27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulang dan Rumah untuk Hanafi – Catatan Pameran “Coming Home” di Ubud

Selvi Agnesia by Selvi Agnesia
February 2, 2018
in Ulasan

Dokumentasi Studio Hanafi

Mari kita berbicara kepulangan dan rumah melalui jalan yang baru, jalan yang lain, yang di dalamnya mengandung kerinduan sekaligus keraguan untuk menatap kepergian ke depan.

KANDUNGAN hakikat itulah yang dimaknai seorang perupa: Hanafi. Memaknai pulang dan rumah menjadi jauh lebih kontemplatif dan berlapis-lapis.

Kepulangan Hanafi kali ini bukan ke Purworejo, tempat ia lahir pada 5 Juli 1960 silam. Atau ke Yogyakarta tempat ia mengasah kemampuan seni rupanya. Kali ini, Hanafi pulang ke Bali.

Kepulangannya ditandai dengan pameran tunggal, Coming Home: Home By a New Road (Pulang Melalui Jalan Baru). Pameran itu berlangsung selama sekitar sebulan, 7 Januari hingga 7 Februari 2017 di Komaneka Fine Art Gallery-Ubud Bali.

“Pameran ini menjadi saksi kepulangan saya. Bagi saya, tidak bisa membabat akar karena akar adalah bagaimana sebuah pohon bisa tumbuh terus menerus,” tuturnya pada pembukaan pameran.

Lebih implisit, Hanafi menjadikan Galeri Komaneka sebagai akar sekaligus rumah yang tak bisa ia lupakan.

Di galeri pameran yang lebih mirip disebut “rumah” itu ia  melahirkan anak-anak rohani yang memenuhi seluruh dinding ruang. Pada salah satu karya di ruang yang berdekatan dengan pintu masuk, ia menawarkan gagasan tanpa kanvas. Dinding yang luas dilukisnya dengan garis, cahaya dan warna bertuliskan “Coming Home”. Karya itulah yang langsung menyambut pengunjung dari pintu masuk.

Pada dinding lain, sebuah lukisan abstrak berjuluk “Indecisive#1” ia tempatkan bersandingan dengan ranjang besar, sementara di karya lukisan lain “Indecisive# 4” bersandingan dengan piano.

Dengan memanfaatkan benda-benda yang sebelumnya telah ada di Komaneka Galeri, ia seperti ingin menciptakan ruang untuk memberikan kehangatan dan kenyamanan serupa rumah sebagai ruang privat sekaligus ruang favorit. Ruang yang dirindukan untuk tempat pulang.

Di tengah galeri diletakkannya karya instalasi meja panjang dengan tumpukan sekitar 150 lukisan yang dilukisnya dengan pensil dan crayon di atas karton berukuran 18,5×15 cm. Berbeda dengan karya-karya lukisannya yang matang secara intuitif menurut kurator seni rupa asal Prancis Jean Coeteau, terdapat sisi abstrak yang memiliki gagasan intelektualitas yang begitu khas kentara di karya meja panjang itu. Meja panjang yang menjadi metafora “meja keluarga”, di mana ia tumbuh dengan “ayah dan ibu kesenian”.

Segala hal tentang pikirannya dalam kacamata ia memandang kesenian dimuat di meja ini seperti, tutur dia: “piring-piring keluarga yang belum dicuci”. Di sisi lain, karya ini sebagai daya ungkapnya untuk mengkritisi piring-piring seni rupa kontemporer yang bertumpuk dalam wacana dan medan pertarungan seni rupa. Pertarungan yang semakin riuh namun kehilangan makna esensialnya.

Pada meja panjang ini pula, Hanafi mempersilahkan seluruh pengunjung untuk membolak-balik karyanya seperti memperlakukan lukisan itu sebagai milik pengunjung sendiri.

Hakikat Pulang Pada Diri dan Ruang

Seringkali, percakapan pulang dan rumah menjadi dangkal ketika dimaknai hanya sebagai aktivitas keseharian – dan rumah dalam arti fisik, tempat berlindung – serta keberadaan keluarga di dalamnya.

Ketika pulang dan rumah ini dimaknai secara dangkal, terlihat pada gejala era modern masa kini terutama di kota-kota besar ketika banyak orang yang enggan pulang ke rumah masing-masing. Meskipun memiliki kemewahan rumah luar biasa atau apartemen dengan pemandangan cahaya kota. Mereka memilih ruang lain dan menjadikan keluarga sebagai sekumpulan manusia yang sama sekali tidak memberikan kenyamanan.

Maka kesejatian rumah yang sebetulnya rumah bukanlah hanya fisik. Rumah yang sesungguhnya, seperti yang diungkapkan Kahlil Gibran, adalah “Rumahmu adalah tubuhmu yang lebih luas”.

