25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Burdah Pegayaman, Penguat Cerita Asal Usul dan Terapi Bagi yang Sakit Parah

Yahya Umar by Yahya Umar
December 10, 2021
in Khas
Burdah Pegayaman, Penguat Cerita Asal Usul dan Terapi Bagi yang Sakit Parah

Wak Hasan dari Desa Pegayaman | Foto-foto: Yahya Umar

BURDAH Pegayaman itu khas, unik dan istimewa. Cerita tentang burdah dari Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, selalu membuat saya takjub. Ada yang lain, ada yang beda, ada yang khas dibandingkan tentang burdah yang saya ketahui.

Sebenarnya sudah lama saya mendengar tentang burdah Pegayaman. Namun, selama ini hanya sebatas mendengar atau membaca di beberapa media. Tak pernah mendengar atau menyaksikan secara langsung. Pengetahuan saya tentang burdah Pegayaman selama ini sebatas bahwa di dalamnya ada akulturasi Hindu-Islam.

Sampai pada suatu hari, tepatnya Minggu, 28 November 2021, saya diajak Ketua Umum Grup Burdah “Burak” (Burdah Krama Kubu) Desa Pegayaman, Drs. Ketut Muhammad Suharto, mengunjungi legenda burdah Pegayaman, Wak Hasan Sagir, di rumahnya. (Wak Hasan merupakan Ketua Burdah Burak, sementara Suharto Ketua Umum Burak).

Kami bertiga saat itu; saya, Pak Harto, dan Drs. Amoeng Abdurahman (pemerhati sejarah Islam di Singaraja). Wak Hasan tinggal di tengah hutan. Ya di tengah hutan bukit Pegayaman, yang terpisah dari warga Pegayaman lainnya. Jalan menuju ke rumahnya lumayan memacu adrenalin. Dengan beton rabat tak penuh, hanya di sisi kiri dan kanannya saja. Di beberapa titik, ada tanjakan yang terjal, dan tikungan yang sangat tajam. Di sisi kiri-kanan jalan menuju rumahnya tak jarang langsung berhadapan dengan jurang. Betul-betul memacu adrenalin.

Rumah Wak Hasan berada di ketinggian 1.100 meter dari permukaan air laut. Saat kami sampai di rumah tersebut, alam diselimuti kabut. Tubuh kami dipeluk sejuk. Rintik hujan mulai menyapa.

Rumah Wak Hasan cukup sederhana. Dindingnya dari batako ‘telanjang’ di bagian bawahnya. Disambung papan-papan kayu, yang beberapa bagian sudah rapuh. Dengan lantai hanya plesteran semen. Sungguh amat sederhana bagi sosok yang boleh dibilang sebagai maestro burdah. Sosok yang menjadi legenda hidup seni burdah yang tak ternilai harganya bagi warga Pegayaman, atau bahkan bagi bangsa ini.

Wak Hasan

Saya menyebut Wak Hasan maestro burdah. Legenda hidup burdah Pegayaman. Inilah istimewanya burdah Pegayaman menurut saya. Kesenian ini memiliki seniman yang bergelut di seni burdah selama 80 tahun. Wak Hasan mulai menekuni seni burdah sejak usia 15 tahun. Saat itu zaman pendudukan Jepang. Umurnya kini 95 tahun.

Meskipun sudah usia lanjut, wajahnya masih tampak segar. Penglihatannya masih terang. Pendengarannya masih bagus. Daya ingatnya masih kuat. Ia masih mampu melantunkan 16 lagu burdah Pegayaman, tanpa teks.

Ke-16 lagu burdah Pegayaman yang dihapal Wak Hasan di antaranya lagu Tue, lagu Kampar, lagu Nganten, lagu Sulton Pahang, lagu Sulton Rasul, lagu Sulton Abdi, lagu Belaluan, lagu Melayu, lagu Parsi, lagu Mekondek, lagu Ngelungsuhan, lagu Tarik Dayung, lagu Hul Maula, serta lagu Masru.

Wak Hasan seperti sudah sedemikian menyatu dengan burdah. Ketika berbicara tentang burdah wajahnya langsung berseri. Semangatnya menyala. Senyumnya mengembang. Ada rona kebahagiaan di wajahnya. Ada kebanggaan yang tersirat dari tatapan matanya.

Ketika diminta melantunkan syair burdah, dengan sigap ia pun langsung menembangkannya. Semula ia nyanyikan syair burdah tanpa rebana. Ia melantunkan lagu “Tua”, lagu tertua di burdah Pegayaman. Ia berkidung penuh penghayatan. Melantunkan dengan penuh perasaan, sangat menjiwai. Suaranya begitu kontemplatif. Hati rasanya dibawa hayut ke semesta nurani. Jiwa dan perasaan seperti diterbangkan ke angkasa spiritual.   

Sebagai pelantun lagu atau syair Al Barzanji dalam grup burdahnya, suara Wak Hasan masih bisa melengking. Suaranya masih kuat, nafasnya masih stabil. Cengkok-cengkoknya masih jelas. Hingga kini. Ya, hingga usianya yang demikian lanjut ini. Tangannya masih cekatan memainkan rebana. Bunyi-bunyi yang dilahirkan dari pukulan jari-jemari dan telapak tangannya begitu harmonis.  

