24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ditunggu Karena Makna, Isi Angpao itu Bonus | Cerita Engkong Tentang Imlek

Julio Saputra by Julio Saputra
February 10, 2021
in Esai

Foto koleksi penulis

SAYA warga keturunan. Keturunan Tionghoa sekaligus keturunan Bali. Di tubuh saya mengalir darah Tionghoa dari leluhur Tionghoa, dan darah Bali dari ibu kandung saya.

Sebagai warga keturunan Tionghoa, sudah pasti saya merayakan hari terpenting dalam tradisi Cina, yaitu Tahun Baru Cina atau yang biasa disebut Imlek. Tapi, sebagai warga keuturunan juga, saya tak sepenuhnya paham tentang sejumlah hal di hari raya itu, sehingga sejak kecil saya rajin bertanya.

Orang yang menjadi sasaran pertanyaan saya adalah engkong saya. Karena engkong saya-lah di keluarga saya orang Tionghoa tulen, bukan campuran seperti saya.

Pertanyaannya standar-standar saja, seperti pertanyaan anak-anak pada umumnya. Kenapa Imlek dirayakan secara meriah bahkan sudah ditungu-tunggu dan disiapkan jauh-jauh hari sebelum Imlek tiba? Kenapa Imlek itu penting? Kenapa menggunakan ini? Kenapa menggunakan itu dan lain sebagainya?

Misalnya saya melihat berbagai dekorasi dan pernak-pernik khas hari raya berwarna merah, seperti lampion, pohon angpao, ucapan-ucapan selamat tahun baru, atau dekorasi berupa barangsai dan naga. Semua dekorasi tersebut dapat saya jumpai di mana-mana, mulai dari rumah, restorant, bandara, lobi hotel, pusat perbelanjaan dan lain-lain. Kenapa ya? Kenapa Imlek ditunggu-tunggu? Apakah karena saat Imlek ada pembagian angpao? Atau karena saat Imlek akan ada berbagai hidangan lezat?

Jawaban engkong saya, ya singkat saja. “Semua itu karena makna!” katanya.

Ya, kata engkong, karena makna. Katanya, maknalah yang membuat Imlek itu penting. Katanya, segala sesuatu dalam Imlek memiliki makna. Maknalah yang membuat Imlek penuh sukacita.

Maknalah yang membuat Imlek selalu ditunggu-tunggu, bukan isi angpao tapi makna angpao, bukan hidangan lezat tapi makna hidangan. Isi angpao dan lezatnya hidangan adalah bonus.

Kembali muncul pertanyaan dalam pikiran saya, memang maknanya apa sampai-sampai masyarakat Tionghoa termasuk keluargaku merayakannya dengan sangat bahagia? Maka engkong pun bercerita agak panjang.

Asal Mula Imlek

Kata engkong, Imlek dirayakan untuk memperingati kemenangan manusia melawan hewan mitos bernama Nian. Hewan itu selalu muncul saat hari pertama tahun baru, memakan semua ternak warga, hasil pertanian, bahkan ia juga memakan orang saat itu, terutama anak-anak. Agar mereka semua selamat, orang-orang mulai menaruh sejumlah makanan di depan pintu rumah mereka, berharap Nian akan memakan makanan yang mereka berikan.

Mereka percaya bahwa Nian yang sudah memakan makanan yang di depan rumah tidak akan lagi memangsa ternak mereka. Katanya lagi, pernah ada yang melihat Nian lari ketakutan dan lari dari seorang anak kecil berbaju merah. Sejak itu, orang-orang menggantung lentera atau lampion merah di depan rumah mereka, dan sejak itu pula, Nian tak pernah lagi muncul di desa mereka.

Itulah mengapa warna merah dipercaya dapat mengusir setan atau roh jahat, selain membawa keberuntungan, berkah, dan kesejahteraan, katanya.

Kemudian, engkong melanjutkan dengan makna-makna yang bisa dijumpai saat Imlek. Saya mendengarkan engkong penuh rasa penasaran, dan satupun tidak saya lewatkan. Engkong memberi tahu makna-makna dalam jeruk mandarin, mie, kue keranjang, permen dan manisan, angpao, tebu, dan lampion.

Jeruk Mandarin

Katanya, jeruk mandarin merupakan simbol kekayaan dalam kepercayaan dan budaya Cina. Kenapa? Karena jeruk mandarin terlihat seperti bola-bola emas, dan dalam bahasa mandarin kata jeruk dan emas memilki kesamaan. Engkong juga bercerita bahwa jeruk mandarin sebaiknya dihaturkan atau dihidangkan lengkap dengan daunnya, karena jeruk yang lengkap dengan daunnya dapat menggambarkan keawetan. Orang-orang Tionghoa selalu mengharapkan keawetan.

