2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Minikino Film Week 2023 dan Hidupnya Ruang Kolaboratif di Singaraja

Jaswanto by Jaswanto
September 18, 2023
in Khas
Minikino Film Week 2023 dan Hidupnya Ruang Kolaboratif di Singaraja

Suasana Minikino Film Week di Singaraja | Foto: Dok. Bayu

BANYAK yang beranggapan barangkali “diskusi” memang bukan menjadi nama tengah Singaraja. Di kota yang terletak di Bali bagian utara ini, meski terdapat beberapa perguruan tinggi, nyatanya ruang diskusi jumlahnya tak lebih banyak dari jari tangan manusia.

Dari sedikitnya ruang diskusi serius, selain di Rumah Belajar Komunitas Mahima tentu saja, Kedai Kopi DeKakiang bisa jadi salah satu ruang penawar dahaga orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Kedai kopi yang terletak di Jl. Sedap Malam, Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng, itu memang tercatat beberapa kali menjadi ruang diskusi serius—tapi asyik—tentang banyak hal.

Selain tempatnya yang representatif: luas, sederhana, dengan menu yang tak sampai menguras gaji bulanan, pemiliknya juga pintar membangun dan memelihara relasi.

Barangkali itulah asalan kenapa kolaborator penyelenggara Minikino Film Week memilih kedai kopi tersebut menjadi salah satu venue untuk memutar beberapa film pendek yang terpilih.

Minikino Film Week 9 diselenggarakan dari tanggal 15 sampai 23 September 2023 di 14 tempat di Bali, termasuk Kedai Kopi DeKakiang di Singaraja. Maka tak heran, jauh sebelum hari pemutaran film dilaksanakan, di beberapa sudut kedai kopi tersebut, terdapat beberapa poster dan banner panjang yang dipasang sebagai bahan penunjang informasi.

Bekerja sama dengan Singaraja Menonton, sebuah platform yang menyediakan informasi seputar screening, workshop, dan festival film, Minikino Film Week di Singaraja diselenggarakan pada 16-17 September kemarin dari pukul 18.30 sampai 22.00 Wita.

Suasana Kedai Kopi DeKakiang saat Minikino Film Week berlangsung / Foto: Dok. Bayu

“Ada empat program yang diputar di Singaraja. Program Jolly, Surprise!, Toronto Reel Asian, dan Mother! Dari keempat program tersebut, terdapat 24 film pendek dari berbagai negara,” jelas Kardian Narayana, Founder Singaraja Menonton.

Dalam Program Jolly terdapat tujuh film pendek: 11 (2022) karya Vuk Jevremovic dari Jerman; Spirit of the Fores (2022) karya Nandini Rao dari India; On the Other Side of the Mountain (2022) karya Yosman Serrano Lindarte dari Kolombia; Letters from the Edge of the Forest (2022) karya Jelena Oroz dari Kroasia; Luce and the Rock (2022) karya Britt Raes dari Belgia; Svetla (Lights) (2023) karya Jitka Nemikinsova dari Czech Republic; dan I’m not Afraid! (2022) dari Marita Mayer dari Jerman.

Semua film dalam program tersebut mengangkat tema tentang pengalaman filosofis dan petualangan yang berkaitan dengan alam: hutan, gunung, dan laut. Film Spirit of the Fores, misalnya, bercerita tentang pengalaman dan kesadaran seorang anak dalam memahami bagaimana pentingnya sebutir biji pohon terhadap berlangsungnya kehidupan mahluk di bumi. Film pendek ini mengingatkan kita pada film animasi—sebagaimana genre Spirit of the Fores—The Lorax (2012) karya Chirs Renaud.

Atau film On the Other Side of the Mountain, yang bercerita tentang kekonyolan dua orang anak kecil yang melakukan perjalanan jauh hanya untuk melihat laut secara nyata. Diceritakan, selama hidup, mereka sama sekali tidak memiliki pengalaman empiris tentang laut. Bahkan mereka tidak tahu, apakah warna laut sama birunya dengan warna langit? Premis utama dalam film ini, meski dibalut dengan humor, sebenarnya memiliki muatan yang serius, yaitu masalah ekologi.

“Ada tiga tema yang saya tangkap dalam ketujuh film tersebut: soal ekologis, gotong royong (kolaborasi), dan filsafat—mempertannyakan eksistensi sebagai manusia,” ujar Altha Rivan, salah satu penonton yang hadir.

Sementara itu, dalam Program Surprise! terdapat enam film yang diputar: Ma Gueule (Facking Head) (2022) karya Gregory Carnoli dan Thibaut Wohifahrt dari Belgia; Kakak Jenggot (2022) karya Nur Falah Muzakkir dari Indonesia; Garek (2022) karya Cech Adrea dari Malaysia; At Little Wheelie Three Days Ago (2022) karya Andrew Stephen Lee dari United States; Safe as Houses (2022) karya Mia Mullarkey dari Irlandia; dan It’s You (2021) karya Yu WON dari Korea Selatan.

