7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pisah Ranjang | Cerpen AG Pramono

AG Pramono by AG Pramono
March 4, 2023
in Cerpen
Pisah Ranjang | Cerpen AG Pramono

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

DI TENGAH-TENGAH masyarakat sedang membutuhkannya, Sukar malah memilih tidur di pos kamling. Kebiasaannya tidur di pos kamling mulai sering dilakukan sejak pisah ranjang dengan istrinya. Istrinya tak kuat lagi dengan prinsip hidupnya. Kebiasaannya banyak membantu masyarakat kecil dan miskin sampai ke pelosok desa ternyata tidak sejalan dengan pola pikir istrinya.

Perbedaan pola pikir antara mereka makin lama makin meruncing. Istrinya berharap, bila membantu masyarakat, jangan terlalu berlebihan dan gembar-gembor. Namun, Sukar tak mau dan berprinsip lain. Dia ingin kehendaknya sendiri yang jalan, tanpa menghiraukan pendapat yang lain. Berapa saja yang ada dalam sakunya, sejumlah itulah uang tersebut mengalir kepada masyarakat di depan hidungnya. Dia tak ingin ada perencanaan, bila ingin membantu masyarakat. Apa yang melekat di tubuhnya, itulah yang diberikan kepada mereka yang sangat membutuhkan. Dia tak ingin diboncengi dengan maksud-maksud kepentingan politik tertentu.

 Sejak perbedaan pola pikir itu, ranjang mereka pun ikut berpisah. Istrinya memilih tidur di rumah, sedangkan Sukar memilih tidur di pos kamling. Pilihannya tidur di pos kamling karena dia mulai enggan pulang ke rumah. Dia memilih luntang-lantung di jalan.

Sang dermawan itu masih terlelap di pos kamling. Semula, masyarakat tak percaya bahwa Sukar, yang diagung-agungkan sebagai penyelamat nasib orang miskin, kini tidurnya di pos kamling. Masyarakat yang kebetulan melintas di depan pos kamling sempat berhenti dan berusaha membangunkan Sukar. Meskipun tubuhnya digerak-gerakkan, lelaki gemuk itu tetap saja tertidur. Masyarakat mengira dia meninggal. Tetapi, ketika diperiksa, nadi dan jantungnya masih berdenyut normal.

Beberapa tetangganya silih berganti menengokinya ke pos kamling. Bahkan, orang-orang yang sangat berharap bantuan Sukar, mau berjam-jam menunggu di sampingnya. Warga di desa itu mulai terheran-heran, kenapa orang yang dianggap dermawan selama ini tidurnya begitu panjang.

Tubuh Sukar kembali digerak-gerakkan, tapi tetap tak bergeser sedikit pun. Karena tak mampu lagi dibangunkan, kepala desa memerintah warganya agar tubuh Sukar disiram dengan air. Perintah itu langsung disikapi warga. Orang-orang langsung bergegas mengambil air di sungai. Sekitar sepuluh timba disiramkan ke tubuh Sukar. Namun, apa yang terjadi? Matanya tak juga melek, meskipun seluruh tubuhnya sudah basah kuyup.

Pak kepala desa jengkel. Karena tak juga bangun, tubuh Sukar hendak diangkat untuk dibawa ke rumahnya. Namun, upaya itu tak juga berhasil. Tubuhnya seperti batu raksasa yang tak mudah diangkat. Kepala desa langsung mengerahkan puluhan warganya untuk mengangkat tubuh Sukar kembali. Tetapi, sia-sia, tubuhnya tak juga bisa terangkat. Pak kepala desa, pak RT, serta orang-orang yang berada di pos kamling hanya bisa terpaku melihat tubuh Sukar yang terlelap tidur sampai seharian.

Hingga hari semakin senja, lelaki tambun itu tak juga terbangun dari tidurnya. Pak kepala desa dan pak RT memilih pulang meninggalkan lokasi pos kamling. Orang-orang yang berharap Sukar bangun, satu per satu mulai meninggalkan pos kamling.

 “Pak, bangun Pak, kami lagi susah, orang-orang di sini lagi kena penyakit lapar, perlu bantuan bapak,” keluh salah seorang lelaki tua sambil memeluk tubuh Sukar.

Namun, tubuh tambun itu tak juga tergerak. Aneh, sungguh aneh. Sudah sehari penuh, pahlawan desa itu masih tertidur. Banyak yang mengira Sukar sudah meninggal. Namun, ada juga yang berkata lain. Ada yang menganggap Sukar hanya pura-pura tidur.

