3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meyakini Hal Yang Tidak Terlihat dan Tidak Tertulis | Curahan Hati Anak Muda dari Pedawa

I Gede Teddy Setiadi by I Gede Teddy Setiadi
February 7, 2023
in Esai
Meyakini Hal Yang Tidak Terlihat dan Tidak Tertulis | Curahan Hati Anak Muda dari Pedawa

Balian Desa menjalankan upacara ngangkid di Tukad Pengangkidan di Desa Pedawa, Buleleng | Foto: Teddy Setiadi

“Bagaimana saya bisa mempercayai tentang apa yang kamu katakan jika saya dan kamu saja tidak pernah membacanya dari sumber manapun dan tidak pernah melihatnya secara langsung?”

Pertanyaan seperti ini sering sekali membuat kita ikut bingung dan tidak percaya diri terhadap tradisi yang kita miliki. Apalagi, sebagai generasi yang memiliki keterbatasan pengetahuan, keterbatasan sumber data yang akurat, atau keterbatasan kemampuan dalam menjelaskan secara ilmiah, tentu juga akan sulit memberi jawaban, misalnya jika ada yang meminta penjelasan dengan sumber data atau meminta penjelasan secara ilmiah.   

Saya adalah anak muda dari generasi di Desa Pedawa. Saya akan berangkat dengan pembahasan bahwa kita tahu sendiri, banyak sekali cerita dan tradisi unik yang ada di Bali, termasuk di desa saya, di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng.

Di Desa Pedawa terdapat banyak sekali tradisi-tradisi unik, yang secara arti dan makna, tidak tertulis, baik itu di lontar atau di sumber-sumber lain.

Saya sebutkan saja beberapa dari banyaknya tradisi yang ada di Desa Pedawa, salah satunya tradisi nyerimpen yang dilakukan kepada setiap anak di Desa Pedawa. Secara singkat nyerimpen adalah upacara manusa yadnya yang dilakukan pada Hari Raya Galungan.

Upacara nyerimpen ini dilakukan sebanyak tiga kali oleh setiap anak, bersamaan dengan upacara haturan banten Galungan. Upacara yang pertama dan kedua disebut nyerimpen sibakan dan upacara ketiga disebut nyerimpen nampah ukudan. Untuk orang yang tidak mampu, upacara ini boleh dilaksanakan yang pertama saja, yaitu nyerimpen sibakan.

Selain nyerimpen, tradisi upacara ngangkid yang ada di Pedawa juga terbilang cukup unik. Secara singkat ngangkid merupakan semacam upacara ngaben yang dilakukan dengan tradisi khas Desa Pedawa.

Meskipun ngaben dan ngangkid memiliki tujuan yang sama yaitu sama-sama upacara pitra yadnya atau untuk orang yang sudah meninggal, tetapi ngangkid di Desa Pedawa merupakan upacara suci kepada arwah, disimbolkan dengan mengangkat roh dari sungai pengangkidan dan kemudian selanjutnya, diwujudkan (keadegang) di kunduh atau orang Bali pada umumnya menyebutnya semacam sekah, lalu di puput di bale pengangkid (bale banten di tempat dilangsungkannya upacara). Upacara dipimpin oleh Balian Desa.

Selain cerita tentang keunikan upacara ngangkid, saya adalah salah satu saksi yang melihat dan merasakan langsung keunikan dari upacara ngangkid yang dipuput atau dilaksanakan oleh Balian Desa yang dimana gelar Balian Desa tersebut diperolehnya dari terun temurun.

Keunikannya saya lihat pada saat Balian Desa nedunang atma atau memanggil atma orang yang sudah meninggal yang seakan seperti masuk ke raga Balian Desa dan berbicara memanggil nama-nama keluarga seperti anaknya, ibunya atau menitipkan pesan kepada mereka.

Selain banyaknya keunikan yang pernah saya lihat di Desa Pedawa seperti tradisi nedunang atma pada saat upacara ngangkid itu, ada juga beberapa hal tentang keunikan tradisi lain yang ada di Desa Pedawa.

Misalnya masyarakat Pedawa masih mempertahankan kepercayaan, bahwa pada saat upacara ngusaba dan upacara sakral penting lainnya tidak dipuput oleh seorang Sulinggih atau Ida Pedanda, melainkan sampai sekarang masyarakat Desa Pedawa masih percaya dan sepakat mempertahankan tradisi bahwa upacara ngusaba dan ritual penting lain itu dipuput atau dipimpin oleh seorang Balian Desa .

Foto: Anak-anak dalam upacara nyerimpen di Desa Pedawa, Buleleng | Foto: Teddy Setiadi

Itulah sedikit cerita-cerita singkat tentang keunikan upacara yang ada di Desa Pedawa. Terlepas dari bagaimana saya dan masyarakat Desa Pedawa harus mempertahankan tradisi itu sendiri, saya lebih tertarik membahas tentang bagaimana masyarakat Desa Pedawa harus menyakini tradisi yang ada di desa itu.

Dengan kemajuan era seperti sekarang ini, maka ke depan  tetua-tetua kami tentu tidak lagi mudah menjelaskan kepada generasi-generasi berikutnya tentang hal-hal yang tak bisa dijelaskan dengan akal sehat, seperti prosesi nedunang atma, dimana orang sudah meninggal lama, bisa masuk ke raga Balian Desa atau yang muput upacara, dan dapat berbicara persis dengan gerak gerik seperti pada saat orang itu masih hidup.

