7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalan Sastra Made Edy Arudi

I Wayan Artika by I Wayan Artika
August 31, 2023
in Kritik Sastra
Jalan Sastra Made Edy Arudi
  • Catatan Pengantar untuk Buku Kumpulan Puisi Sukasada, Tanah dan Daun-daun Subur Puisi, Karya Made Edy Arudi

DARI JUDULNYA, antologi puisi ini dapat dipilah jadu dua. Puisi-puisi yang diberi judul nama-nama tempat dan puisi yang judulnya abstrak. Sejalan dengan itu, Made Edy Arudi memberi masing-masing tanda subbab “I” untuk yang pertama dan tanda “II” untuk kategori kedua. Praktis buku Kumpulan puisi ini terdiri atas dua bagian. Hal ini menunjukkan arah jalan sastra yang dilewatinya.

Walaupun judul karya dibuat paling akhir dalam proses kreatif menulis namun setelah suatu karya seni, semisal puisi, dipublikasikan, maka akan jadi unsur yang pertama. Semua puisi diberi judul. Hal yang paling singkat dari puisi tetapi ditempatkan paling awal atau pada bagian atas dari karya tersebut. Perlu pula ditulis dengan cetak tebal dan menggunakan ukuran huruf yang lebih besar. Artinya tidak hanya secara visual tetapi secara tematik atau isi, judul itu sangat penting dan sangat terhormat. Ia kelak akan mewakili seluruh karya itu, seberapapun tebal dan panjangnya.

Dengan demikian, judul karya (juga puisi) adalah fokus pembaca. Judul menjadi nama suatu puisi. Tidak hanya sebatas nama untuk tujuan menamai! Judul pada karya sastra adalah seperti sepotong hipotesis bagi pembaca. Tetapi sebagai simpulan atau elaborasi bagi penulis yang tengah menyelenggarakan penalaran atas dirinya saat simpulan mesti diambil secara dekduktif.

Di antara pembaca dan penyair, judul adalah jembatan yang berfungsi terbalik atau bertentangan. Bagi pembaca judul adalah induksi dan bagi penyair judul adalah deduksi.Judul dicercap paling pertama. Pembaca telah memiliki mungkin setengah isi puisi dari judulnya. Pada saat membaca, ia bermaksud menemukan setengah lagi. Jika pembacaan dan pemahaman ini sukses, maka pembaca akan mendapatkan pengertian yang pas. Walaupun ukuran pas dalam hal ini terlampau subjektif. Namun demikian sudah menjadi sukses besar bagi seorang pembaca.

Apa tujuan membaca puisi? Bagi teori-teori sastra besar, adalah untuk mendapatkan kepuasan batin, kontemplasi, ekstase, dan katarsis. Atau bisa juga ke pandangan yang sangat sulit diterima, yakni meditasi  atau yoga. Tapi dengan demikian, apakah lantas Anthony de Mello berlebihan ketika ia menggunakan cerita rakyat, sebagai khazanah kebudayaan yang paling agung di dunia, alat meditasi?

Sejatinya tidak demikian! Seorang membaca puisi adalah hanya untuk mengetahui hubungan judul dan uraian (isi). Jika pembaca dapat menemukan judul di dalam suatu puisi maka ia berhasil mengerti tentang apa. Tetapi kalau sebaliknya, maka pembaca bersangkutan amat gagal membaca puisi. Lantas, puisi yang katanya agung, ditinggalkan. Puisi ini hanya menjelma menjadi kesulitan besar. Tidak ada yang membaca lagi lantaran ”sulit” karena tidak menyampaikan realitas sebagai makna atau pengetahuan.

Yang tidak pernah selesai dipertanyakan dalam puiai adalah mengapa puisi itu harus sulit? Maknanya atau isi sejatinya puisi itu disembunyikan dengan sengaja. Makin sulit puisi diartikan oleh pembaca maka makin baguslah puisi itu.

