24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penerjemahan Roman “Mlantjaran ka Sasak” dan Gugatan Terhadap Pujangga Baru

I Wayan Artika by I Wayan Artika
August 28, 2022
in Esai
Penerjemahan Roman “Mlantjaran ka Sasak”  dan Gugatan Terhadap Pujangga Baru

Semula adalah cerita bersambung di Majalah Djatajoe (1936-1939), lalu diterbitkan menjadi buku oleh Yayasan Saba Sastra Bali (1978), roman Mlantjaran ka Sasak karya Gde Srawana nama pena dari I Wayan Bhadra, tahun 2021 Balai Bahasa Provinsi Bali menerjemahkan dan menerbitkan novel ini dalam bahasa Indonesia dengan judul Jalan-jalan ke Sasak.

Pengalaman penulis sebagai pembaca tinjau draft atau naskah terjemahan novel ini sebelum terbit, dan membaca naskah sumbernya, maka dipandang perlu menyampaikan beberapa catatan melalui esai ini. Catatan ini lebih strategis diarahkan kepada ruang makro sastra, yang melingkupi kehidupan sastra di Indonesia.

Di samping itu, penerjemahan sastra Bali Modern ke dalam bahasa Indonesia yang diprakarsai oleh Balai Bahasa Provinsi Bali yang dilakukan secara besar-besaran, menjadi “tonggak baru” (izin meminjam istilah Prof. Nyoman Darma Putra) dalam sejarah sastra Bali Modern. Tonggak yang sudah ada tentu saja pemberian Hadiah Sastra Rancage, munculnya penerbitan sastra Bali yang dikelola oleh perorangan (Pustaka Ekspresi) yang juga bergerak dalam bidang penganugerahan hadiah sastra; dan munculnya media sastra Bali digital (Suara saking Bali), di samping tetap bertahannya majalah-majalah sastra era Orde Baru (Buratwangi).

Pada esai ini, tidak semua masalah tersebut akan dibahas. Esai ini fokus pada beberapa catatan terhadap roman Mlantjaran ka Sasak yang telah terbit dalam bahasa Indonesia Jalan-jalan ke Sasak yang diharapkan akan membuka wawasan baru untuk memahami sejarah sastra NKRI. Catatan ini diperkaya oleh kajian-kajian terhadap novel ini, seperti yang dilakukan oleh I Nyoman Tingkat dkk. (e-Journal of Linguistics Vol. 9. NA. 2).

Roman ini termasuk roman yang panjang (tebal) yang ternyata ketika sastra Bali Modern semarak, tidak banyak muncul roman atau novel yang panjang, pada umumnya puisi, cerpen dan dikumpulkan menjadi antologi. Puisi, cerpen, dan novel yang sedikit lebih panjang daripada novelette memenuhi dunia sastra Bali Modern. Rupanya tradisi menulis roman tebal dalam bahasa Bali, tidak diikuti oleh para sastrawan kemudian, setelah Gde Srawana; kecuali pada Djantik Santa  atau Wjat S. Ardi.

Karena Mlantjaran ka Sasak termasuk karya sastra yang panjang, maka novel ini terasa memiliki alur yang sangat longgar dan struktur naratif cenderung berurutan atau kronologis. Berbagai peristiwa yang tidak secara langsung berkaitan dengan kernel cerita, ditemukan di dalam roman ini dan menjadikannya karya sastra yang realis.

Dari perspektif realis itu, sebagaimana adanya pada Mlantjaran ka Sasak, merupakan satu indikator untuk menentukan demarkasi antara sastra Bali Purwa dan Bali Anyar; suatu peralihan bukan pada aspek bahasa dan genre teks tetapi pada transformasi dari dunia mitologi (dalam pengertian yang luas) ke wilayang realis atau kehidupan sehari-hari. Transformasi ini merupakan ciri terpenting bagi kelahiran sastra Bali Modern.

Sebagai karya terjemahan, menarik kiranya memberi satu catatan pada aspek bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh penerjemah membawa pembaca ke bahasa Indonesia ke era sebelum kemerdekaan. Bahasa Bali yang serumpun dengan bahasa Melayu, yang digunakan pada masa tersebut rupanya memiliki kedekatan. Penerjemah telah membuktikan melalui bahasa terjemahan yang digunakan dalam Jalan-jalan ke Sasak.

