25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berpadunya Narasi Ibu dan Spiritual dalam Pentas Sastra Daerah “I Jaum” di Desa Pedawa

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
May 30, 2022
in Ulasan
Berpadunya Narasi Ibu dan Spiritual dalam Pentas Sastra Daerah “I Jaum” di Desa Pedawa

Pementasan sastra daerah, I Jaum" di Desa Pedawa, Buleleng

Ida Ayu Lakmita Dewi (2019) pernah mempublikasi hasil riset tentang cerita rakyat Bali Age pada jurnal Kajian Bali volume 09, nomor 02, Oktober 2019 menegaskan bahwa teks narasi yang terdapat dalam cerita rakyat acapkali hanya dipandang sebagai fiksi sesungguhnya memuat pengetahuan sosial yang merepresentasikan kultur masyarakat pemilik cerita.

Pandangan ini sangat kentara dari pertunjukkan cerita rakyat I Jaum yang digelar pada Hari Kamis, 26 Mei 2022 bertempat di Wantilan desa Pedawa dengan mengusung tema Pemasyarakat Aksi dalam Implementasi Model Perlindungan Sastra Daerah. Di dukung oleh personil di bawah asuhan Wayan Sadnyana (ketua Literasi Sabih, Pedawa) pertunjukkan ini telah benar-benar mampu mengobati kerinduan masyarakat Pedawa yang sudah sangat lama tidak menikmati pertunjukkan seni yang berakar dari warisan leluhurnya.

Mulai pukul 9.00 WITA, anggota masyarakat Pedawa yang terdiri dari anak-anak, remaja dan para orang tua sudah mulai berduyun-duyun datang ke wantilan Desa Pedawa, padahal pementasan baru dimulai sekitar pukul 10.30 WITA.

Foto: Antuasias warga masyarakat menunggu pementasan | Sumber, Sendratari, Mei 2022

Setelah melewati serangkaian acara serimonial yang cukup lama tiba gilirannya para pemain drama “I Jaum” beraksi di atas panggung. Penataan panggungnya mampu menghidupkan memori penulis tatkala di tahun 80an menjadi penonton drama gong yang pentas di Balai banjar di wilayah Denpasar.

Latar panggung dibuat sesuai dengan kebutuhan cerita yang ditunjang dengan proverti yang sesungguhnya mampu bercerita tentang kedekatan masyarakat dengan komponen alam yang menghidupinya hingga saat ini. Ada pohon kelapa, rumah kraras (daun pisang yang kering), ambu (daun pohon jaka muda).

Foto: Properti Pohon Kelapa dan Umah Kraras Dadong Raksasa | Sumber: Sendratari, Mei 2022

Cerita dimulai dari kemunculan I Jaum, seorang perempuan remaja yang tinggal bersama ibunya yang tengah hamil tua. Dikisahkan bahwa I Jaum adalah sosok remaja yang grecep/banyak gerak, sehingga sering tidak bisa fokus ketika mendengar pesan. Berawal dari suruhan ibunya agar I Jaum menemui neneknya yang akan membantu persalinannya.

Pesan utamanya adalah agar saat dia sampai di persimpangan jalan agar memilih arah ke kanan, tidak ke kiri. Jika ke kiri yang akan ditemui adalah raksasa. Karena I Jaum tidak cermat mengikuti pesan ibunya dari sinilah awal petaka yang mengantarkan pada klimak cerita. Pokok ceritanya adalah berikut ini

Kisah I Jaum menceritakan kisah seorang anak yang tinggal hanya dengan ibunya terjebak kejahatan nenek raksasa, akibat anak yang bernama I Jaum tak mendengarkan arahan ibunya dengan baik. Dia yang semula ditugaskan ibunya mencari neneknya untuk membantu persalinan sang ibu salah alamat. I Jaum menempuh jalan yang salah karena tak memperhatikan seksama arahan ibunya. Dia pun tersesat ke rumah nenek raksasa, yang mengantarkannya kepada petaka.

Tak hanya ancaman maut yang dialaminya, bahkan sang ibu yang bersiap untuk melahirkan adiknya disantap hidup-hidup oleh nenek raksasa. Dalam keadaan terdesak di tengah persembunyiannya, I Jaum akhirnya mengingat pesan mendiang ayahnya. Yakni memanggil tiga ekor anjing penghuni surga. Ketiga ekor anjing surga itu pun berhasil mengalahkan nenek raksasa. Di tengah kesedihan dan penyesalannya dia pun memohon dan berdoa agar ibunya dapat dihidupkan kembali. Permohonan sepenuh hati I Jaum akhirnya dikabulkan oleh Yang Kuasa dan dia berjanji tak akan mengulangi kesalahannya lagi.

