27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
in Ulasan
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Penampilan salah satu peserta dalam lomba fragmentari pada Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba yang memilih kisah Ibunda Bung Karno, Nyoman Rai Srimben, sebagai tema garapan. Padahal, sejak awal lomba itu digagas dengan tujuan cukup strategis, yakni untuk memperkenalkan kisah Ibunda Bung Karno itu melalui seni pertunjukan.

Lomba fragmentari itu digelar  Senin-Selasa malam, 27-28 Juni 2022. Peserta yang diundang dan diharapkan ikut adalah SMA/SMK di Buleleng. Namun lacur, dari sekian banyak SMA/SMK di Buleleng, hanya lima yang mendaftar jadi peserta. Kelima SMA/SMK itu adalah SMA N 2 Banjar, SMAN 1 Sukasada, SMAN 3 Singaraja, SMAN 1 Singaraja, dan SMAN 4 Singaraja.

Panitia memberi sejumlah pilihan tema untuk digarap sebagai materi fargmentari.  Tema pilihan itu adalah Nyoman Rai Srimben (Ibunda Bung Karno), Puputan Jagaraga, Perang Banjar, dan Jaya Prana dan Layon Sari.

Yang membuat agak miris, tidak ada satu pun peserta memilih tema Ibunda Bung Karno, Nyoman Rai Srimben, sebagai bahan garapan fargmentari. Mereka lebih banyak memilih tema lain.

SMA N 2 Banjar menggarap karya Keris Ki Lebah Pangkung, SMAN 1 Sukasada menggarap  Jayaprana Layonsari, SMAN 3 Singaraja mengagrap Jayaprana Layonsari, SMAN 1 Singaraja menggarap karya berjudul Sura Magada, sekuel dari Perang Banjar, dan SMAN 4 Singaraja juga menggarap Jayaprana Layonsari.

Pertanyaan sekarang, kenapa tak ada satu pun peserta yang memilih tema Nyoman Rai Srimben?  Seorang sumber mengatakan, peserta konon takut menggarap tema Nyoman Rai Srimben karena takut salah.

Jika benar peserta takut menggarap kisah Nyoman Rai Srimben karena alasan takut salah, maka hal itu bisa disebut sebagai kemunduran kreativitas. Seniman Buleleng sejak dulu menunjukkan keberanian dalam mencipta hal-hal baru di dunia kesenian. Tengok bagaimana seniman ukir Buleleng berani membuat ukiran orang naik sepeda di Pura Meduwe Karang, atau menciptakan ukiran-ukiran mobil di Pura lain di Buleleng.

Gde Manik dikenal sebagai maestro seni karena keberaniannya menciptakan tabuh dan tari-tarian kekebyaran yang berbeda dengan jenis-jenis tarian lain di Bali. Banyak seniman Buleleng punya keberanian besar untuk menciptakan karya-karya baru yang unik. Dalam hal drma gong misalnya, Buleleng cukup berani mengambil kisah yang berbeda dari drama gong yang ada sekitar tahun 1980-an.

Saat itu banyak drama gong mengambil kisah-kisah Panji, namun Drama Gong Puspa Anom Banyuning justru mengambil kisah yang bersala dari Tionghoa, Sam Pek Ing Tay, untuk diramu menjadi kisah drama gong. Dan pada masa itu drama gong Puspa Anom dikenal bukan saja di Bali, namun juga hingga ke Lombok.   

Memperkenalkan Rai Srimben, Ibunda Bung Karno  

Jika tak salah ingat, ide untuk membuat lomba diawali ketika Pemkab Buleleng ingin memperkenalkan Nyoman Rai Srimben yang dikenal sebagai Ibunda Bung Karno, melalui kesenian tradisional maupun kesenian modern.

Apalagi, rumah Nyoman Rai Srimben di Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Singaraja, ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah. Selain itu, Buleleng juga sudah membangun Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Bung Karno di wilayah Sukasada.

Nah, pada saat launching RTH Taman Bung Karno diisilah berbagai acara untuk memperkenalkan taman itu sekaligus memperkenalkan sejarah bangsa kepada generasi muda, bahwa Bapak Proklamator RI Ir. Soekarno punya ibu bernama Nyoman Rai Srimben, dan ibunya itu berasal dari Buleleng, tepatnya di Bale Agung.

