6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Cut Cat Cit” Teater Selem Putih: Kesedihan Burung, Kelucuan Manusia

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
October 26, 2021
in Ulasan
“Cut Cat Cit” Teater Selem Putih: Kesedihan Burung, Kelucuan Manusia

Pementasan Cut Cat Cit, Teater Selem Putih di Festival Seni Bali Jani 2021

Putu Satria Kusuma, sebagai sutradara Teater Selem Putih, tampaknya tetap mempertahankan tabiat khasnya ketika menyutradarai pementasan berjudul Cut Cat Cit dalam ajang Adilango, Festival Seni Bali Jani III/2021 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin 25 Oktober 2021. Tabiat khas itu: satir, lucu, dan penuh pesan.

Cut Cat Cit bercerita tentang orang tua dan burung jalak putih.  Awalnya, orang tua itu memelihara burung jalakm putih yang ditangkapnya di Hutan Bali Barat. Lama-lama ia merasa bersalah  telah mengekang burung itu dalam sangkar.  Apalagi ia merasa burung itu tidak bisa bersuara bagus dan berkembang dengan baik di dalam sangkar.

Burung itu pun dikeluarkan dari sarangnya. Burung senang. Terbang bebas. Tapi kemudian kembali menemui orang tua itu. Burung mengaku tak bisa hidup di pohon di jalan-jalan karena pohon itu sudah ada burung. Lagipula hidup di kota sudah banyak polusi.

Burung bertanya, di hutan manakah dulu ia ditangkap? Ia ingin hidup di hutan itu.

Orangtua itu menunjukkan hutan asalnya. Burung kembali terbang tapi kembali menemui orang tua itu. Ia mengaku, pohon pohon hutan sudah banyak dicuri. Ia kehilangan pohonnya, tempat keluarganya tinggal.  Orangtua itu menjelaskan. Memang masih ada pencurian hutan. Tapi kesadaran mulai ditumbuhkan agar hutan dijaga karena sumber air dan kehidupan aneka satwa.

Burung sedih dan terbang tanpa arah. Ia ikut berumpul sesama burung lain di alam bebas. Mereka saling menyapa. Bercerita nasibnya dan nasib hutan yang masih dicuri dan dipenuhi sampah plastik. Burung Cut Cat Cit akhirnya bertemu burung betina. Mereka jatuh cinta. Kawin dan  hidup di hutan pinggir kota.

 Burung betina bertelur dan mengeraminya. Burung jantan memberi oleh-oleh makanan berupa ulat. Suatu kali si jantan tidak pulang. Si betina mencari. Burung jantan tertembak mati. Si betina sedih. Burung jantan mengatakan ada manusia membawa senapa angin menembaknya. Bukan untuk dimakan. Tapi hanya sebagai hobi.

Pementasan Cut Caqt Cit dari Teater Selem Putih di Festival Bali jani 2021

Betina sedih. Ia tak bisa hidup tanpa suami. Ia ingin ikut mati bersama suaminya. Ia pun terbang. Menemui manusia yang menembak itu. Burung betina marah dan minta ditembak agar ia mati bersama jantannya. Si penembak ketakutan. Lari.

Datanglah kemudian arwah burung jantan. Ia minta terimalah hidup ini walau kejam. Berusaha menjadi yang terbaik mengisi hidup. Ia minta agar telurnya dierami dengan baik. Berikan cinta. Diharapkan kelak jika semua telur menetas jadi burung yang bersuara merdu agar kehidupan makin indah. Agar kesadaran manusia melestarikan alam dan hutan makin terbuka.

Burung dan Manusia

Sebagaimana ciri khas Putu Satria, ia senantiasa mengolah cerita-cerita sederhana yang mungkin banyak diperoleh dari berita-berita media massa. Tentang jalak bali di Hutan Bali Barat yang nyaris punah. Tentang penjarahan hutan yang belum sepenuhnya bisa diberantas. Tentang hobi manusia yang lucu: menembak burung di alam liar hanya sebagai hiburan semata.

