23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi GM Sukawidana | Narasi Imajiner Memasuki Ruang Kosong Snerayuza

GM Sukawidana by GM Sukawidana
November 25, 2023
in Puisi
Puisi-puisi GM Sukawidana | Narasi Imajiner Memasuki Ruang Kosong Snerayuza

Trunyan | Lukisam Made Budhiana

NARASI IMAJINER MEMASUKI RUANG KOSONG SNERAYUZA

1. Lorong Snerayuza

saat ruang dalam studio terlihat lenggang
pintu terbuka lebar
kuketuk perlahan
lama tak berjawab
kemanakah para penghuninya?
setiap lorong kujelajahi

di sudut ruang
tergeletak begitu rupa
rumah purba penyair nuryana asmaudi
tak bergerak
aku masuki saja!
bagai memasuki rumah keong

dengan langkah yang aneh
mencoba berjalan sendiri menyusuri setiap lorong
merasakan bagaimana menjadi sosok penyair

sesekali
mendekati setiap orang yang kutemui
tapi
tak ada yang bereaksi saat kusapa
orang-orang seperti tak percaya aku sang penyair itu

di luar
angin berdesir menggoyang pucuk pepohonan
beberapa lembar daun berjatuhan
aku memungut dan menempelkan di wajah
lalu berkata
aku sang penyair itu!
tapi masih juga orang-orang terdiam
aku teriakkan dengan suara lantang
aku nuryana asmaudi
penyair pungguk merindukan bulan!
kau tahu?

satu persatu aku tatap wajah-wajah yang membisu
tapi tetap tak ada yang merespon

aku berlari menuju jalanan sambil kuteriakkan nama itu berkali-kali
satu-dua orang menatap
kudekati
kau tahu
aku penyair yang bermimpi merengkuh bulan

orang gila!
katanya lalu pergi
apa
kau bilang aku gila?
aku penyair!

kesal tak ada yang menggapi
dengan langkah lunglai
aku menuju sudut ruang snerayuza
merunduk sambil menatap hampa lukisan-lukisan di dinding
tak ada yang percaya
aku penyair nuryana asmaudi
keluhku dalam lelah
sampai kemudian terlelap

dari balik pintu
ada suara ketukan halus
siapa di dalam?
aku terjaga
membuka pintu rumah
sang pemilik datang membawa sejumput mimpi dari perjalanan jauh

aku keluar melayang-layang di langit berbatas dinding
sampai terdampar di sudut snerayuza yang lain!

2. Rumah Panggung Snerayuza

itu rumah panggung snerayuza
dikelilingi penuh pepohon liar
tempat semadi sang maestro made budhiana
adakah ia di dalam?
kupanjat anak tangga dari kayu
dengan hati-hati agar tak mengganggu
di depan pintu
aku berdiri ragu
kuketuk perlahan
tapi tak ada jawaban
aku masuki saja rumah yang ditinggal itu
sang maestro sedang terbang menabur warna cahaya
jauh di gelap langit
memasuki tubuh pelukis itu
aku menjadi pelukis
sungguh terasa gagah dan membanggakan
dengan warna-warna yang berserakan di lantai
aku memulai memoles kanvas dengan telapak tangan dengan kaki bahkan kadang dengan jidat
tak tahu wujud yang terbentuk
warna-warna berhamburan begitu saja memenuhi kanvas
aku balurkan tubuhku dengan berbagai warna
lalu berguling-guling di kanvas
aku telah jadi pelukis itu
kepada setiap orang yang datang
kutunjukkan diriku penuh belepotan warna
sesekali
aku mendemontrasikan ketrampilanku melukis dengan tangan kiri
mengapa?
karena jika tangan kananku tak lagi berfungsi
aku masih bisa menggunakan tangan kiri
aku ingin sepenuhnya dalam hidup ini mengabdikan diri untuk tetap melukis
tapi aneh
orang-orang hanya menontonku
mengapa kalian tak berkomentar?
aku ini pelukis, maestro!
kau harus tahu itu!
orang-orang masih tetap diam tak berkomentar
aku kesal
lalu kembali mengguling-gulingkan tubuhku di kanvas
seluruh penuh dengan berbagai warna tak beraturan
karena orang-orang masih tetap diam
aku menggulung diri dengan kanvas penuh warna
sampai tak bergerak
diam
orang-orang hanya tetap menonton

