23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meyakini Hal Yang Tidak Terlihat dan Tidak Tertulis | Curahan Hati Anak Muda dari Pedawa

I Gede Teddy Setiadi by I Gede Teddy Setiadi
February 7, 2023
in Esai
Meyakini Hal Yang Tidak Terlihat dan Tidak Tertulis | Curahan Hati Anak Muda dari Pedawa

Balian Desa menjalankan upacara ngangkid di Tukad Pengangkidan di Desa Pedawa, Buleleng | Foto: Teddy Setiadi

“Bagaimana saya bisa mempercayai tentang apa yang kamu katakan jika saya dan kamu saja tidak pernah membacanya dari sumber manapun dan tidak pernah melihatnya secara langsung?”

Pertanyaan seperti ini sering sekali membuat kita ikut bingung dan tidak percaya diri terhadap tradisi yang kita miliki. Apalagi, sebagai generasi yang memiliki keterbatasan pengetahuan, keterbatasan sumber data yang akurat, atau keterbatasan kemampuan dalam menjelaskan secara ilmiah, tentu juga akan sulit memberi jawaban, misalnya jika ada yang meminta penjelasan dengan sumber data atau meminta penjelasan secara ilmiah.   

Saya adalah anak muda dari generasi di Desa Pedawa. Saya akan berangkat dengan pembahasan bahwa kita tahu sendiri, banyak sekali cerita dan tradisi unik yang ada di Bali, termasuk di desa saya, di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng.

Di Desa Pedawa terdapat banyak sekali tradisi-tradisi unik, yang secara arti dan makna, tidak tertulis, baik itu di lontar atau di sumber-sumber lain.

Saya sebutkan saja beberapa dari banyaknya tradisi yang ada di Desa Pedawa, salah satunya tradisi nyerimpen yang dilakukan kepada setiap anak di Desa Pedawa. Secara singkat nyerimpen adalah upacara manusa yadnya yang dilakukan pada Hari Raya Galungan.

Upacara nyerimpen ini dilakukan sebanyak tiga kali oleh setiap anak, bersamaan dengan upacara haturan banten Galungan. Upacara yang pertama dan kedua disebut nyerimpen sibakan dan upacara ketiga disebut nyerimpen nampah ukudan. Untuk orang yang tidak mampu, upacara ini boleh dilaksanakan yang pertama saja, yaitu nyerimpen sibakan.

Selain nyerimpen, tradisi upacara ngangkid yang ada di Pedawa juga terbilang cukup unik. Secara singkat ngangkid merupakan semacam upacara ngaben yang dilakukan dengan tradisi khas Desa Pedawa.

Meskipun ngaben dan ngangkid memiliki tujuan yang sama yaitu sama-sama upacara pitra yadnya atau untuk orang yang sudah meninggal, tetapi ngangkid di Desa Pedawa merupakan upacara suci kepada arwah, disimbolkan dengan mengangkat roh dari sungai pengangkidan dan kemudian selanjutnya, diwujudkan (keadegang) di kunduh atau orang Bali pada umumnya menyebutnya semacam sekah, lalu di puput di bale pengangkid (bale banten di tempat dilangsungkannya upacara). Upacara dipimpin oleh Balian Desa.

Selain cerita tentang keunikan upacara ngangkid, saya adalah salah satu saksi yang melihat dan merasakan langsung keunikan dari upacara ngangkid yang dipuput atau dilaksanakan oleh Balian Desa yang dimana gelar Balian Desa tersebut diperolehnya dari terun temurun.

Keunikannya saya lihat pada saat Balian Desa nedunang atma atau memanggil atma orang yang sudah meninggal yang seakan seperti masuk ke raga Balian Desa dan berbicara memanggil nama-nama keluarga seperti anaknya, ibunya atau menitipkan pesan kepada mereka.

Selain banyaknya keunikan yang pernah saya lihat di Desa Pedawa seperti tradisi nedunang atma pada saat upacara ngangkid itu, ada juga beberapa hal tentang keunikan tradisi lain yang ada di Desa Pedawa.

Misalnya masyarakat Pedawa masih mempertahankan kepercayaan, bahwa pada saat upacara ngusaba dan upacara sakral penting lainnya tidak dipuput oleh seorang Sulinggih atau Ida Pedanda, melainkan sampai sekarang masyarakat Desa Pedawa masih percaya dan sepakat mempertahankan tradisi bahwa upacara ngusaba dan ritual penting lain itu dipuput atau dipimpin oleh seorang Balian Desa .

Foto: Anak-anak dalam upacara nyerimpen di Desa Pedawa, Buleleng | Foto: Teddy Setiadi

Itulah sedikit cerita-cerita singkat tentang keunikan upacara yang ada di Desa Pedawa. Terlepas dari bagaimana saya dan masyarakat Desa Pedawa harus mempertahankan tradisi itu sendiri, saya lebih tertarik membahas tentang bagaimana masyarakat Desa Pedawa harus menyakini tradisi yang ada di desa itu.

