12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh “Aktor Amatir”

Ridwan Hasyimi by Ridwan Hasyimi
January 30, 2022
in Esai
Tubuh “Aktor Amatir”

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Bukan hanya pada genre teater tubuh, pada genre lain pun tubuh aktor masih vital sebagai pengejawantah gagasan. Dalam konteks ketubuhan, yang membedakan satu genre dengan genre lain dalam teater adalah bagaimana tubuh itu dipersepsi. Persepsi atas tubuh menjadi dasar bagaimana tubuh berdayaguna di atas panggung.

Jika pelukis membutuhkan kanvas dan cat sebagai medium ekspresi, maka aktor membutuhkan tubuhnya untuk medium ekspresi. Ungkapan demikian juga sebenarnya kurang tepat. Dalam perkembangan wacana ketubuhan, tubuh aktor tidak hanya dipersepsikan sebagai medium ekspresi. Tubuh adalah ekspresi itu sendiri.

Dalam diskusi pasca pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022, mengutip tokoh teater tubuh Indonesia, Toni Broer, moderator Mohammad Wail Irsyad mengatakan bahwa tubuh aktor bukanlah rental. Saya memahaminya sebagai pernyataan bahwa tubuh aktor bukan sebatas medium yang bisa seenaknya dirental oleh teks-teks drama demi mewujudkan realitas fiktifnya di atas panggung. Tubuh bukan hanya kendaraan makna di luar dirinya sendiri. Tubuh punya pengalaman, biografi, kedaulatan, dan otoritasnya sendiri. 

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Idealnya, tiap pertunjukan memiliki pendekatannya (metode) yang khas sesuai dengan kebutuhan. Termasuk juga menyoal tubuh aktor. Soal bahwa pendekatan atas tubuh itu “bersanad” atau tidak, tidak terlalu penting kecuali untuk kepentingan kajian atau perkembangan ilmu pengetahuan keaktoran yang umumnya ada di kampus-kampus seni. Atau sebagai wawasan intelektual bagi para pelaku teater pada umumnya. Dasar dari pendekatan-pendekatan itu adalah persepsi atas tubuh aktor di  atas pentas.

Pada pertunjukan Aktor Amatir, tubuh aktor dipersepsikan oleh sekurang-kurangnya tiga persepsi. Pertama, tubuh aktor dipersepsi sebagai representasi realitas fiktif teks drama. Kedua, tubuh aktor dipersepsi sebagai presensi tubuh aku-aktor. Ketiga, tubuh aktor dipersepsi sebagai medium artistik (audio maupun visual).

Persepsi yang pertama melahirkan pendekatan yang umumnya dilakukan ketika aktor menjumpai teks-teks drama dengan karakter tokoh yang jelas dan rigid seperti dalam lakon-lakon realis. Aktor akan menyiapkan tubuhnya sedemkian rupa untuk memerankan tokoh A dengan segala kompleksitas batiniah dan lahiriahnya. Tubuh perempuan desa yang pemalu tentu akan berbeda dengan tubuh perempuan kota yang pemalu. Cara berjalan, cara duduk, dan cara bersandar seorang eksekutif muda berpenghasilan ratusan juta sebulan tentu lain dengan cara berjalan, cara duduk, dan cara bersandar seorang seniman berpenghasilan tak menentu. Tubuh aktor harus siap dan mampu mengejawantahkan seluruh biografi tokoh dengan meyakinkan. Pada posisi ini, tubuh aktor menjadi re-presentasi atas realitas rekaan (fiksi) dalam teks drama. Tubuhnya menghadirkan kembali (re-presentasi) kenyataan drama ke dalam kenyataan panggung.

Kendati bentuk dan struktur lakon Aktor Amatir sukar digolongkan ke dalam lakon realis, namun pendekatan ini tetap digunakan sebab peran yang hadir di panggung jelas punya nama dan karakter. Ia adalah manusia sebagaimana adanya: aktor teater, sopir ambulan, orang sakit, Raden Aris, ustadz, kapten kapal, dan lain sebagainya. Peran-peran itu harus hadir dengan utuh, tentu dengan segala kompleksitas lahiriah dan batiniahnya. Untuk pendekatan ini, acting method yang digagas Stanislavsky masih relevan sebagai pijakan.