Lebih lanjut dapat dimaknai rumahmu adalah jiwamu, ke mana dan di manapun, ia sebenarnya begitu dekat. Ruang yang transenden inilah yang seringkali dijalani dengan keraguan ketika sang pemilik rumah itu asing dengan rumahnya sendiri -dan seperti yang menjadi konsep Hanafi- ia memilih kembali pulang pada sebuah rumah dalam arti ruang karya secara fisik (galeri) dan batin (intuitif).

Maka, pulangnya Hanafi dengan jalan yang baru terbagi atas, pertama, pulangnya Hanafi pada dirinya yang personal sebagai seniman dalam kontemplasi karyanya. Kedua, pulangnya Hanafi kembali ke Bali sebagai rumah tempat proses kreatif ketika awal menjadi seniman.

Pameran bertajuk “Coming Home” dilaksanakan sebagai momentum 20 tahun Komaneka Fine Art Gallery. Komaneka, putera dari pemilik museum Neka yang akrab disapa Bli Koman ini memanggil kembali para perupa terpilih yang pernah menitikkan sejarah pada awal berdirinya Komaneka Galeri dalam serangkaian pameran.

Hanafi adalah perupa ketiga setelah sebelumnya pameran “Coming Home” memamerkan karya-karya I Wayan Sujana Suklu dan Nyoman Sujana Kenyem.

“Saya memberi mereka tempat untuk mengingat kembali,” ungkap Koman.

Pameran ini juga menggunakan konsep tanpa kurator, dan menjadikan para perupa menjadi kurator bagi dirinya sendiri. ”Mereka  itu sudah menjadi diri sendiri, jujur aja gak usah macam-macam dan berpikir yang aneh-aneh,” tuturnya.

Kilas Balik

Pulangnya Hanafi ke Komaneka Galeri dapat dirunut dengan mengkilas balik kedekatan Hanafi dan Koman yang di mulai sejak tahun 1997. Awal mulanya Koman tertarik melihat karya Hanfi dari sebuah katalog yang ditunjukkan oleh seorang kolektor. Koman lalu mendatangi Hanafi ke Depok yang pada saat itu belum sepenuhnya menjadi pelukis dan masih bekerja di bidang grafis.

Kedekatan mereka terus berlanjut hingga ketika Hanafi berkunjung ke Bali, ia diberikan tempat untuk tinggal di salah satu rumah Koman di Sayan-Ubud hingga lahirlah pameran “Keheningan Sayan (2001)”. Sejak itulah interaksi Hanafi dan Koman menjadi lebih kuat dan interaktif hingga berlanjut dengan beberapa pameran. “UR (you are) URBAN ROOM Project” (2004), “Saat Usia Lima Puluh” (2010) dan “Migrasi Kolong Meja #2” (2013).

“Pelukis yang saya pamerin harus punya hubungan ikatan emosionalnya, bukan hanya jual lukisan aja, tapi karena saya suka lukisannya,” jelas Koman.

Dan setelah 10 tahun kedekatan dengan Hanafi, ia memandang dengan sederhana bahwa karya Hanafi tak berbeda dengan kehidupan yang dijalani dengan berbagai dinamikanya namun memiliki inti komunikasi yang tetap sama.

Koman tidak lagi melihat karya Hanafi secara fisik, tidak mau memakai kacamata dan pendapat orang lain untuk melihat lukisannya karena ia tetap merasakan kenyamanan saat menikmati lukisannya, sekalipun bentuknya berbeda karena sudah menjadi keniscayaan bahwa setiap karya termasuk laju kehidupan senimannya tentu berbeda.

Hanafi yang telah melanglang buana berpameran di berbagai ruang, kini kembali pulang ke rumahnya untuk “mengendapkan” pengalaman-pengalaman proses berkeseniannya di Komaneka dan segala kenangan Hanafi di Bali. Bukan saja sebagai bentuk bangunan, tetapi rumah yang juga membuat hatinya nyaman dan kerasan. Sesuatu yang sudah menjadi ikatan kuat dalam dirinya. Karena dari situlah ia  pernah menemukan jati diri keseniannya untuk kembali dengan jalan yang baru. (T)

Tags: HanafiPameranSeni RupaUbud
Share63TweetSendShareSend
Previous Post

SKS – Mahasiswa: Sistem Kebut Semalam, Dosen: Sistem Kebut Sehari

Next Post

Sepakan Panenka ala Koster – Sub-Praktik Komunikasi Politik di Arena Sepakbola

Selvi Agnesia

Selvi Agnesia

Penulis seni budaya bermukim di Yogyakarta

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Sepakan Panenka ala Koster – Sub-Praktik Komunikasi Politik di Arena Sepakbola

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co