25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SAṂPRADĀYA VAIṢṆAVA (JUGA) MERAYAKAN ŚIVARĀTRI

Sugi Lanus by Sugi Lanus
January 24, 2022
in Esai
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Januari 2022

1. Śivarātri adalah perayaan Hindu yang dirayakan di seluruh dunia. Maha Śivarātri adalah perayaan Hindu tahunan, penghormatan kepada Dewa Siwa. Festival ini juga dikenal sebagai “Malam Besar Siwa” atau Maha-Śivarātri.

Hanya saja perbedaan tanggal dan pemilihan hari disesuaikan kalender masing-masing etnis Hindu yang membedakannya.

Secara umum, kapan hari perayaan Śivarātri di India? Sekitar bulan Pebruari/Maret menurut kalender masehi, atau bulan Phalguna menurut kalender Hindu India Utara, sementara hari di bulan Magha menurut kalender Hindu India Selatan, masing-masing pada Krishna-Paksha (paruh bulan gelap) dan sebelum kedatangan Musim Panas. Perayaan Maha Śivarātri tahun 2021 jatuh pada Kamis, 11 Maret lalu. Tithi Chaturdashi dimulai pada pukul 14:39 (waktu setempat) tanggal 11 Maret 2021, dan berakhir pada 15:02 (waktu setempat) tanggal 12 Maret 2021. Untuk tahun 2022 jatuh pada pada hari Senin, 28 Februari.

Dalam masyarakat Hindu Tamil punya perhitungan kalender sendiri dalam melangsungkan perayaan ini. Masyarakat Hindu di Bali dan Indonesia merayakan  Śivarātri, 12-13 Januari 2021, dan awal tahun ini 1-2 Januari 2022.

2. Sering menjadi pertanyaan, di kalangan masyarakat Hindu di India: Kenapa Saṃpradāya Vaiṣṇava — seperti Hare Krishna dan Sai Baba — juga merayakan Śivarātri? Sementara itu, di Indonesia, tidak banyak yang paham jika Saṃpradāya Vaiṣṇava juga merayakan hari pemuliaan Śiwa terbesar di dunia ini?

  • Tayangan youtube Sathya Sai Baba dalam perayaan Shivaratri: https://www.youtube.com/watch?v=P_33Bq_iPf0
  • Tayangan youtube ISKCON merayakan Siwaratri: https://www.youtube.com/watch?v=a8_J5g11RC8

Apa penjelasannya?

Sebelum menjawab hal ini, sebagai informasi tambahan: Di Negara Nepal hari Śivarātri atau lebih tepatnya disebut Maha Śivaratri adalah libur nasional. Kalender merah. Pada perayaan Maha Śivaratri setiap tahunnya selalu hadir lebih dari satu juta umat Hindu akan berziarah ke Kuil Pashupatinath, Situs Warisan Dunia UNESCO, di Katmandu, Nepal, untuk sembahyang, berpesta, dan mandi suci (melukat dalam istilah Bali) di Sungai Bagmati yang sangat disucikan.

Salah satu atraksi utama perayaan di Pashupatinath yang terkenal di dunia adalah kedatangan para sadhu (orang bijak) dari penjuru negara Nepal dan India. Menurut menurut pengelola Kuil Suci Pashupatinath (Pashupati Area Development Trust) sekitar 7.000 orang bijak dari berbagai klan dan sampradaya senantiasa hadir di kuil suci (pura) Pashupatinath setiap tahunnya.

3. Sebelum mencoba memahami kenapa Saṃpradāya Vaiṣṇava juga merayakan Śivarātri, perlu dipahami: Apa itu Saṃpradāya Vaiṣṇava?

Secara singkat dapat dijelaskan bahwa Saṃpradāya Vaiṣṇava adalah berbagai garis silsilah perguruan yang memuliakan berbagai perwujudan atau manisfestasi Viṣṇu (Wisnu). Sehingga kelompok ini juga disebut sebagai “Wisnuisme”. Silsilah perguruan ini menganggap Wisnu sebagai Yang Mahatinggi, yaitu Mahawisnu. Para pengikutnya disebut Vaiṣṇava (Waisnawa), secara luas atau umum mencakup beberapa sub-bagian lain, seperti “Krishnaisme” dan “Ramaisme”, yang masing-masing menganggap Krishna dan Rama sebagai Yang Mahatinggi.

