2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meyakini Hal Yang Tidak Terlihat dan Tidak Tertulis | Curahan Hati Anak Muda dari Pedawa

I Gede Teddy Setiadi by I Gede Teddy Setiadi
February 7, 2023
in Esai
Meyakini Hal Yang Tidak Terlihat dan Tidak Tertulis | Curahan Hati Anak Muda dari Pedawa

Balian Desa menjalankan upacara ngangkid di Tukad Pengangkidan di Desa Pedawa, Buleleng | Foto: Teddy Setiadi

“Bagaimana saya bisa mempercayai tentang apa yang kamu katakan jika saya dan kamu saja tidak pernah membacanya dari sumber manapun dan tidak pernah melihatnya secara langsung?”

Pertanyaan seperti ini sering sekali membuat kita ikut bingung dan tidak percaya diri terhadap tradisi yang kita miliki. Apalagi, sebagai generasi yang memiliki keterbatasan pengetahuan, keterbatasan sumber data yang akurat, atau keterbatasan kemampuan dalam menjelaskan secara ilmiah, tentu juga akan sulit memberi jawaban, misalnya jika ada yang meminta penjelasan dengan sumber data atau meminta penjelasan secara ilmiah.   

Saya adalah anak muda dari generasi di Desa Pedawa. Saya akan berangkat dengan pembahasan bahwa kita tahu sendiri, banyak sekali cerita dan tradisi unik yang ada di Bali, termasuk di desa saya, di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng.

Di Desa Pedawa terdapat banyak sekali tradisi-tradisi unik, yang secara arti dan makna, tidak tertulis, baik itu di lontar atau di sumber-sumber lain.

Saya sebutkan saja beberapa dari banyaknya tradisi yang ada di Desa Pedawa, salah satunya tradisi nyerimpen yang dilakukan kepada setiap anak di Desa Pedawa. Secara singkat nyerimpen adalah upacara manusa yadnya yang dilakukan pada Hari Raya Galungan.

Upacara nyerimpen ini dilakukan sebanyak tiga kali oleh setiap anak, bersamaan dengan upacara haturan banten Galungan. Upacara yang pertama dan kedua disebut nyerimpen sibakan dan upacara ketiga disebut nyerimpen nampah ukudan. Untuk orang yang tidak mampu, upacara ini boleh dilaksanakan yang pertama saja, yaitu nyerimpen sibakan.

Selain nyerimpen, tradisi upacara ngangkid yang ada di Pedawa juga terbilang cukup unik. Secara singkat ngangkid merupakan semacam upacara ngaben yang dilakukan dengan tradisi khas Desa Pedawa.

Meskipun ngaben dan ngangkid memiliki tujuan yang sama yaitu sama-sama upacara pitra yadnya atau untuk orang yang sudah meninggal, tetapi ngangkid di Desa Pedawa merupakan upacara suci kepada arwah, disimbolkan dengan mengangkat roh dari sungai pengangkidan dan kemudian selanjutnya, diwujudkan (keadegang) di kunduh atau orang Bali pada umumnya menyebutnya semacam sekah, lalu di puput di bale pengangkid (bale banten di tempat dilangsungkannya upacara). Upacara dipimpin oleh Balian Desa.

Selain cerita tentang keunikan upacara ngangkid, saya adalah salah satu saksi yang melihat dan merasakan langsung keunikan dari upacara ngangkid yang dipuput atau dilaksanakan oleh Balian Desa yang dimana gelar Balian Desa tersebut diperolehnya dari terun temurun.

Keunikannya saya lihat pada saat Balian Desa nedunang atma atau memanggil atma orang yang sudah meninggal yang seakan seperti masuk ke raga Balian Desa dan berbicara memanggil nama-nama keluarga seperti anaknya, ibunya atau menitipkan pesan kepada mereka.

Selain banyaknya keunikan yang pernah saya lihat di Desa Pedawa seperti tradisi nedunang atma pada saat upacara ngangkid itu, ada juga beberapa hal tentang keunikan tradisi lain yang ada di Desa Pedawa.

Misalnya masyarakat Pedawa masih mempertahankan kepercayaan, bahwa pada saat upacara ngusaba dan upacara sakral penting lainnya tidak dipuput oleh seorang Sulinggih atau Ida Pedanda, melainkan sampai sekarang masyarakat Desa Pedawa masih percaya dan sepakat mempertahankan tradisi bahwa upacara ngusaba dan ritual penting lain itu dipuput atau dipimpin oleh seorang Balian Desa .

Foto: Anak-anak dalam upacara nyerimpen di Desa Pedawa, Buleleng | Foto: Teddy Setiadi

Itulah sedikit cerita-cerita singkat tentang keunikan upacara yang ada di Desa Pedawa. Terlepas dari bagaimana saya dan masyarakat Desa Pedawa harus mempertahankan tradisi itu sendiri, saya lebih tertarik membahas tentang bagaimana masyarakat Desa Pedawa harus menyakini tradisi yang ada di desa itu.