Yang istimewa juga, burdah Pegayaman umurnya ratusan tahun. Kesenian ini ada sejak kedatangan warga Pegayaman dari Blambangan Banyuwangi, sekitar tahun 1648 M. Dan hingga kini masih eksis.

Wak Hasan

Dalam perbincangan di rumah sang maestro itulah, saya tahu beberapa keunikan dan kekhasan burdah Pegayaman. Usai Wak Hasan melantunkan lagu “Tue” atawa Tua, Muhammad Suharto langsung mengomentari. “Itu lagu ‘Tue’, lagu tertua di burdah Pegayaman. Ini wajib dibaca di awal setiap penampilan burdah. Oleh ketua burdah,” tuturnya.

Menurut Suharto, lagu ‘Tue’ itu bahasanya Arab, syair burdahnya merupakan syair Al Barzanji. Sementara tembang atau iramanya seperti kidung Bali. Ya irama-irama yang tercipta di burdah Pegayaman kebanyakan mirip kidung Bali. Dari 16 lagu burdah di Pegayaman rata-rata lagunya seperti kidung Bali.

Dan lagu ‘Tue’ tersebut tenyata menjadi penguat cerita asal usul orang Pegayaman. Dari penuturan para panglingsir Pegayaman atau yang biasa disebut kumpi bukit, nenek moyang mereka berasal dari Kerajaan Blambangan, Banyuwangi. Namun, belakangan ada yang berpendapat, orang Pegayaman berasal dari Kerajaan Solo Mataram. Ada juga yang bilang orang Pegayaman merupakan keturunan Bali asli.

Untuk mengungkap mana yang benar, Suharto sempat mencari sejak sejarah orang Pegayaman ke Solo. Juga ke Blambangan, Banyuwangi. Dari penelusurannya, di Solo ia tidak menemukan jejak. Namun, di Blambangan, khususnya di kalangan suku Osing, Suharto menemukan beberapa jejak sejarah orang Pegayaman. Salah satunya adalah seni burdah. 

Ia menemukan grup kesenian Burdah di suku Osing yang sama seperti di Desa Pegayaman. Misalnya bentuk rebananya sama. Hanya ada beda tipis pada lubang depannya. Rebana di Blambangan lubang depan lebar dan dibuat dari kayu nangka. Sedangkan rebana di Pegayaman lubangnya lebih sempit di depan dan terbuat dari kayu bungkil kelapa. Yang sama persis, menurut Suharto, adalah lagu awal kedua grup burdah. Lagu ‘Tue’ burdah Pegayaman sama dengan di Kemiren (suku Osing), Blambangan, Banyuwangi.

Saya memotret Wak Hasan sedang memainkan burdah Pegayaman

Itulah yang memperkuat cerita para kumpi bukit bahwa orang Pegayaman berasal dari Blambangan. 100 laskar Muslim yang direkrut Raja Panji Sakti kemudian tinggal di bukit Pegayaman merupakan nenek moyang warga Pegayaman. Menurut Suharto, 100 laskar tersebut merupakan kumpulan dari ksatria-ksatria Mataram (Jawa), Makassar, dan Madura. Sesampai di Bali, mereka menikah dengan perempuan-perempuan Bali. Jadi, kata Suharto, nenek moyang orang Pegayaman itu berasal dari Mataram (Jawa), Makassar, Madura dan Bali.

Selain sebagai penguat cerita asal usul orang Pegayaman, ada cerita tak kalah menarik dari burdah Pegayaman. Menurut Suharto, burdah Pegayaman kerap dijadikan terapi bagi orang yang sakit parah. Sakit yang dalam kacamata medis sulit disembuhkan.

Kalau ada yang sakit seperti itu, syair burdah Pegayaman bisa digunakan sebagai ‘obat’, sebagai terapi. Syair burdah dibacakan di hadapan orang yang sakit, diikuti masyarakat. Namun, syair burdah tersebut tidak dibacakan dengan lagu atau kidung. Hanya dibaca biasa saja. Biasanya dibaca selama tiga hari.

Drs. Muhammad Suharto

Dengan pembacaan syair burdah tersebut diharapkan agar yang sakit segera sembuh. Atau, kalau memang sakitnya tidak bisa disembuhkan agar segera dicepatkan meninggalnya. Agar yang sakit tidak terlalu lama menanggung rasa sakitnya.

Menurut Suharto dan dibenarkan oleh Wak Hasan Sagir, syair burdah tersebut ternyata mujarab. Segera setelah dibacakan syair burdah, yang sakit segera meninggal, lepas siksaan sakitnya. Ada juga yang segera sembuh, dan dapat beraktivitas seperti biasa lagi.

So, ternyata burdah Pegayaman memang unik dan istimewa kan? [T]

Tags: bulelengburdahDesa Pegayamanseni muslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Difabel, Pandemi dan Perjuangan Inklusi | Catatan dari “Berbagi Kabar Akhir Tahun”

Next Post

Memotret “Milky Way” yang Agung, Indah dan Dramatis di Langit Malam

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails
Next Post
Memotret “Milky Way” yang Agung, Indah dan Dramatis di Langit Malam

Memotret “Milky Way” yang Agung, Indah dan Dramatis di Langit Malam

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co