1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

I Wayan Artika by I Wayan Artika
November 1, 2026
in Esai
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

Lukisan sapi karya Nyoman Wijaya

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Ada yang istimewa pada sapi-sapi yang dilukis oleh Nyoman Wijaya. Bagi saya, lukisan-lukisan itu menghadirkan keindahan tubuh sapi, warna bulunya, atau tatapan matanya yang kelam. Lukisan tersebut membuka sebuah dunia: dunia anak petani, sawah, lumpur, dan kehidupan bersama sapi.

Sapi merupakan hewan yang sangat penting bagi petani di desa-desa Bali. Ayah saya seorang petani yang sejak kecil sudah memelihara sapi. Ia pernah pula memiliki seekor kuda berbulu merah gula jaka. Kuda sebagai alat transportasi dan angkutan di desa pegunungan tidak bertahan lama. Sapi menjadi hewan ternak yang dipelihara dari tahun ke tahun karena kegunaannya jauh lebih besar. Sapi diperlukan untuk mengolah sawah dan, pada saatnya, dapat dijual di Pasar Hewan Beringkit, Kabupaten Badung.

Ayah saya, seperti kebanyakan petani di desa, lazimnya memelihara dua ekor sapi jantan atau satu akit. Mengapa hanya dua? Memelihara sapi membutuhkan biaya, tenaga, dan terutama persediaan pakan yang banyak. Ayah memang menanam rumput gajah di pangkedan, di sawah, atau di kebun kopi. Namun, persediaan itu tidak cukup jika harus memberi makan lebih dari dua ekor. Ngarit atau mencari rumput juga membutuhkan tenaga tetap. Sapi makan pagi dan sore. Pakan tersedia setiap hari, tanpa mengenal hari libur.

Ketika anak-anak, saya belum mampu membantu ayah mencari rumput. Karena itu, pekerjaan tersebut dilakukannya sendiri. Saya melihat ayah merawat sapi-sapinya, menyiapkan pakan, memberi makan, dan memandikan. Sapi-sapi itu berganti warna bulu dari waktu ke waktu. Setelah melewati beberapa musim kerja di sawah dan tubuhnya cukup besar, ayah menjualnya ke Pasar Hewan Beringkit. Hasil penjualan biasanya digunakan untuk keperluan keluarga, termasuk membangun rumah sederhana atau membiayai kuliah saya. Setelah itu, ayah membeli lagi sepasang sapi jantan yang masih muda. Siklus pemeliharaan pun dimulai kembali.

Memelihara sapi berarti memberi makan dan menunggu tubuhnya menjadi besar. Sapi-sapi muda harus diajari bekerja di sawah. Ayah menyebut proses itu ngajah. Sapi harus diajari menarik tengala, lampit, atau bajak. Mereka tidak serta-merta bisa digunakan untuk mengolah sawah, harus diajari dulu. Ada proses panjang untuk membuatnya terbiasa dengan pekerjaan tersebut. Saya sering ikut ayah ketika sapi-sapi itu diajari. Kadang-kadang ayah marah karena sapi tidak menurut atau melawan. Saya menyaksikan sendiri bagaimana sapi-sapi itu perlahan-lahan belajar mengikuti arahan dan akhirnya mampu bekerja bersama ayah, mengingat empat atau lima kosa kata: misya, kreet, cus.

Saya juga menyaksikan perubahan tubuh dan warna bulunya. Sapi yang semula berwarna merah tua, dalam perjalanan pertumbuhannya, kehitaman. Mereka dimandikan dan dirawat. Hubungan antara ayah dan sapi-sapinya sangat dekat, meskipun hubungan itu dibangun dalam pekerjaan sehari-hari yang melelahkan.

Ada satu hal yang kini sering saya ingat: bekerja dengan sapi ternyata juga berarti menyuburkan sawah. Ketika sapi menarik bajak dan lampit, kotorannya jatuh ke dalam lumpur dan bercampur dengan tanah. Kotoran itu menjadi bagian dari proses penyuburan sawah. Dalam pengalaman pertanian tradisional, sapi adalah bagian dari siklus kesuburan tanah/lahan.

