24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kecak Perkusi Sebagai Seni Pertunjukan Bali dalam Kemasan Pariwisata

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
September 15, 2021
in Esai
Kecak Perkusi Sebagai  Seni Pertunjukan Bali dalam Kemasan Pariwisata

Foto. Komodifikasi Kostum Kecak Perkusi oleh Sanggar Seni Kebo Iwa [Dokumentasi I Nyoman Mariyana, Tahun 2018]

Kemajuan pengetahuan dan teknologi, menumbuhkan konsep pengembangan budaya dalam konsep industri wisata. Perkembangan seni pertunjukan yang ada juga menjadi simbol dari representasi cara menyajikan dan model pengemasan yang representatif untuk disajika dalam kemasan wisata. Oleh sebab itu, muncul pemikiran bagaimana suatu kemasan seni pertunjukan dapat disajikan dalam momen paket wisata yang dapat menjajinjikan.

Konsekuensi logis adalah bahwa paket wisata bentuk dan mode penyajiannya memiliki ciri yang berbeda dengan kemasan aslinya. Hal ini patut dipertimbangkan mengingat bahwa kemasan wisata bertujuan sebagai kemasan yang disajikan untuk kepentingan sesaat. Pada sisi lain, apabila wisatawan memerlukan kemasan tari tradisional asli sesuai bentuk dan mode penyajiannya disarankan untuk mendatangi tempat atau narasumber tari tradisional yang secara representatif menggali dan melestarikan tarian dimaksud.

Semakin ramainya industri pariwisata, seni tari tampil ke permukaan. Aktivitas seni tari membawa dampak semakin banyaknya frekuensi pentas tari untuk industri pariwisata. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan pasar seiring dengan kebutuhan penyangga sarana wisatawan membutuhkan hiburan. Maka muncullah kreativitas ide gagasan untuk mengkemas seni pertunjukan untuk lebih menarik yang nantinya akan dikonsumsi oleh wisatawan sebagai produk seni wisata.

Paradigma perkembangan wisata dengan keterkaitan seninya, seni tari untuk produk wisata menuntut adanya unitas yang mesti terjadi adanya penyesesuaian diri atas terwujudnya kesatuan sistem. Aspek kehidupan kemanusiaan, kedudukan tari sebagai pelengkap, kredibilitas kebutuhan sesaat, dan produk wisata lebih ditekankan menjadi pertimbangan bentuk dan mode tari dipentaskan.

Pemikiran mendalam, bahwa pertunjukan tari yang bertujuan untuk sesaat tidak memiliki konteks tujuan melepas begitu saja terhadap akar budaya yang dimiliki oleh masyarakat aslinya. Tidak mustahil bahwa kemasan seni tari untuk wisata tidak semena-mena demi kepentingan wisata saja kemudian membuat kemasan produk wisata seadanya. Pandangan ini keliru, ini menjadi salah satu alternatif strategi bagi studi lanjut tentang tari sebagai aset industri wisata ( Arief Eko: 2004, 50-59).

Kontek kepariwisataan dimengerti sebagai pemberdayaan nilai ekonomis melalui sejumlah komuditas. Penambahan penghasilan bangsa banyak digali melalui potensi ini. Pengembangan kepariwisataan secara eksplisit dirumuskan melalui kunjungan wisata dan bagaimana menyajikan kepariwisataannya. Modifikasi memperkenalkan dan medayagunakan potensi sumber wisata untuk peningkatan potensi sumber daya manusia (SDM), kondisi geografis, kondisi budaya menjadi pilihan dan alternatif munculnya industri pariwisata dalam bentuk komoditas kemasan seni tari untuk wisata.

Kemasan industri wisata dalam bentuk tari untuk seni pertunjukan wisata menempatkan tari sebagai obyek wisata. Pemanfaatan tari dikemas berdasarkan kemasan wisata berlatar belakang pada kondisi geografis, kondisi budaya akar budayanya menjadi kunci kemasan wisata tersebut dipentaskan. Alasan tari dipentaskan berdasarkan kondisi geografis dan akar budaya masyarakatnya dengan tujuan bahwa masyaraklat tetap masih memiliki kemasan wisata tari yang ada.

