24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh “Aktor Amatir”

Ridwan Hasyimi by Ridwan Hasyimi
January 30, 2022
in Esai
Tubuh “Aktor Amatir”

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Bukan hanya pada genre teater tubuh, pada genre lain pun tubuh aktor masih vital sebagai pengejawantah gagasan. Dalam konteks ketubuhan, yang membedakan satu genre dengan genre lain dalam teater adalah bagaimana tubuh itu dipersepsi. Persepsi atas tubuh menjadi dasar bagaimana tubuh berdayaguna di atas panggung.

Jika pelukis membutuhkan kanvas dan cat sebagai medium ekspresi, maka aktor membutuhkan tubuhnya untuk medium ekspresi. Ungkapan demikian juga sebenarnya kurang tepat. Dalam perkembangan wacana ketubuhan, tubuh aktor tidak hanya dipersepsikan sebagai medium ekspresi. Tubuh adalah ekspresi itu sendiri.

Dalam diskusi pasca pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022, mengutip tokoh teater tubuh Indonesia, Toni Broer, moderator Mohammad Wail Irsyad mengatakan bahwa tubuh aktor bukanlah rental. Saya memahaminya sebagai pernyataan bahwa tubuh aktor bukan sebatas medium yang bisa seenaknya dirental oleh teks-teks drama demi mewujudkan realitas fiktifnya di atas panggung. Tubuh bukan hanya kendaraan makna di luar dirinya sendiri. Tubuh punya pengalaman, biografi, kedaulatan, dan otoritasnya sendiri. 

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Idealnya, tiap pertunjukan memiliki pendekatannya (metode) yang khas sesuai dengan kebutuhan. Termasuk juga menyoal tubuh aktor. Soal bahwa pendekatan atas tubuh itu “bersanad” atau tidak, tidak terlalu penting kecuali untuk kepentingan kajian atau perkembangan ilmu pengetahuan keaktoran yang umumnya ada di kampus-kampus seni. Atau sebagai wawasan intelektual bagi para pelaku teater pada umumnya. Dasar dari pendekatan-pendekatan itu adalah persepsi atas tubuh aktor di  atas pentas.

Pada pertunjukan Aktor Amatir, tubuh aktor dipersepsikan oleh sekurang-kurangnya tiga persepsi. Pertama, tubuh aktor dipersepsi sebagai representasi realitas fiktif teks drama. Kedua, tubuh aktor dipersepsi sebagai presensi tubuh aku-aktor. Ketiga, tubuh aktor dipersepsi sebagai medium artistik (audio maupun visual).

Persepsi yang pertama melahirkan pendekatan yang umumnya dilakukan ketika aktor menjumpai teks-teks drama dengan karakter tokoh yang jelas dan rigid seperti dalam lakon-lakon realis. Aktor akan menyiapkan tubuhnya sedemkian rupa untuk memerankan tokoh A dengan segala kompleksitas batiniah dan lahiriahnya. Tubuh perempuan desa yang pemalu tentu akan berbeda dengan tubuh perempuan kota yang pemalu. Cara berjalan, cara duduk, dan cara bersandar seorang eksekutif muda berpenghasilan ratusan juta sebulan tentu lain dengan cara berjalan, cara duduk, dan cara bersandar seorang seniman berpenghasilan tak menentu. Tubuh aktor harus siap dan mampu mengejawantahkan seluruh biografi tokoh dengan meyakinkan. Pada posisi ini, tubuh aktor menjadi re-presentasi atas realitas rekaan (fiksi) dalam teks drama. Tubuhnya menghadirkan kembali (re-presentasi) kenyataan drama ke dalam kenyataan panggung.

Kendati bentuk dan struktur lakon Aktor Amatir sukar digolongkan ke dalam lakon realis, namun pendekatan ini tetap digunakan sebab peran yang hadir di panggung jelas punya nama dan karakter. Ia adalah manusia sebagaimana adanya: aktor teater, sopir ambulan, orang sakit, Raden Aris, ustadz, kapten kapal, dan lain sebagainya. Peran-peran itu harus hadir dengan utuh, tentu dengan segala kompleksitas lahiriah dan batiniahnya. Untuk pendekatan ini, acting method yang digagas Stanislavsky masih relevan sebagai pijakan.

