7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menilik Perempuan Penulis di Bali Hari Ini

Pranita Dewi by Pranita Dewi
January 21, 2024
in Kritik Sastra
Menilik Perempuan Penulis di Bali Hari Ini

Foto ilustrasi facebook

GEJALA sastra di Bali hari-hari ini, khususnya karya-karya sastra yang dihasilkan oleh perempuan penulis, memperlihatkan berlangsungnya suatu evolusi terkait peran dan identitas perempuan Bali. Evolusi ini tidak lebih baik atau lebih buruk, tetapi hanya berbeda kecenderungan fokusnya  dari periode sebelumnya.

Makin banyak perempuan penulis dari Bali yang berusia relatif muda dan memperlihatkan harapan. Namun, watak paling menonjol dalam kecenderungan baru ini adalah kemampuan berjejaring. Mereka, para penulis generasi masa kini itu, bukan hanya mampu menulis sastra dengan baik.

Para perempuan penulis Bali kini mampu memenuhi ruang-ruang literer dengan mendayagunakan jejaring yang mereka bentuk dan raih sendiri seiring mengaburnya batas-batas. Bagi mereka, seolah-olah tidak ada lagi pemikiran yang out of the box karena pada kenyataannya saat ini there is no box anymore.

Termasuk dalam pemilihan tema atau gaya ungkapan sastra, batas-batas konvensional makin lentur dan cenderung membebaskan. Kemampuan untuk mencipta karya dengan lebih bebas dan menggunakan berbagai media publikasi yang ada itu pada gilirannya membuat perempuan penulis Bali tampak sangat berdaya.

Terkait pemilihan tema, misalnya, isu adat, kasta, dan partriarki tidak lagi dominan. Perempuan penulis Bali baru tampak lebih rileks, menerima, dan tidak mempersoalkan hal-hal yang dulu menjadi “momok” di Bali. Mereka bahkan memperluas mata air bacaan dan pengalaman, menerapkan perspektif budaya dan ilmu dari sistem kultural lain, dan mengalirkan hasil ciptaannya dengan mengoptimalkan jejaring.

Pembacaan secara umum di atas adalah hasil pengamatan terhadap beberapa perempuan penulis Bali. Setidaknya ada lima penulis yang cukup merepresentasikan gejala evolusi sastra baru ini, yaitu Ni Made Purnamasari, Desi Nurani, Devy Gita, Wulan Dewi Saraswati, dan Kadek Sonia Piscayanti.

Di dalam perkembangan saat ini, karya sastra yang ditulis oleh perempuan penulis Bali generasi saat ini bukan hanya menjadi sastra yang sekadar teks, namun juga bekerja dengan konteks. Ide sastra mengambil wadah yang berbeda dan memberikan pengalaman yang berbeda. Barangkali cukup aman jika kelima penulis di atas dipilah menjadi dua kelompok, yaitu penulis yang fokus pada teks (Ni Made Purnamasari, Desi Nurani, Devy Gita) dan konteks (Wulan Dewi Saraswati, Kadek Sonia Piscayanti).

***

Berikut ini pemeriksaan yang lebih mendalam.

Ni Made Purnamasari

Merujuk kepada bagian kedua, yaitu “Kampung Halaman”, dalam kumpulan antologi puisi tunggalnya yang berjudul Kawitan, Made Purnamasari mencoba menengok kembali akar dirinya. Dapat dikatakan, puisinya diciptakan tak jauh-jauh dari lingkungan tempat ia mengakar dan tumbuh.

Ni Made Purnamasari

Namun, Purnama tampak jelas punya keinginan kuat untuk menjelajahi ruang-ruang liar yang baru dan menembusi batas-batas pengetahuan-pengetahuan yang belum (atau mungkin sedang) didapatkannya. Si penyair menyediakan ruang luar dan ruang diri di dalam setiap pertemuannya. Ia menggambarkan dirinya bagai seekor Kasuari yang terbang mengembara dengan riang.

