) karya Ni Wayan Antari, (pengarang muda usia kelahiran Kintamani tahun 2000), memuat 11 cerpen yang mengisahkan masalah rumah tangga, hubungan anak dengan orang tua dengan berbagai pesan moral. Misalnya, tentang anak yang mesti menghormati orang tua, orang tua yang mesti memberikan teladan demi keharmonisan keluarga (jangan malah berselingkuh, seperti dalam cerpen “Las Ati Punyan Cempaka” [Gantung Diri di Pohon Cempaka]). Cerpen “Mrebutin Angin” mengisahkan anak-anak dalam satu keluarga yang memperebutkan warisan, namun lupa mengurus ibunya yang sakit-sakitan. Setelah ibunya meninggal, menjadi ‘angin’, barulah mereka menyembah-nyembah.

Serupa dengan kisah anak-anak yang tidak menghormati orang tua, cerpen “Tanah Lekad” mengisahkan seorang anak yang meninggalkan keluarganya merantau ke kota, karena sukses di rantau tidak menghormati saudara di desa bahlan angkuh dan menghina. Namun, ketika dia jatuh sakit di rantau, habis kekayaan untuk berobat tapi tidak sembuh, barulah pulang menjumpai orang tua, tapi terlambat ibunya keburu meninggal. Ungkapan dan kisah cerita dalam cerpen-cerpen ini pun orisinal, hadir dengan konflik dan alur yang menawan, dan pesan moral yang mendidik.

Antologi cerpen Lan Kobarang Apine (Hayo Kobarkan Apinya) karya Ngakan Made Kasub Sidan (kelahiran Klungkung, 1959) memuat 10 cerpen, dengan tema utama pesan moral agar manusia tidak sombong, jangan memuja setan, selalu waspada, tetapi selalu heroik untuk membela tanah air, seni, dan budaya.  Cerpen pertama “Lan Kobarang Apine” yang menjadi judul antologi ini adalah kisah heroik tokoh utama ikut berperang bersama Raja Gelgel melawan Belanda. Spirit lebih baik mati daripada dijajah menjadi salah satu sub-tema cerpen ini.

Selain spirit heroik dalam melawan penjajah, juga ada cerita spirit heroik sebagai relawan Covid, seperti terbaca dalam cerpen “Majalan Melah-melah, Luh” (Berangkatlah Baik-baik, Adinda). Kalau cerita “Lan Kobarang Apine” melukiskan duka-cita istri melihat suaminya meninggal dalam medan perang, cerita “Majalan Melah-melah, Luh” sebaliknya suami melihat istrinya meninggal di ‘medan perang melawan Covid’.

Salah satu ciri khas dari cerpen-cerpen dalam antologi ini adalah menjadikan suasana alam yang sebagai pembuka cerita, seperti lukisan senja kala gerimis dan lolong anjing, bulan purnama bulat indah, debur ombak pantai, angin mendesir, dan kabut dalam gerimis untuk membangun suasana duka cita sesuai tema cerpen. Cerpen-cerpen dalam antologi ini tampil dengan alur dan konflik tunggal dan sederhana.

Antologi cerpen Ngantosang Ulungan Bulan (Menanti Bulan Jatuh) karya Carma Mira, memuat 12 cerpen yang memiliki kualitas narasi, alur, dan amanat yang sama kuat. Penggarapan tema juga menarik karena menonjolkan substansi cerita yang orisinal, tampak inovatif dibandingkan karya-karya yang terbit tahun 2023. Ini tampak dari alur yang menarik, menyentuh dalam, dan ending cerita yang memiliki daya kejut yang kuat. Cerita pertamanya adalah “Mula Saja Bekung” (Memang Benar Mandul) mengisahkan sakit hati seorang istri/ menantu karena dicurigai mandul oleh mertuanya, sedih menahan sakit hati karena tidak bisa membela diri dari gelombang gosip, setelah akhirnya terbukti bahwa yang mandul adalah suaminya.

Sama dengan cerpen “Mula Saja Bekung”, cerpen “Ngantosang Ulungan Bulan” yang menjadi judul antologi ini juga melukiskan derita perasaan tokoh perempuan. Bedanya, sedih-duka tokoh perempuan bukan karena dituduh mandul, tetapi tidak diizinkan menikah dengan pacarnya dengan alasan dia sebagai anak ketiga harus menanti agar dua kakak laki-lakinya menikah dulu, tidak boleh mendahului. Ayah ibunya menekan keras agar tokoh perempuan ini sabar menanti.

Akhirnya terungkap, kakaknya nomor dua tidak akan menikah sebelum menyelesaikan kuliah spesialis (kedokteran), sedangkan kakaknya nomor satu yang disangka berpacaran dengan Carla (nama wanita) ternyata berpacaran dengan Charles (laki-laki). Terbayang bagaimana pernikahan sesama jenis sebagai sesuatu yang tidak mungkin. Setelah diketahui demikian, tokoh wanita semakin sedih karena penantian persetujuan menikah dari orang tuanya sia-sia, seperti menanti bulan jatuh.

Konflik-konflik cerita yang kuat dan alur yang memikat, membuat cerpen- cerpen lain karya Carma yang sehari-hari menjadi dosen Sastra Jawa Kuno Fakultas Ilmu Budaya Unud ini berhasil menyentuh hati dan menyampaikan pesan yang mendalam. [T]

  • BACA JUGA:
Carma Mira dan Gerip Maurip yang Menumbuhkan Semangat Baru dalam Menulis Sastra
Tags: cerpen bahasa baliHadiah RancageProf. Darma Putrapuisi bahasa balipuisi bali anyarsastrasastra balisastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 “Fill the Frame” dalam Fotografi: Komposisi Objek yang Memenuhi “Frame”

Next Post

Gong Kebyar Desa Kedis, Setelah 32 Tahun Mati Suri

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 23, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 22, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 22, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 22, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

by Andre Syahreza
August 22, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

Read moreDetails

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails
Next Post
Merayakan Ciptaan Merdana Bersama Gadis-gadis Penabuh Belia Desa Kedis

Gong Kebyar Desa Kedis, Setelah 32 Tahun Mati Suri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co