25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seksualitas dan Moral Generasi Digital

Yahya Umar by Yahya Umar
December 22, 2021
in Esai
Seksualitas dan Moral Generasi Digital

ERA digital lahir, dan sejak itu terjadi pergeseran moral. Kaum milenial menjadi pemeran utamanya. Pemeran utama panggung digital dengan keterbatasan mental.

Pertengahan Desember ini (2021) kita disuguhkan berita yang menyesakkan dada. Berita yang mau tidak mau membuat kita meneteskan air mata. Sedih. Prihatin.

“Empat Anak di Bawah Umur Setubuhi Cewek 12 Tahun”. Siapa tak prihatin membaca berita ini. Siapa tidak sedih melihat realitas ini. Orangtua mana yang tidak meneteskan air mata ketika mendapati kenyataan generasi seperti ini.

Rasa sedih tidak berhenti di sana. Rasa prihatin rasanya tak cukup. Ternyata mereka (anak-anak para pelaku adegan yang seharusnya dilakukan orangtua dewasa yang telah terikat dalam perkawinan yang sah) merekam adegan tersebut. Mereka memvideokan aksi seks bebasnya. Dan ada yang menyebarkan ke media sosial. Viral. Ya aksi anak-anak di bawah umur itu viral di media sosial.

Dalam berita itu dinarasikan mereka suka sama suka. Tak ada paksaan, apalagi pemerkosaan. Bahkan ada transaksi atas semua adegan itu. Duh!

Sudah demikian rapuhkah moralitas generasi milenial kita? Benarkah ini bagian dari ‘buah’ yang diproduksi oleh revolusi industri 4.0?

Revolusi industri 4.0 ditandai dengan segala sesuatu yang serba digital. Ia mengumandangkan sejumlah harapan. Banyak hal positif yang dijanjikan kepada manusia. Banyak urusan menjadi lebih — bahkan sangat — mudah karena diproses secara digital. Belanja bisa secara online. Belajar, konsultasi kesehatan, silaturahmi dengan keluarga, sampai membayar segala tagihan secara online. Betul-betul era digital ini memudahkan banyak aktivitas manusia.

Namun, revolusi industri 4.0 juga memunculkan setumpuk kecemasan, dan seabrek ketakutan. Era revolusi industri 4.0 atau era digital diwarnai dengan munculnya beragam aplikasi media sosial. Ada yang namanya Facebook, ada Twitter, Line, Fanfage, Instagram, Youtube, Snack Video sampai Tik Tok. Dengan beragam aplikasi tersebut orang bisa interaksi secara daring meskipun masing-masing berada di tempat yang berjauhan. Manusia bisa saling berinteraksi tanpa terhalang tirai waktu dan tempat. Dan semua itu bisa dilakukan hanya dengan menggunakan benda kecil yang cerdas, bernama handphone.

Aplikasi media sosial memang banyak dimanfaatkan untuk hal-hal positif. Misalnya untuk hiburan, untuk mencari informasi tentang suatu ilmu, atau untuk mencari resep masakan. Ia bahkan bisa dijadikan ladang mencari nafkah. Di youtube, misalnya. Seorang youtuber bisa menghasilkan jutaan bahkan ratusan juta dari konten-konten yang ditayangkan di kanal youtube-nya.

Namun, tak jarang media sosial itu dimanfaatkan untuk hal-hal yang negatif. Dimanfaatkan untuk menyebarkan berita hoax, memfitnah, menebarkan kebencian. Konten-konten media sosial banyak yang memprovokasi, mengadu domba hingga saling caci maki antar penggunanya.

Konten-konten medsos lainnya juga tak jarang menayangkan foto atau video yang vulgar, erotis, dan tak layak dikonsumsi masyarakat, apalagi anak-anak di bawah umur. Namun, realitanya, anak-anak begitu mudahnya mengakses konten-konten yang tak layak tersebut. Ya lewat HP mereka.

Kabarnya, salah seorang pemeran dalam adegan video anak-anak di bawah umur tersebut biasa main medsos. Sebelum kasus video tersebut, salah seorang diantara mereka pernah tampil dengan gambar-gambar vulgar di Tik Tok. Ketika HP-nya disita oleh gurunya, isi HP-nya banyak foto-foto dan video-video ‘dewasa’. Foto-foto dan video-video tersebut bisa jadi di-download dari medsos atau diperoleh dari chat-chat dengan ‘orang lain’ di grup-grup ‘dewasa’.