Pekerjaan mengolah sawah dengan sapi berlangsung lama. Ketika menyiapkan sawah untuk ditanami, sapi-sapi ayah bekerja selama kurang lebih dua minggu tanpa putus. Pekerjaan berat itu tentu tidak selalu menyenangkan bagi sapi. Saya masih ingat kaki-kaki mereka lecet dan babak akibat tanah berpasir di sawah. Sapi-sapi itu kesakitan. Namun, pekerjaan harus terus berjalan. Belum lagi lintah-lintah besar yang mengisap darah mereka. Ayah biasanya mengambil lintah yang sudah membesar karena penuh darah, kemudian membunuhnya agar tidak berkembang biak.

Itu menjadi bagian dari pengalaman masa kecil saya. Saya tumbuh bersama sapi-sapi ayah. Saya melihat mereka datang sebagai sapi muda, belajar bekerja, tumbuh besar, dan akhirnya dijual. Setiap kali sapi akan dijual, selalu ada perasaan sedih. Ada perpisahan yang memaksa. Saya sudah telanjur akrab dengan hewan-hewan itu. Namun, kehidupan keluarga petani berjalan mengikuti kebutuhan. Sapi dijual karena keluarga perlu uang. Dari penjualan sapi itulah ayah dapat membangun rumah dan membiayai pendidikan.

Kini, kehidupan pertanian di desa saya telah berubah. Sawah-sawah mengalami kehancuran dan penyusutan karena berbagai faktor. Sapi tidak lagi menjadi tenaga utama untuk mengolah tanah. Pekerjaannya digantikan oleh traktor. Petani membayar biaya sewa untuk menggunakan mesin tersebut. Dahulu, setiap petani seolah-olah memiliki mesin sendiri berupa sepasang sapi. Tidak perlu menyewa traktor. Sapi adalah tenaga kerja sekaligus kekayaan keluarga.

Perubahan itu membuat hubungan petani dengan sapi semakin jauh. Sapi tidak lagi hadir dalam pekerjaan mengolah sawah sebagaimana dahulu. Bersamaan dengan itu, hilang pula sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang diwariskan melalui praktik pertanian sehari-hari: bagaimana memandikan sapi, menyiapkan pakan, melakukan ngajah, dan bekerja bersama hewan tersebut di tengah lumpur sawah.

Karena pengalaman masa kecil itulah, setiap kali melihat sapi Bali, ingatan saya selalu kembali kepada ayah dan sawah di Batungsel. Bahkan, saya merasa sedih ketika melihat sapi-sapi Bali diangkut dengan truk tronton menuju rumah jagal di Jawa. Sapi merupakan komoditas yang diperjualbelikan. Bagi saya, sapi tidak semata-mata barang dagangan. Di balik tubuhnya ada kehidupan petani, kerja keras, penghidupan keluarga, dan kenangan yang panjang saat kawanan curik (jalak bali) mencari kutu sapi.

Mungkin itulah sebabnya saya (orang awam) begitu mengagumi lukisan-lukisan sapi karya Nyoman Wijaya, walau hanya via media sosial. Saya melihat sapi-sapi dalam lukisannya, pada satu sisi, sebagai objek seni. Dan, saya melihat kembali sapi-sapi ayah, sawah yang berlumpur, kaki-kaki yang lecet, lintah yang mengisap darah, suara ayah ketika mengajari sapi menarik tengala, dan kesedihan ketika sepasang sapi harus meninggalkan umah untuk dijual.

Lukisan itu mengingatkan saya bahwa ada bagian dari kehidupan desa yang perlahan-lahan menghilang. Sapi bali pernah menjadi bagian penting dari sistem pertanian, ekonomi keluarga, dan kebudayaan masyarakat petani. Kini, sebagian besar pengalaman tersebut tinggal sebagai kenangan. Barangkali, melalui lukisan, kenangan itu dapat terus dihidupkan. Dan bagi saya, setiap lukisan sapi Nyoman Wijaya selalu membawa pulang ingatan tentang ayah dan sapinya. [T]

Tags: desakenangannostalgiasapi baliSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

Next Post

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co