Kasuari

Seekor Kasuari mengembara
Pada tenun yang belum selesai disusun
Ruhnya piatu, bagai menyusur rimba raya
Mencari bulan yang dulu dikenang
Ketika terlahir sendirian, dikepung gigil malam
Dan ibu mati diburu

Bertemu ia dengan kuda-kuda
Liar berpacu dari sabana sumba
Derap derunya serupa pekik moyang kami
Melawan laju waktu, terasing dari masa lalu
Tak tercatat pada buku-buku sejarah ini

Kasuari merah pualam
Pergi ke sungai tanpa muara
Seorang bocah mengarung arus
Tawanya nyaring, mengandaikan diri bajak laut
Menyamar ikan-ikan bebatuan
Merompak mimpi segala perahu
Yang karam sebelum sampai di melayu,
Pesisir madagaskar ataupun tanah janjian nun di mana

Pandang Kausari membayang
Betapa ingin mengelana jauh
Melampaui lembaran kain tenun
Menuju hutan sebagai pulau
Bersarang di tengah kabut danau
Memanggili kerdip bintang dan ruh para moyang
Yang tak pernah menjenguknya barang sekali

Demikianlah saban malam
Menyusur tenun yang belum usai itu

Ia mencari rumah muasal yang dulu
Entah di lembah mana, ngarai gunung yang mana

Sementara embun membasuhnya pelan-pelan
Serupa air mata dewata

(Ni Made Purnamasari, Kawitan, 44-45)

Memang segala sesuatu menjadi lain ketika dilihat dari tempat yang tinggi. Langit tampak lebih dekat dan seolah-olah lebih mudah untuk digapai. Lanskap di bawah mengecil, namun sekaligus memberikan pemandangan yang lebih luas, yang selanjutnya memungkinkan persepsi atas ruang dan kenikmatan visual yang lebih utuh. Warna dan bentuk tampil bukan sebagai warna dan bentuk tunggal, melainkan sebagai bagian-bagian yang tak terpisahkan dari bagian-bagian lain yang membentuk komposisi keseluruhan.

Oleh karena itu dia yang berada di tempat tinggi pada dasarnya adalah subjek yang kuat dan dominan. Dominasinya diperoleh karena dia dapat memandang (watch) pada ruang yang lebih luas. Sehingga, ketika memutuskan untuk bertindak, dia dapat melakukannya dengan sangat cepat: ketika melesat, dia melesat bagaikan halilintar yang tegas dan pasti untuk mencapai tujuannya. Purnama mampu merepresentasikan dominasi-dominasi itu.

Desi Nurani

Dalam cerpen Manisan Gula Merah Setengah Gigit, Desi mencoba menjadi laki-laki dengan karakter yang bernama Alan. Alan ditinggalkan oleh Ibunya, yang akhirnya menjadi penulis yang digemari oleh Alan. Alan hanya hidup berdua dengan ayahnya. Itulah yang menyebabkan si penulis mampu melintasi batas antara laki-laki dan perempuan. Penulis mampu menjadikan dirinya sebagai subjek di mana yang=feminin dan yang-maskulin lebur di dalam karya ini:

Aku tidak dapat membendung perasaan macam apa ini di dadaku ketika mengucapkan namanya. Ia mengangguk dan balik bertanya.
“Kau?” ia masih nampak heran. “Alan, aku Alan.”
Matanya terbuka lebar dan masih terdiam. Aku mengulang lagi namaku dan mengatakannya, “Aku penggemarmu.”
Ia masih nampak diam sambil menatapku dalam, tapi kemudian ia menarik nafasnya. Aku menyodorkan buku dan ia memberi tanda tangannya.
“Terima kasih,” kataku sambil tersenyum kemudian berpamitan. Aku tahu ia menatapku, jadi tak kubalikkan badanku.

Sampai aku benar merasa telah sedikit jauh darinya. Ia kembali pada penggemar lainnya. Aku ingin menatapnya sebagai penggemar kini. Sebagai kerinduan yang selalu aku ingin datangi dan temui. Kubuka kembali buku yang ia tanda tangani. Ada catatan di atas tanda tangannya.

Seperti kenangan, pertemuan denganmu seperti mimpi yang tidur lama, juga harapan yang selalu tumbuh. Terima kasih telah memberi namamu pada pertemuan kita.

(Manisan Gula Merah Setengah Gigit, Desi Nurani, 2020 hal. 19)

Desi Nurani

Di dalam cerpen ini, dengan menjadi tokoh laki-laki, si penulis bisa lepas dan bebas membahasakan tentang tokoh perempuan lainnya, yaitu ibunya, yang ternyata adalah seorang penulis yang ia gemari.

Devy Gita

Sastra bukan hanya bisa maujud dalam bentuk puisi, cerpen, atau novel, tetapi juga bentuk lain. Devy Gita menjadi unik karena dia bisa menulis cerita-cerita horor dan juga mempublikasikannya di laman twitter atau X. Mungkin, baginya, kapasitas ruang dalam twitter yang sedikit (yang hanya mampu menampung 160 karakter) bisa menjadi ruang alternatif baginya untuk menjembatani cerita-cerita yang ingin disampaikannya, yang berupa fragmen-fragmen horor.

