25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kecak Perkusi Sebagai Seni Pertunjukan Bali dalam Kemasan Pariwisata

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
September 15, 2021
in Esai
Kecak Perkusi Sebagai  Seni Pertunjukan Bali dalam Kemasan Pariwisata

Foto. Komodifikasi Kostum Kecak Perkusi oleh Sanggar Seni Kebo Iwa [Dokumentasi I Nyoman Mariyana, Tahun 2018]

Kemajuan pengetahuan dan teknologi, menumbuhkan konsep pengembangan budaya dalam konsep industri wisata. Perkembangan seni pertunjukan yang ada juga menjadi simbol dari representasi cara menyajikan dan model pengemasan yang representatif untuk disajika dalam kemasan wisata. Oleh sebab itu, muncul pemikiran bagaimana suatu kemasan seni pertunjukan dapat disajikan dalam momen paket wisata yang dapat menjajinjikan.

Konsekuensi logis adalah bahwa paket wisata bentuk dan mode penyajiannya memiliki ciri yang berbeda dengan kemasan aslinya. Hal ini patut dipertimbangkan mengingat bahwa kemasan wisata bertujuan sebagai kemasan yang disajikan untuk kepentingan sesaat. Pada sisi lain, apabila wisatawan memerlukan kemasan tari tradisional asli sesuai bentuk dan mode penyajiannya disarankan untuk mendatangi tempat atau narasumber tari tradisional yang secara representatif menggali dan melestarikan tarian dimaksud.

Semakin ramainya industri pariwisata, seni tari tampil ke permukaan. Aktivitas seni tari membawa dampak semakin banyaknya frekuensi pentas tari untuk industri pariwisata. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan pasar seiring dengan kebutuhan penyangga sarana wisatawan membutuhkan hiburan. Maka muncullah kreativitas ide gagasan untuk mengkemas seni pertunjukan untuk lebih menarik yang nantinya akan dikonsumsi oleh wisatawan sebagai produk seni wisata.

Paradigma perkembangan wisata dengan keterkaitan seninya, seni tari untuk produk wisata menuntut adanya unitas yang mesti terjadi adanya penyesesuaian diri atas terwujudnya kesatuan sistem. Aspek kehidupan kemanusiaan, kedudukan tari sebagai pelengkap, kredibilitas kebutuhan sesaat, dan produk wisata lebih ditekankan menjadi pertimbangan bentuk dan mode tari dipentaskan.

Pemikiran mendalam, bahwa pertunjukan tari yang bertujuan untuk sesaat tidak memiliki konteks tujuan melepas begitu saja terhadap akar budaya yang dimiliki oleh masyarakat aslinya. Tidak mustahil bahwa kemasan seni tari untuk wisata tidak semena-mena demi kepentingan wisata saja kemudian membuat kemasan produk wisata seadanya. Pandangan ini keliru, ini menjadi salah satu alternatif strategi bagi studi lanjut tentang tari sebagai aset industri wisata ( Arief Eko: 2004, 50-59).

Kontek kepariwisataan dimengerti sebagai pemberdayaan nilai ekonomis melalui sejumlah komuditas. Penambahan penghasilan bangsa banyak digali melalui potensi ini. Pengembangan kepariwisataan secara eksplisit dirumuskan melalui kunjungan wisata dan bagaimana menyajikan kepariwisataannya. Modifikasi memperkenalkan dan medayagunakan potensi sumber wisata untuk peningkatan potensi sumber daya manusia (SDM), kondisi geografis, kondisi budaya menjadi pilihan dan alternatif munculnya industri pariwisata dalam bentuk komoditas kemasan seni tari untuk wisata.

Kemasan industri wisata dalam bentuk tari untuk seni pertunjukan wisata menempatkan tari sebagai obyek wisata. Pemanfaatan tari dikemas berdasarkan kemasan wisata berlatar belakang pada kondisi geografis, kondisi budaya akar budayanya menjadi kunci kemasan wisata tersebut dipentaskan. Alasan tari dipentaskan berdasarkan kondisi geografis dan akar budaya masyarakatnya dengan tujuan bahwa masyaraklat tetap masih memiliki kemasan wisata tari yang ada.