Mie

Katanya lagi, mie merupakan simbol panjang umur bagi orang-orang Tionghoa. Itulah mengapa mie saat Imlek kerap kali disebut sebagai mie panjang umur, dibuat sepanjang mungkin dengan harapan orang-orang yang memakannya akan memiliki umur yang panjang. Berarti saya harus banyak-banyak makan mie panjang umur agar saya berumur panjang. Hhhmm, saya kan tidak suka mie. Tapi, saya ingat, itulah makna.

Kue Keranjang

Kue keranjang, kata engkong, harus dimakan sebelum memakan nasi dan lauk pauknya. Katanya sebagai sebuah penghargaan agar selalu beruntung dalam melakukan pekerjaan apapun. Kue keranjang selalu disusun bertingkat dan tinggi. Katanya lagi, makin ke atas makin mengecil kue yang disusun. Itu menunjukan peningkatan rezeki dan peningkatan kemakmuran bagi orang-orang Tionghoa. Selain itu, kata engkong lagi, kue keranjang juga bermakan kerekatan hubungan dalam keluarga, persaudaraan bahkan juga pertemanan. Hhmmmm, begitu rupanya.

Permen dan Manisan

“Permen dan Manis tentu rasanya manis,” kata engkong. Saya bergumam dalam hati, “Tentu saja, kalau asin itu namanya asinan Kong, bukan manisan”. Kemudian engkong melanjutkan lagi, permen dan manisan ini katanya mewakili harapan, keingan dan cita-cita orang-orang Tionghoa yang ingin diraih di tahun yang baru. Kenapa manisan? Agar harapan dan cita-cita yang diraih juga terasa manis. Manis dalam artian penuh suka cita.

Angpao

Nah, untuk yang satu ini sebenarnya saya berharap engkong bercerita sambil memberikan satu atau dua angpao ke saya. Katanya, Hongbao (Hong = Merah, Bao = tas, kantung) atau yang lumrah disebut angpao, bermakna hadiah bagi anak-anak karena umur mereka bertambah.

Kalau dulu, katanya anak-anak diberikan yang manis-manis, seperti makanan, manisan dan lain-lain. “Lalu kenapa sekarang uang?” tanyaku lagi.
Katanya, lebih baik memberikan anak-anak uang agar mereka lebih mudah memilih atau membeli hadiah yang mereka inginkan. Angpao juga berwarna merah karena warna merah katanya membawa berkah dan rezeki.

Saya bergumam, “Kalau angapo warna merah isinya juga merah, ya bagus, kalau angpao warna merah tapi isinya warna biru apalagi hijau, kan sedih,”. Namun, saya ingat lagi kata engkong: bukan isi angpao tapi makna angpao, bukan hidangan lezat tapi makna hidangan. Isi angpao dan lezatnya hidangan adalah bonus. Jadi, saya tetap dapat makna, meski bonusnya sedikit.

Tebu

Setiap Imlek, biasanya orang-orang akan memasang pohon tebu di pintu masuk pekarangan rumah meraka. Kata engkong, tebu memilki makna sebagai keberuntungan dan symbol panjang umur. “Semakin panjang dan semakin banyak ruas pada tebu yang kau pakai, semakin beruntung juga kau nanti,” tambah engkong. Tebu juga manis, diharapkan hidup yang dijalani orang Tionghoa juga manis, seperti tebu.

Lampion

Lampion, kata engkong, menggambarkan kebahagian seseorang. Itulah mengapa lampion-lampion tidak hanya ditemukan saat Imlek saja, tetapi juga dalam acara-acara kebahagiaan, seperti pernikahan, peresmian sebuah tempat suci dan lain-lain. Adanya lampion katanya juga diharapkan sebagai penerang jalan orang0orang Tionghoa agar tidak tersesat dalam kegelapan.

Akhirnya saya simpulkan sendiri, Imlek selalu dirayakan penuh sukacita karena ternyata memang karena Imlek penuh makna yang sangat mendalam. Kepercayaannya selalu memiliki nilai yang sangat berharga bagi orang-orang Tionghoa.  Saya tak lagi heran, mengapa Imlek selalu dinanti-nanti orang-orang Tionghoa, karena engkong sudah memberikan jawabannya: penuh makna.

Tentu masih ada banyak makna dalam Imlek yang belum disampaikan engkong. Biarlah nanti saya cari sendiri. Xin Nian Kuai Le, Gong Xi Fa Cai. (T)

Baca juga: Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina

Tags: baliImlekTionghoa
Share63TweetSendShareSend
Previous Post

Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina

Next Post

Sedikit-Sedikit Mengenai Puisi Wislawa Szymborska: Keanggunan Berpikir, Kenakalan Perspektif

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Sedikit-Sedikit Mengenai Puisi Wislawa Szymborska: Keanggunan Berpikir, Kenakalan Perspektif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co