Jenis-jenis hubungan manusia dan lingkungan dilukiskan lumayan lengkap dalam cerita, termasuk dalam dialog-dilog yang terjadi dalam pementasan Cut Cat Cit ini. Ada orang menangkap burung, ada orang menembak burung, ada orang menjarah hutan, ada orang menanam pohon.

Orang tua yang merasa bersalah, lalu melepaskan burungnya kea lam liar, dalam pementasan Teater Selem Putih ini seakan-akan menyindir acara-acara seremonial , semisal acara pelepasan burung dan penanaman pohon yang dilakukan pejabat dan kelompok-kelompok masyarakat.  

Orang hanya bisa melepaskan, tapi tak pernah berpikir bagaimana cara merawat burung di alam liar. Orang hanya berpikir bahwa melepaskan burung adalah perbuatan mulia, namun tak pernah berpikir bagaimana burung-burung berjuang hidup di alam liar.

Untuk mengelola cerita-cerita semacam itu, Putu Satria Kusuma sebagai penulis naskah tentu tak menemukan kesulitan yang berarti. Putu Satria punya cara sendiri untuk menyindir manusia dengan berbagai tabiatnya ketika berhadapan dengan masalah-masalah lingkungan, masalah tanah, dan masalah alam. Kepiawian itu ditunjukkan dalam lakon-lakon yang pernah digarap sebelumnya, semacam Cupak Tanah dan cerita-cerita yang berkaitan dengan Dewi Sri dan dunia pertanian.

Kesediihan burung yang bingung, baik di dalam sangkar maupun di alam liar, dilukiskan dengan lugas dan gamblang. Kelucuan manusia yang menangkap, melepas, merasa bersalah, menembak, lalu ketakutan, dilukiskan juga dengan lucu, penuh pesan, kadang tanpa tedeng aling-aling.  

Pembukaan dan Penutupan

Sudah cukup lama Putu Satria Kusuma tidak bermain sebagai aktor dalam drama-drama yang digarapnya. Namun dalam Cut Cat Cit ini Putu mengambil peran sebagai orang tua. Untuk itulah, pembukaan drama Cut Cat Cit menjadi sangat kuat, karena tak bisa dibantah bahwa aura Putu Satria sebagai aktor memang sangat kuat.

Dari pembukaan yang kuat itu, cerita kemudian mengalir dengan lancar ke berbagai konflik dan kepada klimak demi klimak. Dialog-dialog menarik muncul untuk menjelaskan harmoni dan disharmoni hubungan-hubungan antara manusia dan lingkungannya. Meski  tak sekuat pada dialog orang tua yang dimainkan Putu sendiri, dialog-dialog yang disampaikan manusia dan burung di tengah-tengah permainan bisa dipahami dengan gamblang, justru karena hampir semua dialog itu sesungguhnya terjadi sebagai peristiwa-peristiwa biasa di dunia nyata.

Teater ini ditutup dengan satir yang menyengat. Setelah burung-burung bingung, bersedih, kemudian menerima keadaan diri sebagai burung, drama ditutup dengan seorang perempuan pedagang yang menawarkan topeng burung kepada wisatawan di obyek wisata. Topeng burung bisa saja dianggap sebagai keindahan Bali, keindahan seni-budaya Bali, yang “dijual” dalam dunia pariwisata, meski sesungguhnya keindahan alam dan seni-budaya tak pernah dirawat secara bersungguh-sungguh.  Itu mungkin satu lagi cerita tentang kelucuan manusia. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jelajah Pemanfaatan Rempah dalam Naskah Lontar

Next Post

Rempah dan Hasrat Keabadian | Belajar Rempah Bersama Sugi Lanus di Rumah Intaran

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Rempah dan Hasrat Keabadian | Belajar Rempah Bersama Sugi Lanus di Rumah Intaran

Rempah dan Hasrat Keabadian | Belajar Rempah Bersama Sugi Lanus di Rumah Intaran

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co