3. Epilog

ah
ternyata aku memang bukan penyair nuryana asmaudi
atau pelukis made budhiana
meski dapat memasuki rumah-rumah kehidupan itu
aku tak dapat menjadi dirinya

snerayuza-umah panjer, oktober 2022-november 2023

TERUNYAN PADA SEBUAH LUKISAN

tubuh yang semadi
teronggok di atas tanah hitam
mata bekumu
runcing dan tajam
di wajah basah
musim kemarau
jangan kau tikam aku seperti itu

bilah bambu
udara dingin pegunungan
berkabut tipis
diam pepohonan menebar wewangian
menyimpan rahasia kematian semesta

mata bekumu tajam
mengapa kau tatap aku seperti itu
tersayat sebagian dari sisa waktuku
untuk berbenah pulang
mengikuti perjalanan senja
detak terakhir
di denyut nadi

snerayuza- umah panjer, november ‘23

DI ATAS MEJA PELUKIS MADE BUDHIANA

di atas meja
ada kepala- kepala berserakan
menggelinding ke berbagai arah
seperti mencari badannya
tak kutahu milik siapa
raut wajahnya menakutkan
mengejekku sambil berbisik
mengapa tak kau lepaskan saja kepalamu seperti kepala-kepala ini?
bebas menggelinding bersama kemana kau suka
ayolah
kau tanggalkan saja kepalamu di sini
bertukar kepala dengan kepala-kepala yang kau suka
kau boleh memilih

kepala-kepala itu menggelinding lagi ke segala arah
seperti bermain petak umpet
terlihat betapa riang

aku tercenung bimbang menjawab tantangan
tapi entah ada apa
tiba-tiba tanganku mulai bergerak
gemetar
kepala berputar-putar mengikuti arah jarum jam
makin lama semakin kencang
berontak ingin dilepas
aku berteriak sekuat tenaga
tapi kepalaku sudah lepas
menggelinding di atas meja
tersenyum bebas mencari kepala-kepala yang berserakan
meninggalkan tubuhku tanpa kepala
berdiri kaku

kepala-kepala yang menggelinding di atas meja
bersorak gembira
menyambut kepalaku yang baru lepas dari badan
terasa aneh permainan ini
dan aku tak mengerti

dalam kebingungan
aku mencoba mencari kepalaku sendiri
dengan meraba-raba
tapi aku tak tahu yang mana kepalaku
kuambil saja satu yang tertangkap
dan kupasangkan pada tubuhku
aku kembali menjadi manusia berkepala
sungguh asing terasa
kepala yang kukenakan tertawa sekeras-kerasnya bahkan mengejek
sekali waktu menangis sejadi-jadinya
sedih

aku tak tahu
apakah kepala yang kukenakan itu kepalaku?
aku ragu
untuk kemudian mencoba mencari-cari lagi
dimanakah kepalaku bersembunyi

di atas tumpukan buku
ada sebuah kepala
menempel di kanvas penuh warna pucat
berair mata
itukah kepalaku?

pelan -pelan kudekati
dan katanya, kaukah kepalaku?
air matanya mengalir semakin deras
sementara kepala yang kukenakan
membrontak tak mau lepas dari tubuhku
“aku ingin tetap tinggal di sini!”

permainan ini
semakin tak kumengerti
aku tanyakan pada setiap orang yang kutemui
“apakah kepala yang kukenakan ini kepalaku?”
tak ada terdengar yang menjawab
menghindar ketakutan
sambil bersembunyi dalam warna-warna tebal di kanvas
siapakah aku dengan kepala ini?

malam semakin larut
aku lelah mencari kepalaku
di kursi panjang aku duduk
tanganku meraba-raba permukaan meja
sampai akhirnya kepalaku terantuk di kanvas basah
di atas tumpukan buku
melekat keras
aku meronta-ronta
sampai kepala yang kukenakan terlepas
menggelinding berkumpul dengan kepala-kepala yang lain
dalam keletihan
tanganku meraba-raba permukaan meja menyentuh sesuatu
aku berteriak keras
kepalaku! ini kepalaku!
aku menemukan kepalaku

sungguh
aku seperti menemukan kembali bagian dari hidupku yang hilang
dalam perjalanan panjang menyusuri waktu

(denpasar, akhir oktober ‘23
sebuah puisi eksperimen).

  • BACA puisi-puisi lainnya
Puisi-puisi GM Sukawidana | Rumah Warna Snerayuza
Puisi-puisi GM Sukawidana | Pulang ke Ubud, Sajak Tanah Ibu
Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Epilog: Mencari Pembaca

Next Post

PUPAR Unud Berbagi Strategi Pengembangan Pariwisata Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur

GM Sukawidana

GM Sukawidana

Penyair, tinggal di Denpasar

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
PUPAR Unud Berbagi Strategi Pengembangan Pariwisata Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur

PUPAR Unud Berbagi Strategi Pengembangan Pariwisata Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co