24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demokrasi, Korupsi, dan Filsafat “Sekeha Tuak”

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Opini

Sumber foto: youtube/video Tuak adalah Nyawa

BELAKANGAN ini ketenaran tuak atau dalam versi dan varian lain biasa disebut lau mencapai puncaknya. Dari anak baru gede (abege), remaja agak wayah, pemuda, hingga orang tua setengah abad dan orang tua 70-an, sedang larut dalam trend minuman ini.

Lihatlah, kelompok-kelompok remaja membuat t-shirt sekeha tuak atau perkumpulan peminum tuak.  Tulisan dalam t-sirt atau kaos oblong macam-macam. Ada yang menyebut diri mereka dengan tulisan “Lauyer” atau “Lauyer Bali” pada kaos yang mereka pakai, terutama dipamerkan pada hari-hari raya semacam Tahun Baru atau Galungan. “Lauyer Bali” tentu saja maksudnya Pecinta Lau dari Bali.

Di sejumlah daerah pernah ada sekelompok remaja menggunakan baju dengan tulisan “Jaka Juice”. Kita bisa menduga maksudnya adalah Jus Jaka. Jaka itu pohon enau alias nira, salah satu pohon penghasil tuak. Tak pedulilah mereka dengan pertanyaan orang-orang, apakah jus jaka itu maksudnya sagu yang digunakan untuk bahan jus, apakah buah jaka (bluluk) yang diblender untuk jus, atau empol jaka digiling untuk jus. Kita diminta paham dengan ikhlas bahwa Jaka Juice itu maksudnya tuak jaka.

Kesadaran untuk berkumpul ternyata bukan hanya saat minum tuak di penggak, atau minum lau di poskamling, atau minum arak di pondok pekak di tengah kebun. Lucu memang, mereka juga punya kesadaran berorganisasi dan guyub dalam lembaga yang mereka buat sendiri dengan pengurus siapa saja.

Mereka seakan menunjukkan bahwa hak berorganisasi bukan melulu hak kaum professional semacam IDI, HIPMI, atau PSSI. Bukan juga melulu hak kaum intelektual, pemuda dan cendekiawan keagamaan, semacam KMHDI, KNPI, atau Peradah. Dan, bukan pula melulu hak kaum politikus yang tergabung dalam partai politik serta oraganisasi sayap-sayapnya, baik sayap lebar, sayap panjang maupun sayap kecil seperti burung kepecit.

Jika organisasi formal itu memiliki forum-forum diskusi yang serius atau sekadar hobi-hobian, peminum juga bisa membuat forumnya sendiri. Apalagi dengan munculnya wabah lagu sejuta umat dengan judul “Tuak adalah Nyawa” yang diperkenalkan kelompok “Masekepung” dari Sukawati Gianyar.

Lagu itu semakin mengukuhkan posisi tuak sebagai minuman yang digandrungi generasi saat ini. Dalam beberapa minggu saja setelah diunggah di youtube, video lagu itu sudah ditonton hampir 1 juta orang. Video itu juga terus berkembang-biak karena banyak orang kemudian membuat varian-variannya. Ada yang menambahkan video dengan lirik, bahkan ada yang menambahkan dengan chord gitar secara lengkap.

Upaya-upaya semacam itu dilakukan karena mereka sadar bahwa mereka kelompok marginal (meski jumlahnya banyak) yang tak mungkin menjadi formal. Dengan kesadaran penuh mereka menyebarkan lagu “Tuak adalah Nyawa”  seakan lagu itu lagu wajib yang wajib dilapalkan oleh kelompok-kelompok mereka.

Semua dilakukan tanpa paksaan. Yang berminat silakan ikut, yang tak suka jangan mencerca. Kesadaran semacam itu juga diperlihatkan dalam gambaran video klip lagu “Masekepung”yang beredar di youtube. Video itu seolah mengatakan: “Ikut? Ayo!”, “Tak ikut? Diamlah!”

Terlepas dari hal itu semua ternyata sekeha  tuak juga mempunyai filsafatnya tersendiri, misalnya kesadaran demokrasi, politik dan bagaimana bersikap jujur dan sportif.

