15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SAṂPRADĀYA VAIṢṆAVA (JUGA) MERAYAKAN ŚIVARĀTRI

Sugi Lanus by Sugi Lanus
January 24, 2022
in Esai
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Januari 2022

1. Śivarātri adalah perayaan Hindu yang dirayakan di seluruh dunia. Maha Śivarātri adalah perayaan Hindu tahunan, penghormatan kepada Dewa Siwa. Festival ini juga dikenal sebagai “Malam Besar Siwa” atau Maha-Śivarātri.

Hanya saja perbedaan tanggal dan pemilihan hari disesuaikan kalender masing-masing etnis Hindu yang membedakannya.

Secara umum, kapan hari perayaan Śivarātri di India? Sekitar bulan Pebruari/Maret menurut kalender masehi, atau bulan Phalguna menurut kalender Hindu India Utara, sementara hari di bulan Magha menurut kalender Hindu India Selatan, masing-masing pada Krishna-Paksha (paruh bulan gelap) dan sebelum kedatangan Musim Panas. Perayaan Maha Śivarātri tahun 2021 jatuh pada Kamis, 11 Maret lalu. Tithi Chaturdashi dimulai pada pukul 14:39 (waktu setempat) tanggal 11 Maret 2021, dan berakhir pada 15:02 (waktu setempat) tanggal 12 Maret 2021. Untuk tahun 2022 jatuh pada pada hari Senin, 28 Februari.

Dalam masyarakat Hindu Tamil punya perhitungan kalender sendiri dalam melangsungkan perayaan ini. Masyarakat Hindu di Bali dan Indonesia merayakan  Śivarātri, 12-13 Januari 2021, dan awal tahun ini 1-2 Januari 2022.

2. Sering menjadi pertanyaan, di kalangan masyarakat Hindu di India: Kenapa Saṃpradāya Vaiṣṇava — seperti Hare Krishna dan Sai Baba — juga merayakan Śivarātri? Sementara itu, di Indonesia, tidak banyak yang paham jika Saṃpradāya Vaiṣṇava juga merayakan hari pemuliaan Śiwa terbesar di dunia ini?

  • Tayangan youtube Sathya Sai Baba dalam perayaan Shivaratri: https://www.youtube.com/watch?v=P_33Bq_iPf0
  • Tayangan youtube ISKCON merayakan Siwaratri: https://www.youtube.com/watch?v=a8_J5g11RC8

Apa penjelasannya?

Sebelum menjawab hal ini, sebagai informasi tambahan: Di Negara Nepal hari Śivarātri atau lebih tepatnya disebut Maha Śivaratri adalah libur nasional. Kalender merah. Pada perayaan Maha Śivaratri setiap tahunnya selalu hadir lebih dari satu juta umat Hindu akan berziarah ke Kuil Pashupatinath, Situs Warisan Dunia UNESCO, di Katmandu, Nepal, untuk sembahyang, berpesta, dan mandi suci (melukat dalam istilah Bali) di Sungai Bagmati yang sangat disucikan.

Salah satu atraksi utama perayaan di Pashupatinath yang terkenal di dunia adalah kedatangan para sadhu (orang bijak) dari penjuru negara Nepal dan India. Menurut menurut pengelola Kuil Suci Pashupatinath (Pashupati Area Development Trust) sekitar 7.000 orang bijak dari berbagai klan dan sampradaya senantiasa hadir di kuil suci (pura) Pashupatinath setiap tahunnya.

3. Sebelum mencoba memahami kenapa Saṃpradāya Vaiṣṇava juga merayakan Śivarātri, perlu dipahami: Apa itu Saṃpradāya Vaiṣṇava?

Secara singkat dapat dijelaskan bahwa Saṃpradāya Vaiṣṇava adalah berbagai garis silsilah perguruan yang memuliakan berbagai perwujudan atau manisfestasi Viṣṇu (Wisnu). Sehingga kelompok ini juga disebut sebagai “Wisnuisme”. Silsilah perguruan ini menganggap Wisnu sebagai Yang Mahatinggi, yaitu Mahawisnu. Para pengikutnya disebut Vaiṣṇava (Waisnawa), secara luas atau umum mencakup beberapa sub-bagian lain, seperti “Krishnaisme” dan “Ramaisme”, yang masing-masing menganggap Krishna dan Rama sebagai Yang Mahatinggi.

