2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh “Aktor Amatir”

Ridwan Hasyimi by Ridwan Hasyimi
January 30, 2022
in Esai
Tubuh “Aktor Amatir”

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Bukan hanya pada genre teater tubuh, pada genre lain pun tubuh aktor masih vital sebagai pengejawantah gagasan. Dalam konteks ketubuhan, yang membedakan satu genre dengan genre lain dalam teater adalah bagaimana tubuh itu dipersepsi. Persepsi atas tubuh menjadi dasar bagaimana tubuh berdayaguna di atas panggung.

Jika pelukis membutuhkan kanvas dan cat sebagai medium ekspresi, maka aktor membutuhkan tubuhnya untuk medium ekspresi. Ungkapan demikian juga sebenarnya kurang tepat. Dalam perkembangan wacana ketubuhan, tubuh aktor tidak hanya dipersepsikan sebagai medium ekspresi. Tubuh adalah ekspresi itu sendiri.

Dalam diskusi pasca pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022, mengutip tokoh teater tubuh Indonesia, Toni Broer, moderator Mohammad Wail Irsyad mengatakan bahwa tubuh aktor bukanlah rental. Saya memahaminya sebagai pernyataan bahwa tubuh aktor bukan sebatas medium yang bisa seenaknya dirental oleh teks-teks drama demi mewujudkan realitas fiktifnya di atas panggung. Tubuh bukan hanya kendaraan makna di luar dirinya sendiri. Tubuh punya pengalaman, biografi, kedaulatan, dan otoritasnya sendiri. 

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Idealnya, tiap pertunjukan memiliki pendekatannya (metode) yang khas sesuai dengan kebutuhan. Termasuk juga menyoal tubuh aktor. Soal bahwa pendekatan atas tubuh itu “bersanad” atau tidak, tidak terlalu penting kecuali untuk kepentingan kajian atau perkembangan ilmu pengetahuan keaktoran yang umumnya ada di kampus-kampus seni. Atau sebagai wawasan intelektual bagi para pelaku teater pada umumnya. Dasar dari pendekatan-pendekatan itu adalah persepsi atas tubuh aktor di  atas pentas.

Pada pertunjukan Aktor Amatir, tubuh aktor dipersepsikan oleh sekurang-kurangnya tiga persepsi. Pertama, tubuh aktor dipersepsi sebagai representasi realitas fiktif teks drama. Kedua, tubuh aktor dipersepsi sebagai presensi tubuh aku-aktor. Ketiga, tubuh aktor dipersepsi sebagai medium artistik (audio maupun visual).

Persepsi yang pertama melahirkan pendekatan yang umumnya dilakukan ketika aktor menjumpai teks-teks drama dengan karakter tokoh yang jelas dan rigid seperti dalam lakon-lakon realis. Aktor akan menyiapkan tubuhnya sedemkian rupa untuk memerankan tokoh A dengan segala kompleksitas batiniah dan lahiriahnya. Tubuh perempuan desa yang pemalu tentu akan berbeda dengan tubuh perempuan kota yang pemalu. Cara berjalan, cara duduk, dan cara bersandar seorang eksekutif muda berpenghasilan ratusan juta sebulan tentu lain dengan cara berjalan, cara duduk, dan cara bersandar seorang seniman berpenghasilan tak menentu. Tubuh aktor harus siap dan mampu mengejawantahkan seluruh biografi tokoh dengan meyakinkan. Pada posisi ini, tubuh aktor menjadi re-presentasi atas realitas rekaan (fiksi) dalam teks drama. Tubuhnya menghadirkan kembali (re-presentasi) kenyataan drama ke dalam kenyataan panggung.

Kendati bentuk dan struktur lakon Aktor Amatir sukar digolongkan ke dalam lakon realis, namun pendekatan ini tetap digunakan sebab peran yang hadir di panggung jelas punya nama dan karakter. Ia adalah manusia sebagaimana adanya: aktor teater, sopir ambulan, orang sakit, Raden Aris, ustadz, kapten kapal, dan lain sebagainya. Peran-peran itu harus hadir dengan utuh, tentu dengan segala kompleksitas lahiriah dan batiniahnya. Untuk pendekatan ini, acting method yang digagas Stanislavsky masih relevan sebagai pijakan.

