23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh “Aktor Amatir”

Ridwan Hasyimi by Ridwan Hasyimi
January 30, 2022
in Esai
Tubuh “Aktor Amatir”

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Bukan hanya pada genre teater tubuh, pada genre lain pun tubuh aktor masih vital sebagai pengejawantah gagasan. Dalam konteks ketubuhan, yang membedakan satu genre dengan genre lain dalam teater adalah bagaimana tubuh itu dipersepsi. Persepsi atas tubuh menjadi dasar bagaimana tubuh berdayaguna di atas panggung.

Jika pelukis membutuhkan kanvas dan cat sebagai medium ekspresi, maka aktor membutuhkan tubuhnya untuk medium ekspresi. Ungkapan demikian juga sebenarnya kurang tepat. Dalam perkembangan wacana ketubuhan, tubuh aktor tidak hanya dipersepsikan sebagai medium ekspresi. Tubuh adalah ekspresi itu sendiri.

Dalam diskusi pasca pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022, mengutip tokoh teater tubuh Indonesia, Toni Broer, moderator Mohammad Wail Irsyad mengatakan bahwa tubuh aktor bukanlah rental. Saya memahaminya sebagai pernyataan bahwa tubuh aktor bukan sebatas medium yang bisa seenaknya dirental oleh teks-teks drama demi mewujudkan realitas fiktifnya di atas panggung. Tubuh bukan hanya kendaraan makna di luar dirinya sendiri. Tubuh punya pengalaman, biografi, kedaulatan, dan otoritasnya sendiri. 

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Idealnya, tiap pertunjukan memiliki pendekatannya (metode) yang khas sesuai dengan kebutuhan. Termasuk juga menyoal tubuh aktor. Soal bahwa pendekatan atas tubuh itu “bersanad” atau tidak, tidak terlalu penting kecuali untuk kepentingan kajian atau perkembangan ilmu pengetahuan keaktoran yang umumnya ada di kampus-kampus seni. Atau sebagai wawasan intelektual bagi para pelaku teater pada umumnya. Dasar dari pendekatan-pendekatan itu adalah persepsi atas tubuh aktor di  atas pentas.

Pada pertunjukan Aktor Amatir, tubuh aktor dipersepsikan oleh sekurang-kurangnya tiga persepsi. Pertama, tubuh aktor dipersepsi sebagai representasi realitas fiktif teks drama. Kedua, tubuh aktor dipersepsi sebagai presensi tubuh aku-aktor. Ketiga, tubuh aktor dipersepsi sebagai medium artistik (audio maupun visual).

Persepsi yang pertama melahirkan pendekatan yang umumnya dilakukan ketika aktor menjumpai teks-teks drama dengan karakter tokoh yang jelas dan rigid seperti dalam lakon-lakon realis. Aktor akan menyiapkan tubuhnya sedemkian rupa untuk memerankan tokoh A dengan segala kompleksitas batiniah dan lahiriahnya. Tubuh perempuan desa yang pemalu tentu akan berbeda dengan tubuh perempuan kota yang pemalu. Cara berjalan, cara duduk, dan cara bersandar seorang eksekutif muda berpenghasilan ratusan juta sebulan tentu lain dengan cara berjalan, cara duduk, dan cara bersandar seorang seniman berpenghasilan tak menentu. Tubuh aktor harus siap dan mampu mengejawantahkan seluruh biografi tokoh dengan meyakinkan. Pada posisi ini, tubuh aktor menjadi re-presentasi atas realitas rekaan (fiksi) dalam teks drama. Tubuhnya menghadirkan kembali (re-presentasi) kenyataan drama ke dalam kenyataan panggung.

Kendati bentuk dan struktur lakon Aktor Amatir sukar digolongkan ke dalam lakon realis, namun pendekatan ini tetap digunakan sebab peran yang hadir di panggung jelas punya nama dan karakter. Ia adalah manusia sebagaimana adanya: aktor teater, sopir ambulan, orang sakit, Raden Aris, ustadz, kapten kapal, dan lain sebagainya. Peran-peran itu harus hadir dengan utuh, tentu dengan segala kompleksitas lahiriah dan batiniahnya. Untuk pendekatan ini, acting method yang digagas Stanislavsky masih relevan sebagai pijakan.