Dari segi isi, Jalan-jalan ke Sasak memang mengandung tendens namun demikian, pengarang menghadirkannya dengan atau secara halus atau tersirat lewat ungkapan-ungkapan dalam bahasa Bali yang mana setelah diterjemahkan sangat sulit bagi penerjemahnya menemukan ungakapn-ungkapan atau peribahasa yang sepadan. Sehingga, harus dijelaskan atau bahkan pembaca dibantu dengan catatan kaki.

Karena itu, sebagaimanpun halus dan tersiratnya tendens tersebut, pengarang atau karya ini secara tidak sadar terlibat di dalam pertarungan wacana pada era itu: kritik terhadap feodalisme (kasta), modernisasi, pendidikan, dan emansipasi.

Pada era sebelum kemerdekaan, seseorang yang berpendidikan mendapat ruang baru dalam sistem sosial di Bali. Guru adalah hasil nyata pendidikan modern yang akan memodernkan Bali dalam pengertian yang luas, termasuk memerdekakan jiwa dan diri. Walaupun demikian, sering kali tidak mudah karena feodalisme kasta masih cukup kuat. Posisi penulis juga tidak kalah penting.

Jika guru bekerja di sekolah dalam kerangka besar mendidik masyarakat maka penulis atau pengarang seperti Wayan Bhadra menjalankan tugas seorang intelektual lewat tulisan atau karya roman yang digubahnya. Pada kondisi dan perspektif ini sastra atau tulisan menempati posisi yang sangat penting sehingga pada masa itu, di Singaraja lahir media cetak berupa majalah untuk menampung dan menyebarluaskan ide-ide kaum intelektual setempat, setelah mereka mengenyam pendidikan. Jadi, outcomes pendidikan lebih pada terjadinya perubahan masyarakat dan bukan pada peningkatan taraf hidup lulusan.

Konteks sosiologis Mlantjaran ka Sasak dan ketidaksadaran pengarang dalam arus pertarungan wacana intelektual di Kota Singaraja yang egaliter, dapat dilihat sebagai hal yang secara teoretis telah mendapat justifikasi yang sangat kuat.

Tetapi dengan mencermati terjadinya pertarungan wacana di Bali Utara, khususnya di Singaraja yang dimediai oleh terbitnya sejumlah majalah sebagai media cetak, tampak dengan sangat jelas bahwa sastra mengambil bagian di dalam pertarungan wacana tersebut. Pertanyaannya adalah; mengapa sastra mendapat ruang di dalam media cetak tersebut? Tentu saja tidak sebatas fungsi hiburannya. Hal ini terkait dengan pandangan bahwa kaum sastrawan atau penulis pada waktu itu adalah para intelektual yang mendapat peran penting atau mengambil bagian secara sadar dalam pertarungan pemikiran tersebut; meskipun Wayan Bhadra menyatakan bahwa dirinya ingin netral namun lewat romannya, Mlantjaran ka Sasak, ia sejatinya terlibat.

 Maka Mlantjaran ka Sasak adalah novel yang lahir dalam pertarungan wacana intelektual di Bali Utara. Di sini sastra merupakan karya intelektual  yang setara dengan kolom-kolom kritis di berbagai majalah yang terbit ketika itu di Kota Singaraja.  Dari segi ini Mlantjaran ka Sasak  adalah tipikal roman Pujangga Baru dalam bahasa Bali. Dapat kiranya disebutkan bahwa di Bali roman Pujangga Baru ditulis versinya dalam bahasa daerah; yang sama-sama membicarakan pergulatan pemikiran menuju modernisasi Indonesia.

Jika dilihat relasi antara A.A. Pandji Tisna dan Wayan Bhadra maka dapat dinyatakan bahwa pada zaman itu, Bali memiliki dua orang sastrawan Angkatan Pujangga Baru; yang satu adalah A.A. Pandji Tisna yang memang menulis dalam bahasa Melayu; dan yang satu lagi adalah Wayan Bhadra yang menulis dengan spirit roman Pujangga Baru dalam bahasa Bali. Dengan paradigma ini harus ada satu pertanyaan yang dikemukakan kepada sejarah sastra Indonesia yang hanya mengakui para pengarang atau sastrawan yang menulis dalam bahasa Melayu.

