22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Itu “Coffee Shop” Minggir Dulu, Kopi Banyuatis Mau Lewat

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
June 2, 2022
in Esai
Itu “Coffee Shop” Minggir Dulu, Kopi Banyuatis Mau Lewat

Azman (penulis) sedang ngopi

“Bila kau pergi, lantas apa yang kucicipi.” Kiranya kata-kata Al-Hallaj itu yang bisa saya ambil dan plintir sedikit endingnya, untuk menjadi wali perasaan saya, di samping relevansi dan kecocokan akan tulisan ini.

Biarlah tanpa uang 2 hari, gak makan dari subuh sampai malam, dan keseharian yang enggak produktif , yang penting Kopi Banyuatis masih satu toples di dapur kontrakan. Itu sudah bikin saya tenang dan tak terlalu was-was untuk menghadapi kehidupan yang serba fana ini. Aduh aduh aduhhhh.

Karena hanya Kopi Banyuatis yang bisa buat saya merasa menjadi orang yang intelek dan melek kebudayaan. Tanpanya, saya hanyalah buih di lautan, mengambang-ngambang ikuti arus zaman yang tak karuan. Mih, bungutee.

Bukti sederhananya, yakinlah, ketika saya menyelesaikan tulisan ini, total 4 gelas Kopi Banyuatis telah membanjiri kerongkongan saya. 1 gelas di pagi hari, siang sepulang kuliah 1 gelas lagi, dan 2 gelas dari awal sampai selesainya tulisan ini. Dan teman-teman di pojokan yang sedang duduk di ruang tamu, khusyuk bercinta dengan masing-masing segelas pekat Kopi Banyuatis juga.

“Uger-Uger Pikolih Kopi”, Undang-Undang Kopi Bali 1920

Di Kota Malang, eksistensi Kopi Banyuatis di kontrakan bagi saya lebih fundamental, daripada kehadiran kekasih dalam pelukan. Kopi Banyuatis bukan lagi sekadar sruput sebangun tidur dan sruput sepulang kerja atau kuliah. Tapi sudah menjadi sandang pangan yang punya kontribusi lebih besar ketimbang beras dan baju. Dan adanya Kopi Banyuatis di kontrakan, adalah salah satu alasan kenapa saya masih dalam keadaan waras.

Namun, mengurung diri dalam pelukan Kopi Banyuatis sambil baca Don Quixote, bukan berarti saya kampungan dan tak mengenal coffee shop ala-ala gen Z. Kadang sebulan sekali saya menyempatkan diri menerima ajakan teman buat nongki di tempat begituan. Bukan karena saya suka kopinya, melainkan menghargai ajakan kawan saja, plus ramai ukhti-uktinya juga sihh.

Dan di Kota Malang, tempat saya kost dan kuliah, pembangunan-pembangunan coffee shop semakin marak, hampir di segala tempat ada coffee Shop, entah yang konvensional atau yang kontemporer. Di kawasan UIN dan Unisma, coffe shop didominasi bentuk tradisional, dengan pengunjung yang rata-rata adalah mahasiswa-mahasiswa organisasi akut stadium 4. Sedangkan kawasan UB dan UMM, ramai coffee shop modern. Biasanya  gen Z di sana nongki cuman buat pamer FWB dan outfit yang jilbabnya nyekik leher.

Seiring pembangunan itu pun, saya seakan digiring untuk berhijrah menjadi hedonis yang totalitas. Untungnya, persuasif terselubung semacam itu, terbentengi dengan bubuk pahit nagih-nagih dari Kopi Banyuatis yang bertumpuk-tumpuk di dapur kontrakan.

Jujur saya sedikit menjaga bibir saya dari kopi yang dimix-mix gitu, yang diart-art gitu. Di samping alasan tak terlalu suka, saya juga takut keintelektualan yang merasuk ke diri saya dari memagut pahit Banyuatis itu, memudar sedikit demi sedikit.

Jadinya saya harus sehati-hati mungkin  menjaga kontak fisik, agar tak terkontaminasi dengan kopi yang manis-manis bergambar-gambar itu. Dan, oh iya, juga dengan ice coffee, yang bila es batunya meleleh, rasanya jadi hambar.

Kopi Banyuatis, mungkin bagi teman-teman saya yang bukan orang Bali cuman seonggok bubuk cokelat legam. Tapi bagi saya, Kopi Banyuatis adalah penyokong kehidupan saya dan mahasiswa-mahasiswa Bali di Malang, yang di dalamnya mengandung partikel-partikel gaib yang menyegarkan elemen-elemen tubuh.

Tanpa Kopi Banyuatis, saya tak mungkin kuat baca bukunya Metamorfosis Kafka, Kritikus Adinan, apalagi tulisan-tulisan Afrizal Malna. Tanpa Kopi Banyuatis juga, sebatang rokok country dan lucky strike tak memiliki kenikmatan yang hakiki.