Tradisi yang dipegang sangat erat untuk komoditas kepariwisataan digenre untuk penyajian di depan wisatawan.  Penciptaan karya budaya selalu merupakan penciptaan kembali apa yang telah dicapai dan diendapkan dalam tradisi kebudayaan yang bersangkutan. Dengan demikian masa depan bergantung kepada karya budaya yang dilakukan pada saat ini. Oleh sebab itu kita harus melakukan tindakan pada masa kini untuk menyongsong masa datang agar memiliki corak dan ragam budaya yang menjadi tidak punah.

Sebagai pewarisan tradisi, kesenian Kecak kerap kali kita jumpai pada pertunjukan wisata yang disajikan di depan wisatawan. Pada umumnya konsep penyajiannya masih menggunakan pola-pola tradisional, baik kostum, tema, maupun tata penyajiannya. Namun, berbeda halnya dengan apa yang ditampilkan oleh komunitas Sanggar Seni Kebo Iwa, Kwanji Sempidi, Badung.

Komunitas ini, mampu mengkemas kesenian kecak yang biasa menjadi sebuah pertunjukan Kecak dalam bingkai atau kemasan baru, dengan menggunakan beberapa jenis alat musik perkusi dan tata kostum berbeda dari pertunjukan Kecak pada umumnya. Sebagai bentuk perkembangan penyajian seni pertujukan dalam kemasan baru, kesenian Kecak diinovasi sesuai ide kreatif sang senimannya sebagai produk kreatif dari industri kreatif guna menarik wisatawan dalam bentuk Kecak Perkusi. Hal tersebut menarik untuk dikaji lebih jauh terkait dengan tarian Kecak Perkusi Sebagai  Seni Pertunjukan Bali Dalam Kemasan Pariwisata.

Wujud Industri Kreatif

Seni pertunjukan yang ditampilkan oleh masyarakat Bali merupakan wujud industri kreatif dalam mengembangkan kehidupan berkesenian yang sudah dilakukan secara berkelanjutan. Peranan seni pertunjukan dalam membangun industri kreatif, mengatakan seni pertunjukan pariwisata memiliki kesinambungan untuk pembangunan industri kreatif dalam bidang kesenian (Ruastiti 2005: 32).  

Perkembangan seni petunjukan pariwisata di Bali, pada awalnya dipromosikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1920. Pemerintah Belanda melihat kala itu Bali dianggap kurang memilii potensi ekonomi, namun Bali memiliki kebudayaan yang sangat unik untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata Bali. Semenjak Bali dibuka sebagai daerah wisata, kehidupan masyarakat Bali mulai mengalami perubahan, terlihat dari bidang pendidikan yang diperoleh masyarakat Bali melalui sekolah-sekolah yang dibuka oleh pemerintah Belanda ternyata mulai membuka wawasan masyarakat Bali tentang berbagai hal terkait dengan kehidupan.

Dikutip dari pendapat Piet, pada artikelnya Ruastiti menuliskan bahwa semenjak kedatangan wisatawan ke Bali, masyarakat Bali mulai berfikir waktu adalah uang, artinya semenjak mendapatkan pendidikan, masyarakat Bali mulai berfikir rasional. Ramainya wisatawan berkunjung ke Bali, membuat masyarakat Bali menciptakan sesuatu yang memiliki nilai tukar/komoditi. Komoditi mempunyai nilai ganda, yaitu nilai pakai (use value) dan nilai tukar (exchange value).

Keragaman etnik yang membawa kekayaan budaya tidak ternilai harganya. Hal ini juga ikut menjadi corak ragam budaya yang mempengaruhinya. Oleh sebab itu, dalam memberikan ciri dan bentuk kemasan wisata dari etnik budayanya juga terjadi keragaman yang tidak dapat dipungkiri. Dengan demikian corak budaya dan ragam etnik yang ada menjadi bentuk kemasan wisata yang dapat digunakan sebagai bentuk seni pertunjukan yang dapat digunakan sebagai paket wisata. Industri kreatif adalah bagian dari ekonomi kreatif yang bertujuan untuk upaya mencari pembangunan yang berkelanjutan melalui kreativitas (Ni Made Ruastiti: 2010: 45). Berkaitan dengan hal tesebut, pengkemasan tari kecak menjadi bentuk pertunjukan baru merupakan hasil kreativitas guna memberikan inovasi dalam penjajiannya.