Persepsi kedua melahirkan pendekatan yang biasanya muncul dalam seni tradisi dan teater tubuh. Pada (sebagian) pertunjukan teater tubuh, tubuh aktor dipandang bukan sebagai “kendaraan makna”, melainkan makna itu sendiri. Ia tidak merepresentasikan apa pun kecuali dirinya sendiri. “Peran” yang dimainkan aktor pada teater tubuh inheren pada tubuhnya. Keterangan lebih lanjut mengenai hal ini dapat disimak dalam sebuah wawancara dengan tokoh teater tubuh Indonesia, Toni Broer, di kanal YouTube Aku Aktor.

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Namun, tubuh sebagai presensi ketubuhan bukan hanya domain teater tubuh semata. Teater-teater tradisi macam longser, ludruk, lenong, dan lain-lain, juga melakukan pendekatan serupa. Tentu dalam tensi dan bentuk yang berbeda. Dalam teater tradisi, seorang aktor bisa menjadi tokoh dan sehela nafas kemudian ia menjadi dirinya sendiri. Dalam satu adegan, aktor A menjadi patih di sebuah kerajaan dan sedang berdiskusi dengan rajanya. Masih di adegan yang sama, ia tiba-tiba menjadi dirinya sendiri. Pun demikian raja. Obrolan tiba-tiba berganti tema seiring bergantinya karakter. Suasana menjadi patah. Peristiwa ini biasanya hanya sebentar. Mereka bisa secepat kilat “menjadi” tokoh lagi dan kembali ke alur cerita.

Fase ketika mereka menjadi dirinya sendiri adalah fase ketika tubuh mereka hadir di panggung sebagai tubuh aku-aktor, bukan aku-tokoh. Pada titik ini tubuh mereka tidak merepresentasikan apa-apa kecuali diri mereka sendiri. Aku menjadi aku.

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Nyaris di semua fragmen Aktor Amatir terdapat patahan semacam patahan yang biasa ada dalam teater tradisi. Kiki Kido yang memerankan introgator pada fragmen rumah sakit tiba-tiba menjadi dirinya, misalnya. Demikian pula Kahfi yang berperan sebagai ranjang mendadak bangkit dan mengeluh pegal. Dalam khazanah teater Barat, hal demikian ini sering ditautkan pada gagasan alienasi yang difomulasikan Bertolt Brecht. Soal bahwa fluiditas teater tradisi dan alienasi Brechtian sekilas nampak mirip, bisa menjadi topik yang asik diperbincangkan secara lebih khusus.

Pendekatan ketiga umum terdapat dalam pertunjukan yang menggunakan tubuh aktor sebagai set atau sumber bunyi untuk keperluan artistik. Bentuk seperti ini tentu sukar ditemukan pada pertunjukan realis. Pada pertunjukan dengan konsep “tubuh (sebagai) artistik” aktor bisa menjadi kursi, lampu, meja, vas bunga, dinding, dan lain-lain. Hal ini pula yang diusung oleh Aktor Amatir. Selain menjadi benda-benda, tubuh aktor juga menjadi semacam instalasi yang tidak mewakili benda apa pun. Ia disusun sedemikian rupa demi estetika. Seperti ciptaan Tuhan yang lain, tubuh manusia—atletis, gemuk, kurus, coklat, putih, tinggi, pendek—mengandung nilai estetika pada dirinya sendiri. Dengan sedikit sentuhan cahaya lampu panggung dan penataan komposisi, tubuh aktor telah cukup sebagai karya seni instalasi. [T]   

_____

BACA JUGA TEATER LAMA DAN TEATER SEBENTAR DARI PENULIS RIDWAN HASYIMI

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Tags: aktor teaterbandungISBI Bandungseni pertunjukanTeaterteater tubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konversi Nilai dalam Konflik Sosial | Percikan Nilai dari Buku Kumpulan Cerpen Kupu-kupu Kuning Ngindang di Candidasa

Next Post

Membangun Diskusi dari Kisah-kisah Imajiner Desa Tani

Ridwan Hasyimi

Ridwan Hasyimi

Pekerja Seni. Tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Membangun Diskusi dari Kisah-kisah Imajiner Desa Tani

Membangun Diskusi dari Kisah-kisah Imajiner Desa Tani

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co