2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Cut Cat Cit” Teater Selem Putih: Kesedihan Burung, Kelucuan Manusia

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
October 26, 2021
in Ulasan
“Cut Cat Cit” Teater Selem Putih: Kesedihan Burung, Kelucuan Manusia

Pementasan Cut Cat Cit, Teater Selem Putih di Festival Seni Bali Jani 2021

Putu Satria Kusuma, sebagai sutradara Teater Selem Putih, tampaknya tetap mempertahankan tabiat khasnya ketika menyutradarai pementasan berjudul Cut Cat Cit dalam ajang Adilango, Festival Seni Bali Jani III/2021 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin 25 Oktober 2021. Tabiat khas itu: satir, lucu, dan penuh pesan.

Cut Cat Cit bercerita tentang orang tua dan burung jalak putih.  Awalnya, orang tua itu memelihara burung jalakm putih yang ditangkapnya di Hutan Bali Barat. Lama-lama ia merasa bersalah  telah mengekang burung itu dalam sangkar.  Apalagi ia merasa burung itu tidak bisa bersuara bagus dan berkembang dengan baik di dalam sangkar.

Burung itu pun dikeluarkan dari sarangnya. Burung senang. Terbang bebas. Tapi kemudian kembali menemui orang tua itu. Burung mengaku tak bisa hidup di pohon di jalan-jalan karena pohon itu sudah ada burung. Lagipula hidup di kota sudah banyak polusi.

Burung bertanya, di hutan manakah dulu ia ditangkap? Ia ingin hidup di hutan itu.

Orangtua itu menunjukkan hutan asalnya. Burung kembali terbang tapi kembali menemui orang tua itu. Ia mengaku, pohon pohon hutan sudah banyak dicuri. Ia kehilangan pohonnya, tempat keluarganya tinggal.  Orangtua itu menjelaskan. Memang masih ada pencurian hutan. Tapi kesadaran mulai ditumbuhkan agar hutan dijaga karena sumber air dan kehidupan aneka satwa.

Burung sedih dan terbang tanpa arah. Ia ikut berumpul sesama burung lain di alam bebas. Mereka saling menyapa. Bercerita nasibnya dan nasib hutan yang masih dicuri dan dipenuhi sampah plastik. Burung Cut Cat Cit akhirnya bertemu burung betina. Mereka jatuh cinta. Kawin dan  hidup di hutan pinggir kota.

 Burung betina bertelur dan mengeraminya. Burung jantan memberi oleh-oleh makanan berupa ulat. Suatu kali si jantan tidak pulang. Si betina mencari. Burung jantan tertembak mati. Si betina sedih. Burung jantan mengatakan ada manusia membawa senapa angin menembaknya. Bukan untuk dimakan. Tapi hanya sebagai hobi.

Pementasan Cut Caqt Cit dari Teater Selem Putih di Festival Bali jani 2021

Betina sedih. Ia tak bisa hidup tanpa suami. Ia ingin ikut mati bersama suaminya. Ia pun terbang. Menemui manusia yang menembak itu. Burung betina marah dan minta ditembak agar ia mati bersama jantannya. Si penembak ketakutan. Lari.

Datanglah kemudian arwah burung jantan. Ia minta terimalah hidup ini walau kejam. Berusaha menjadi yang terbaik mengisi hidup. Ia minta agar telurnya dierami dengan baik. Berikan cinta. Diharapkan kelak jika semua telur menetas jadi burung yang bersuara merdu agar kehidupan makin indah. Agar kesadaran manusia melestarikan alam dan hutan makin terbuka.

Burung dan Manusia

Sebagaimana ciri khas Putu Satria, ia senantiasa mengolah cerita-cerita sederhana yang mungkin banyak diperoleh dari berita-berita media massa. Tentang jalak bali di Hutan Bali Barat yang nyaris punah. Tentang penjarahan hutan yang belum sepenuhnya bisa diberantas. Tentang hobi manusia yang lucu: menembak burung di alam liar hanya sebagai hiburan semata.

