16 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Undak-undakan Emosi pada “Legam” Pohon Tua

tatkala by tatkala
September 20, 2022
in Panggung
Undak-undakan Emosi pada “Legam” Pohon Tua

Dadang SH Pranoto

Aku lelah bicara tentang cinta
Untuk setiap kata yang berujung derita
Untuk setiap pelukan berbalik kesepian
Untuk jemari yang meraba batu di kepala

Aku lelah bicara tentang rindu
Untuk setiap waktu yang penuh ragu
Untuk jalan terjal , jauh dari yang dituju
Untuk sebuah mufakat berubah peluru

Menembus dadaku
Merobek jantungku
Mengoyak hatiku
Membakar darahku
Aku di ambang batas

Aku lelah mendengar bunyi
Untuk kegelapan jiwa yang sembunyi
Untuk amarah yang berakhir sunyi
Untuk duka terakhir legam terpatri

Menembus dadaku
Merobek jantungku
Mengoyak hatiku
Membakar darahku
Aku di ambang batas

Aku lelah selelah-lelahnya
Aku rindu serindu-rindunya
Aku cinta secinta-cintanya
Aku mati semati-matinya

Lirik kata penuh emosi berundak-undak: cinta, derita, rindu, kesepian, lelah, dan mati. Kata-kata itu sudah terlalu kuat.

Terlalu kuat memancarkan rasa, makna, juga citraan diri manusia. Dan makin kuat lagi pancaran itu, ketika alat-alat musik yang tak biasa-biasa saja mengalirkan kata-kata itu ke ruang paling kecil dalam telinga.  Bahkan saraf kulit pun terasa mendengarkannya.

Undak-undakan emosi itu dibangun sejak intro dimainkan, tak putus dibawa sampai ke akhir lagu. Kesedihan aeakan digesek dari senar-senar biola lewat kuartet string ala Adagio secara simultan di intro.  

Dan segenap kabut kesedihan ini berubah menjadi kemarahan, benang kelelahan berubah menjadi energy, dibunyikan dengan elegan oleh piano dan timpani sepanjang 3 menit.

Itulah lagu  “Legam” yang digagas  Pohon Tua, moniker dari Dadang SH Pranoto. Tahun ini, “Legam” adalah gagasan musikal terbarunya.

Gitaris Navicula juga frontman Dialog Dini Hari ini merilis single terbarunya itu, bertajuk “Legam”. Dirilis oleh RainDogs Records,. Dan ini adalah single pertama sejak enam tahun lalu, setelah keluarnya debut album Kubu Carik yang dirilis di 2017.

Enam tahun sejak album ini, Pohon Tua mengalami evolusi musikal yang luar biasa. Sebuah evolusi yang datang dari ruang-ruang perenungan dan kontemplasi yang luar biasa.

“Legam” menghadirkan segenap kompleksitas yang berbeda dan tidak akan ditemui di debut albumnya. Single ini adalah puncak kegelisahan Dadang akan situasi diri sebagai bentuk refleksi akan lingkungan dan keadaan sekitar dalam beberapa tahun terakhir.

Kita bisa merasakan gagasan musikal yang dituangkan dalam sebuah arsitektur organik nan megah. Segenap perasaan dari kemarahan, kebosanan, kekalutan dan kesedihan diramu dalam gagasan tema di single ini.

Suasana lalu menjadi dramatis sesaat pertama kali lirik diucap dari dasar kerongkongan kasar Dadang, lalu pelan-pelan dari situ, pendengar ditarik makin dalam lagi ke dasar pemikiran soal kegelapan yang hakiki.

Dalam proses penggarapannya, Dadang dibantu barisan kuartet gesek, timpani, yang dimainkan oleh musisi lokal Bali.

Dua drummer dilibatkan langsung dalam single ini, yaitu Palel (drummer Navicula) dan Denny (drummer Dialog Dini Hari). Bassist Indra Gupta yang kerap mengiringi Indra Lesmana diajak mengisi part bass.

Sementara di departemen vokal latar, suara khas Riko (vokalis Modjorido) dan Lyta dari Soulfood dipercaya untuk mengisinya.

Sebuah single yang menjadi pengantar dari album penuh yang akan dirilis kemudian. “Legam” menjadi sebuah momen kembali-nya Pohon Tua dalam dimensi musik yang layak diberikan apresiasi.

“Ada pertanyaan yang selalu kembali hadir di kepalaku “Kamu ingin dikenang seperti atau sebagai apa/siapa? Aku menjawabnya dengan ringan, meskipun tindak lanjutnya sungguhlah berat namun ya, aku ingin dikenang sebagai musisi/manusia yang bermanfaat buat banyak orang,“ kata Dadang.

“Legam” sudah hadir di berbagai layanan musik streaming. Selamat menikmati bab terbaru dari Pohon Tua.[T][Pranita/*]

Pentas Puisi Musik Keboen Sastra di Dusun Senja: Mereka Berkeliling Membangunkan Orang-orang
Romantisme Musik Underground Singaraja | Jejak Langkah yang Memudar dalam Skena
Bali Puisi Musik: Yang Kecil di Bumi Dibesarkan di Langit
Tags: Dadang SH PranotoDialog Dini HarimusikPohon Tua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Papua dan Hip Hop: Kelindan Gerak Penciptaan Eliz

Next Post

“Ngewangsuh” Pusaka Perang Banjar: Mengingat Perlawanan, Menebar Spirit Kepahlawanan

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

by Satria Aditya
March 14, 2026
0
Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

SIANG itu, jalanan Kota Negara penuh oleh lautan manusia. Dentuman gambelan baleganjur bertalu-talu, sorot matahari memantul pada wajah para penonton...