Devy Gita

Twitter, bukan hanya soal perbedaan ruang/ media yang digunakan, tetapi keunikan untuk memfragmentasikan cerita berdasarkan keterbatasan satu tweet dan membuatnya menjadi threads (twitt berangkai) seperti cerita bersambung yang ada di koran-koran, bisa jadi cerita-cerita yang disampaikan di twitter terkadang justru membuat rasa penasaran dalam membacanya, jadi mengajak pembaca untuk membacanya secara tuntas.

“Aku memang percaya dengan keberadaan makhluk alam lain. Juga orang-orang yang mempelajari ilmu. Namun, aku tidak merasa takut. Aku melewati jalan itu dengan tenang dan mengklakson beberapa kali saat memasuki jalan itu.”

“Tapi tiba-tiba aku mendengar suara seperti suara monyet di sebelah kiri. Aku menoleh, tapi tidak apa-apa. Saat itu aku mengendarai motorku dengan pelan karena jalan cukup licin setelah hujan. Suara monyet terdengar lagi, namun aku masih tidak melihat apa-apa. Hanya saja, di dalam kepalaku, ada seekor monyet berukuran tinggi seperti anak SD, dengan ekornya yang panjang dan buku hitam pekat. Aku tidak memedulikan hal tersebut dan akhirnya sampai di rumah dengan selamat.”

(Jalan Tua, Devy Gita)

Wulan Dewi Saraswati

RUPA-RUPA KEDUKAAN
Mayor Hermit Death

KEDUKAAN I
Mungkinkah wajah ayah di mata ibu tetap sama?
seekor ayam tanpa darah terkapar di ranjang
tak guna taji di kaki, bila kiamat
masih berwujud nadi pertarungan
tentang kemenangan yang disasati petaka
tentang kepak-kepakan nelangsa
bagi segala sujud kekalahan

KEDUKAAN II
Seorang panglima datang menunggang kuda,
membawa bendera kematian, memanen jiwa-jiwa derita
kontestasi luka, liang-liang kehilangan
diupacarakan

KEDUKAAN III
Mengapa kecewa hanya mengenali kegelapan?
amarah tak menjadi nyala pagi
hampa yang hadir tak lantas jadi puisi.

Mungkinkah ini sebuah kutuk yang bervariasi?
menjadi masa lalu, masa kini, masa nanti
tanpa tahu apa niscaya yang sejati?

KEDUKAAN IV
Rancangan manusia adalah berlatih kematian
mengamati napas, menghayati kehilangan
kerangka rusuk yang akan rapuh dikoyak kremasi
lemak tubuh menyusut, kenangan hanyut
hanya ada debu
hanya menjadi butiran halus
tanpa memori, tanpa rasa sakit di ulu hati
segalanya asap
melesapkan doa
pengiring masuk kerajaan abadi

KEDUKAAN V
Perpisahan tidak butuh bertanya kesiapanmu
mustahil bila air matamu tak jatuh
menolak kepedihan adalah ilusi
kehilangan ini penuh rahasia, namun mujarab
menyiasati karma yang tak perlu terjadi
lambankan tangis,
Pertemuan memang ingin bercanda, sesekali

Di dalam puisi ini, Wulan mencoba merespons kartu-kartu tarot dan mentransformasinya sehingga menjadi lukisan dari perasaan-perasaan yang kemudian dituliskan menjadi puisi. Suka, Duka, Lara, dan Pati bisa melebur di dalam sebuah medium, menjadi semacam pendulum yang secara bergiliran tampil dalam bangunan puisi.

Wulan Dewi Saraswati

Tampaknya Wulan memandang konteks tarot sebagai suatu kesatuan kesenian yang dapat membawa pengaruh baik dalam proses terapi penyembuhan. Tidak hanya pada spektrum autisme, Aghumi, komunitas yang didirikan oleh Wulan, juga membuka percakapan dan diskusi dengan orang tua yang memiliki anak autis. Beban psikis orang tua cukup berat sehingga kadang harus dibuat wadah khusus untuk mereka.