“Wisnuisme” ini mengenal berbagai Avatāra (Awatara). Konsep Avatāra dalam agama Hindu mempercayai bahwa Tuhan turun dalam penampilan tubuh/materi atau inkarnasi di Bumi — kadang-kadang digunakan untuk merujuk kepada guru atau manusia suci yang dihormati.

Disinilah pangkalnya: Ketika Viṣṇu turun ke dunia sebagai sosok manusia/berbentuk materi, sebagai Awatara, seperti Rama dan Krishna, keduanya menyembah Śiva (Śiwa).

Rama menyembah Śiwa dalam kisah Ramayana, baik versi Bhatti atau Walmiki di India, dan versi Kakawin dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang beredar secara luas di Nusantara. Untuk versi yang beredar di Bali silahkan membaca terjemahan I Gusti Bagus Sugriwa yang mengulas dan menterjemahkan Kakawin Ramayana ke dalam bahasa Bali dan bahasa Indonesia.

Dalam itihasa yang lain, yaitu MAHABHARATA & HARIVANGSA, Krishna menyembah Śiva.

— Dewa Krishna ingin mengalahkan Indra dalam pertempuran dan membawa pohon Parijata dari Indra loka ke istananya di Dwarka. Dia menyembah Dewa Siwa di Gunung Mainaka untuk berkah kemenangan.

— Krishna ingin memiliki seorang putra dengan istri keduanya Jambavati yang akan menyamai keberanian dan kehebatan Pradyumna (putra dengan istri pertamanya Rukmini). Dia memuja Dewa Siwa untuk mencari anugerah seorang putra yang tak terkalahkan seperti Pradyumna.

— Krishna, dalam kelahiran sebelumnya sebagai Narayana, memuja Siwa karena mencari anugerah supremasi mutlak atas semua makhluk di tiga dunia. Krishna menyembah Siwa selama enam puluh enam ribu tahun surgawi untuk mencari anugerah yang tak terkalahkan.

— Krishna menyembah Siwa di semua Kalpa seperti yang disebutkan dalam Mahabharata. Ashwatthama bertemu dengan Dewa Siwa ketika dia mencapai perkemahan Pandawa pada malam ke-18 perang Kurukshetra untuk membunuh prajurit Pandawa yang tersisa. Dewa Siwa memberi tahu Aswatthama bahwa Krishna telah memujanya dengan penuh pengabdian dalam semua kalpa (1 kalpa = seribu Yuga) sebelumnya.

Di Nusantara versi kisah HARIVANGSA disurat dalam bentuk kakawin berjudul Kakawin Hariwangsa adalah karya puisi liris Jawa Kuno bertembang atau metrum India (kakawin atau kavya ), isinya adalah kisah Krishna, sebagai Awatara dari Wisnu, ketika ia ingin menikahi Dewi Rukminī, dari negeri Kundina , dan putri dari Tuhan Bhishmaka. Rukminī sendiri adalah awatar dari Dewi Śrī. Kakawin Hariwangsa ditulis oleh Mpu Panuluh, oleh para pakar Kakawin disebutkan ditulis pada masa Raja Jayabaya memerintah di Kediri dari tahun 1135 hingga 1179. Mpu Panuluh juga dikenal harum namanya di Bali (di kalangan pesantian dan masyarakat Bali tradisional) sebagai penulis Kakawin Bharatayuddha, bersama Mpu Sedah pada tahun 1157.

4. Apa alasan sastra-teologis dari Saṃpradāya Vaiṣṇava menyembah Śiva atau Rudra?

Dalam Kitab Nārāyaṇīya (नारायणीय), yang merupakan bait-bait terpilih dari Mahābhārata tentang gelar Tuhan sebagai Nārāyaṇa yang dimuliakan, dijelaskan Nārāyaṇa sebagai guru tertinggi dan jiwa alam semesta. Di dalamnya termuat bait-bait terpilih dari Mahābhārata yang berisi alasan teologis kenapa Krishna menyembah Śiva atau Rudra.