Tradisi yang dipegang sangat erat untuk komoditas kepariwisataan digenre untuk penyajian di depan wisatawan.  Penciptaan karya budaya selalu merupakan penciptaan kembali apa yang telah dicapai dan diendapkan dalam tradisi kebudayaan yang bersangkutan. Dengan demikian masa depan bergantung kepada karya budaya yang dilakukan pada saat ini. Oleh sebab itu kita harus melakukan tindakan pada masa kini untuk menyongsong masa datang agar memiliki corak dan ragam budaya yang menjadi tidak punah.

Sebagai pewarisan tradisi, kesenian Kecak kerap kali kita jumpai pada pertunjukan wisata yang disajikan di depan wisatawan. Pada umumnya konsep penyajiannya masih menggunakan pola-pola tradisional, baik kostum, tema, maupun tata penyajiannya. Namun, berbeda halnya dengan apa yang ditampilkan oleh komunitas Sanggar Seni Kebo Iwa, Kwanji Sempidi, Badung.

Komunitas ini, mampu mengkemas kesenian kecak yang biasa menjadi sebuah pertunjukan Kecak dalam bingkai atau kemasan baru, dengan menggunakan beberapa jenis alat musik perkusi dan tata kostum berbeda dari pertunjukan Kecak pada umumnya. Sebagai bentuk perkembangan penyajian seni pertujukan dalam kemasan baru, kesenian Kecak diinovasi sesuai ide kreatif sang senimannya sebagai produk kreatif dari industri kreatif guna menarik wisatawan dalam bentuk Kecak Perkusi. Hal tersebut menarik untuk dikaji lebih jauh terkait dengan tarian Kecak Perkusi Sebagai  Seni Pertunjukan Bali Dalam Kemasan Pariwisata.

Wujud Industri Kreatif

Seni pertunjukan yang ditampilkan oleh masyarakat Bali merupakan wujud industri kreatif dalam mengembangkan kehidupan berkesenian yang sudah dilakukan secara berkelanjutan. Peranan seni pertunjukan dalam membangun industri kreatif, mengatakan seni pertunjukan pariwisata memiliki kesinambungan untuk pembangunan industri kreatif dalam bidang kesenian (Ruastiti 2005: 32).  

Perkembangan seni petunjukan pariwisata di Bali, pada awalnya dipromosikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1920. Pemerintah Belanda melihat kala itu Bali dianggap kurang memilii potensi ekonomi, namun Bali memiliki kebudayaan yang sangat unik untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata Bali. Semenjak Bali dibuka sebagai daerah wisata, kehidupan masyarakat Bali mulai mengalami perubahan, terlihat dari bidang pendidikan yang diperoleh masyarakat Bali melalui sekolah-sekolah yang dibuka oleh pemerintah Belanda ternyata mulai membuka wawasan masyarakat Bali tentang berbagai hal terkait dengan kehidupan.

Dikutip dari pendapat Piet, pada artikelnya Ruastiti menuliskan bahwa semenjak kedatangan wisatawan ke Bali, masyarakat Bali mulai berfikir waktu adalah uang, artinya semenjak mendapatkan pendidikan, masyarakat Bali mulai berfikir rasional. Ramainya wisatawan berkunjung ke Bali, membuat masyarakat Bali menciptakan sesuatu yang memiliki nilai tukar/komoditi. Komoditi mempunyai nilai ganda, yaitu nilai pakai (use value) dan nilai tukar (exchange value).

Keragaman etnik yang membawa kekayaan budaya tidak ternilai harganya. Hal ini juga ikut menjadi corak ragam budaya yang mempengaruhinya. Oleh sebab itu, dalam memberikan ciri dan bentuk kemasan wisata dari etnik budayanya juga terjadi keragaman yang tidak dapat dipungkiri. Dengan demikian corak budaya dan ragam etnik yang ada menjadi bentuk kemasan wisata yang dapat digunakan sebagai bentuk seni pertunjukan yang dapat digunakan sebagai paket wisata. Industri kreatif adalah bagian dari ekonomi kreatif yang bertujuan untuk upaya mencari pembangunan yang berkelanjutan melalui kreativitas (Ni Made Ruastiti: 2010: 45). Berkaitan dengan hal tesebut, pengkemasan tari kecak menjadi bentuk pertunjukan baru merupakan hasil kreativitas guna memberikan inovasi dalam penjajiannya.