Melalui alunan musik gerantang yang dimainkan oleh pemuda asuhan pondok literasi Sabih, dan ditunjang oleh para pemain utama dan piguran, anak-anak asuhan pondok literasi Sabih telah berhasil menyajikan tontonan sastra daerah yang apik di tengah-tengah gemuruhnya hantaman literasi media yang telah mampu meninabobokkan masyarakat penontonnya, sehingga lupa kearifan lokal yang tersaji di depan mata.

Setidaknya, masyarakat Pedawa yang saat ini telah menjadi bagian dari masyarakat global, disertai tekad dan semangat kaum mudanya lewat kepeloporan seorang Sadnyana, Made Suije/Ibong dan Putu Yuli Supriadnyana beserta Tim yang terdiri dari para tokoh masyarakat Pedawa telah mampu menunjukkan bahwa masyarakat Pedawa punya nilai moralitas sebagai landasan untuk membangun generasi muda yang berkualitas, sehingga bisa menepis citra/stigma negatif tentang orang-orang Pedawa.

Foto: Sekeha Gerantang Pedawa | Sumber: Sendratari, Mei 2022

Foto: Ekspresi Dadong Raksasa yang Mengundang Sensasi Horor | Sumber: Wibi, Mei 2022

Foto: Sosok I Jaum Saat Menyesali Keteledorannya. Dan memohon kepada Dewata agar ibunya dihidupkan kembali setelah disantap Dadong Raksasa | Sumber: Wibi, Mei 2022

Pertunjukkan yang berlangsung kurang lebih 2 jam terbanyar atas kelelahan Tim prodi Sosiologi Undiksha melakukan perjalanan menuju Pedawa yang disertai dengan suasana kabut dan hujan gerimis. Tontonan kali ini memberi pemahaman tentang setting, karakter pemain di panggung, alur cerita, serta menajamkan kognisi penulis bahwa pementasan sastra lisan benar-benar mampu mendekatkan pemain dengan penontonnya. Hal ini terbukti dari riuh rendahnya reaksi penonton ketika tidak ada jarak bahasa, ketika ilustrasi teks dibuat dengan memanggil orang-orang yang masih hidup saat ini. Terasa tiada jarak antara penyaji dan penikmat.

Bukan hanya terhibur, namun lebih dari itu, kisah I Jaum telah mampu mengusik naluri akademik untuk menemukenali hal-hal mendasar. Dalam percakapan dengan Sadnyana pada tanggal 14 Februari 2022 bertempat di Pondok Literasi Sabih, dia bertutur.

“Saat ini kami sedang fokus melakukan penggalian cerita kuno yang membumi di Pedawa. Dari hasil penelusuran, kami ketemu satu cerita yang paling kuno dibanding yang lain yaitu cerita I Jaum. Bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Bali kami akan merevitalisasi cerita ini agar lebih dikenal dan yang terpenting langkah menghidupkan ini sekaligus bisa ditemui nilai kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya”

Pada sisi lain, tokoh masyarakat Pedawa, Pak Wayan Sukrata berpandangan: “Kisah I Jaum menyimpan pesan moral kepada generasi muda agar senantiasa sungguh-sungguh mendengar pesan orang tua agar selamat”.

Percakapan yang berlanjut tentang I Jaum, tontonan yang telah tersaji, menghasilkan suatu perenungan tentang cara-cara orang yang hidup di masa lalu mewariskan nilai-nilai moralitas lewat narasi yang perlu dikupas agar ketemu saripatinya. Sesungguhnya, kisah yang terkesan sederhana ini menyimpan kekayaan narasi yang jamak, bukan tunggal.

Pertama, Narasi Kanan dan Kiri. Ini adalah narasi kuno tentang oposisi biner (dua hal berbeda tetapi selalu ada). Kanan dipandang mewakili segala hal yang baik, sedangkan kiri mewakili keburukan/negatif. Dari sisi ini pesan moral cerita ini jelas hitam putihnya. Kontruksi sejenis ini sudah mengakar dalam cerita rakyat, misalnya cerita I Bawang, I Kesune adalah cerita yang dulunya sangat populer di Bali. Dalam cerita I Jaum Dadong Raksasa menjadi simbol kebatilan yang mesti dijauhi, sedangkan Dadong I Jaum mewakili simbol kebaikan.