Persepsi kedua melahirkan pendekatan yang biasanya muncul dalam seni tradisi dan teater tubuh. Pada (sebagian) pertunjukan teater tubuh, tubuh aktor dipandang bukan sebagai “kendaraan makna”, melainkan makna itu sendiri. Ia tidak merepresentasikan apa pun kecuali dirinya sendiri. “Peran” yang dimainkan aktor pada teater tubuh inheren pada tubuhnya. Keterangan lebih lanjut mengenai hal ini dapat disimak dalam sebuah wawancara dengan tokoh teater tubuh Indonesia, Toni Broer, di kanal YouTube Aku Aktor.

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Namun, tubuh sebagai presensi ketubuhan bukan hanya domain teater tubuh semata. Teater-teater tradisi macam longser, ludruk, lenong, dan lain-lain, juga melakukan pendekatan serupa. Tentu dalam tensi dan bentuk yang berbeda. Dalam teater tradisi, seorang aktor bisa menjadi tokoh dan sehela nafas kemudian ia menjadi dirinya sendiri. Dalam satu adegan, aktor A menjadi patih di sebuah kerajaan dan sedang berdiskusi dengan rajanya. Masih di adegan yang sama, ia tiba-tiba menjadi dirinya sendiri. Pun demikian raja. Obrolan tiba-tiba berganti tema seiring bergantinya karakter. Suasana menjadi patah. Peristiwa ini biasanya hanya sebentar. Mereka bisa secepat kilat “menjadi” tokoh lagi dan kembali ke alur cerita.

Fase ketika mereka menjadi dirinya sendiri adalah fase ketika tubuh mereka hadir di panggung sebagai tubuh aku-aktor, bukan aku-tokoh. Pada titik ini tubuh mereka tidak merepresentasikan apa-apa kecuali diri mereka sendiri. Aku menjadi aku.

Pertunjukan Aktor Amatir (karya/sutradara Ab Asmarandana) oleh Ngaos Art di Studio Teater ISBI Bandung, Kamis, 13 Januari 2022 [Foto Ridwan Hasyimi]

Nyaris di semua fragmen Aktor Amatir terdapat patahan semacam patahan yang biasa ada dalam teater tradisi. Kiki Kido yang memerankan introgator pada fragmen rumah sakit tiba-tiba menjadi dirinya, misalnya. Demikian pula Kahfi yang berperan sebagai ranjang mendadak bangkit dan mengeluh pegal. Dalam khazanah teater Barat, hal demikian ini sering ditautkan pada gagasan alienasi yang difomulasikan Bertolt Brecht. Soal bahwa fluiditas teater tradisi dan alienasi Brechtian sekilas nampak mirip, bisa menjadi topik yang asik diperbincangkan secara lebih khusus.

Pendekatan ketiga umum terdapat dalam pertunjukan yang menggunakan tubuh aktor sebagai set atau sumber bunyi untuk keperluan artistik. Bentuk seperti ini tentu sukar ditemukan pada pertunjukan realis. Pada pertunjukan dengan konsep “tubuh (sebagai) artistik” aktor bisa menjadi kursi, lampu, meja, vas bunga, dinding, dan lain-lain. Hal ini pula yang diusung oleh Aktor Amatir. Selain menjadi benda-benda, tubuh aktor juga menjadi semacam instalasi yang tidak mewakili benda apa pun. Ia disusun sedemikian rupa demi estetika. Seperti ciptaan Tuhan yang lain, tubuh manusia—atletis, gemuk, kurus, coklat, putih, tinggi, pendek—mengandung nilai estetika pada dirinya sendiri. Dengan sedikit sentuhan cahaya lampu panggung dan penataan komposisi, tubuh aktor telah cukup sebagai karya seni instalasi. [T]   

_____

BACA JUGA TEATER LAMA DAN TEATER SEBENTAR DARI PENULIS RIDWAN HASYIMI

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Tags: aktor teaterbandungISBI Bandungseni pertunjukanTeaterteater tubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konversi Nilai dalam Konflik Sosial | Percikan Nilai dari Buku Kumpulan Cerpen Kupu-kupu Kuning Ngindang di Candidasa

Next Post

Membangun Diskusi dari Kisah-kisah Imajiner Desa Tani

Ridwan Hasyimi

Ridwan Hasyimi

Pekerja Seni. Tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
Membangun Diskusi dari Kisah-kisah Imajiner Desa Tani

Membangun Diskusi dari Kisah-kisah Imajiner Desa Tani

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co