Demokrasi

Demokrasi sudah dari dulu diterapkan di Indonesia. Bahkan banyak negara sudah menerapkan sistem ini, ya meskipun seiring perkembangannya demokrasi tidak sepenuhnya berpihak pada rakyat. Suara rakyat hanya diperlukan saat pemilu saja. Setelah itu? Rakyat tetaplah rakyat yang mencari pengupa jiwa sendiri untuk menafkahi sanak keluarganya.

Yang tukang bangunan tetap jadi tukang bangunan, yang berdagang tetaplah berdagang. Jarang dan bahkan tidak pernah rakyat dilibatkan langsung saat pengambilan kebijakan di pemerintahan. Ah terlalu serius artikel ini jika kita bicarakan demokrasi yang sudah stagnan ini. Bagaimana dengan demokrasi dalam Sekeha  tuak?

Wah disini bisa dilihat demokrasinya. Tak pernah ada sekeha  tuak yang berbeda pendapat untuk minum apa dan minum-minuman berbeda beda di suatu tempat. Dalam sekeha  tuak demokrasi sudah barang tentu harga mati. Sekarang minum apa? Kalau tuak, tuaklah kita minum bersama-sama. Kalau arak, araklah bersama-sama.

Jika ada perbedaan pendapat dalam hal jenis minuman yang akan diminum, memang biasa terjadi perdebatan dengan suara agak keras semacam orang bertengkar, namun setelah itu, jenis minuman apa pun yang datang, mereka akan minum bersama-sama. Jarang terjadi, seseorang walk out hanya gara-gara ia kalah suara dalam memilih jenis minuman.

Ah, memang, indahnya kebersamaan dalam sekeha  tuak ini, he he he. Dari kita, oleh kita dan untuk kita. Bukankah demokrasi seperti itu? Demokrasi dalam sekeha  tuak memang benar nyata.

Tak ada Korupsi 

Di negara Indonesia yang kita cintai ini, he he he, korupsi sudah sangat dikenal dan bahkan sebagian masyarakat sudah mual mendengarnya. Dari DPR sampai kader partai sangat sering diberitakan punya urusan dengan yang namanya korupsi. Ya, meskipun tidak semua, tapi banyaklah, ya. Dari korupsi daging sapi hingga korupsi e-KTP.

Nah, sekeha  tuak itu bisa dikata nol korupsi. Jika wakil rakyat membuat anggaran membeli barang yang harganya murah bisa jadi mahal, sedangkan barang yang kecil bisa jadi besar, sekeha  tuak malah kerap menunjukkan hal sebaliknya.

Jika sekeha  tuak ingin membeli tuak 3 botol, bukan tidak mungkin yang datang 4 botol. Bagaimana bisa? Jika sekeha  tuak ditanya, “ngujang adi liu meli tuak?” (Kenapa banyak beli tuak?). Jawabannya santai saja, “nahhh pang mekeloan minum” (yaa biar lebih lama minumnya). Jadi, tak mungkin terjadi anggota sekeha diminta beli tuak 3 botol, lalu yang datang 2 botol, dan uang untuk 1 botol disalahgunakan, misalnya membeli rokok untuk diri sendiri. Itu tak mungkin terjadi.

Maka sudah disimpul sekeha  tuak nol korupsi. Memang sekeha  tuak bisa menjadi inspirasi untuk wakil rakyat, meskipun sifatnya hanya mewakili he he he.

Mungkin saja filsafat lain ataupun ada ide lain yang banyak bisa dipelajari dari sekeha  tuak. Terlepas dari itu semua, sekeha  tuak tidak sekedar minum-minum dan mabuk, ada sesuatu yang bisa dilihat maupun dipelajari dari sekeha  tuak ini. Mengutip lagu “Tuak adalah Nyawa”: “yening awai sing maan tuak, hidupe serasa kuangan“.

Ya betul, satu hari tanpa minum dan berkumpul memang hidup ada yang kurang. Sangat setuju dengan slogan “Makan nggak makan asal kumpul”. Selama kita bersama, semua pasti bahagia. Bahagia.  (T)

Tags: baligaya hiduplaguorganisasituak
Share369TweetSendShareSend
Previous Post

Dongeng Pendidikan: Krayon Abu-abu dan Si Gajah

Next Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Kompromi (3), Taktik dan Strategi

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Kompromi (3), Taktik dan Strategi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co