Read moreDetails

Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

by Pranita Dewi
March 12, 2026
0
Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

ADA sesuatu yang selalu terasa menjelang malam pengerupukan di Bali. Jalan-jalan desa mulai ramai, anak-anak muda berkumpul di bale banjar,...

Read moreDetails

Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

by Dede Putra Wiguna
March 10, 2026
0
Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

PENILAIAN seni memang subjektif. Namun pada akhirnya, karya yang mampu menyatukan gagasan, visual, dan pementasan sering kali menonjol dengan sendirinya....

Read moreDetails

‘Gangga Maya’ Antar Garas Prahmantara Juara 1 Lomba Sketsa Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
0
‘Gangga Maya’ Antar Garas Prahmantara Juara 1 Lomba Sketsa Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026

DI antara deretan karya dalam Lomba Sketsa Ogoh-ogoh pada Kasanga Festival 2026, sebuah gambar berjudul “Gangga Maya” menarik perhatian dewan...

Read moreDetails

Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
0
Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

DI tengah riuh pengunjung dan hiruk-pikuk festival, sekelompok pemuda-pemudi justru sibuk memilah sampah. Di Kasanga Festival 2026, pengelolaan sampah bukan...

Read moreDetails

Ketika Para Bocah Mengarak Ogoh-Ogoh di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
0
Ketika Para Bocah Mengarak Ogoh-Ogoh di Kasanga Festival 2026

HARI itu, Minggu pagi, 8 Maret 2026, langkah-langkah kecil berbaris rapi. Lapangan Puputan Badung, Denpasar berubah menjadi arena budaya yang...

Read moreDetails

Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
0
Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

PULUHAN sketsa, tapel, dan ogoh-ogoh mini berjajar di dalam tenda pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar. Di...

Read moreDetails

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

by Dede Putra Wiguna
March 8, 2026
0
Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

KETIKA kulkul dipukul, Kasanga Festival 2026 pun resmi dibuka di jantung Kota Denpasar. Hari itu, Jumat, 6 Maret 2026, tepat...

Read moreDetails

PENITI Generation  ‘Mebaleganjuran Ngarap’,  Dari Panggung Lomba ke Panggung Nyata di Tengah Masyarakat

by Agus Suardiana Putra
March 7, 2026
0
PENITI Generation  ‘Mebaleganjuran Ngarap’,  Dari Panggung Lomba ke Panggung Nyata di Tengah Masyarakat

BAGAIMANA jika sebuah panggung pentas untuk atraksi baleganjur ngarap terjadi langsung di tengah-tengah masyarakat, bukan di atas panggung dalam sebuah...

Read moreDetails

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

by Ni Kadek Grace Vernita
March 7, 2026
0
Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

LAYAR putih besar sudah terpasang di panggung aula Yayasan Yasa Kerthi, Karangasem, Jumat (6/3) malam. Gedung seluas 500 m2 yang...

Read moreDetails
Next Post
“Ngewangsuh” Pusaka Perang Banjar: Mengingat Perlawanan, Menebar Spirit Kepahlawanan

“Ngewangsuh” Pusaka Perang Banjar: Mengingat Perlawanan, Menebar Spirit Kepahlawanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?
Esai

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Coba ingat kembali, berapa gelas air putih yang sudah Anda habiskan hari ini? Di tengah cuaca yang semakin panas, segelas...

by Gede Made Cahya Trisna Pratama
March 15, 2026
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari
Puisi

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Sabtu waktu tak banyakmenit yang kau punyasebentar-sebentar habislangit mencatat semuanya tatapanmu menyeretkuke labirin cerminkau berbicara lewat pelukdan dua butir kecupdengan...

by Wayan Esa Bhaskara
March 15, 2026
‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali
Esai

‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Di dunia yang semakin bising, diam menjadi sesuatu yang langka. Orang berbicara di televisi, di rapat, di media sosial, bahkan...

by Angga Wijaya
March 15, 2026
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul
Kuliner

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
Wayan Westa: Upacara Banyak, Yang Kurang Adalah Doa Dalam Tindakan
Esai

Nyepi: Dari Ramya Menuju Sunya

KETERATURAN adalah  hukum paling asali di semesta ini. Pernahkah kita mempertanyakan, siapa pengendali benda-benda langit di semesta ini? Siapa pengatur...

by I Wayan Westa
March 15, 2026
Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar
Panggung

Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

SIANG itu, jalanan Kota Negara penuh oleh lautan manusia. Dentuman gambelan baleganjur bertalu-talu, sorot matahari memantul pada wajah para penonton...

by Satria Aditya
March 14, 2026
Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma
Esai

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

SETIAP Tumpek Wayang di Bali secara inheren menawarkan momen meditatif yang mengetuk kesadaran batin melalui ritual yang khas, namun pengalaman...

by I Gede Tilem Pastika
March 14, 2026
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran
Esai

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Di Bali, kalender bukan sekadar penanda hari, tetapi juga pengingat tentang cara manusia menempatkan diri di tengah semesta. Salah satu...

by I Wayan Yudana
March 14, 2026
Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir
Khas

Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

SAYA tengah mencoba banyak merenung ketika tulisan ini dibuat, tepat sehari setelah Hari Perempuan Sedunia (International Women’s Day)--yang diperingati pada...

by Komang Ari
March 14, 2026
Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa
Esai

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Kita Bukan Kebetulan SERING kali kita merasa hidup ini kacau. Politik gaduh. Ekonomi tidak pasti. Hubungan manusia penuh konflik. Kita...

by Agung Sudarsa
March 14, 2026
Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser
Cerpen

Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser

SUDAH seminggu lamanya bapak dan ibumu seperti orang asing satu sama lain. Di malam hari, bapakmu akan menghamparkan tikarnya di...

by Syafri Arifuddin Masser
March 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co