Kondisi ini mungkin hanya menjadi standar bagi penyair yang gila. Tapi bagi pembaca, puisi adalah seperti kamus. Setiap lema dalam kamus mendapat penjelasan yang cukup. Penjelasan lema dengan contoh nyata penggunaan dalam kehidupan manusia, adalah arti kata. Maka arti kata adalah makna dan pengetahuan tentang kata, pengetahuan tentang realitas. Puisi kontras dengan kamus! Jika puisi membuat para pembaca bingung atas pengertian-pengertian atau pengetahuan-pengetahuan yang sengaja disamarkan; maka kamus membuat para pembaca paham dan mengerti!

 Tapi dalam puisi, justru prinsip uraian arti kata-kata dikhianati. Para penulis puisi dengan sengaja menyembunyikan pengertian atau maksud di dalam puisi yang dibuat. Jadinya, puisi tiada lebih dari kebebasan belaka atau teks yang dibuat-buat.

Puisi yang dibuat-buat atau sastra yang dibuat-buat mungkin mendapat tempat tersendiri alam dunia sastra tetapi ini sebuah pengasingan. Karya-karya yang seperti ini hanya sebuah masturbasi besar para penyair. Hanya memberi nikmat atau ekstase bagi yang melakukan. Itu semua untuk dirinya sendiri. Tapi sastra adalah pengertian sosial atau pengalaman bersama.

Prinsip ini tiada terwujud dan puisi-puisi yang menyembunyikan dengan sengaja pengetahuan, dunia atau realitas makna atau keberadaan kandungan pengetahuan sosial, sain, dan filsafat; akan jadi sampah. Jangan harap akan dibaca. Pilihan terbaik bagi karya semacam ini adalah hanya menmabah tumpukan sampah teks yang mengapung.

Karena sikap penyair sengaja menulis puisi yang sangat sulit, puisi sebagai dunia sendiri penyairnya maka puisi tidak pernah menjadi barang populer di masyarakat. Puisi selalu terasing dan termarginalkan. Hal ini bukan karena kebodohan pembaca tetapi sudah jelas ini terjadi karena kesombongan penyairnya.

Kalau puisi-puisi itu adalah kebebasan mutlak yang mana tampak dalam hukum bebas menggunakan kata dan mencipta makna dimana hanya menjadi pengertian penyairnya seorang diri; maka untuk apa puisi disebar dalam kehidupan. Penyair memberi tugas berat masyarakat agar membaca dan menerima puisinya. Tapi urusan masyarakat tentu bukan hanya memahami puisi yang sulit karena hanya dibuat-buat sedemikian susah dimengerti. Urusan pembaca jauh lebih banyak ketimbang urusan dan hidup para penyair.

Jika puisi demikian sulit karena dengan sengaja sebagai suatu cara untuk membedakan diri penyair dan diri sosial para pembaca; lalu mengapa puisi harus disebarkan dalam buku, koran, majalah, internet dan lain-lain? Buat saja puisi sendiri dan berhentilah menjadi penyair karena puisi tidak menjelaskan dan memberi pengertian atas realitas tetapi justru menciptakan kebingungan dan hendak mengasingkan pembaca ke dalam diksi.

Karena itu, definisi puisi yang mengarah kepada kontemplasi dan keagungan tidak pernah diterima oleh masyrakat pembaca sebagai kebenaran. Masyarakat telah menolak puisi dengan cara tidak peduli. Masyarakat tidak mendapat faedah atau kemaslahatan apa-apa atas puisi-puisi.

Pada sisi lain, dunia selalu melahirnkan para pengair. Mereka akan tetap bekerja pada penciptaan puisi untuk mengasingkan diri dan menyerap pembacanya. Namun demikian pembacanya tidak mudah dipengaruhi. Puisi yang gelap makna dan kosong pengetahuan, ditinggalkan dan dunia dipenuhi oleh sampah puisi.