Jelas, sastra atau periodisasi dan klaim-klaim politik susastra hanya menggunakan bahasa tetapi spirit atau jiwa suatu angkatan, dalam hal ini Angkatan Pujangga Baru; jelas-jelas diabaikan. Karena itulah, spirit menulis roman Pujangga Baru yang dilakukan oleh Wayan Bhadra di Singaraja dengan mempublikasikan karya di majalah setempat; tidak pernah diakui atau ditelusuri keberadaannya sebagai bagian dari angkatan sastra Pujangga Baru. Kekeliruan sejarah sastra Indonesia adalah menarik garis demarkasi antara bahasa Melayu dan bahasa daerah dan hal ini sama saja telah dilakukan oleh sejarah sastra kolonial yang menarik garis juga antara sastra tradisional (Nusantara) dan sastra modern (sastranya kaum penjajah).

Dengan sudut pandang ini, Bali tidak hanya mendaftarkan seorang sastrawan pada Angkat Pujangga Baru, yakni A.A. Pandji Tisna dengan sejumlah karya seperti di antaranya Sukreni Gadis Bali tetapi juga Wayan Bhadra atau Gde Srawana dengan karya Mlantjaran ka Sasak dan lebih-lebih lagi sejak Balai Bahasa Provinsi Bali telah menerjemahkan dan menerbitkannya dalam bahasa Indonesia, Jalan-jalan ke Sasak.  Alasan untuk meluruskan jalannya sejarah sastra terhadap Bali, yang hanya mencatat nama A.A. Pandji Tisna dan lewat karya terjemahan ini, Bali wajar menuntut, nama Wayan Bhadra atau Gde Srawana diakuti sebagai sastrawan angkatan Pujangga Baru. [T]

  • Baca artikel lain dari penulis I WAYAN ARTIKA
  • Tags: Bahasa Balisastrasastra bali modernterjemahan
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    “Akar Air dan Yang Jatuh” Dalam Percakapan Bersama Alisa Soelaeman

    Next Post

    Pola Latihan Mata, Antara Menguasai dan Dikuasai : Proses Kreatif Ela Mutiara Jaya Waluya

    I Wayan Artika

    I Wayan Artika

    Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

    Related Posts

    ‘Janji-janji Jepang’

    by Angga Wijaya
    April 23, 2026
    0
    ‘Janji-janji Jepang’

    SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

    Read moreDetails

    Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

    by Chusmeru
    April 23, 2026
    0
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

    RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

    Read moreDetails

    Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

    by Agung Sudarsa
    April 22, 2026
    0
    Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

    DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

    Read moreDetails

    Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

    by Dodik Suprayogi
    April 21, 2026
    0
    Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

    JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

    Read moreDetails

    Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

    by Petrus Imam Prawoto Jati
    April 21, 2026
    0
    Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

    BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

    Read moreDetails

    NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

    by Dede Putra Wiguna
    April 20, 2026
    0
    NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

    PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

    Read moreDetails

    Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

    by Agung Sudarsa
    April 20, 2026
    0
    Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

    SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

    Read moreDetails

    Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

    by Asep Kurnia
    April 20, 2026
    0
    Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

    KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

    Read moreDetails

    Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

    by Jro Gde Sudibya
    April 20, 2026
    0
    Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

    Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

    Read moreDetails

    Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

    by Cindy May Siagian
    April 19, 2026
    0
    Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

    MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

    Read moreDetails
    Next Post
    Pola Latihan Mata, Antara Menguasai dan Dikuasai : Proses Kreatif Ela Mutiara Jaya Waluya

    Pola Latihan Mata, Antara Menguasai dan Dikuasai : Proses Kreatif Ela Mutiara Jaya Waluya

    Ads

    POPULER

    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    ‘Janji-janji Jepang’
    Esai

    ‘Janji-janji Jepang’

    SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

    by Angga Wijaya
    April 23, 2026
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
    Esai

    Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

    RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

    by Chusmeru
    April 23, 2026
    Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
    Esai

    Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

    DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

    by Agung Sudarsa
    April 22, 2026
    Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
    Opini

    PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

    PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

    by I Made Pria Dharsana
    April 22, 2026
    ‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
    Ulas Musik

    ‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

    SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

    by Dede Putra Wiguna
    April 22, 2026
    Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
    Khas

    Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

    “Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

    by I Wayan Sujana Suklu
    April 22, 2026
    Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
    Panggung

    Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

    GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

    by Dede Putra Wiguna
    April 22, 2026
    ‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
    Pameran

    ‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

    MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

    by Nyoman Budarsana
    April 21, 2026
    Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
    Pendidikan

    Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

    Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

    by tatkala
    April 21, 2026
    Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
    Esai

    Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

    JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

    by Dodik Suprayogi
    April 21, 2026
    ‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
    Lingkungan

    ‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

    KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

    by Son Lomri
    April 21, 2026
    I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
    Persona

    I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

    PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

    by Made Adnyana Ole
    April 21, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co