Sebagaimana nama programnya, keenam film pendek di atas memang menghadirkan kejutan-kejutan kepada penonton. Seperti Ma Gueule yang pemeran utamanya dituduh dan dicurigai sebagai seorang teroris, atau Kakak Jenggot yang bercerita tentang anak kecil dengan pikiran bahwa jenggot adalah penyebab seseorang menjadi teroris, atau It’s You yang memberi kejutan melalui absurditas dan membuat penonton mengutuk diri sendiri sebab tak paham apa yang sedang diperdebatkan oleh para pemerannya.

Kardian Narayana saat sedang memantik diskusi / Foto: Dok. Bayu

“Saya melihat, dalam film Ma Gueule, terdapat semacam Arabphobia dan trauma kolektif jangka panjang terhadap aksi terorisme di Eropa. Sebagai sebuah premis, tema ini sebenarnya sudah usang. Tapi, secara realitas, beberapa orang Eropa barangkali masih memiliki trauma itu,” terang Azman H. Bahbereh, kritikus film muda yang turut hadir dalam screening.

Dan seperti program sebelumnya, dalam Program Toronto Reel Asian juga terdapat enam film pendek yang semuanya dari Kanada: Dutar (2022) karya Roda Medhat; Perennials (2022) karya Hannah Polinski; In Silence, We Sing (2022) karya Vivian Li; Maya (2022) karya Samyukth Movva; Papaya (2022) karya Dede Chen; dan Once in a Reed Moon (2022) karya Yi Shi.

Keenam film tersebut mencoba menyampaikan cerita tentang diaspora orang-orang imigran di Kanada yang gelisah akan indentitas, kesepian, kesendirian, dan bagaimana menjadi seorang minoritas. Dari semua film tersebut, terdapat dua film experimental, yaitu Dutar dan Papaya. Sisanya bergenre fiksi. Dan yang menarik adalah, beberapa sutradara dari enam film tersebut, turut hadir meramaikan acara screening. Mereka datang langsung dari Kanada.

“Ini kunjungan kami yang pertama di Indonesia dan di Bali. Kami sangat berterima kasih kepada semuanya atas apresiasi film karya kami,” kata Dede Chen, sutradara film Papaya, sesaat setelah menjawab beberapa pertanyaan dari penonton.

Terakhir, dalam Program Mother! terdapat lima film pendek yang diputar: Sweet Summer (2021) karya Sabrina Mertens dari Jerman; File (2022) karya Sonia K. Hadad dari Iran; A Day That Year (2022) karya Stanley Xu dari Singapura; Aime (2022) karya Gillie Cinneri dan Anouk Ferreira da Silva dari Belgia; dan Your Way My Way (2022) karya Sharon Kleinberg dari Mexico.

Film-film dalam Program Mother! bercerita tentang hubungan kompleks antara ibu dan anak. File (2022) karya Sonia K. Hadad terpilih sebagai nominasi film terbaik dalam Festival Minikino Film Week 2023 kategori fiksi. Meski bercerita tentang hubungan antara ibu dan anak, menurut Azman, jika ditelisik lebih dalam, kita akan menemukan sesuatu yang lebih daripada itu.

“Saya melihat film File justru bukan hanya sekadar hubungan antara ibu dan anak, lebih dari itu, sutradara mengajak kita untuk melihat dan mempertanyakan kebenaran dari berbagai sudut pandang—dan itu memang ciri khas sineas-sineas dari Iran,” terangnya.

Sedangkan, film Aime (2022) karya Gillie Cinneri dan Anouk Ferreira da Silva memiliki gaya bercerita, khususnya di ending, seperti dalam cerpen-cerpen Anton Chekhov—selain meng-“KO”-kan, ia juga bisa membuat kita tersenyum simpul dan senang. Lega. Tanpa beban, tapi membuat penasaran, juga mengejutkan, lalu berkata, “Oh, sialan. Ternyata begitu ceritanya.”

Sementara itu, tanggapan juga datang dari seorang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Singaraja, Rusdi Ulumudin. Menurutnya, film-film dalam Program Mother! merupakan kritik kepada orang tua yang melakukan atau memperlihatkan perbuatan negatif di depan anak-anak mereka. “Dan itulah yang menyebabkan anak-anak di beberapa film melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan dan diajarkan oleh ibu mereka,” jelasnya.

Keempat program tersebut diputar dalam dua malam secara kontinu. Artinya, satu malam diputar dua program. Malam pertama film-film dari Program Jolly dan Surprise yang diputar lebih dulu, Sabtu (16/9/2023). Sedangkan film dalam Program Toronto dan Mother diputar di malam berikutnya, Minggu (17/9/2033).