Saat lanching itu, digagaslah dua lomba. Pertama lomba teater modern untuk siswa SMP dan lomba fragmentari untuk siswa SMA. Lomba teater dan fragmentari itu diwajibkan menampilkan kisah Nyoman Rai Srimben yang menikah dengan Raden Soekemi dan melahirnya anak bernama Soekarno.

Namun entah kenapa, hanya teater modern yang bisa dilangsungkan saat itu. Lomba teater modern berlangsung sukses dengan 14 peserta dan selalu dipenuhi penonton di stage terbuka Taman Bung Karno. Lomba fragmentari ditunda, salah satu penyebabnya mungkin karena tak ada yang mendaftar sebagai peserta.

Lomba fragmentari itu kemudian dilangsungkan pada Bulan Bung Karno dengan hanya lima peserta. Panitia, dengan pertimbangan tertentu, tak mewajibkan peserta untuk mengangkat kisah Nyoman Rai Srimben. Panitia memberikan tema lain juga untuk bisa dipilih. Dan, sebagaimana dikatakan pada awal tulisan ini, tak ada satu pun peserta memilih tema Nyoman Rai Srimben. Padahal, sejak awal lomba itu dimaksudkan untuk memperkenalkan kisah cinta Nyoman Rai Srimben sampai akhirnya melahirkan Sang Proklamator.    

Penampilan yang Menarik

Sesungguhnya, untuk ukuran anak SMA/SMK, lima peserta dalam lomba fragmentari di Taman Bung Karno semuanya tampail menarik. Baik sekaa gong sebagai pengiring, maupun penari di atas pentas, semua menunjukkan kualitas garapan yang bagus.

SMAN 1 Singaraja dan SMAN 4 Singaraja, misalnya, yang tampil pada Selasa malam, mampu membuat penonton terpukau. SMAN 1 yang membawakan kisah Sura Magada berhasil mendedahkan kisah dengan amat apik melalui dramatari di atas panggung. SMAN 4 Singaraja yang membawa kisah Jayaprana Layonsari juga tak kalah menarik. Sejumlah penonton bahkan menonton dengan sangat antusias, tegang dan sedih, setiap adegan ketika Jayaprana diajak ke hutan oleh Patih Saunggaling untuk dibunuh.

Dengan kemampuan anak-anak seperti itu, rasanya tak ada alasan untuk takut untuk mengggarp lakon baru, yakni Kisah Cinta Rai Srimben, Ibunda Bung Karno. Dengan kemampuan penabuh dan penari yang mumpuni seperti itu, sepertinya kisah Nyoman Rai Srimben akan hidup dalam sebuah seni pertunjukan, dan Buleleng akan memiliki satu lagi kisah baru untuk diolah dalam berbagai seni pertunjukan, bahkan suatu saat bisa diperkenalkan dalam ajang yang lebih besar semacam Pesta Kesenian Bali.

Sayangnya, tak ada yang memilih kisah Rai Srimben. Jika benar alasannya karena takut, sesungguhnya siapakah yang takut? Anak-anak yang akan menari dan menabuh, atau penggarap atau pelatihnya, atau gurunya, atau mungkin panitianya? [T]

Tags: Bung KarnoRai SrimbensejarahTaman Bung Karno Buleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kegembiraan Remaja Sarimekar-Buleleng Ngebyar Angklung Bilah Kutus di PKB

Next Post

Saksi PKB Sejak 1979: Mie Ayam Racikan ala Parman

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails

Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog” | Catatan Lomba Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

by Dewa Purwita Sukahet
June 25, 2022
0
Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog”  | Catatan Lomba  Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

Dua orang dari 22 peserta lomba melukis Wayang Klasik di Kalangan Ayodya, areal Taman Werdhi Budaya Art Centre, Bali di...

Read moreDetails
Next Post
Saksi PKB Sejak 1979: Mie Ayam Racikan ala Parman

Saksi PKB Sejak 1979: Mie Ayam Racikan ala Parman

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co