Puisi jadi sampah karena dengan sengaja ditulis untuk menyembunyikan realitas. Puisi hanya diksi yang kacau balau. Puisi hanya teks menggunakan kata yang justru saat kata-kata digunakan menjadi tidak bermakna atau sulit dimaknai. Para leksikograf dengan setia bekerja keras menjelaskan pengetahuan dalam setiap kata di dalam kamus sehingga semua pengguna bahasa mendapat uraian-uraian yang lerngkap dan tepat dari  sepotong kata. Tapi para penyair justru menggunakan kata dengan melakukan pengkhianatan leksikal. Makna-makna kata di dalam kamus ditolak dan hanya dipinjam bentuk wadagnyanya saja untuk diisi makna baru.

Referensi makna pembaca atau masayarakat adalah kamus. Tapi dalam puisi kata-kata kamus tidak mau digunakan secara utuh: kata dan pengertiannya. Jelas ini sudah jalan sesat yang diambil oleh para penyair. Bukannya tiada perlawanan atau penolakan. Masyarakat pembaca menolaknya dengan cara tidak pernah menjadikan puisi sebagai teks dalam hidup sehari-hari.

Puisi adalah barang langka yang hanya dikenal oleh sedikit orang dalam suatu komunitas dan bahkan ada masyarakat atau komunitas yang tidak mengenal puisi. Berbahagialah mereka! Karena tidak memiliki sampah teks atau rongsokan kata-kata. Mereka tidak dibebani oleh sikap penyair yang mengubah pengertian atau uraian-uraian di dalam kamus untuk mereka gunakan di dalam puisi-puisinya.

Kata pengantar singkat dalam buku kumpulan puisi ini untuk menyatakan suatu penolakan bahwa puisi itu sulit. Namun demikian sebagai jebakan antara puisi dengan ”I” dan ”II”, tampak sekali ada tarik ulur antara jujur dan bersembunyi.

Puisi adalah barang yang sulit karena ulah penyairnya yang sengaja mempersulit, tidak hanya pembaca tetapi dirinya. Kesulitan ini tampak dari diksi yang aneh dan mengundang kerja keras untuk mendapat uraian-uraian yang masuk akal. Pembaca toh hanya mendapat teks yang mengkhianati makna kata dalam bahasa. Mana ada teks tidak bermakna; selain/kecuali dalam puisi. Puisi adalah teks yang semua pengertian leksikalnya disabotase!

Puisi adalah keindahan yang tinggi karena seluruh pengetian kata-kata atau diksinya bersahabat buat para pembaca. Puisi adalah teks yang tidak jadi sampah karena tiada pengertian dan arti. Puisi yang sedikit yang dapat merebut tempat di hati para pembaca adalah puisi-puisi yang mengandung pengetian yang lengkap dan utuh.

Sumbangan puisi pada kehidupan sosial adalah karena puisi ini dipahami dan dapat memberi penegrtian. Karena itu harus disyukuri kalau ada puisi jujur, sebagaimana puisi-puisi berjudul diksi ”geografi” yang ditemukana di dalam buku kumpulan puisi ini.

Puisi yang sejati adalah puisi yang jujur. Puisi yang jujur dan sejati itu dilahirkan oleh alam atau yang mahahidup. Para penyair hanya cerdas dalam menemukan dan memetiknya dari kehidupan.

Terlalu besar kepercayaan yang menyesatkan jika puisi itu diciptakan oleh para penyair. Tidak! Puisi itu dilahirkan oleh alam, seperti tunas-tunas lumut kebun raya dan desiran angin di sawah atau debur gelombang berbuih di lautan lepas yang ganas. Para penyair hanya pengelana dan berpotensi untuk memetik puisi-puisi dalam sepanjang hidup dan perjalannya.

Itulah jasa penayir kepada manusia dan masyarakat. Penyair memetik puisi-puisi yang sudah disiapkan oleh alam atau oleh gerimis yang membahasi batu candi. Jadi penyair bukan menciptakan teks sampah lewat beresembunyi di dalam infrastruktur bahasa dengan memporak-porandakan uraian-uraian yang dibangun susah payah oleh para leksikograf.

