SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Ada yang istimewa pada sapi-sapi yang dilukis oleh Nyoman Wijaya. Bagi saya, lukisan-lukisan itu menghadirkan keindahan tubuh sapi, warna bulunya, atau tatapan matanya yang kelam. Lukisan tersebut membuka sebuah dunia: dunia anak petani, sawah, lumpur, dan kehidupan bersama sapi.
Sapi merupakan hewan yang sangat penting bagi petani di desa-desa Bali. Ayah saya seorang petani yang sejak kecil sudah memelihara sapi. Ia pernah pula memiliki seekor kuda berbulu merah gula jaka. Kuda sebagai alat transportasi dan angkutan di desa pegunungan tidak bertahan lama. Sapi menjadi hewan ternak yang dipelihara dari tahun ke tahun karena kegunaannya jauh lebih besar. Sapi diperlukan untuk mengolah sawah dan, pada saatnya, dapat dijual di Pasar Hewan Beringkit, Kabupaten Badung.
Ayah saya, seperti kebanyakan petani di desa, lazimnya memelihara dua ekor sapi jantan atau satu akit. Mengapa hanya dua? Memelihara sapi membutuhkan biaya, tenaga, dan terutama persediaan pakan yang banyak. Ayah memang menanam rumput gajah di pangkedan, di sawah, atau di kebun kopi. Namun, persediaan itu tidak cukup jika harus memberi makan lebih dari dua ekor. Ngarit atau mencari rumput juga membutuhkan tenaga tetap. Sapi makan pagi dan sore. Pakan tersedia setiap hari, tanpa mengenal hari libur.
Ketika anak-anak, saya belum mampu membantu ayah mencari rumput. Karena itu, pekerjaan tersebut dilakukannya sendiri. Saya melihat ayah merawat sapi-sapinya, menyiapkan pakan, memberi makan, dan memandikan. Sapi-sapi itu berganti warna bulu dari waktu ke waktu. Setelah melewati beberapa musim kerja di sawah dan tubuhnya cukup besar, ayah menjualnya ke Pasar Hewan Beringkit. Hasil penjualan biasanya digunakan untuk keperluan keluarga, termasuk membangun rumah sederhana atau membiayai kuliah saya. Setelah itu, ayah membeli lagi sepasang sapi jantan yang masih muda. Siklus pemeliharaan pun dimulai kembali.
Memelihara sapi berarti memberi makan dan menunggu tubuhnya menjadi besar. Sapi-sapi muda harus diajari bekerja di sawah. Ayah menyebut proses itu ngajah. Sapi harus diajari menarik tengala, lampit, atau bajak. Mereka tidak serta-merta bisa digunakan untuk mengolah sawah, harus diajari dulu. Ada proses panjang untuk membuatnya terbiasa dengan pekerjaan tersebut. Saya sering ikut ayah ketika sapi-sapi itu diajari. Kadang-kadang ayah marah karena sapi tidak menurut atau melawan. Saya menyaksikan sendiri bagaimana sapi-sapi itu perlahan-lahan belajar mengikuti arahan dan akhirnya mampu bekerja bersama ayah, mengingat empat atau lima kosa kata: misya, kreet, cus.
Saya juga menyaksikan perubahan tubuh dan warna bulunya. Sapi yang semula berwarna merah tua, dalam perjalanan pertumbuhannya, kehitaman. Mereka dimandikan dan dirawat. Hubungan antara ayah dan sapi-sapinya sangat dekat, meskipun hubungan itu dibangun dalam pekerjaan sehari-hari yang melelahkan.
Ada satu hal yang kini sering saya ingat: bekerja dengan sapi ternyata juga berarti menyuburkan sawah. Ketika sapi menarik bajak dan lampit, kotorannya jatuh ke dalam lumpur dan bercampur dengan tanah. Kotoran itu menjadi bagian dari proses penyuburan sawah. Dalam pengalaman pertanian tradisional, sapi adalah bagian dari siklus kesuburan tanah/lahan.