Hidupnya Ruang Kolaboratif

Pada malam itu, Kedai Kopi DeKakiang menjadi pusat perhatian. Orang-orang ke sana tak lagi hanya sekadar ingin nongkrong dan ngobrol ngalor-ngidul, tapi juga menikmati film-film pendek yang diputar dan didiskusikan. Selama dua malam, DeKakiang seolah menjelma menjadi Le Procope di Paris pada abad ke-18.

Layaknya Le Procope—kedai kopi milik orang Italia bernama Francesco Procopio Dei Coltelli yang menjadi tempat berbagi informasi pencerahan kalangan intelektual dan seniman Paris seperti JJ Rousseau, Diderot, Voltaire, dan Pirot, sampai menghasilkan Revolusi Prancis—DeKakiang juga menjadi ruang tukar informasi dan pemikiran, meski dengan bobot yang berbeda tentu saja, tentang tafsir, kritik, hingga ekosistem film di Bali.

Diskusi yang dipantik oleh Kardian Narayana, wartawan sekaligus programer film Indonesia Raja; Dian Suryantini, wartawan cum sutradara film; dan Azman H. Bahbereh, selaku kritikus film muda dari Singaraja itu, membuat Minikino Film Week 9 semakin hidup dan meriah: luber akan tafsir dan argumen mengenai film yang diputar.

Dian Suryantini, selaku sutradara yang memulai debutnya dengan dua film pendek: Renjana dan AIR, mengaku senang dengan kegiatan tersebut. “Kegiatan ini merupakan tempat belajar bagi saya. Dari film-film yang diputar, sebagai sutradara yang masih baru, saya banyak mendapatkan inspirasi dan pelajaran yang sangat berharga,” ujarnya.

Azman H. Bahbereh dan Dian Suryantini sedang memantik diskusi / Foto: Dok. Bayu

Hadirnya Minikino Film Week 9 di Singaraja, disadari atau tidak, telah menghidupkan ruang-ruang kolaborasi antarkomunitas. Hal ini dibuktikan dengan terlibatnya komunitas seperti Singaraja Menonton (sebagai pihak kolaborator Minikino) dan Komunitas Omah Laras Singaraja—yang mengadakan workshop sablon cukil terlebih dahulu sebelum acara screening film dimulai.

Menurut Kardian Narayana, kolaborasi tersebut sebagai bentuk solidaritas antarkomunitas yang ada di Singaraja. Ia ingin bergerak bersama-sama dan membuktikan kepada siapa pun bahwa  film bisa terhubung dengan banyak hal; dengan kopi, tongkrongan, bahkan fashion: sablon. Melalui screening film, banyak orang dari latar belakang yang berbeda juga dapat duduk bersama. Jadi, selain menghubungkan, juga menyatukan.

“Saya ingin mendekatkan film pendek kepada teman-teman yang mungkin masih awam soal itu. Okelah semua orang tahu soal film panjang di banyak platform, tapi kalau film pendek kan kebanyakan hanya bisa ditonton melalui festival. Meski di YouTube ada sebenarnya, tapi lebih seru kalau nonton bareng-barenglah,” imbuhnya.

Selain itu, wartawan Kompas TV itu mengaku bahwa dirinya ingin orang-orang datang ke Buleleng. Menurutnya, ini kesempatan bagus untuk menumbuhkan ekonomi kreatif, jika saja pemerintah peka akan hal tersebut. Selama ini, ketika berbicara ekonomi kreatif, pemerintah belum menyentuh ruang-ruang kolaboratif semacam ini.

“Ruang kolaboratif itu saling menghidupkan,” ujar Kardian.

Sebagai kota yang pernah menjadi pusat segala hal di Bali dan NTB, Singaraja memang memerlukan lebih banyak ruang-ruang kolaborasi. Bukan saja soal film, tapi juga ekonomi, sastra, politik, filsafat, sejarah, agama, sains, dan ilmu pengetahuan secara umum. Memperbanyak pusat perbelanjaan dan hiburan profan tanpa diimbangi dengan usaha untuk menumbuhkan ruang-ruang diskusi atau wacana, ide, gagasan yang serius—tapi asyik—hanya akan menjadikan Singaraja sebagai kota yang “membosankan”.

Semoga, dengan adanya Minikino Film Week selama dua malam kemarin, menjadi pemantik kesadaran bersama akan pentingnya ruang-ruang kolaborasi antarkomunitas di Singaraja.[T]

Baca juga artikel terkait FILM atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Minikino Film Week 2023: Tempat Bertemunya Pelaku Industri Film dan Upaya Penguatan Perfilman Bali
Tags: balifilmfilm pendekMinikinoMinikino Film WeekSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prof. Ni Luh Kartini dan Perjuangan Pertanian Organik

Next Post

Dinasti dalam Pendidikan Tinggi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
0
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

Read moreDetails

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

by Emi Suy
November 1, 2026
0
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

Read moreDetails

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
0
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

Read moreDetails

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
0
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

Read moreDetails

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails
Next Post
Dinasti dalam Pendidikan Tinggi

Dinasti dalam Pendidikan Tinggi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co