Kecak adalah pertunjukan tarian seni khas Bali yang lebih utama menceritakan mengenai Ramayana dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan “cak” dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.

Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana. Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

Komodivikasi Kecak Perkusi

Pendekatan teori yang digunakan menganalisis penelitian ini adalah teori komodifikasi, Fairclough (1995) yang mengasumsikan kapitalisme memiliki kemampuan mengubah objek, kualitas, dan tanda menjadi komoditas. Komodifikasi dapat melahirkan budaya massa, masyarakat konsumen, atau masyarakat komoditas. Marx dengan fitisisme mengatakan komoditas berasal dari hubungan eksploratif, sebagaimana dikatakan dalam petikan dibawah ini.

 “Commodification is the process whereby social domainsand institutions, whose concern is not producing commodities in the narrower economic sence of goods for sale, come never theless to be organized and conceptualized in term of commodity production, distribution, and consumtion”

 “Komodifikasi merupakan konsep yang luas yang tidak hanya menyangkut masalah produksi, komoditas dalam pengertian perekonomian yang sempit tentang barang-barang yang diperjualbelikan saja, tetapi juga menyangkut tentang bagaimana barang-barang tersebut didistribusikan dan dikonsumsi” (Barker, 2004: 14 dalam Ruastiti, 2005: 517) .

Komodifikasi dapat melahirkan budaya massa. Masyarakat konsumen atau masyarakat komoditas, dan akibat konsumsi massa ini menyebabkan timbulnya budaya konsumen, dan dalam budaya konsumen objek-objek estetik, yaitu kekuasaan capital, kekuasaan produser, dan kekuasaan media massa (Pilliang, 1998: 246).

Karl Mark dan Georg Simmel menyatakan munculnya gejala komodifikasi di berbagai sektor kehidupan masyarakat diakibatkan oleh ekonomi uang yang didasarkan atas spirit (semangat) menciptakan keuntungan sebanyak-banyaknya (Turner, 1992: 155-138 dalam Ruastiti, 2005: 32). Seperti hadirnya seni pariwisata kemasan baru sebagai dampak dari kemajuan jaman dan industri kreatif, yang menuntut manusia untuk kreatif dalam berkreativitas maka penyajian tari Kecak dikomodivikasi sebagai sebuah seni sertunjukan Bali dalam kemasan pariwisata.

Kecak Perkusi adalah sebuah bentuk penyajian pertunjukan Kecak yang dikomodivikasi melalui sentuhan pola garap baru baik dari musikalnya, konstum, tata penjajia, dan inovasi dengan menggunakan ensambel musik perkusi seperti djembe, kendang Bali, ceng-ceng, maupun tektekan (alat musik kentongan dari bambu).  Penyajian tari Kecak Perkusi sebagai inovasi mampu menarik wisatawan untuk ikut terlibat didalamnya. Penyajian Kecak Perkusi mampu menyedot atusias wisatawan.

Foto. Pertunjukan Kecak Perkusi di Jatiluwih, Bali [Dokumentasi I Nyoman M

Barker juga mengatakan bahwa komodifikasi merupakan konsep yang sangat luas dan sangat dinamis. Artinya, tidak hanya berhubungan dengan produksi komoditas tetapi juga berhubungan dengan distribusi dan konsumsi. Produksi dan komoditas merupakan produk daur ulang dari permainan simulasi sehingga terjadi perubahan menjadi produk baru yang semu. Perubahan bentuk baru hasil dari simulasi bersifat komersialisasi penuh dengan hitung-hitungan ekonomi dengan menonjolkan daya tawar untuk meningkatkan nilai jual. Berdasarkan hal tersebut, Kecak diproduksi kedalam bentuk baru dengan seperti yang nampak pada foto di atas. Pengkaburan bentuk dari aslinya mampu membentuk pola pertunjukan pariwisata dalam kemasan ekonomi yang mampu dikonsumsi untuk memenuhi kebutusan pasar.