Kadek Sonia Piscayanti

Sonia bukan hanya menghubungkan sastra berdasarkan teks saja, tetapi juga melakonkan sastra sebagai konteks. Di dalam 11 ibu, 11 panggung, dan 11 kisah, sastra tetap menjadi akar yang bisa mendekatkan orang-orang yang tidak membaca teks sastra. Media menjadi penting, bukan hanya sebagai tempat mencurahkan segala penat, tetapi bagaimana sastra menjadi media atau ruang dengar yang nyaman bagi orang-orang yang jauh dari latar belakang sastra. Upaya mentransformasi teks sastra menjadi konteks sastra menjadi menarik karena membuat sastra menjadi kaya, dan memberikan dampak yang nyata di dalam kehidupan masyarakatnya.

***

Melihat sampel-sampel di atas, tampak bahwa para perempuan penulis Bali hari ini bisa berkarya ke arah mana saja, dengan bahasa dan style mereka sendiri, mengepakkan sayap mereka sendiri. Pertanyaan yang selanjutnya sangat mengusik adalah: mengapa demikian? Mengapa kecenderungan gejala “evolusi baru” tersebut bisa muncul?

Tentu bisa diajukan banyak dugaan dan/atau penjelasan. Namun, perlu ditekankan bahwa karya sastra memiliki sifat atau kualitas personal sekaligus kolektif, namun keberadaannya diawali oleh subjektivitas pencipta yang menuliskannya dalam bentuk teks. Hanya, “subjektivitas” ini ternyata juga dibentuk secara dialogis oleh habitus.

Kadek Sonia Piscayanti

Habitus menurut Pierre Bourdieu adalah “a subjective but not individual system of internalised structures, schemes of perception, conception, and action common to all members of the same group or class” …. “These ‘internalised structures’ and ‘schemes of perception’ structure the subject’s (shared) world-view and their ‘apperception’ of the world in which they suppose they exist”. (… adalah sebuah sistem subjektif, tetapi tidak bersifat individual, dari struktur-struktur yang terinternalisasi, skema persepsi, konsepsi, dan tindakan yang lazimnya terdapat pada semua anggota kelompok atau kelas yang sama” …. “‘Struktur-struktur yang terinternalisasi’ dan ‘skema persepi’ ini membentuk struktur pandangan dunia subjek (bersama) dan ‘apersepsi’ mereka tentang dunia di mana mereka berada.)

Perubahan sosial pesat yang dilapangkan jalannya oleh teknologi informasi terkini, terutama internet dan media sosial, tampaknya menciptakan habitus baru bagi para perempuan penulis Bali generasi baru ini. Habitus ini katakanlah berbeda dari habitus yang melatari generasi perempuan penulis sebelumnya. Sehingga, muncullah gejala seperti yang diungkapkan di awal tulisan ini, yaitu pemilihan tema dan bentuk sastra yang lain dari generasi sebelumnya. [T]

  • Tulisan ini pernah disampaikan dalam acara diskusi pada Festival Bali Berkisah di Denpasar, Desember 2023
  • BACA artikel dan puisi dari penulis PRANITA DEWI
Ida: Perempuan, Sajak dan Visi Literer Chairil Anwar
Puisi-puisi Pranita Dewi | Bedawang Nala
Tags: Desi NuraniKadek Sonia PiscayantiNi Made Purnamasaripenulis baliperempuan penulis baliPranita DewisastraSastra Indonesiasastrawan baliWulan Dewi Saraswati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

Next Post

IKAMSU Buleleng, Rumah Besar Mahasiswa Sumatera Utara di Undiksha

Pranita Dewi

Pranita Dewi

Penyair. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
0
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung? Ide itu tiba-tiba...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

by Hartanto
May 18, 2025
0
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi....

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

PADA suatu sore yang muram saya berbincang sambil minum teh dengan Joko Pinurbo di teras rumahnya. Entah bagaimana tiba-tiba dia...

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

SYAHDAN dua puluh satu tahun silam, pada tahun 2004, Dewan Kesenian Jakarta membuat acara bertajuk “Cakrawala Sastra Indonesia”. Selain pentas...

Read moreDetails

Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

by Fani Yudistira
April 23, 2025
0
Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

PADA pukul 21.47, Rabu 16 April 2025, pengumuman juara LCP (Lomba Cipta Puisi) Piala Kebangsaan bertema Pagar Laut diumumkan. Dalam...

Read moreDetails
Next Post
IKAMSU Buleleng, Rumah Besar Mahasiswa Sumatera Utara di Undiksha

IKAMSU Buleleng, Rumah Besar Mahasiswa Sumatera Utara di Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co