Dengan kemajuan era seperti sekarang ini, maka ke depan  tetua-tetua kami tentu tidak lagi mudah menjelaskan kepada generasi-generasi berikutnya tentang hal-hal yang tak bisa dijelaskan dengan akal sehat, seperti prosesi nedunang atma, dimana orang sudah meninggal lama, bisa masuk ke raga Balian Desa atau yang muput upacara, dan dapat berbicara persis dengan gerak gerik seperti pada saat orang itu masih hidup.

Karena banyak sekali keunikan yang ada di Desa Pedawa, dimana tradisinya tidak banyak yang tertulis, baik penjelasan tentang makna atau arti dari tradisi itu,  maka banyak generasi sekarang seakan tidak mudah percaya dengan penjelasan-penjelasan yang mungkin tidak bisa digambarkan dengan cara ilmiah..

Jangankan tradisi yang pelaksanaannya sering dianggap rumit, bahkan sesederhana jika ada yang menanyakan tentang sejarah Desa Pedawa sendiripun sangat sulit mencari sumber yang bisa menjelaskan dengan jelas. Jika ada, paling-paling penjelasan itu hanya sekadar menceritakan kembali apa yang sempat didengar dari pendahulu-pendahulu kami yang ada di Pedawa. Itupun versinya sudah beragam dan berbeda-beda.      

Kita harus menyadari bahwa di era sekarang banyak dari kita tidak dapat mengontrol kemajuan yang begitu luar biasa pesatnya. Sebut saja yang paling gampang adalah era kemajuan internet. Kita dengan mudahnya bisa mengakses apa saja yang mau kita cari, layaknya dunia sudah ada di genggaman kita.

Dengan kemajuan ini banyak sekali dari kita yang tidak pandai mencerna tentang kebenaran dari sumber tersebut, bahkan kita sering menjadi korban berita palsu. Hal inilah yang menjadikan generasi sekarang menjadi dua kali lebih berhati-hati dalam menerima informasi apapun itu bentuknya.

Oleh karena alasan-alasan itu, generasi sekarang seperti terjebak pada pikiran kalau segala sesuatu itu harus ada sumber yang jelas. Setidaknya jika tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri di jaman sekarang, pasti akan menuntut penjelasan dengan harus menyertakan sumber yang jelas. Apalagi ditambah dengan gempuran budaya asing yang seakan mendoktrin generasi-generasi sekarang, mereka harus berpikir rasional serta mudah tidak percaya tentang sesuatu yang rumit, yang tidak bisa atau sulit dijelaskan secara ilmiah.

Lalu bagaimana dengan upacara-upacara unik yang ada di Bali, dengan peristiwa di luar nalar kita sebagai manusia, dan tidak ada yang bisa menjelaskannya dengan ilmiah? Apakah kita harus tidak mempercayainya? Lalu di sisi lain kita masih sering melihat langsung peristiwa tersebut. Menjadi bingung bukan?

Jadi menurut pandangan saya, satu-satunya cara untuk mempertahankan atau mempertebal tradisi-tradisi unik di tengah gempuran budaya luar dan budaya meboya, adalah dengan meyakininya saja. Ya, sesimpel itu .

Meyakini tradisi yang turun temurun itu,  memang bisa saja tanpa harus memperdebatkannya lagi. Karena menurut saya tradisi tidak semua harus dijelaskan dengan logika dan tidak semua harus ada penjelasan ilmiahya.

 Jika kita sebagai generasi pewaris terus terjebak pada pemikiran kalau segala sesuatu itu harus ada sumber dan penjelasan secara ilmiah, bagaimana dengan tradisi-tradisi kita yang ada di Bali yang begitu sangat unik dan begitu banyaknya? Apakah semua harus dijelaskan dengan logika satu per satu?

Jadi menurut saya, sekali lagi, untuk mempercayai sesuatu yang tidak terlihat dan tidak tertulis adalah dengan menyakini tanpa harus memperdebatkannya .

Tetapi jika dengan keyakinan saja masih belum cukup. Misalnya kita merasa terlihat seolah-olah tunduk begitu saja tanpa harus menganalisa terlebih dahulu tentang apa yang masuk kedalam pikiran kita, alangkah baiknya kita cari tahu lagi arti dari keyakinan itu sendiri.  Supaya tidak mengkerdilkan bahkan menyalahartikan arti luas dari keyakinan itu sendiri.

Dan bacalah tulisan ini dari atas sekali lagi, lalu yakini. Begitulah kira-kira. [T]  

“Mepetokan” dari Desa Pedawa: Arena Perang Pantun Untuk Proses Pendewasaan Diri

       

BELAJAR DARI DESA PEDAWA: RATU SURAT-MELAYU & RATU NGURAH MELAYU
Berpadunya Narasi Ibu dan Spiritual dalam Pentas Sastra Daerah “I Jaum” di Desa Pedawa
Tags: Desa Pedawagenerasi mudaTradisiupacara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Westa: Upacara Banyak, Yang Kurang Adalah Doa Dalam Tindakan

Next Post

Dari Puisi, Riki Dhamparan Putra Berdiang di Perapian Buya Syafii

I Gede Teddy Setiadi

I Gede Teddy Setiadi

Lahir di Desa Pedawa. Kini tinggal di Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Dari Puisi, Riki Dhamparan Putra Berdiang di Perapian Buya Syafii

Dari Puisi, Riki Dhamparan Putra Berdiang di Perapian Buya Syafii

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co