Kita jadi teringat sebuah film dokumenter “The Social Dilemma” yang disutradarai Jeff Orlowski. Film yang berisi pengakuan dari beberapa mantan pegawai perusahaan raksasa teknologi dan media sosial. Kata mereka, semua aktivitas yang kita lakukan di media sosial diawasi, direkam dan diukur oleh sebuah sistem yang dibuat sedemikian rupa. Konten apa yang sedang kita lihat, berapa lama kita melihatnya semua diawasi dan direkam.

Dengan pengawasan dan rekaman tersebut, sistem bisa memberikan rekomendasi kepada pengguna konten, apa saja yang layak ditonton berikutnya. Tujuannya jelas, agar si pengguna bisa berlama-lama di media sosial tersebut. Semakin lama pengguna menonton konten, pemilik aplikasi medsos akan semakin untung. Iklan akan semakin mengalir, penghasilan tambah membukit.

Tak heran ketika kita menonton suatu konten video di youtube misalnya, maka video yang sejenis atau serupa akan direkomendasikan secara terus-menerus. Kalau kita sering menonton lagu India, maka akan bermunculan lagu-lagu India direkomendasikan untuk ditonton berikutnya. Atau kalau kita tonton video ceramah seorang tokoh agama, maka muncul video-video serupa direkomendasikan untuk ditonton. Dan jika yang ditonton konten dewasa, maka terus-menerus sistem akan merekomendasikan konten-konten sejenis. Sampai kita sendiri berhenti membuka aplikasi tersebut.

Bahkan ketika kita membuka kembali aplikasi itu, kita akan disajikan konten yang serupa dengan konten yang sering kita tontong, atau yang terakhir kita tonton. Begitulah seterusnya. Sistem seakan tahu, konten-konten apa yang kita senangi.

Bisa dibayangkan kalau itu terjadi atau dilakukan oleh anak-anak kita. Kalau anak-anak kita biasa berlama-lama bermain media sosial dan yang direkomendasikan kepada mereka adalah konten-konten yang tak mendidik, tentu ada gangguan pada sistem kerja otak kecil mereka. Mereka akan kecanduan, dan pada akhirnya mempraktikkan konten yang mereka tonton dalam kehidupan nyata.

Jadi, betapa bahayanya media sosial. Ia bisa meracuni generasi digital. Revolusi industri 4.0 yang diharapkan banyak memberikan kemudahan dan kenyamanan, justru bisa menjadi petaka bagi moral anak-anak bangsa. Inilah yang menjadi kecemasan kita. Inilah yang memunculkan rasa takut kita di balik kehebatan revolusi industri 4.0.

Tapi apa memang kita harus mencemaskan itu? Masih pentingkah mengurusi moral anak-anak bangsa di era digital seperti sekarang ini? Masih perlukah kita sedih melihat anak-anak di bawah umur melakukan adegan ‘dewasa’? Kalau kita masih merasa cemas. Kalau kita masih menganggap penting moral anak-anak dalam kehidupan ini. Kalau kita masih merasa sedih melihat anak-anak kita teracuni seks bebas. Harus ada yang kita lakukan. Bisa dengan galakkan literasi digital. Gelorakan internet positif. Tanamkan penggunaan medsos positif ke dalam diri anak-anak bangsa. Kuatkan mental mereka menghadapi gempuran medsos negatif yang menyerbu secara masif lewat HP-HP mereka.[T]

Tags: digitalkekerasan seksualseksSeksualitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kesenian Modern dan Eksperimen Sanggar Uyah Lengis| Catatan Festival Dusun Hari ke-2

Next Post

Bocah-Bocah Bermain dan Keceriaan Singkat dari Dusun | Catatan Festival Dusun Hari Ke-3

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Bocah-Bocah Bermain dan Keceriaan Singkat dari Dusun | Catatan Festival Dusun Hari Ke-3

Bocah-Bocah Bermain dan Keceriaan Singkat dari Dusun | Catatan Festival Dusun Hari Ke-3

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co