Dan posisi itu tidak bisa digantikan dengan kopi-kopi yang ada di coffee Shop di sekitaran Malang. Saya lebih memilih minum kopikap yang dijual WM (Warung Madura), ketimbang minum kopi latte dan kopi art-art itu.

Kopi Susu + Telur Ayam Arab Setengah Matang | Legenda Ngopi di Kota Tua Singaraja

Pernah, suatu ketika sekitaran tahun lalu. Stok Kopi Banyuatis di kontrakan saya sudah di ambang ajal. Sontak saya panik, sampai mau bikin storydi Instagram, dan ngetweet di Twitter, biar netizen bantu nyari solusi. Saya bingung harus beli di mana, karena Kopi Banyuatis tidak beredar di pulau Jawa. Pun, teman-teman mahasiwa Bali sudah ada di Malang semua. Kalaupun lewat jasa pengiriman dari Bali ke Malang, tentu tak kebayang berapa pengeluaran yang harus saya rogoh dari kantong. Alhasil pelarian saya hanyalah Sidomukti dan Kapal Api, yang rasanya rada-rada mirip Kopi Banyuatis.

Namun, hanya Kopi Banyuatis yang bisa menopang saya untuk kuat selama berjam-jam di depan laptop, menggarap tugas dan maratonin series Game of Thrones. Kopi Banyuatis adalah foundation of my strength, bisa dibilang begitu. Hanya kepahitan Kopi Banyuatis saja yang bisa buat badan saya tegak dan mata saya tak layu buat berlama-lama di depan laptop dan buku.

Oleh sebab itu, ketika saya kehabisan Kopi Banyuatis, cuman sisa satu sendok teh bubuknya doang. Saya dan teman-teman satu kontrakan, secara tidak langsung merancang manajemen pendistribusian Kopi Banyuatis dari Bali ke Malang. Pokoknya, setiap masing-masing kami yang akan berangkat ke Malang, hukumnya sunnah muakad (diharuskan) membawa minimal 1 bungkus Kopi Banyuatis ukuran 500 gram. Entah itu beli di toko pak kadek, kelontongan orang cina, ataupun warung pak samsul.

Dengan manajemen pendistribusian yang kami rancang secara kolektif. Perkiraan stok Kopi Banyuatis yang kami bawa dari masing-masing rumah, bisa habis dalam kurun waktu 3 sampai 4 bulan. Kalau ngopinya pakai akhlak sih. Ya kalau gak pakai akhlak, 2 bulan itu Kopi Banyuatis udah raib dari ruang penyimpanan, inguh be ngalih dije ne ngadep.

Makanya saya sangat berhati-hati untuk mengatur kecukupan pangan dan sandang (Kopi Banyuatis) kami di kontrakan. Yang penting dari kami semua ngopinya pakai akhlak dan otak aja. Itu perlu dilakukan, untuk kesejahteraan kami semua ketika menikmati Kopi Banyuatis.

Di sini, tak jarang beberapa pikiran muncul secara tiba-tiba dalam diri saya. Dan salah satunya adalah, saya sangat menginginkan Kopi Banyuatis beredar di pulau Jawa, tak hanya Bali dan NTB saja. Padahal kalau dilihat, mahasiswa-mahasiswa Bali yang merantau ke pulau Jawa itu banyak banget, kan. Dan yang namanya Kopi Banyuatis sangat penting ada di sisi kami. Dan saya pribadi berharap Pak Gede Pusaka (Bos Kopi Banyuatis) bisa memikirkan hal ini. Jadi tak terbatas mengedukasi orang minum kopi dengan benar di Bali dan NTB saja. Tapi juga Pulau Jawa perlu deh kayaknya.

Dan saat ini, alhamdulillah stok Kopi Banyuatis saya dan teman-teman kontrakan masih cukup untuk dua bulan kedepan. Ditambah ada beberapa teman yang akan ke Malang nantinya bawa Kopi Banyuatis juga. Dengan itu saya tak perlu lagi khawatir, tak perlu lagi story di Instagram dan ngeteweet di Twitter, dan tak perlu lagi beli kopikap di WM (Warung Madura). Apalagi beralih ke coffe shop. Biarlah teman-teman saya yang hedon aja ngopi di sana, sambil ngomongin rencana collab bareng Bayu Skak dan Juragan 99. [T]

Tags: bulelengkopi balikopi banyuatis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Kebyar Legendaris | Sekaa Gong Gunung Sari dari Peliatan, Mendunia Sejak 1930-an

Next Post

Siap Grak, Maju Jalan…! Buleleng Bersiap Gelar Lomba Gerak Jalan

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Siap Grak, Maju Jalan…! Buleleng Bersiap Gelar Lomba Gerak Jalan

Siap Grak, Maju Jalan…! Buleleng Bersiap Gelar Lomba Gerak Jalan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co