13 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sakit Mata Obatnya Bunga Bintang – Pesan Alam untuk Cintai Lingkungan

Made Nurbawa by Made Nurbawa
February 2, 2018
in Esai

Foto koleksi penulis

SETIAP orang pasti pernah sakit, misalnya sakit mata (mata merah). Wabah sakit mata mudah menular ke orang-orang berbagai usia. Untuk mencegah dan mengobatinya anda bisa melakukan dengan cara dan bahan alami yaitu dengan menggunakan bunga bintang atau dauh kelor.

Caranya mudah:

Pertama, cari 1 tangkai bunga bintang yang sudah mekar. Kemudian ambil gelas, isi dengan air bersih (air biasa, bukan air dingin atau panas) sekitar 2 sendok makan. Rendam bunga bintang selama 1-2 menit di dalam gelas. Kemudian ambil kapas, celupkan kapas ke gelas lalu airnya teteskan ke mata. Mata akan terasa perih sekitar 15 detik, setelah itu nyaman kembali. Lakukan 2 hari sekali. Selain menyembuhkan sakit mata, tetesan air bunga bintang bisa membuat mata segar, cling dan mencegah katarak.

Kedua, cari 1 tangkai daun kelor (jangan terlalu muda). Tuangkan air panas ke dalam gelas sekitar setengah gelas lebih. Daun kelor kemudian diremas dengan tangan lalu masukan ke dalam gelas, rendam dan tunggu sekitar 1-2 menit. Kemudian ambil kapas, celupkan kapas ke gelas lalu airnya teteskan ke mata. Mata terasa agak perih sekitar 15 detik setelah itu nyaman kembali. Lakukan 2 kali sehari. Selain menyembuhkan sakit mata, tetesan air daun kelor bisa membuat mata segar, cling dan mencegah katarak.

Dulu, di Bali, bunga bintang dan pohon kelor banyak tumbuh di halaman rumah. Bunga bintang biasa tumbuh secara liar di sisi tembok, seperti di telajakan dekat tembok sanggah. Pohon kelor biasanya ditanam di sudut halaman, dekat pintu masuk rumah, atau di belakang rumah untuk membatasi halaman dan teba.

Pohon kelor memang banyak gunanya. Selain untuk obat tetes mata, daun kelor bisa juga dimasak untuk sayur. Biasanya dimasak untuk sup, sayur urab, atau ditumis sesuai selera. Buah kelor biasa disebut kelentang. Di wilayah Buleleng dan Jembrana, sayur kelentang adalah sayur favorit bagi banyak warga pecinta masakan tradisional.
Kini bunga bintang sudah jarang ditemui. Selain halaman rumah sudah di-paving, dihias batu sikat atau dirabat semen, bunga bintang juga kerap dianggap tumbuhan tak berguna. Padahal, Tuhan menciptakan semua tumbuhan, pasti memiliki guna.

Ketika sakit mata, orang tua dulu langsung ingat bunga bintang, daun kelor, atau tumbuhan lain yang bisa digunakan sebagai obat. Jika sariawan atau jampi, orang tua ingat dengan daun jarak. Ketika sakit, orang tua kita langsung ingat tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman. Maka, tumbuhan dipelihara dengan baik.

Bisa jadi sakit yang kita alami dalam hidup ini adalah “pesan alam” agar kita senantiasa mengenali, memelihara dan mencintai kembali berbagai jenis tanaman yang ada di sekitar kita. Sehingga memahami dan memanfaatkan tanaman dengan benar merupakan sebuah kewajiban hidup sehingga menjadi keyakinan dan membudaya hingga kini.

Memanfaatkan tanaman dengan benar juga banyak dilakukan melalui beragam upacara adat dan agama (yadnya) sebagai bahan upakara. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa di komunitas budaya seperti di Bali, masyarakatnya wajib melaksanakan upacara dengan sarana banten yang bahan-bahannya dibuat dari tanaman alami.

Dengan kata lain kewajiban melakukan upacara yadnya dengan sarana banten sesungguhnya merupakan pengetahuan yang terus diwariskan oleh leluhur (tradisi) agar kita senantiasa memahami, memanfaatkan dan memelihara tanaman secara benar dan berkelanjutan atau dikenal dengan bahasa kekinian sebagai “pelestarian lingkungan yang lestari dan berkelanjutan”.