Kecak adalah pertunjukan tarian seni khas Bali yang lebih utama menceritakan mengenai Ramayana dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan “cak” dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.

Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana. Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

Komodivikasi Kecak Perkusi

Pendekatan teori yang digunakan menganalisis penelitian ini adalah teori komodifikasi, Fairclough (1995) yang mengasumsikan kapitalisme memiliki kemampuan mengubah objek, kualitas, dan tanda menjadi komoditas. Komodifikasi dapat melahirkan budaya massa, masyarakat konsumen, atau masyarakat komoditas. Marx dengan fitisisme mengatakan komoditas berasal dari hubungan eksploratif, sebagaimana dikatakan dalam petikan dibawah ini.

 “Commodification is the process whereby social domainsand institutions, whose concern is not producing commodities in the narrower economic sence of goods for sale, come never theless to be organized and conceptualized in term of commodity production, distribution, and consumtion”

 “Komodifikasi merupakan konsep yang luas yang tidak hanya menyangkut masalah produksi, komoditas dalam pengertian perekonomian yang sempit tentang barang-barang yang diperjualbelikan saja, tetapi juga menyangkut tentang bagaimana barang-barang tersebut didistribusikan dan dikonsumsi” (Barker, 2004: 14 dalam Ruastiti, 2005: 517) .

Komodifikasi dapat melahirkan budaya massa. Masyarakat konsumen atau masyarakat komoditas, dan akibat konsumsi massa ini menyebabkan timbulnya budaya konsumen, dan dalam budaya konsumen objek-objek estetik, yaitu kekuasaan capital, kekuasaan produser, dan kekuasaan media massa (Pilliang, 1998: 246).

Karl Mark dan Georg Simmel menyatakan munculnya gejala komodifikasi di berbagai sektor kehidupan masyarakat diakibatkan oleh ekonomi uang yang didasarkan atas spirit (semangat) menciptakan keuntungan sebanyak-banyaknya (Turner, 1992: 155-138 dalam Ruastiti, 2005: 32). Seperti hadirnya seni pariwisata kemasan baru sebagai dampak dari kemajuan jaman dan industri kreatif, yang menuntut manusia untuk kreatif dalam berkreativitas maka penyajian tari Kecak dikomodivikasi sebagai sebuah seni sertunjukan Bali dalam kemasan pariwisata.

Kecak Perkusi adalah sebuah bentuk penyajian pertunjukan Kecak yang dikomodivikasi melalui sentuhan pola garap baru baik dari musikalnya, konstum, tata penjajia, dan inovasi dengan menggunakan ensambel musik perkusi seperti djembe, kendang Bali, ceng-ceng, maupun tektekan (alat musik kentongan dari bambu).  Penyajian tari Kecak Perkusi sebagai inovasi mampu menarik wisatawan untuk ikut terlibat didalamnya. Penyajian Kecak Perkusi mampu menyedot atusias wisatawan.

Foto. Pertunjukan Kecak Perkusi di Jatiluwih, Bali [Dokumentasi I Nyoman M

Barker juga mengatakan bahwa komodifikasi merupakan konsep yang sangat luas dan sangat dinamis. Artinya, tidak hanya berhubungan dengan produksi komoditas tetapi juga berhubungan dengan distribusi dan konsumsi. Produksi dan komoditas merupakan produk daur ulang dari permainan simulasi sehingga terjadi perubahan menjadi produk baru yang semu. Perubahan bentuk baru hasil dari simulasi bersifat komersialisasi penuh dengan hitung-hitungan ekonomi dengan menonjolkan daya tawar untuk meningkatkan nilai jual. Berdasarkan hal tersebut, Kecak diproduksi kedalam bentuk baru dengan seperti yang nampak pada foto di atas. Pengkaburan bentuk dari aslinya mampu membentuk pola pertunjukan pariwisata dalam kemasan ekonomi yang mampu dikonsumsi untuk memenuhi kebutusan pasar.