“Wisnuisme” ini mengenal berbagai Avatāra (Awatara). Konsep Avatāra dalam agama Hindu mempercayai bahwa Tuhan turun dalam penampilan tubuh/materi atau inkarnasi di Bumi — kadang-kadang digunakan untuk merujuk kepada guru atau manusia suci yang dihormati.

Disinilah pangkalnya: Ketika Viṣṇu turun ke dunia sebagai sosok manusia/berbentuk materi, sebagai Awatara, seperti Rama dan Krishna, keduanya menyembah Śiva (Śiwa).

Rama menyembah Śiwa dalam kisah Ramayana, baik versi Bhatti atau Walmiki di India, dan versi Kakawin dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang beredar secara luas di Nusantara. Untuk versi yang beredar di Bali silahkan membaca terjemahan I Gusti Bagus Sugriwa yang mengulas dan menterjemahkan Kakawin Ramayana ke dalam bahasa Bali dan bahasa Indonesia.

Dalam itihasa yang lain, yaitu MAHABHARATA & HARIVANGSA, Krishna menyembah Śiva.

— Dewa Krishna ingin mengalahkan Indra dalam pertempuran dan membawa pohon Parijata dari Indra loka ke istananya di Dwarka. Dia menyembah Dewa Siwa di Gunung Mainaka untuk berkah kemenangan.

— Krishna ingin memiliki seorang putra dengan istri keduanya Jambavati yang akan menyamai keberanian dan kehebatan Pradyumna (putra dengan istri pertamanya Rukmini). Dia memuja Dewa Siwa untuk mencari anugerah seorang putra yang tak terkalahkan seperti Pradyumna.

— Krishna, dalam kelahiran sebelumnya sebagai Narayana, memuja Siwa karena mencari anugerah supremasi mutlak atas semua makhluk di tiga dunia. Krishna menyembah Siwa selama enam puluh enam ribu tahun surgawi untuk mencari anugerah yang tak terkalahkan.

— Krishna menyembah Siwa di semua Kalpa seperti yang disebutkan dalam Mahabharata. Ashwatthama bertemu dengan Dewa Siwa ketika dia mencapai perkemahan Pandawa pada malam ke-18 perang Kurukshetra untuk membunuh prajurit Pandawa yang tersisa. Dewa Siwa memberi tahu Aswatthama bahwa Krishna telah memujanya dengan penuh pengabdian dalam semua kalpa (1 kalpa = seribu Yuga) sebelumnya.

Di Nusantara versi kisah HARIVANGSA disurat dalam bentuk kakawin berjudul Kakawin Hariwangsa adalah karya puisi liris Jawa Kuno bertembang atau metrum India (kakawin atau kavya ), isinya adalah kisah Krishna, sebagai Awatara dari Wisnu, ketika ia ingin menikahi Dewi Rukminī, dari negeri Kundina , dan putri dari Tuhan Bhishmaka. Rukminī sendiri adalah awatar dari Dewi Śrī. Kakawin Hariwangsa ditulis oleh Mpu Panuluh, oleh para pakar Kakawin disebutkan ditulis pada masa Raja Jayabaya memerintah di Kediri dari tahun 1135 hingga 1179. Mpu Panuluh juga dikenal harum namanya di Bali (di kalangan pesantian dan masyarakat Bali tradisional) sebagai penulis Kakawin Bharatayuddha, bersama Mpu Sedah pada tahun 1157.

4. Apa alasan sastra-teologis dari Saṃpradāya Vaiṣṇava menyembah Śiva atau Rudra?

Dalam Kitab Nārāyaṇīya (नारायणीय), yang merupakan bait-bait terpilih dari Mahābhārata tentang gelar Tuhan sebagai Nārāyaṇa yang dimuliakan, dijelaskan Nārāyaṇa sebagai guru tertinggi dan jiwa alam semesta. Di dalamnya termuat bait-bait terpilih dari Mahābhārata yang berisi alasan teologis kenapa Krishna menyembah Śiva atau Rudra.