Karena banyak sekali keunikan yang ada di Desa Pedawa, dimana tradisinya tidak banyak yang tertulis, baik penjelasan tentang makna atau arti dari tradisi itu,  maka banyak generasi sekarang seakan tidak mudah percaya dengan penjelasan-penjelasan yang mungkin tidak bisa digambarkan dengan cara ilmiah..

Jangankan tradisi yang pelaksanaannya sering dianggap rumit, bahkan sesederhana jika ada yang menanyakan tentang sejarah Desa Pedawa sendiripun sangat sulit mencari sumber yang bisa menjelaskan dengan jelas. Jika ada, paling-paling penjelasan itu hanya sekadar menceritakan kembali apa yang sempat didengar dari pendahulu-pendahulu kami yang ada di Pedawa. Itupun versinya sudah beragam dan berbeda-beda.      

Kita harus menyadari bahwa di era sekarang banyak dari kita tidak dapat mengontrol kemajuan yang begitu luar biasa pesatnya. Sebut saja yang paling gampang adalah era kemajuan internet. Kita dengan mudahnya bisa mengakses apa saja yang mau kita cari, layaknya dunia sudah ada di genggaman kita.

Dengan kemajuan ini banyak sekali dari kita yang tidak pandai mencerna tentang kebenaran dari sumber tersebut, bahkan kita sering menjadi korban berita palsu. Hal inilah yang menjadikan generasi sekarang menjadi dua kali lebih berhati-hati dalam menerima informasi apapun itu bentuknya.

Oleh karena alasan-alasan itu, generasi sekarang seperti terjebak pada pikiran kalau segala sesuatu itu harus ada sumber yang jelas. Setidaknya jika tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri di jaman sekarang, pasti akan menuntut penjelasan dengan harus menyertakan sumber yang jelas. Apalagi ditambah dengan gempuran budaya asing yang seakan mendoktrin generasi-generasi sekarang, mereka harus berpikir rasional serta mudah tidak percaya tentang sesuatu yang rumit, yang tidak bisa atau sulit dijelaskan secara ilmiah.

Lalu bagaimana dengan upacara-upacara unik yang ada di Bali, dengan peristiwa di luar nalar kita sebagai manusia, dan tidak ada yang bisa menjelaskannya dengan ilmiah? Apakah kita harus tidak mempercayainya? Lalu di sisi lain kita masih sering melihat langsung peristiwa tersebut. Menjadi bingung bukan?

Jadi menurut pandangan saya, satu-satunya cara untuk mempertahankan atau mempertebal tradisi-tradisi unik di tengah gempuran budaya luar dan budaya meboya, adalah dengan meyakininya saja. Ya, sesimpel itu .

Meyakini tradisi yang turun temurun itu,  memang bisa saja tanpa harus memperdebatkannya lagi. Karena menurut saya tradisi tidak semua harus dijelaskan dengan logika dan tidak semua harus ada penjelasan ilmiahya.

 Jika kita sebagai generasi pewaris terus terjebak pada pemikiran kalau segala sesuatu itu harus ada sumber dan penjelasan secara ilmiah, bagaimana dengan tradisi-tradisi kita yang ada di Bali yang begitu sangat unik dan begitu banyaknya? Apakah semua harus dijelaskan dengan logika satu per satu?

Jadi menurut saya, sekali lagi, untuk mempercayai sesuatu yang tidak terlihat dan tidak tertulis adalah dengan menyakini tanpa harus memperdebatkannya .

Tetapi jika dengan keyakinan saja masih belum cukup. Misalnya kita merasa terlihat seolah-olah tunduk begitu saja tanpa harus menganalisa terlebih dahulu tentang apa yang masuk kedalam pikiran kita, alangkah baiknya kita cari tahu lagi arti dari keyakinan itu sendiri.  Supaya tidak mengkerdilkan bahkan menyalahartikan arti luas dari keyakinan itu sendiri.

Dan bacalah tulisan ini dari atas sekali lagi, lalu yakini. Begitulah kira-kira. [T]  

“Mepetokan” dari Desa Pedawa: Arena Perang Pantun Untuk Proses Pendewasaan Diri

       

BELAJAR DARI DESA PEDAWA: RATU SURAT-MELAYU & RATU NGURAH MELAYU
Berpadunya Narasi Ibu dan Spiritual dalam Pentas Sastra Daerah “I Jaum” di Desa Pedawa
Tags: Desa Pedawagenerasi mudaTradisiupacara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Westa: Upacara Banyak, Yang Kurang Adalah Doa Dalam Tindakan

Next Post

Dari Puisi, Riki Dhamparan Putra Berdiang di Perapian Buya Syafii

I Gede Teddy Setiadi

I Gede Teddy Setiadi

Lahir di Desa Pedawa. Kini tinggal di Singaraja

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Dari Puisi, Riki Dhamparan Putra Berdiang di Perapian Buya Syafii

Dari Puisi, Riki Dhamparan Putra Berdiang di Perapian Buya Syafii

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co