Komodifikasi dari Bentuk Pertunjukan

Mulanya dalam pertunjukannya, tarian diawali dengan pembakaran dupa, lalu para rombongan pengiring memasuki panggung sambil mengumandangkan kata “cak..cak.. cak”. Kemudian mereka membentuk sebuah barisan melingkar, yang di tengah-tengahnya digunakan untuk menari. Dalam pertunjukan Tari Kecak ini penari memerankan lakon-lakon dalam cerita Ramayana, seperti Rama, Shinta, Rahwana, dan tokoh-tokoh lainnya. Gerakan dalam tarian ini tidak terlalu terpaku pada pakem, sehingga penari lebih luwes dalam bergerak dan fokus pada jalan cerita saja. Kadang-kadang ada juga beberapa adegan lucu yang diperagakan para penarinya. Selain itu beberapa adegan yang atraktif juga ditampilkan seperti permainan api dan atraksi lainnya. hal inilah yang membuat Tari Kecak memiliki kesan sakral namun juga menghibur.

Sebagai komodifikasi dari bentuk pertunjukannya tersebut, komposisi pemainya tidak saja duduk secara melingkar melainkan membuat pola komposisi dengan berpatokan pada jenis alunan melodi cak dan perpaduan yang ada pada bagian-bagian lagu atau komposisi musik yang dimainkan. Bentuk pertunjukannya sangat berbeda dengan bentuk pertunjukan kecak seperti diatas. Cerita tidak lagi berpatokan pada cerita Ramayana atau Sugriwa-Subali namun bisa tanpa lakon atau lebih menonjolkan kreativitas musik cak dan perkusi.

Komodifikasi dari Kostum

Perkembangan tari kecak dari awal terciptanya hingga kini memang bisa dikatakan cukup membanggakan. Selain antusias masyarakat Bali terhadap seni garapan Wayan Limbak ternyata para wisatawan yang berkunjung ke Bali juga sangat tertarik dalam menyaksikan sebuah pertunjukan gerak seni ini. Tak heran jika pemerintah daerah setempat menjadikan tari kecak sebagai salah satu icon kesenian dan kebudayaan daerah.

The Monkey Dance juga diberikan sebagai sebutan tari tradisional Bali yang satu ini. Hal ini diberikan karena salah satu adegan dalam pertunjukan tari tersebut menggunakan properti api serta tokoh utama yang berperan sebagai kera/ Hanoman. Pada awalnya konstum kecak yang dipakai pada pertujukan kecak pada umumnya memakai kostum kecak lelintingan, menggunakan kain yang dilipat sampai atas lutut. Sebagai simbol busana Bali, digunakan kain hitam yang dipadukan dengan kain poleng (hitam-putih) sebagai saput kecak yang dibalut dengan selendang berwarna merah. Sebagai ornamentasi ditambahkan titik putih di bagian tengah kepala, sisi kiri kanan, dan di atas dada. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

Foto. Pertunjukan Kecak dengan Kostum Kecak Biasa [Sumber.http://seputarsenibudaya.blogspot.com/2016/02/se

Sebagai perkembangan dan dampak komodifikasi pada kostum yang digunakan oleh pemain kecak pada penyajiannya, kostum yang digunakan tidak lagi memakai kostum seperti gambar di atas. Komodifikasi dilakukan dengan merubah bagian kontum dengan cara menambahkan beberapa atribut sebagai penunjang estetika. Penggunaan ikat kepala atau udeng juga digunakan pada pemainnya. Mike up juga dikomodifikasikan berbeda dari yang umumnya digunakan. Kostum yang digunakan menyerupai kostum Hanoman. Seperti yang tampak pada gambar berikut.

Foto. Komodifikasi Kostum Kecak Perkusi oleh Sanggar Seni Kebo Iwa [Dokumentasi I Nyoman Mariyana, Tahun 2018]

Komodifikasi dari Penggunaan Alat Perkusi

Di dalam pertujukan kecak pada umumnya, hampir tidak ada alat musik pengiring tari kecak kecuali suara gemerincing serta suara dari para penari yang berbunyi “cak-cak-cak-cak”. Meskipun tidak ada alat musik khusus sebagaimana tarian lain namun justru disini letak keunikan tari tersebut. Musik pengiring dalam tari kecak memang tergolong sangat unik. Karena hampir tidak ada alat musik yang dimainkan guna mengiringi pertunjukan. Musik yang terdengar pada sajian tarian khas dari Bali yang satu ini hanya terdengar dari gemerincing gelang grincingan yang dikenakan oleh para penari.