Tuhan telah membenarkan kenyataan bahwa dalam reinkarnasinya Ia menyembah Rudra. Tuhan berbicara dalam Narayaniya kepada Arjuna sebagai berikut:

 “O Arjuna, Aku adalah jiwa alam semesta. Pemujaanku pada Rudra adalah penyembahan terhadap diriku sendiri. Apa pun yang saya lakukan, orang biasa mengikuti. Contoh-contoh yang ditetapkan oleh-Ku harus diikuti. Itu sebabnya saya memuja Rudra.”

“Wisnu tidak tidak memberikan penghormatan kepada dewa manapun. Aku memuja Rudra, menganggapnya sebagai diri-Ku sendiri. Aku adalah jiwa utama yang mendiami seluruh alam semesta. Rudra adalah bagian saya sendiri, seperti batang besi panas tidak berbeda dengan api. Saya telah menetapkan standar bahwa para dewa yang dipimpin oleh Rudra harus disembah. Jika saya tidak memberikan contoh menyembah Rudra maka orang tidak akan mengikuti standar itu. Oleh karena itu Aku mengajarkan penyembahan kepada hamba-hamba-Ku melalui perilaku pribadi-Ku. Tidak ada satu lebih besar dari atau sama dengan-Ku. Karena itu, karena saya yang terbesar, saya tidak menyembah siapa pun. Tetapi karena Rudra adalah bagian-Ku, saya menunjukkan contoh menyembah Rudra dan dewa-dewa lainnya untuk diajarkan kepada orang-orang biasa.”

Bagian disebutkan — berdasar kajian para ahli Sanskrit— sumbernya adalah Mahābhārata 12.328.1-53.

Dalam teologi Waisnawa dianut Mahavishnu (disebut juga sebagai Hari atau Nārāyaṇa) adalah dewa utama dalam Waisnawa. Mahavishnu dikenal sebagai pelindung dan pemelihara mutlak alam semesta. Manusia bisa tidak akan memahaminya, tidak memiliki atribut atau sifat dan nama, tetapi istilah Mahavishnu ini sebagai sebutan yang sesunggunya berada di luar pemahaman manusia dan tidak terjangkau oleh semua atribut.

Dalam saṃpradāya Gauḍīya Vaishnavisme, disebutkan bahwa Sātvata-tantra menggambarkan tiga bentuk/aspek: Mahavishnu (Kāraṇārṇavaśāyī Viṣṇu), Garbhodakaśāyī Viṣṇu dan Kṣīrodakaśāyī Wisnu yang berbeda . Istilah Mahavishnu mengacu pada kebenaran Absolut Brahman (aspek tak terlihat impersonal), dan sebagai  Paramatma (sspek di luar pemahaman jiwa manusia) dan terakhir sebagai Sarvatma (menjelma untuk membawa kesempurnaan).

Pusat bhakti (puja dan pengabdian penuh kasih) ditujukan ke Sarvatman (Avatara Krishna atau Rama atau inkarnasi Wisnu, Narayana) yang turun ke dunia membawa kedamaian dan kesempurnaan makhluk hidup.

Penjelasan paham Waisnawa menjelaskan bahwa dengan memalui jalan bhakti melebihi jalan yoga, yang ditujukan kepada Roh Yang Utama, Paramatman. Mahavishnu adalah Roh Yang Utama dari semua makhluk hidup (jivaatma) di semua alam semesta material. Kāraņodaksayi Wisnu dipahami sebagai Sankarsana (bentuk) dari Catur-vyuha Nārāyaņa. Ini juga sering digunakan secara bergantian dengan Wisnu untuk menunjukkan penghormatan, karena awalan “Mahā” dalam wWsnu menunjukkan kebesaran dan luasnya Nārāyaņa.

Jadi semua Dewa termasuk bentuk Purusha seperti Śiva atau Rudra, Brahma, dianggap sebagai Viśvarūpa.