Komodifikasi dari Bentuk Pertunjukan

Mulanya dalam pertunjukannya, tarian diawali dengan pembakaran dupa, lalu para rombongan pengiring memasuki panggung sambil mengumandangkan kata “cak..cak.. cak”. Kemudian mereka membentuk sebuah barisan melingkar, yang di tengah-tengahnya digunakan untuk menari. Dalam pertunjukan Tari Kecak ini penari memerankan lakon-lakon dalam cerita Ramayana, seperti Rama, Shinta, Rahwana, dan tokoh-tokoh lainnya. Gerakan dalam tarian ini tidak terlalu terpaku pada pakem, sehingga penari lebih luwes dalam bergerak dan fokus pada jalan cerita saja. Kadang-kadang ada juga beberapa adegan lucu yang diperagakan para penarinya. Selain itu beberapa adegan yang atraktif juga ditampilkan seperti permainan api dan atraksi lainnya. hal inilah yang membuat Tari Kecak memiliki kesan sakral namun juga menghibur.

Sebagai komodifikasi dari bentuk pertunjukannya tersebut, komposisi pemainya tidak saja duduk secara melingkar melainkan membuat pola komposisi dengan berpatokan pada jenis alunan melodi cak dan perpaduan yang ada pada bagian-bagian lagu atau komposisi musik yang dimainkan. Bentuk pertunjukannya sangat berbeda dengan bentuk pertunjukan kecak seperti diatas. Cerita tidak lagi berpatokan pada cerita Ramayana atau Sugriwa-Subali namun bisa tanpa lakon atau lebih menonjolkan kreativitas musik cak dan perkusi.

Komodifikasi dari Kostum

Perkembangan tari kecak dari awal terciptanya hingga kini memang bisa dikatakan cukup membanggakan. Selain antusias masyarakat Bali terhadap seni garapan Wayan Limbak ternyata para wisatawan yang berkunjung ke Bali juga sangat tertarik dalam menyaksikan sebuah pertunjukan gerak seni ini. Tak heran jika pemerintah daerah setempat menjadikan tari kecak sebagai salah satu icon kesenian dan kebudayaan daerah.

The Monkey Dance juga diberikan sebagai sebutan tari tradisional Bali yang satu ini. Hal ini diberikan karena salah satu adegan dalam pertunjukan tari tersebut menggunakan properti api serta tokoh utama yang berperan sebagai kera/ Hanoman. Pada awalnya konstum kecak yang dipakai pada pertujukan kecak pada umumnya memakai kostum kecak lelintingan, menggunakan kain yang dilipat sampai atas lutut. Sebagai simbol busana Bali, digunakan kain hitam yang dipadukan dengan kain poleng (hitam-putih) sebagai saput kecak yang dibalut dengan selendang berwarna merah. Sebagai ornamentasi ditambahkan titik putih di bagian tengah kepala, sisi kiri kanan, dan di atas dada. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

Foto. Pertunjukan Kecak dengan Kostum Kecak Biasa [Sumber.http://seputarsenibudaya.blogspot.com/2016/02/se

Sebagai perkembangan dan dampak komodifikasi pada kostum yang digunakan oleh pemain kecak pada penyajiannya, kostum yang digunakan tidak lagi memakai kostum seperti gambar di atas. Komodifikasi dilakukan dengan merubah bagian kontum dengan cara menambahkan beberapa atribut sebagai penunjang estetika. Penggunaan ikat kepala atau udeng juga digunakan pada pemainnya. Mike up juga dikomodifikasikan berbeda dari yang umumnya digunakan. Kostum yang digunakan menyerupai kostum Hanoman. Seperti yang tampak pada gambar berikut.

Foto. Komodifikasi Kostum Kecak Perkusi oleh Sanggar Seni Kebo Iwa [Dokumentasi I Nyoman Mariyana, Tahun 2018]

Komodifikasi dari Penggunaan Alat Perkusi

Di dalam pertujukan kecak pada umumnya, hampir tidak ada alat musik pengiring tari kecak kecuali suara gemerincing serta suara dari para penari yang berbunyi “cak-cak-cak-cak”. Meskipun tidak ada alat musik khusus sebagaimana tarian lain namun justru disini letak keunikan tari tersebut. Musik pengiring dalam tari kecak memang tergolong sangat unik. Karena hampir tidak ada alat musik yang dimainkan guna mengiringi pertunjukan. Musik yang terdengar pada sajian tarian khas dari Bali yang satu ini hanya terdengar dari gemerincing gelang grincingan yang dikenakan oleh para penari.