Penyair adalah para petualang dalam kehidupan dengan caranya sendiri. Karya yang dihadirkan kepada masyarakat adalah puisi dari kesejatian hidup. Jadi tidak ada lapis-lapis pembacaan seperti teori barat yang sangat tidak relevan bagi kehidupan manusia yang lebih utuh dan kompleks. Cara pembacaan puisi yang bertingkat atau lewat fase-fase yang asing hanya cocok bagi para pelamun. Itu pun bagi puisi-puisi yang dibuat-buat sehingga sangat sulit dimengerti.

Belum lagi ada usaha sadar para penyair untuk menyesatkan pembaca. Katanya, makin sulit puisi makin bagus! Tidak! Hal ini bohong! Hanyalah bohong besar bagi para penyair yang karya-karya akan jadi sampah. Yang masuk akal adalah makin sulit puisi dimengerti, makin buruk!

Dengan adanya dua tipe puisi (perhatikan pada judulnya) dalam buku antologi ini, menjadi bantuan penting bagi pembaca untuk memilih dua jalan puisi: antara yang jujur dan sejati dengan yang kontras atas yang dibuat-buat. Puisi-puisi pada tanda subab “I” adalah keberhasilan Made Edy Arudi dalam perjalanan sastranya untuk menapaki kesejatian puisi. 

Ia sepertinya lewat puisi  yang ada dalam payung pembaban (pembagian bab) ”I” pada buku puisinya ini telah memilih jalan yang sejati dan jujur. Puisi telah ada di semesta dan ia datang ke Sukasada, Silangjana, Pura Dukuh Pajenengan, Kayu Putih, Padang Bulia, Tegal Linggah, Pegadungan, Pegayaman, Panji Anom, Wanagiri, Panji, Ambengan, Sambangan, Pancasari,dan Gitgit.

Ia telah kembali pada kesetiaan hidup bahwa puisi itulah kelahiran kembar buncing di Desa Padang Bulia. Dengan demikian dihadirkan satu penegasan bahwa tempat-tempat yang dukunjunginya dan dihadirkan dengan jujur di dalam buku puisisnya ini adalah puisi-puisi yang telah ditulis atau diciptakan oleh semesta pada konteksnya masing-masing, entah itu petani cengkeh atau percintaan-percintaan di masa lalu di Desa Panji yang kelak melahirkan dinasti raja-raja di Den Bukit. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN ARTIKA
Literasi Dasar: Hubungan Abadi Antara Manusia dan Pengetahuan, Konstruksi dan Konsumsi
Gagal Menulis Esai
Antitesis Dunia Lisan, Sensasi Dunia Tulis, Merambah Dunia Pengetahuan, Merespons Tulisan, dan Peristiwa Cerita
Tags: buku puisiI Wayan ArtikaPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat Tahap Proses Kreatif Dalang Wayang Bali

Next Post

Pelajaran Menjadi Setengah: Sebuah Catatan Perjalanan ke Bali, 20 Maret – 9 April 2023

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
0
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung? Ide itu tiba-tiba...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

by Hartanto
May 18, 2025
0
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi....

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

PADA suatu sore yang muram saya berbincang sambil minum teh dengan Joko Pinurbo di teras rumahnya. Entah bagaimana tiba-tiba dia...

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

SYAHDAN dua puluh satu tahun silam, pada tahun 2004, Dewan Kesenian Jakarta membuat acara bertajuk “Cakrawala Sastra Indonesia”. Selain pentas...

Read moreDetails

Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

by Fani Yudistira
April 23, 2025
0
Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

PADA pukul 21.47, Rabu 16 April 2025, pengumuman juara LCP (Lomba Cipta Puisi) Piala Kebangsaan bertema Pagar Laut diumumkan. Dalam...

Read moreDetails
Next Post
Pelajaran Menjadi Setengah: Sebuah Catatan Perjalanan ke Bali, 20 Maret – 9 April 2023

Pelajaran Menjadi Setengah: Sebuah Catatan Perjalanan ke Bali, 20 Maret – 9 April 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co