Membuat sarana upakara atau banten dengan bahan alami yang kita tanam dan pelihara sendiri sangat mungkin dimaksudkan agar kita tidak hanya melihat tanaman bahan upakara itu hanya sebagai bentuk, tetapi juga mengenali dan memahami langsung manfaatnya dan hubungannya dalam kehidupan sehari-hari secara makro dan mikro kosmos.

Hubungan dan manfaat tanaman dengan kehidupan manusia inilah banyak di jelaskan dalam filosofi Sad Kertih (Wana Kertih) yaitu aktifitas positif dalam kehidupan yang mensejahterakan semua unsur kehidupan. Di Bali kesadaran ini terus ditanamakan secara berkelanjutan (seimbang) melalui pelaksanaan upacara dalam putaran dan tatanan waktu (rerahinan). Kesadaran itulah yang kemudian populer dengan istilah “Tri Hita Karana”.

Tidak menjalankan “Tri Hita Karana” diyakini bisa sakit. “Sakit” dalam ruang-ruang populer tentu bukan hanya sakit mata seperti cerita di atas, bisa juga konflik, gerubug, krisis, perpecahan antar kelompok, hoax/fitnah, perang dan sebagainya. (T)

Tags: alambalifloralingkungantanaman obatupacara
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Liburan Mahasiswa Semester 7 dan Pertanyaan-Pertanyaan yang tak Asyik

Next Post

Perkenalan Uang Baru di Buleleng: “Mana Palu-Arit? Ah, Ngae-ngae Den…”

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Diobati Perempuan Penyembuh

by Angga Wijaya
March 12, 2026
0
Diobati Perempuan Penyembuh

DUA bulan belakangan saya sering merasa lelah. Saya pikir mungkin ini burnout, lelah tidak hanya pada fisik tapi juga mental....

Read moreDetails

Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

by Muhammad Khairu Rahman
March 12, 2026
0
Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Fenomena victim blaming — yaitu kecenderungan sosial untuk menyalahkan korban atas kekerasan atau kejahatan yang menimpa mereka — bukan sekadar...

Read moreDetails

Harimu Terasa Kacau? Mungkin Karena Lagi ‘Mercury in Retrograde’

by Putu Ayu Arundhati Gitanjali
March 12, 2026
0
Harimu Terasa Kacau? Mungkin Karena Lagi ‘Mercury in Retrograde’

MALAM itu, muncul notifikasi di layar ponsel saya. Pesan WhatsApp dari seorang teman. “Kok masalah datang keroyokan ya?” Beberapa detik...

Read moreDetails

Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

by Agung Sudarsa
March 11, 2026
0
Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Ritual Lama, Tradisi Baru Malam menjelang Hari Raya Nyepi, yang dikenal sebagai Pengerupukan, pada mulanya merupakan ritual yang sangat sederhana....

Read moreDetails

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

by I Gede Joni Suhartawan
March 11, 2026
0
Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

PANCASILA seringkali kita bicarakan seolah-olah ia adalah mantra ajaib yang otomatis menyatukan, padahal ia adalah sebuah "kesepakatan sunyi" yang menuntut...

Read moreDetails

Pergeseran Silaturahmi Idulfitri dan Krisis Komunikasi Antarpersona

by Ashlikhatul Fuaddah
March 11, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

LEBARAN tahun ini sepertinya akan terasa berbeda dari yang saya ingat waktu kecil. Bukan karena ketupat yang semakin jarang dibuat...

Read moreDetails

Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

by Nur Kamilia
March 10, 2026
0
Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

PERTEMUAN antara malam Takbiran (Idul Fitri) dan hari raya Nyepi di Bali bukan sekadar fenomena kalender yang langka. Peristiwa ini...

Read moreDetails

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

by Elpeni Fitrah
March 10, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

OPERATION Epic Fury sudah berjalan sebelas hari. Lebih dari 1.700 orang tewas. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dibunuh dalam...

Read moreDetails

Marwah yang Tak Terbeli

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

MELALUI sejarah kita tahu bahwa dari zaman ke zaman, kekuasaan selalu memiliki semacam bahasa untuk menjelaskan wajah kekuasaan itu. Dalam...

