23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Cut Cat Cit” Teater Selem Putih: Kesedihan Burung, Kelucuan Manusia

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
October 26, 2021
in Ulasan
“Cut Cat Cit” Teater Selem Putih: Kesedihan Burung, Kelucuan Manusia

Pementasan Cut Cat Cit, Teater Selem Putih di Festival Seni Bali Jani 2021

Putu Satria Kusuma, sebagai sutradara Teater Selem Putih, tampaknya tetap mempertahankan tabiat khasnya ketika menyutradarai pementasan berjudul Cut Cat Cit dalam ajang Adilango, Festival Seni Bali Jani III/2021 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin 25 Oktober 2021. Tabiat khas itu: satir, lucu, dan penuh pesan.

Cut Cat Cit bercerita tentang orang tua dan burung jalak putih.  Awalnya, orang tua itu memelihara burung jalakm putih yang ditangkapnya di Hutan Bali Barat. Lama-lama ia merasa bersalah  telah mengekang burung itu dalam sangkar.  Apalagi ia merasa burung itu tidak bisa bersuara bagus dan berkembang dengan baik di dalam sangkar.

Burung itu pun dikeluarkan dari sarangnya. Burung senang. Terbang bebas. Tapi kemudian kembali menemui orang tua itu. Burung mengaku tak bisa hidup di pohon di jalan-jalan karena pohon itu sudah ada burung. Lagipula hidup di kota sudah banyak polusi.

Burung bertanya, di hutan manakah dulu ia ditangkap? Ia ingin hidup di hutan itu.

Orangtua itu menunjukkan hutan asalnya. Burung kembali terbang tapi kembali menemui orang tua itu. Ia mengaku, pohon pohon hutan sudah banyak dicuri. Ia kehilangan pohonnya, tempat keluarganya tinggal.  Orangtua itu menjelaskan. Memang masih ada pencurian hutan. Tapi kesadaran mulai ditumbuhkan agar hutan dijaga karena sumber air dan kehidupan aneka satwa.

Burung sedih dan terbang tanpa arah. Ia ikut berumpul sesama burung lain di alam bebas. Mereka saling menyapa. Bercerita nasibnya dan nasib hutan yang masih dicuri dan dipenuhi sampah plastik. Burung Cut Cat Cit akhirnya bertemu burung betina. Mereka jatuh cinta. Kawin dan  hidup di hutan pinggir kota.

 Burung betina bertelur dan mengeraminya. Burung jantan memberi oleh-oleh makanan berupa ulat. Suatu kali si jantan tidak pulang. Si betina mencari. Burung jantan tertembak mati. Si betina sedih. Burung jantan mengatakan ada manusia membawa senapa angin menembaknya. Bukan untuk dimakan. Tapi hanya sebagai hobi.

Pementasan Cut Caqt Cit dari Teater Selem Putih di Festival Bali jani 2021

Betina sedih. Ia tak bisa hidup tanpa suami. Ia ingin ikut mati bersama suaminya. Ia pun terbang. Menemui manusia yang menembak itu. Burung betina marah dan minta ditembak agar ia mati bersama jantannya. Si penembak ketakutan. Lari.

Datanglah kemudian arwah burung jantan. Ia minta terimalah hidup ini walau kejam. Berusaha menjadi yang terbaik mengisi hidup. Ia minta agar telurnya dierami dengan baik. Berikan cinta. Diharapkan kelak jika semua telur menetas jadi burung yang bersuara merdu agar kehidupan makin indah. Agar kesadaran manusia melestarikan alam dan hutan makin terbuka.

Burung dan Manusia

Sebagaimana ciri khas Putu Satria, ia senantiasa mengolah cerita-cerita sederhana yang mungkin banyak diperoleh dari berita-berita media massa. Tentang jalak bali di Hutan Bali Barat yang nyaris punah. Tentang penjarahan hutan yang belum sepenuhnya bisa diberantas. Tentang hobi manusia yang lucu: menembak burung di alam liar hanya sebagai hiburan semata.