Dengan kemajuan era seperti sekarang ini, maka ke depan  tetua-tetua kami tentu tidak lagi mudah menjelaskan kepada generasi-generasi berikutnya tentang hal-hal yang tak bisa dijelaskan dengan akal sehat, seperti prosesi nedunang atma, dimana orang sudah meninggal lama, bisa masuk ke raga Balian Desa atau yang muput upacara, dan dapat berbicara persis dengan gerak gerik seperti pada saat orang itu masih hidup.

Karena banyak sekali keunikan yang ada di Desa Pedawa, dimana tradisinya tidak banyak yang tertulis, baik penjelasan tentang makna atau arti dari tradisi itu,  maka banyak generasi sekarang seakan tidak mudah percaya dengan penjelasan-penjelasan yang mungkin tidak bisa digambarkan dengan cara ilmiah..

Jangankan tradisi yang pelaksanaannya sering dianggap rumit, bahkan sesederhana jika ada yang menanyakan tentang sejarah Desa Pedawa sendiripun sangat sulit mencari sumber yang bisa menjelaskan dengan jelas. Jika ada, paling-paling penjelasan itu hanya sekadar menceritakan kembali apa yang sempat didengar dari pendahulu-pendahulu kami yang ada di Pedawa. Itupun versinya sudah beragam dan berbeda-beda.      

Kita harus menyadari bahwa di era sekarang banyak dari kita tidak dapat mengontrol kemajuan yang begitu luar biasa pesatnya. Sebut saja yang paling gampang adalah era kemajuan internet. Kita dengan mudahnya bisa mengakses apa saja yang mau kita cari, layaknya dunia sudah ada di genggaman kita.

Dengan kemajuan ini banyak sekali dari kita yang tidak pandai mencerna tentang kebenaran dari sumber tersebut, bahkan kita sering menjadi korban berita palsu. Hal inilah yang menjadikan generasi sekarang menjadi dua kali lebih berhati-hati dalam menerima informasi apapun itu bentuknya.

Oleh karena alasan-alasan itu, generasi sekarang seperti terjebak pada pikiran kalau segala sesuatu itu harus ada sumber yang jelas. Setidaknya jika tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri di jaman sekarang, pasti akan menuntut penjelasan dengan harus menyertakan sumber yang jelas. Apalagi ditambah dengan gempuran budaya asing yang seakan mendoktrin generasi-generasi sekarang, mereka harus berpikir rasional serta mudah tidak percaya tentang sesuatu yang rumit, yang tidak bisa atau sulit dijelaskan secara ilmiah.

Lalu bagaimana dengan upacara-upacara unik yang ada di Bali, dengan peristiwa di luar nalar kita sebagai manusia, dan tidak ada yang bisa menjelaskannya dengan ilmiah? Apakah kita harus tidak mempercayainya? Lalu di sisi lain kita masih sering melihat langsung peristiwa tersebut. Menjadi bingung bukan?

Jadi menurut pandangan saya, satu-satunya cara untuk mempertahankan atau mempertebal tradisi-tradisi unik di tengah gempuran budaya luar dan budaya meboya, adalah dengan meyakininya saja. Ya, sesimpel itu .

Meyakini tradisi yang turun temurun itu,  memang bisa saja tanpa harus memperdebatkannya lagi. Karena menurut saya tradisi tidak semua harus dijelaskan dengan logika dan tidak semua harus ada penjelasan ilmiahya.

 Jika kita sebagai generasi pewaris terus terjebak pada pemikiran kalau segala sesuatu itu harus ada sumber dan penjelasan secara ilmiah, bagaimana dengan tradisi-tradisi kita yang ada di Bali yang begitu sangat unik dan begitu banyaknya? Apakah semua harus dijelaskan dengan logika satu per satu?

Jadi menurut saya, sekali lagi, untuk mempercayai sesuatu yang tidak terlihat dan tidak tertulis adalah dengan menyakini tanpa harus memperdebatkannya .

Tetapi jika dengan keyakinan saja masih belum cukup. Misalnya kita merasa terlihat seolah-olah tunduk begitu saja tanpa harus menganalisa terlebih dahulu tentang apa yang masuk kedalam pikiran kita, alangkah baiknya kita cari tahu lagi arti dari keyakinan itu sendiri.  Supaya tidak mengkerdilkan bahkan menyalahartikan arti luas dari keyakinan itu sendiri.

Dan bacalah tulisan ini dari atas sekali lagi, lalu yakini. Begitulah kira-kira. [T]  

“Mepetokan” dari Desa Pedawa: Arena Perang Pantun Untuk Proses Pendewasaan Diri

       

BELAJAR DARI DESA PEDAWA: RATU SURAT-MELAYU & RATU NGURAH MELAYU
Berpadunya Narasi Ibu dan Spiritual dalam Pentas Sastra Daerah “I Jaum” di Desa Pedawa
Tags: Desa Pedawagenerasi mudaTradisiupacara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Westa: Upacara Banyak, Yang Kurang Adalah Doa Dalam Tindakan

Next Post

Dari Puisi, Riki Dhamparan Putra Berdiang di Perapian Buya Syafii

I Gede Teddy Setiadi

I Gede Teddy Setiadi

Lahir di Desa Pedawa. Kini tinggal di Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Dari Puisi, Riki Dhamparan Putra Berdiang di Perapian Buya Syafii

Dari Puisi, Riki Dhamparan Putra Berdiang di Perapian Buya Syafii

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co