Pekerjaan mengolah sawah dengan sapi berlangsung lama. Ketika menyiapkan sawah untuk ditanami, sapi-sapi ayah bekerja selama kurang lebih dua minggu tanpa putus. Pekerjaan berat itu tentu tidak selalu menyenangkan bagi sapi. Saya masih ingat kaki-kaki mereka lecet dan babak akibat tanah berpasir di sawah. Sapi-sapi itu kesakitan. Namun, pekerjaan harus terus berjalan. Belum lagi lintah-lintah besar yang mengisap darah mereka. Ayah biasanya mengambil lintah yang sudah membesar karena penuh darah, kemudian membunuhnya agar tidak berkembang biak.
Itu menjadi bagian dari pengalaman masa kecil saya. Saya tumbuh bersama sapi-sapi ayah. Saya melihat mereka datang sebagai sapi muda, belajar bekerja, tumbuh besar, dan akhirnya dijual. Setiap kali sapi akan dijual, selalu ada perasaan sedih. Ada perpisahan yang memaksa. Saya sudah telanjur akrab dengan hewan-hewan itu. Namun, kehidupan keluarga petani berjalan mengikuti kebutuhan. Sapi dijual karena keluarga perlu uang. Dari penjualan sapi itulah ayah dapat membangun rumah dan membiayai pendidikan.
Kini, kehidupan pertanian di desa saya telah berubah. Sawah-sawah mengalami kehancuran dan penyusutan karena berbagai faktor. Sapi tidak lagi menjadi tenaga utama untuk mengolah tanah. Pekerjaannya digantikan oleh traktor. Petani membayar biaya sewa untuk menggunakan mesin tersebut. Dahulu, setiap petani seolah-olah memiliki mesin sendiri berupa sepasang sapi. Tidak perlu menyewa traktor. Sapi adalah tenaga kerja sekaligus kekayaan keluarga.
Perubahan itu membuat hubungan petani dengan sapi semakin jauh. Sapi tidak lagi hadir dalam pekerjaan mengolah sawah sebagaimana dahulu. Bersamaan dengan itu, hilang pula sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang diwariskan melalui praktik pertanian sehari-hari: bagaimana memandikan sapi, menyiapkan pakan, melakukan ngajah, dan bekerja bersama hewan tersebut di tengah lumpur sawah.
Karena pengalaman masa kecil itulah, setiap kali melihat sapi Bali, ingatan saya selalu kembali kepada ayah dan sawah di Batungsel. Bahkan, saya merasa sedih ketika melihat sapi-sapi Bali diangkut dengan truk tronton menuju rumah jagal di Jawa. Sapi merupakan komoditas yang diperjualbelikan. Bagi saya, sapi tidak semata-mata barang dagangan. Di balik tubuhnya ada kehidupan petani, kerja keras, penghidupan keluarga, dan kenangan yang panjang saat kawanan curik (jalak bali) mencari kutu sapi.
Mungkin itulah sebabnya saya (orang awam) begitu mengagumi lukisan-lukisan sapi karya Nyoman Wijaya, walau hanya via media sosial. Saya melihat sapi-sapi dalam lukisannya, pada satu sisi, sebagai objek seni. Dan, saya melihat kembali sapi-sapi ayah, sawah yang berlumpur, kaki-kaki yang lecet, lintah yang mengisap darah, suara ayah ketika mengajari sapi menarik tengala, dan kesedihan ketika sepasang sapi harus meninggalkan umah untuk dijual.
Lukisan itu mengingatkan saya bahwa ada bagian dari kehidupan desa yang perlahan-lahan menghilang. Sapi bali pernah menjadi bagian penting dari sistem pertanian, ekonomi keluarga, dan kebudayaan masyarakat petani. Kini, sebagian besar pengalaman tersebut tinggal sebagai kenangan. Barangkali, melalui lukisan, kenangan itu dapat terus dihidupkan. Dan bagi saya, setiap lukisan sapi Nyoman Wijaya selalu membawa pulang ingatan tentang ayah dan sapinya. [T]





