Kedua, Narasi Pengorbanan. Pesan moral dalam wujud pengorbanan seorang ibu juga menonjol di kisah ini. Pengukuhan ideologi gender yang direpresentasikan melalui pengorbanan seorang ibu menjadi model konstruksi yang tidak pernah lekang oleh perjalanan waktu. Narasi ini pun bergandengan erat dengan ketangguhan sosok ibu menjadi orang tua tunggal bagi anaknya. Menjadi janda dikurung pula dengan jargon2 yang menjadikan kewajiban sebagai ibu dikekalkan, misalnya di bali dikenal pesan moral bagi seorang janda – “yasaang panakke” (amalkan diri pada anak). Pesan peran gender pada narasi pengorbanan sebenarnya dapat dilihat dengan mata telanjang dalam tontonan ini.

Ketiga, Narasi Spiritual. Narasi ini sesungguhnya tidak begitu kentara dalam pementasan. Namun, dari perbincangan dengan Sadnyana atas dasar penelusuran nara sumber tentang cerita I Jaum, dengan memakai kacamata semiotika – ilmu tanda sampailah akhirnya pada suatu pemaknaan bahwa cerita I Jaum sesungguhnya menyimpan pesan moral yang memuat tahap perjuangan yang harus dilalui seseorang agar bisa mencapai tingkat kebijaksanaan.

Pemahaman ini diperoleh, ketika I Jaum dikejar oleh Dadong Raksasa, dalam pengejaran ini, I Jaum bersembunyi dari satu pohon kelapa ke pohon kelapa lainnya sampai pada pohon kelapa yang ke 7 dia teringat dengan pesan ayahnya agar I Jaum memanggil binatang surga tatkala dalam bahaya. Angka 7 dalam kisah ini dikaitkan dengan pengabadian pemakaian beberapa alat-alat upakara di Pedawa yang selalu harus berjumlah 7. Menurut kepercayaan Hindu, angka 7 dikaitkan dengan lapisan alam semesta yang terdiri dari 7 lapisan.

Bhurloka = lapisan paling bawah tempat bumi berada; Bhuwahloka = lapisan alam pitara atau alam roh; Swahloka atau swarga loka = kediaman para Dewa yang dipimpin oleh Dewa Indra Sang Dewa hujan ; Mahaloka = kediaman Rsi Bhrigu (salah satu dari tujuh orang bijak/penyair suci dan salah satu dari banyak prajapatis (fasilitator penciptaan) yang dibuat oleh Brahma (Dewa Pencipta); Janaloka = Kediaman Sapta Rsi (Tujuh orang suci yang mengetahui secara baik kebenaran wahyu Tuhan); Tapaloka = kediaman Weragi semacam ras mahluk Agung; Satyaloka atau Brahmaloka adalah kediaman penguasa satu alam semesta yakni Dewa Brahma yaitu Dewa pencipta, pengetahuan dan kebijaksanaan

Makna yang tersirat dari perjuangan I Jaum agar terhindar dari sergapan Dadong Raksasa bahwa pengetahuan dan kebijaksanaan itu bukan pemberian namun adalah hasil perjuangan yang dilalui secara bertahap. Setiap orang harus terdorong untuk berjuang dalam menggapainya. Inilah nilai moralitas yang paling kontekstual ketika manusia tersesat dalam kubangan dangkalnya moralitas akan hasrta yang ingin serba cepat dan instan. Catatan yang tersisa dari tontonan ini berupa untaian kata: “ Ditengah semerbak bunga cengkeh dan legitnya kopi Pedawa yang disuguhkan lewat senyum teduh seorang ibu, melahirkan spritualitas kebijaksanaan nan abadi”.

Tentunya, membumikan cerita ini, tidak akan berhenti hanya pada pementasan, namun internalisasi secara terus menerus adalah keniscayaan. [T]

Tags: Desa Pedawasastrasastra balisastra lisan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

15 Fakta SMAN Bali Mandara yang Perlu Anda Ketahui

Next Post

Menarasikan Produk, Menyambung Napas UMKM

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menarasikan Produk, Menyambung Napas UMKM

Menarasikan Produk, Menyambung Napas UMKM

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co