Jenis-jenis hubungan manusia dan lingkungan dilukiskan lumayan lengkap dalam cerita, termasuk dalam dialog-dilog yang terjadi dalam pementasan Cut Cat Cit ini. Ada orang menangkap burung, ada orang menembak burung, ada orang menjarah hutan, ada orang menanam pohon.

Orang tua yang merasa bersalah, lalu melepaskan burungnya kea lam liar, dalam pementasan Teater Selem Putih ini seakan-akan menyindir acara-acara seremonial , semisal acara pelepasan burung dan penanaman pohon yang dilakukan pejabat dan kelompok-kelompok masyarakat.  

Orang hanya bisa melepaskan, tapi tak pernah berpikir bagaimana cara merawat burung di alam liar. Orang hanya berpikir bahwa melepaskan burung adalah perbuatan mulia, namun tak pernah berpikir bagaimana burung-burung berjuang hidup di alam liar.

Untuk mengelola cerita-cerita semacam itu, Putu Satria Kusuma sebagai penulis naskah tentu tak menemukan kesulitan yang berarti. Putu Satria punya cara sendiri untuk menyindir manusia dengan berbagai tabiatnya ketika berhadapan dengan masalah-masalah lingkungan, masalah tanah, dan masalah alam. Kepiawian itu ditunjukkan dalam lakon-lakon yang pernah digarap sebelumnya, semacam Cupak Tanah dan cerita-cerita yang berkaitan dengan Dewi Sri dan dunia pertanian.

Kesediihan burung yang bingung, baik di dalam sangkar maupun di alam liar, dilukiskan dengan lugas dan gamblang. Kelucuan manusia yang menangkap, melepas, merasa bersalah, menembak, lalu ketakutan, dilukiskan juga dengan lucu, penuh pesan, kadang tanpa tedeng aling-aling.  

Pembukaan dan Penutupan

Sudah cukup lama Putu Satria Kusuma tidak bermain sebagai aktor dalam drama-drama yang digarapnya. Namun dalam Cut Cat Cit ini Putu mengambil peran sebagai orang tua. Untuk itulah, pembukaan drama Cut Cat Cit menjadi sangat kuat, karena tak bisa dibantah bahwa aura Putu Satria sebagai aktor memang sangat kuat.

Dari pembukaan yang kuat itu, cerita kemudian mengalir dengan lancar ke berbagai konflik dan kepada klimak demi klimak. Dialog-dialog menarik muncul untuk menjelaskan harmoni dan disharmoni hubungan-hubungan antara manusia dan lingkungannya. Meski  tak sekuat pada dialog orang tua yang dimainkan Putu sendiri, dialog-dialog yang disampaikan manusia dan burung di tengah-tengah permainan bisa dipahami dengan gamblang, justru karena hampir semua dialog itu sesungguhnya terjadi sebagai peristiwa-peristiwa biasa di dunia nyata.

Teater ini ditutup dengan satir yang menyengat. Setelah burung-burung bingung, bersedih, kemudian menerima keadaan diri sebagai burung, drama ditutup dengan seorang perempuan pedagang yang menawarkan topeng burung kepada wisatawan di obyek wisata. Topeng burung bisa saja dianggap sebagai keindahan Bali, keindahan seni-budaya Bali, yang “dijual” dalam dunia pariwisata, meski sesungguhnya keindahan alam dan seni-budaya tak pernah dirawat secara bersungguh-sungguh.  Itu mungkin satu lagi cerita tentang kelucuan manusia. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jelajah Pemanfaatan Rempah dalam Naskah Lontar

Next Post

Rempah dan Hasrat Keabadian | Belajar Rempah Bersama Sugi Lanus di Rumah Intaran

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Rempah dan Hasrat Keabadian | Belajar Rempah Bersama Sugi Lanus di Rumah Intaran

Rempah dan Hasrat Keabadian | Belajar Rempah Bersama Sugi Lanus di Rumah Intaran

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co