Read moreDetails

Ketika Imunisasi Terlewat, Campak Mengancam Anak

by Ni Made Erika Suciari
March 10, 2026
0
Ketika Imunisasi Terlewat, Campak Mengancam Anak

KEMAJUAN ilmu kedokteran telah membuat banyak penyakit menular sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Namun meningkatnya kembali kasus campak menjadi pengingat...

Read moreDetails
Next Post

Perkenalan Uang Baru di Buleleng: “Mana Palu-Arit? Ah, Ngae-ngae Den…”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng International Rhythm Festival, Ajang Pertunjukan Seni dan Ruang Persahabatan Antar Negara
Budaya

Buleleng International Rhythm Festival, Ajang Pertunjukan Seni dan Ruang Persahabatan Antar Negara

Rasa bangga dan syukur karena Buleleng kembali dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan budaya dunia. Buleleng International Rhythm Festival (BIRF) ini...

by tatkala
March 12, 2026
Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh
Budaya

Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Masyarakat Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, melaksanakan upacara Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas Pura Ulun Danu...

by tatkala
March 12, 2026
Diobati Perempuan Penyembuh
Esai

Diobati Perempuan Penyembuh

DUA bulan belakangan saya sering merasa lelah. Saya pikir mungkin ini burnout, lelah tidak hanya pada fisik tapi juga mental....

by Angga Wijaya
March 12, 2026
Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia
Esai

Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Fenomena victim blaming — yaitu kecenderungan sosial untuk menyalahkan korban atas kekerasan atau kejahatan yang menimpa mereka — bukan sekadar...

by Muhammad Khairu Rahman
March 12, 2026
Harimu Terasa Kacau? Mungkin Karena Lagi ‘Mercury in Retrograde’
Esai

Harimu Terasa Kacau? Mungkin Karena Lagi ‘Mercury in Retrograde’

MALAM itu, muncul notifikasi di layar ponsel saya. Pesan WhatsApp dari seorang teman. “Kok masalah datang keroyokan ya?” Beberapa detik...

by Putu Ayu Arundhati Gitanjali
March 12, 2026
‘Langkah Kita’, Langkah Awal ‘Vertical Limit’ Menembus Batas
Pop

‘Langkah Kita’, Langkah Awal ‘Vertical Limit’ Menembus Batas

LEWAT single perdana “Langkah Kita”, Vertical Limit menandai langkah awal perjalanan karir bermusik mereka. Band yang digawangi empat remaja ini...

by Dede Putra Wiguna
March 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Prinsip ‘Lex Prior Tempore Potior Jure’ dalam Penyelesaian Konflik Kawasan Hutan —Analisis Kebijakan Pertanahan dan Kehutanan Indonesia

KONFLIK penguasaan lahan di kawasan hutan Papua menampilkan paradoks mendasar dalam kebijakan agraria dan kehutanan Indonesia. Di satu sisi, negara...

by I Made Pria Dharsana
March 12, 2026
Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA
Panggung

Ogar-Ogar Ogoh-Ogoh Ketika Rock, Gamelan, dan Energi Banjar Menemukan Suaranya dalam Musik TRABASENJA

ADA sesuatu yang selalu terasa menjelang malam pengerupukan di Bali. Jalan-jalan desa mulai ramai, anak-anak muda berkumpul di bale banjar,...

by Pranita Dewi
March 12, 2026
Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali
Esai

Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Ritual Lama, Tradisi Baru Malam menjelang Hari Raya Nyepi, yang dikenal sebagai Pengerupukan, pada mulanya merupakan ritual yang sangat sederhana....

by Agung Sudarsa
March 11, 2026
Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama
Esai

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

PANCASILA seringkali kita bicarakan seolah-olah ia adalah mantra ajaib yang otomatis menyatukan, padahal ia adalah sebuah "kesepakatan sunyi" yang menuntut...

by I Gede Joni Suhartawan
March 11, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Pergeseran Silaturahmi Idulfitri dan Krisis Komunikasi Antarpersona

LEBARAN tahun ini sepertinya akan terasa berbeda dari yang saya ingat waktu kecil. Bukan karena ketupat yang semakin jarang dibuat...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 11, 2026
Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata
Esai

Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

PERTEMUAN antara malam Takbiran (Idul Fitri) dan hari raya Nyepi di Bali bukan sekadar fenomena kalender yang langka. Peristiwa ini...

by Nur Kamilia
March 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co