Tuhan telah membenarkan kenyataan bahwa dalam reinkarnasinya Ia menyembah Rudra. Tuhan berbicara dalam Narayaniya kepada Arjuna sebagai berikut:

 “O Arjuna, Aku adalah jiwa alam semesta. Pemujaanku pada Rudra adalah penyembahan terhadap diriku sendiri. Apa pun yang saya lakukan, orang biasa mengikuti. Contoh-contoh yang ditetapkan oleh-Ku harus diikuti. Itu sebabnya saya memuja Rudra.”

“Wisnu tidak tidak memberikan penghormatan kepada dewa manapun. Aku memuja Rudra, menganggapnya sebagai diri-Ku sendiri. Aku adalah jiwa utama yang mendiami seluruh alam semesta. Rudra adalah bagian saya sendiri, seperti batang besi panas tidak berbeda dengan api. Saya telah menetapkan standar bahwa para dewa yang dipimpin oleh Rudra harus disembah. Jika saya tidak memberikan contoh menyembah Rudra maka orang tidak akan mengikuti standar itu. Oleh karena itu Aku mengajarkan penyembahan kepada hamba-hamba-Ku melalui perilaku pribadi-Ku. Tidak ada satu lebih besar dari atau sama dengan-Ku. Karena itu, karena saya yang terbesar, saya tidak menyembah siapa pun. Tetapi karena Rudra adalah bagian-Ku, saya menunjukkan contoh menyembah Rudra dan dewa-dewa lainnya untuk diajarkan kepada orang-orang biasa.”

Bagian disebutkan — berdasar kajian para ahli Sanskrit— sumbernya adalah Mahābhārata 12.328.1-53.

Dalam teologi Waisnawa dianut Mahavishnu (disebut juga sebagai Hari atau Nārāyaṇa) adalah dewa utama dalam Waisnawa. Mahavishnu dikenal sebagai pelindung dan pemelihara mutlak alam semesta. Manusia bisa tidak akan memahaminya, tidak memiliki atribut atau sifat dan nama, tetapi istilah Mahavishnu ini sebagai sebutan yang sesunggunya berada di luar pemahaman manusia dan tidak terjangkau oleh semua atribut.

Dalam saṃpradāya Gauḍīya Vaishnavisme, disebutkan bahwa Sātvata-tantra menggambarkan tiga bentuk/aspek: Mahavishnu (Kāraṇārṇavaśāyī Viṣṇu), Garbhodakaśāyī Viṣṇu dan Kṣīrodakaśāyī Wisnu yang berbeda . Istilah Mahavishnu mengacu pada kebenaran Absolut Brahman (aspek tak terlihat impersonal), dan sebagai  Paramatma (sspek di luar pemahaman jiwa manusia) dan terakhir sebagai Sarvatma (menjelma untuk membawa kesempurnaan).

Pusat bhakti (puja dan pengabdian penuh kasih) ditujukan ke Sarvatman (Avatara Krishna atau Rama atau inkarnasi Wisnu, Narayana) yang turun ke dunia membawa kedamaian dan kesempurnaan makhluk hidup.

Penjelasan paham Waisnawa menjelaskan bahwa dengan memalui jalan bhakti melebihi jalan yoga, yang ditujukan kepada Roh Yang Utama, Paramatman. Mahavishnu adalah Roh Yang Utama dari semua makhluk hidup (jivaatma) di semua alam semesta material. Kāraņodaksayi Wisnu dipahami sebagai Sankarsana (bentuk) dari Catur-vyuha Nārāyaņa. Ini juga sering digunakan secara bergantian dengan Wisnu untuk menunjukkan penghormatan, karena awalan “Mahā” dalam wWsnu menunjukkan kebesaran dan luasnya Nārāyaņa.

Jadi semua Dewa termasuk bentuk Purusha seperti Śiva atau Rudra, Brahma, dianggap sebagai Viśvarūpa.