 “Pak, jangan pura-pura tidur, kami lagi membutuhkanmu. Kalau Bapak melek, pasti akan merasa iba melihat kondisi kami. Jadi, jangan terlalu lama tidur ya, nanti kami anggap bapak hanya berpura-pura, padahal bapak tidak sedang berpura-pura kan?” ujar seorang ibu yang tampaknya kurang sehat. Sambil batuk-batuk, dia menepuk-nepuk tubuh Sukar.

 Hari makin larut, satu per satu, masyarakat mulai meninggalkan pos kamling. Tubuh Sukar masih terbujur sendiri di pos kamling. Lolongan anjing lamat-lamat memecah keheningan malam. Suara burung hantu mulai terdengar pula. Desir angin meniup pepohonan, dingin menusuk tulang.

Tiba-tiba, di keheningan malam, tubuh Sukar yang masih terlelap dibekap tiga orang dengan menutup wajahnya dengan sarung seperti ninja. Seorang di antaranya langsung membungkam mulut Sukar, seorang lagi merogoh seluruh saku di celana dan bajunya. Sedangkan seorang lagi berjaga-jaga memantau keadaan di sekitar pos kamling sambil membawa sebilah golok. Namun, meski seluruh saku dan dompet dirogoh-rogoh, tiga garong itu tidak menemukan satu sen pun uang di saku Sukar.

 “Sial, kita dibohongi. Menurut warga di sini, laki-laki yang tidur di pos kamling ini orang kaya raya, bahkan milioner. Kurang ajar, laki-laki gemuk ini tidak bawa uang!” ujar salah seorang garong itu.

 “Jangan-jangan, kita dibohongi warga di sini. Atau, jangan-jangan orang ini gembel. Tubuhnya gemuk mungkin karena banyak makan angin,” ujar garong lainnya.

 “Mungkin juga. Kita sudah ditipu. Ayo kabur,” ujar garong yang tubuhnya paling pendek.

Belum lagi kaki tiga garong itu melangkah pergi meninggalkan pos kamling, dari balik semak-semak tak jauh dari pos ronda, muncul segerombolan orang yang sudah siap dengan segala macam alat pemukul. Bukan hanya laki-laki, di antara gerombolan itu juga ada ibu-ibu dengan tangan mengepal. Bahkan, ada yang memegang batu seukuran bola plastik anak-anak. Mereka adalah warga desa. Mereka mencurigai gelagat tiga garong tersebut.

Kecurigaan warga ternyata benar. Melihat tubuh penyelamat desa itu digarong, warga langsung naik pitam. Wajah puluhan warga bertambah garang. Nyali tiga garong itu pun makin ciut. Sambil menelan ludah, seorang di antaranya mulai gemetaran. Garong yang memegang golok berusaha membela diri sambil mengacungkan goloknya. Warga makin geram. Tiga garong itu pelan-pelan melangkah mundur. Warga ramai-ramai menggertak, menyuruh tiga garong tersebut menyerah dan membuka topeng sarung yang mereka kenakan.

Namun, tiga garong itu tak mau menyerah, bahkan ikut menggertak dan berusaha menerobos kepungan warga. Tak mau tiga orang itu kabur, warga merangsek. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba puluhan warga tersebut menyerbu. Garong-garong itu berusaha melawan dan menangkis serangan warga. Batu dan alat pemukul lain melayang ke arah kepala garong-garong itu. Golok yang dipegang salah seorang garong tersebut terjatuh.

Warga makin beringas memukuli tiga orang itu hingga tubuh mereka babak belur. Tak lama kemudian, kepala desa, aparat desa, serta polisi datang dan berusaha melerai. Meski pengeroyokan itu dapat dilerai, tubuh mereka sudah babak belur. Mereka terkapar di tanah. Warga diminta bubar, lalu tiga garong itu diangkut ke puskesmas.

Anehnya, meski ada keributan di depan pos ronda, Sukar masih saja lelap tertidur. Keributan yang merusak keheningan malam itu seolah tidak pernah terjadi. Tubuhnya masih membujur hingga matahari terbit di ufuk timur. Warga yang semalam mengeroyok tiga garong di depan pos ronda bergegas melihat keadaannya. Mereka tercengang, tubuh Sukar masih terbujur dalam posisi tidak berubah. Cepat-cepat warga melapor kepada kepala desa. Beberapa warga lainnya mendatangi orang pintar. Mereka pikir, bisa jadi orang yang selama ini sangat dermawan di desanya itu kemasukan roh jahat.

Pos ronda di ujung jalan itu kembali ramai dikunjungi warga desa. Pak kepala desa dan pamong lainnya turut datang melihat kondisi kesehatan lelaki tersebut setelah dua hari tidak terbangun dari tidur. Orang pintar yang diundang warga tiba di pos kamling dengan didampingi pengikutnya.