Persepsi kedua melahirkan pendekatan yang biasanya muncul dalam seni tradisi dan teater tubuh. Pada (sebagian) pertunjukan teater tubuh, tubuh aktor dipandang bukan sebagai “kendaraan makna”, melainkan makna itu sendiri. Ia tidak merepresentasikan apa pun kecuali dirinya sendiri. “Peran” yang dimainkan aktor pada teater tubuh inheren pada tubuhnya. Keterangan lebih lanjut mengenai hal ini dapat disimak dalam sebuah wawancara dengan tokoh teater tubuh Indonesia, Toni Broer, di kanal YouTube Aku Aktor.

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Namun, tubuh sebagai presensi ketubuhan bukan hanya domain teater tubuh semata. Teater-teater tradisi macam longser, ludruk, lenong, dan lain-lain, juga melakukan pendekatan serupa. Tentu dalam tensi dan bentuk yang berbeda. Dalam teater tradisi, seorang aktor bisa menjadi tokoh dan sehela nafas kemudian ia menjadi dirinya sendiri. Dalam satu adegan, aktor A menjadi patih di sebuah kerajaan dan sedang berdiskusi dengan rajanya. Masih di adegan yang sama, ia tiba-tiba menjadi dirinya sendiri. Pun demikian raja. Obrolan tiba-tiba berganti tema seiring bergantinya karakter. Suasana menjadi patah. Peristiwa ini biasanya hanya sebentar. Mereka bisa secepat kilat “menjadi” tokoh lagi dan kembali ke alur cerita.

Fase ketika mereka menjadi dirinya sendiri adalah fase ketika tubuh mereka hadir di panggung sebagai tubuh aku-aktor, bukan aku-tokoh. Pada titik ini tubuh mereka tidak merepresentasikan apa-apa kecuali diri mereka sendiri. Aku menjadi aku.

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Nyaris di semua fragmen Aktor Amatir terdapat patahan semacam patahan yang biasa ada dalam teater tradisi. Kiki Kido yang memerankan introgator pada fragmen rumah sakit tiba-tiba menjadi dirinya, misalnya. Demikian pula Kahfi yang berperan sebagai ranjang mendadak bangkit dan mengeluh pegal. Dalam khazanah teater Barat, hal demikian ini sering ditautkan pada gagasan alienasi yang difomulasikan Bertolt Brecht. Soal bahwa fluiditas teater tradisi dan alienasi Brechtian sekilas nampak mirip, bisa menjadi topik yang asik diperbincangkan secara lebih khusus.

Pendekatan ketiga umum terdapat dalam pertunjukan yang menggunakan tubuh aktor sebagai set atau sumber bunyi untuk keperluan artistik. Bentuk seperti ini tentu sukar ditemukan pada pertunjukan realis. Pada pertunjukan dengan konsep “tubuh (sebagai) artistik” aktor bisa menjadi kursi, lampu, meja, vas bunga, dinding, dan lain-lain. Hal ini pula yang diusung oleh Aktor Amatir. Selain menjadi benda-benda, tubuh aktor juga menjadi semacam instalasi yang tidak mewakili benda apa pun. Ia disusun sedemikian rupa demi estetika. Seperti ciptaan Tuhan yang lain, tubuh manusia—atletis, gemuk, kurus, coklat, putih, tinggi, pendek—mengandung nilai estetika pada dirinya sendiri. Dengan sedikit sentuhan cahaya lampu panggung dan penataan komposisi, tubuh aktor telah cukup sebagai karya seni instalasi. [T]   

_____

BACA JUGA TEATER LAMA DAN TEATER SEBENTAR DARI PENULIS RIDWAN HASYIMI

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Tags: aktor teaterbandungISBI Bandungseni pertunjukanTeaterteater tubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konversi Nilai dalam Konflik Sosial | Percikan Nilai dari Buku Kumpulan Cerpen Kupu-kupu Kuning Ngindang di Candidasa

Next Post

Membangun Diskusi dari Kisah-kisah Imajiner Desa Tani

Ridwan Hasyimi

Ridwan Hasyimi

Pekerja Seni. Tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Membangun Diskusi dari Kisah-kisah Imajiner Desa Tani

Membangun Diskusi dari Kisah-kisah Imajiner Desa Tani

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co