5. Kenapa konsep Viśvarūpa yang dianut paham Waisnawa penting dipahami?

 Viśvarūpa (terdiri dari Visva dan rūpa) adalah “perwujudan universal-bentuk” dari Wisnu atau awatara Krishna. Mengacu pada bentuk maha-mengetahui yang meliputi seluruh alam semesta.

Viśvarūpa ada dalam nama Trisira(h), dewa pencipta Veda yang memberikan bentuk kepada semua makhluk. Para ahli Veda menemukan istilah ini dalam dalam Rig Veda, sebagai ekspansi ketuhanan yang digambarkan menghasilkan banyak bentuk dan mengandung beberapa perwujudan.  Viśvarūp, dalam kajian Veda, telah ditemukan sebagai gelar yang digunakan untuk dewa lain seperti Soma (Rig Veda), Prajapati (Atharva Veda), Rudra( Upanishad ) dan Brahman abstrak ( Maitrayaniya Upanishad ), serta Atharva Veda menggunakan kata dengan berbagai konotasi.

6. Dalam sejarah keagamaan dalam periode Kerajaan Śiwa-Buddha di Jawa, Sumatra, Bali dan bagian kepuluan Nusantara lainnya, kerumitan yang ditimbulkan oleh konsep pemujaan yang berbasis konsepsi Viśvarūpa ini telah diselesaikan atau “didamaikan” dengan konsepsi TRI MURTI.

Kerumitan sekte atau aliran, yang terbelah-belah dan banyak membingungkan umat awam tersebut, telah diselesaikan di CANDI PRAMBANAN.

Trimurti yang tercermin dalam percandian Prambanan (Parabrahman?) di periode kerajaan Śiwa-Buddha di Jawa Bagian Tengah, adalah monumen terbesar konsep yang menyatakan bahwa Tuhan memiliki tiga aspek, yang hanya berbeda bentuk dari satu Tuhan yang sama. Tiga aspek Tuhan, atau Parabrahman atau persona Tuhan adalah sebagai Brahma (Sumber/Pencipta), Wisnu (Pemelihara/Penghuni-kehidupan) dan Siwa (Transformator/Pelebur/Pendaur-ulang).

Di percandian yang dalam prasasti disebut sebagai Śiwagraha ini relief BHAGAVATA PURANA ditatah dengan indah. Relief-relief naratif yang menceritakan kisah epos Hindu Ramayana dan Bhagavata Purana dipahat di sepanjang dinding bagian dalam pada galeri di sekitar tiga candi utama.

Kita bisa meyaksikan bagaimana narasi Rama dan Krishna berjejer menjadi narasi terbaca dibaca dari kiri ke kanan — secara pradaksina. Kisah Ramayana dimulai dari koridor candi Siwa dan berlanjut ke candi Brahma. Pada koridor candi Wisnu ada serangkaian panel relief yang menggambarkan kisah-kisah Dewa Kresna dari Bhagavata Purana.

Sekat-sekat dan kerumitan sekte dan atau kelompok berbagai aliran di candi telah “diselesaikan” atau “didamaikan”. Semua dapat tempat. Semua adalah satu. Sebagai perwujudan yang direka dari “perwujudan yang tiada terbayangkan “parambrahma”. Apa yang transcendental dimanifestasikan secara estetik immanental dalam seni ukir yang adiluhung.

Candi Prambanan ini disebutkan dibangun sekitar 850 Masehi oleh Rakai Pikatan, dan diperluas secara luas oleh Raja Lokapala dan Balitung Maha Sambu, dari Dinasti Sanjaya  dari Kerajaan Mataram. Artinya, solusi kerumitan sekat-sekte atau aliran serta kelompok telah “diwadahi” di bawah satu payung TRI MURTI di abad ke-9 lampau.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan | Air Dengan Segala Persoalan yang Ditimbulkan

Next Post

Puisi-puisi Sinduputra | Tribute to ULP, Suatu Hari Tanpa Hujan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Sinduputra | Tribute to ULP, Suatu Hari Tanpa Hujan

Puisi-puisi Sinduputra | Tribute to ULP, Suatu Hari Tanpa Hujan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co