Jenis-jenis hubungan manusia dan lingkungan dilukiskan lumayan lengkap dalam cerita, termasuk dalam dialog-dilog yang terjadi dalam pementasan Cut Cat Cit ini. Ada orang menangkap burung, ada orang menembak burung, ada orang menjarah hutan, ada orang menanam pohon.

Orang tua yang merasa bersalah, lalu melepaskan burungnya kea lam liar, dalam pementasan Teater Selem Putih ini seakan-akan menyindir acara-acara seremonial , semisal acara pelepasan burung dan penanaman pohon yang dilakukan pejabat dan kelompok-kelompok masyarakat.  

Orang hanya bisa melepaskan, tapi tak pernah berpikir bagaimana cara merawat burung di alam liar. Orang hanya berpikir bahwa melepaskan burung adalah perbuatan mulia, namun tak pernah berpikir bagaimana burung-burung berjuang hidup di alam liar.

Untuk mengelola cerita-cerita semacam itu, Putu Satria Kusuma sebagai penulis naskah tentu tak menemukan kesulitan yang berarti. Putu Satria punya cara sendiri untuk menyindir manusia dengan berbagai tabiatnya ketika berhadapan dengan masalah-masalah lingkungan, masalah tanah, dan masalah alam. Kepiawian itu ditunjukkan dalam lakon-lakon yang pernah digarap sebelumnya, semacam Cupak Tanah dan cerita-cerita yang berkaitan dengan Dewi Sri dan dunia pertanian.

Kesediihan burung yang bingung, baik di dalam sangkar maupun di alam liar, dilukiskan dengan lugas dan gamblang. Kelucuan manusia yang menangkap, melepas, merasa bersalah, menembak, lalu ketakutan, dilukiskan juga dengan lucu, penuh pesan, kadang tanpa tedeng aling-aling.  

Pembukaan dan Penutupan

Sudah cukup lama Putu Satria Kusuma tidak bermain sebagai aktor dalam drama-drama yang digarapnya. Namun dalam Cut Cat Cit ini Putu mengambil peran sebagai orang tua. Untuk itulah, pembukaan drama Cut Cat Cit menjadi sangat kuat, karena tak bisa dibantah bahwa aura Putu Satria sebagai aktor memang sangat kuat.

Dari pembukaan yang kuat itu, cerita kemudian mengalir dengan lancar ke berbagai konflik dan kepada klimak demi klimak. Dialog-dialog menarik muncul untuk menjelaskan harmoni dan disharmoni hubungan-hubungan antara manusia dan lingkungannya. Meski  tak sekuat pada dialog orang tua yang dimainkan Putu sendiri, dialog-dialog yang disampaikan manusia dan burung di tengah-tengah permainan bisa dipahami dengan gamblang, justru karena hampir semua dialog itu sesungguhnya terjadi sebagai peristiwa-peristiwa biasa di dunia nyata.

Teater ini ditutup dengan satir yang menyengat. Setelah burung-burung bingung, bersedih, kemudian menerima keadaan diri sebagai burung, drama ditutup dengan seorang perempuan pedagang yang menawarkan topeng burung kepada wisatawan di obyek wisata. Topeng burung bisa saja dianggap sebagai keindahan Bali, keindahan seni-budaya Bali, yang “dijual” dalam dunia pariwisata, meski sesungguhnya keindahan alam dan seni-budaya tak pernah dirawat secara bersungguh-sungguh.  Itu mungkin satu lagi cerita tentang kelucuan manusia. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jelajah Pemanfaatan Rempah dalam Naskah Lontar

Next Post

Rempah dan Hasrat Keabadian | Belajar Rempah Bersama Sugi Lanus di Rumah Intaran

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Rempah dan Hasrat Keabadian | Belajar Rempah Bersama Sugi Lanus di Rumah Intaran

Rempah dan Hasrat Keabadian | Belajar Rempah Bersama Sugi Lanus di Rumah Intaran

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co