Persepsi kedua melahirkan pendekatan yang biasanya muncul dalam seni tradisi dan teater tubuh. Pada (sebagian) pertunjukan teater tubuh, tubuh aktor dipandang bukan sebagai “kendaraan makna”, melainkan makna itu sendiri. Ia tidak merepresentasikan apa pun kecuali dirinya sendiri. “Peran” yang dimainkan aktor pada teater tubuh inheren pada tubuhnya. Keterangan lebih lanjut mengenai hal ini dapat disimak dalam sebuah wawancara dengan tokoh teater tubuh Indonesia, Toni Broer, di kanal YouTube Aku Aktor.

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Namun, tubuh sebagai presensi ketubuhan bukan hanya domain teater tubuh semata. Teater-teater tradisi macam longser, ludruk, lenong, dan lain-lain, juga melakukan pendekatan serupa. Tentu dalam tensi dan bentuk yang berbeda. Dalam teater tradisi, seorang aktor bisa menjadi tokoh dan sehela nafas kemudian ia menjadi dirinya sendiri. Dalam satu adegan, aktor A menjadi patih di sebuah kerajaan dan sedang berdiskusi dengan rajanya. Masih di adegan yang sama, ia tiba-tiba menjadi dirinya sendiri. Pun demikian raja. Obrolan tiba-tiba berganti tema seiring bergantinya karakter. Suasana menjadi patah. Peristiwa ini biasanya hanya sebentar. Mereka bisa secepat kilat “menjadi” tokoh lagi dan kembali ke alur cerita.

Fase ketika mereka menjadi dirinya sendiri adalah fase ketika tubuh mereka hadir di panggung sebagai tubuh aku-aktor, bukan aku-tokoh. Pada titik ini tubuh mereka tidak merepresentasikan apa-apa kecuali diri mereka sendiri. Aku menjadi aku.

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Nyaris di semua fragmen Aktor Amatir terdapat patahan semacam patahan yang biasa ada dalam teater tradisi. Kiki Kido yang memerankan introgator pada fragmen rumah sakit tiba-tiba menjadi dirinya, misalnya. Demikian pula Kahfi yang berperan sebagai ranjang mendadak bangkit dan mengeluh pegal. Dalam khazanah teater Barat, hal demikian ini sering ditautkan pada gagasan alienasi yang difomulasikan Bertolt Brecht. Soal bahwa fluiditas teater tradisi dan alienasi Brechtian sekilas nampak mirip, bisa menjadi topik yang asik diperbincangkan secara lebih khusus.

Pendekatan ketiga umum terdapat dalam pertunjukan yang menggunakan tubuh aktor sebagai set atau sumber bunyi untuk keperluan artistik. Bentuk seperti ini tentu sukar ditemukan pada pertunjukan realis. Pada pertunjukan dengan konsep “tubuh (sebagai) artistik” aktor bisa menjadi kursi, lampu, meja, vas bunga, dinding, dan lain-lain. Hal ini pula yang diusung oleh Aktor Amatir. Selain menjadi benda-benda, tubuh aktor juga menjadi semacam instalasi yang tidak mewakili benda apa pun. Ia disusun sedemikian rupa demi estetika. Seperti ciptaan Tuhan yang lain, tubuh manusia—atletis, gemuk, kurus, coklat, putih, tinggi, pendek—mengandung nilai estetika pada dirinya sendiri. Dengan sedikit sentuhan cahaya lampu panggung dan penataan komposisi, tubuh aktor telah cukup sebagai karya seni instalasi. [T]   

_____

BACA JUGA TEATER LAMA DAN TEATER SEBENTAR DARI PENULIS RIDWAN HASYIMI

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Tags: aktor teaterbandungISBI Bandungseni pertunjukanTeaterteater tubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konversi Nilai dalam Konflik Sosial | Percikan Nilai dari Buku Kumpulan Cerpen Kupu-kupu Kuning Ngindang di Candidasa

Next Post

Membangun Diskusi dari Kisah-kisah Imajiner Desa Tani

Ridwan Hasyimi

Ridwan Hasyimi

Pekerja Seni. Tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Membangun Diskusi dari Kisah-kisah Imajiner Desa Tani

Membangun Diskusi dari Kisah-kisah Imajiner Desa Tani

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co