Sementara suara lain hanya bersumber dari mulut para penari yang seolah saling bersahutan mengucapkan “cak-cak-cak-ke-cak-cak-cak”. Suara yang bersahut-sahutan dan kadang kala kompak membuat nada-nada unik yang sangat menarik utuk didengarkan seiring gerakan tarian yang dilakukan oleh para penari. Suara gemerincing terdengar dari properti tari yang dikenakan oleh para penari khusunya tokoh utama dalam seni pertunjukan khas Bali tersebut. Sebagai komodifikasi dari endambel musiknya, digunakan ensambel musik perkusi seperti djembe, kendang Bali, ceng-ceng, maupun tektekan (alat musik kentongan dari bambu).  Penyajian tari Kecak Perkusi sebagai inovasi mampu menarik wisatawan untuk ikut terlibat didalamnya.

Foto. Kecak Perkusi dengan Alat Perkusi di Ayana Villas Uluwatu Bali

Simpulan

Seni Pertunjukan Pariwisata Bali Kemasan Baru, yang merupakan sebuah konsep “baru” dalam menyajikan seni pertunjukan pariwisata Bali. Konsep baru yang dimaksud dalam hal ini adalah menggabungkan berbagai komponen budaya Bali, antara lain berbagai jenis seni pertunjukan dan prosesi ritual (yang direkayasa) sebagai sebuah seni pertunjukan pariwisata berskala besar, ditinjau dari materi, ruang, maupun durasi penyajiannya. Seni pertunjukan yang melibatkan ratusan orang pelaku disetiap penyajian ini disajikan terkait dengan acara dinner yang ditampilkan secara berkelanjutan dari awal hingga akhir acara.

Karl Mark dan Georg Simmel menyatakan munculnya gejala komodifikasi di berbagai sektor kehidupan masyarakat diakibatkan oleh ekonomi uang yang didasarkan atas spirit (semangat) menciptakan keuntungan sebanyak-banyaknya (Turner, 1992: 155-138 dalam Ruastiti, 2005: 32). Seperti hadirnya seni pariwisata kemasan baru sebagai dampak dari kemajuan jaman dan industri kreatif, yang menuntut manusia untuk kreatif dalam berkreativitas maka penyajian tari Kecak dikomodivikasi sebagai sebuah seni sertunjukan Bali dalam kemasan pariwisata.

Kecak Perkusi adalah sebuah bentuk penyajian pertunjukan Kecak yang dikomodivikasi melalui sentuhan pola garap baru baik dari musikalnya, konstum, tata penjajia, dan inovasi dengan menggunakan ensambel musik perkusi seperti djembe, kendang Bali, ceng-ceng, maupun tektekan (alat musik kentongan dari bambu).  Penyajian tari Kecak Perkusi sebagai inovasi mampu menarik wisatawan untuk ikut terlibat didalamnya. Penyajian Kecak Perkusi mampu menyedot atusias wisatawan. [T]

Daftar Sumber

  • Mudana, I Wayan. Komodifikasi Seni Lukis Wayang Kamasan dalam MUDRA Jurnal Seni Budaya Volume 32, Nomor 1, Februari 2017.p 68 – 80
  • Ruastiti, Ni Made. 2005. Seni Pertunjukan Bali Dalam Kemasan Pariwisata. Bali Manggis Press
  • ———.2010. Seni Pertunjukan Pariwisata Bali Dalam Pesspektif Kajian Budaya. Kanisius
  • http://repo.isi-dps.ac.id/1433/
  • http://seputarsenibudaya.blogspot.com/2016/02/seni-pertunjukan-kemasan.htm
Tags: ISI Denpasarkecakkecak perkusiperkusiseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Meguru Tungguh” & “Meguru Dingdong”, Metode Pelatihan Gending Sekatian di Masa Pandemi

Next Post

“Ngulengang Kayun” untuk Cegah Bunuh Diri

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

“Ngulengang Kayun” untuk Cegah Bunuh Diri

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co