Orang pintar yang dianggap hebat di desanya itu pun mempersiapkan upacara ritual dengan beberapa sesaji. Asap menebar di sekitar pos kamling. Paranormal tersebut komat-kamit, entah apa yang dilafalkannya. Semula, hanya beberapa orang yang menyaksikan orang pintar itu membangunkan Sukar.

Prosesi pengusiran roh jahat yang hingga di tubuh Sukar berjalan selama lima jam. Selama itu, belum terlihat ada tanda-tanda sang dermawan desa akan terbangun dari tidurnya. Masyarakat makin ramai. Menjelang siang, orang-orang kian berjubel dan berdesakan. Melihat orang-orang kian banyak, orang pintar tersebut mulai khawatir pasien yang ditanganinya itu tidak bisa terbangun dari mimpinya. Gengsi dikatakan dukun kacangan, orang pintar tersebut mengeluarkan seluruh mantra yang dihafalnya. Namun, tubuh Sukar tetap tak bergeser sedikit pun.

 “Sial, roh yang menunggangi bapak ini sangat kuat. Tapi, aku tidak akan menyerah. Nih, rasakan! Ciaaat!” ujar dukun itu sambil memukul-mukul tubuh Sukar dengan selendang. Hingga seluruh tubuhnya dipecut pakai selendang, sang dermawan tak bergerak sedikit pun.

 “Ah, aku tak sanggup, aku tak sanggup! Setan apa yang melekat di tubuh orang gemuk ini. Aduh, aduh,” ujar si dukun sambil memegang dadanya lalu kabur menerobos kerumunan orang yang mengelilingi pos kamling.

Pak kepala desa, pamong desa, prajuru adat, dan puluhan warga di sana terkejut melihat kejadian itu. Mereka tidak menyangka dukun yang terbilang ampuh di desanya tersebut terbirit-birit, tidak mampu melawan tubuh Sukar yang amat gemuk itu.

 “Bagaimana Pak Kades, apa yang kita lakukan sekarang?” ujar salah seorang tokoh masyarakat kepada kepala desa. “Kita sudah pakai segala cara, tapi tubuh Pak Sukar tidak juga bisa dibangunkan,” kata kepala desa.

 “Bagaimana kalau kita panggil dokter atau ambulans,” saran warga lain.

 “Ah, saya rasa percuma. Pak Sukar sepertinya hanya tidur biasa, tapi mungkin terlalu lelap. Jangankan diperiksa, diangkat saja tubuhnya tidak bisa. Aneh, memang aneh,” keluh kepala desa.

Seluruh warga terdiam. Selang beberapa saat, muncul sesosok wanita membawa sebuah koper. Dia langsung memeluk tubuh Sukar. Puluhan warga yang mengerumuni pos kamling itu tercengang. Mereka tidak mencegah wanita itu masuk ke dalam kerumunan dan langsung memeluk tubuh sang dermawan. Tangisnya pecah. Air matanya mengalir. Pak kepala desa dan warga yang berada di sekeliling pos kamling hanya saling pandang.

 “Mas, kenapa harus seperti ini? Lebih baik bangun supaya bisa melihat kenyataan di sekeliling kita. Kau harus berani, berani, jangan berhati lembek,” ujar wanita cantik itu sambil mengguncang-guncang tubuh gemuk sang dermawan.

Beberapa warga yang berkerumun di sekitar pos kamling hendak beranjak untuk menghadang wanita itu, mencegahnya agar jangan mengguncang-guncang tubuh Sukar. Namun, keinginan sejumlah warga tersebut dicegah kepala desa.

Wanita itu lalu menciumnya dan memeluknya erat-erat. Dalam dekapan wanita itu, tiba-tiba Sukar terbangun dari tidur. Dia langsung tersenyum dan melambaikan tangan kepada seluruh warga yang berkerumun di sekitar pos kamling. Warga, kepala desa, dan aparat desa lain hanya terpaku melihat sang dermawan berpeluk mesra dengan seorang wanita cantik.

“Maaf, ini bukan istri saya,” ujar Sukar sambil menunjuk wanita cantik itu, yang masih saja memeluknya. [T]

Rembulan di Bukit Asah | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Kebaya | Cerpen Ikrom F.
Kisah Singa dan Kucing Tua | Cerpen Kadek Susila Priangga
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penting, Menegakkan Nilai-Nilai Kesakralan dalam Pertunjukan Seni Calonarang

Next Post

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Dokumentasi Minggu Pagi

AG Pramono

AG Pramono

Wartawan, sastrawan, tinggal di Negara, Bali

Related Posts

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
0
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

Read moreDetails

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Rai Sri Artini | Dokumentasi Minggu Pagi

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Dokumentasi Minggu Pagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co