5. Kenapa konsep Viśvarūpa yang dianut paham Waisnawa penting dipahami?

 Viśvarūpa (terdiri dari Visva dan rūpa) adalah “perwujudan universal-bentuk” dari Wisnu atau awatara Krishna. Mengacu pada bentuk maha-mengetahui yang meliputi seluruh alam semesta.

Viśvarūpa ada dalam nama Trisira(h), dewa pencipta Veda yang memberikan bentuk kepada semua makhluk. Para ahli Veda menemukan istilah ini dalam dalam Rig Veda, sebagai ekspansi ketuhanan yang digambarkan menghasilkan banyak bentuk dan mengandung beberapa perwujudan.  Viśvarūp, dalam kajian Veda, telah ditemukan sebagai gelar yang digunakan untuk dewa lain seperti Soma (Rig Veda), Prajapati (Atharva Veda), Rudra( Upanishad ) dan Brahman abstrak ( Maitrayaniya Upanishad ), serta Atharva Veda menggunakan kata dengan berbagai konotasi.

6. Dalam sejarah keagamaan dalam periode Kerajaan Śiwa-Buddha di Jawa, Sumatra, Bali dan bagian kepuluan Nusantara lainnya, kerumitan yang ditimbulkan oleh konsep pemujaan yang berbasis konsepsi Viśvarūpa ini telah diselesaikan atau “didamaikan” dengan konsepsi TRI MURTI.

Kerumitan sekte atau aliran, yang terbelah-belah dan banyak membingungkan umat awam tersebut, telah diselesaikan di CANDI PRAMBANAN.

Trimurti yang tercermin dalam percandian Prambanan (Parabrahman?) di periode kerajaan Śiwa-Buddha di Jawa Bagian Tengah, adalah monumen terbesar konsep yang menyatakan bahwa Tuhan memiliki tiga aspek, yang hanya berbeda bentuk dari satu Tuhan yang sama. Tiga aspek Tuhan, atau Parabrahman atau persona Tuhan adalah sebagai Brahma (Sumber/Pencipta), Wisnu (Pemelihara/Penghuni-kehidupan) dan Siwa (Transformator/Pelebur/Pendaur-ulang).

Di percandian yang dalam prasasti disebut sebagai Śiwagraha ini relief BHAGAVATA PURANA ditatah dengan indah. Relief-relief naratif yang menceritakan kisah epos Hindu Ramayana dan Bhagavata Purana dipahat di sepanjang dinding bagian dalam pada galeri di sekitar tiga candi utama.

Kita bisa meyaksikan bagaimana narasi Rama dan Krishna berjejer menjadi narasi terbaca dibaca dari kiri ke kanan — secara pradaksina. Kisah Ramayana dimulai dari koridor candi Siwa dan berlanjut ke candi Brahma. Pada koridor candi Wisnu ada serangkaian panel relief yang menggambarkan kisah-kisah Dewa Kresna dari Bhagavata Purana.

Sekat-sekat dan kerumitan sekte dan atau kelompok berbagai aliran di candi telah “diselesaikan” atau “didamaikan”. Semua dapat tempat. Semua adalah satu. Sebagai perwujudan yang direka dari “perwujudan yang tiada terbayangkan “parambrahma”. Apa yang transcendental dimanifestasikan secara estetik immanental dalam seni ukir yang adiluhung.

Candi Prambanan ini disebutkan dibangun sekitar 850 Masehi oleh Rakai Pikatan, dan diperluas secara luas oleh Raja Lokapala dan Balitung Maha Sambu, dari Dinasti Sanjaya  dari Kerajaan Mataram. Artinya, solusi kerumitan sekat-sekte atau aliran serta kelompok telah “diwadahi” di bawah satu payung TRI MURTI di abad ke-9 lampau.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan | Air Dengan Segala Persoalan yang Ditimbulkan

Next Post

Puisi-puisi Sinduputra | Tribute to ULP, Suatu Hari Tanpa Hujan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Sinduputra | Tribute to ULP, Suatu Hari Tanpa Hujan

Puisi-puisi Sinduputra | Tribute to ULP, Suatu Hari Tanpa Hujan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co