Sementara suara lain hanya bersumber dari mulut para penari yang seolah saling bersahutan mengucapkan “cak-cak-cak-ke-cak-cak-cak”. Suara yang bersahut-sahutan dan kadang kala kompak membuat nada-nada unik yang sangat menarik utuk didengarkan seiring gerakan tarian yang dilakukan oleh para penari. Suara gemerincing terdengar dari properti tari yang dikenakan oleh para penari khusunya tokoh utama dalam seni pertunjukan khas Bali tersebut. Sebagai komodifikasi dari endambel musiknya, digunakan ensambel musik perkusi seperti djembe, kendang Bali, ceng-ceng, maupun tektekan (alat musik kentongan dari bambu).  Penyajian tari Kecak Perkusi sebagai inovasi mampu menarik wisatawan untuk ikut terlibat didalamnya.

Foto. Kecak Perkusi dengan Alat Perkusi di Ayana Villas Uluwatu Bali

Simpulan

Seni Pertunjukan Pariwisata Bali Kemasan Baru, yang merupakan sebuah konsep “baru” dalam menyajikan seni pertunjukan pariwisata Bali. Konsep baru yang dimaksud dalam hal ini adalah menggabungkan berbagai komponen budaya Bali, antara lain berbagai jenis seni pertunjukan dan prosesi ritual (yang direkayasa) sebagai sebuah seni pertunjukan pariwisata berskala besar, ditinjau dari materi, ruang, maupun durasi penyajiannya. Seni pertunjukan yang melibatkan ratusan orang pelaku disetiap penyajian ini disajikan terkait dengan acara dinner yang ditampilkan secara berkelanjutan dari awal hingga akhir acara.

Karl Mark dan Georg Simmel menyatakan munculnya gejala komodifikasi di berbagai sektor kehidupan masyarakat diakibatkan oleh ekonomi uang yang didasarkan atas spirit (semangat) menciptakan keuntungan sebanyak-banyaknya (Turner, 1992: 155-138 dalam Ruastiti, 2005: 32). Seperti hadirnya seni pariwisata kemasan baru sebagai dampak dari kemajuan jaman dan industri kreatif, yang menuntut manusia untuk kreatif dalam berkreativitas maka penyajian tari Kecak dikomodivikasi sebagai sebuah seni sertunjukan Bali dalam kemasan pariwisata.

Kecak Perkusi adalah sebuah bentuk penyajian pertunjukan Kecak yang dikomodivikasi melalui sentuhan pola garap baru baik dari musikalnya, konstum, tata penjajia, dan inovasi dengan menggunakan ensambel musik perkusi seperti djembe, kendang Bali, ceng-ceng, maupun tektekan (alat musik kentongan dari bambu).  Penyajian tari Kecak Perkusi sebagai inovasi mampu menarik wisatawan untuk ikut terlibat didalamnya. Penyajian Kecak Perkusi mampu menyedot atusias wisatawan. [T]

Daftar Sumber

  • Mudana, I Wayan. Komodifikasi Seni Lukis Wayang Kamasan dalam MUDRA Jurnal Seni Budaya Volume 32, Nomor 1, Februari 2017.p 68 – 80
  • Ruastiti, Ni Made. 2005. Seni Pertunjukan Bali Dalam Kemasan Pariwisata. Bali Manggis Press
  • ———.2010. Seni Pertunjukan Pariwisata Bali Dalam Pesspektif Kajian Budaya. Kanisius
  • http://repo.isi-dps.ac.id/1433/
  • http://seputarsenibudaya.blogspot.com/2016/02/seni-pertunjukan-kemasan.htm
Tags: ISI Denpasarkecakkecak perkusiperkusiseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Meguru Tungguh” & “Meguru Dingdong”, Metode Pelatihan Gending Sekatian di Masa Pandemi

Next Post

“Ngulengang Kayun” untuk Cegah Bunuh Diri

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

“Ngulengang Kayun” untuk Cegah Bunuh Diri

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co