6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saraswati: Kecantikan Misterius dari Sains dan Seni yang Tidak Ada Habisnya

Krisna Aji by Krisna Aji
August 28, 2021
in Esai
Saraswati: Kecantikan Misterius dari Sains dan Seni yang Tidak Ada Habisnya

Ilustrasi foto by Jayen Photography | Model: Sattvika Pramesti

Dewi Saraswati disebutkan sebagai salah satu simbol keberadaan Tuhan yang hadir dalam sains dan seni. Wanita cantik bertangan empat yang memegang sitar–alat musik petik, teratai, lontar, dan genitri, serta didampingi oleh angsa adalah visualisasi dari Dewi Saraswati. Penggambaran yang mewakili sifat dari sains dan seni di mata manusia. Sains dan seni yang mendampingi manusia dalam menjalani perkembangan peradabannya.

Sains dan seni itu seperti wanita. Wanita yang sangat cantik, lebih tepatnya. Banyak objek lain yang juga indah dan cantik tetapi tidak selengkap kecantikan wanita: misterius serta memikat untuk dikenali dengan lebih dalam. “Misterius” bisa jadi dikarenakan perkembangan dari berbagai peradaban dan kebudayaan yang membuat wanita berada pada posisi yang mengharuskannya untuk lebih sering menyembunyikan perasaan dan kemauannya: membuatnya penuh dengan teka – teki. Teka – teki yang hadir bersamaan dengan kecantikan yang selalu memanggil untuk dipahami. Sama seperti sains dan seni: indah, rumit, misterius, dan membuat penasaran.

Seperti simbol Dewi Saraswati yang menghadirkan seni dan sains secara bersamaan, sains dan seni sejatinya tidak dapat dibicarakan secara terpisah: merupakan satu mata uang dengan sisi yang berbeda. Walaupun secara kasat mata, seni dan sains tampaknya memang memiliki ciri khas yang kontradiktif: seni adalah kreativitas yang lentur sedangkan sains cenderung kaku dan rigid. Tetapi, bagaimana jika pandangan terhadap kedua objek itu diperluas?

Seni–walaupun lentur–memiliki pola – pola yang dapat dijabarkan dengan logika. Sesuatu disebut “indah” karena memiliki alasan walaupun alasan tersebut bersifat induktif dan sangat bergantung pada fenomenologi pengamatnya. Induktif dan fenomenologi yang benar – benar subjektif tentu saja masih dalam ranah sains dan dapat dijangkau dengan logika. Pada akhirnya, logika tersebut menjelma menjadi sebuah konsep yang dapat diturunkan dan diajarkan kepada orang lain dan generasi penerus. Sifat tersebut tentu saja sama dengan sifat sains dan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh praktis: adanya sekolah seni adalah bukti nyata atas pengakuan seni sebagai sains yang dapat dipelajari dan diturunkan.

Lalu, bagaimana dengan sains dan ilmu pengetahuan? Sifat dasar dari sains tentu saja kaku, rigid, dan penuh dengan logika terstruktur yang sangat disiplin. Walaupun demikian, di titik jenuh, ilmu pengetahuan dan sains pun perlu mencari celah kreativitas untuk mengembangkan dirinya. Kreativitas diperlukan untuk mengembangkan algoritma – algoritma lama menjadi algoritma – algoritma baru.

Tanpa adanya kreativitas, tentu saja rumus lama tidak akan terperbaharui, kaku, dan menjadi seperti dogma yang tidak dapat berkembang. Walapun pada akhirnya kreativitas tersebut harus diuji keabsahannya untuk memenuhi kriteria ilmu pengetahuan dan sains yang masuk akal, kreativitas dan imajinasi yang lentur dan serupa dalam mendalami seni sangat perlu dilakukan dalam pengembangan sains terbaru.

Di luar penggambaran wanita cantik, sifat dari sains dan seni dipertegas dengan sitar, lontar, genitri, angsa, dan teratai.

Sitar–alat musik petik–secara lugas menunjukkan adanya unsur seni dan kebudayaan. Musik yang lekat dengan keindahan adalah salah satu seni yang sudah menemani manusia sejak awal peradaban terbentuk. Hal serupa juga ditampilkan dengan lontar–buku–yang secara lugas menjelaskan adanya perkembangan pengetahuan yang ditulis–diceritakan, diajarkan, dan diturunkan dari generasi ke generasi

Selain simbol – simbol lugas yang ada, terdapat pula genitri yang melambangkan sesuatu yang terus berputar dan tidak ada habisnya seperti ciri khas dari proses pembelajaran yang benar. Saat mempelajari sesuatu, seseorang akan menemukan dua paradoks yang hadir secara bersamaan dan memiliki bobot yang sama persis dan membuat putaran menjadi seimbang: “semakin tahu” dan “semakin tidak tahu”. Masalah terjadi jika ketimpangan muncul. Saat pembelajar mendapati dirinya hanya “semakin tahu” tanpa merasakan adanya “ketidaktahuan baru”, maka sejatinya ia sedang terjebak di dalam dogma dan keyakinan yang semu. Dogma bahwa pengetahuan memiliki titik jenuh dan tidak dapat dikembangkan.

Di sisi lain, saat kondisi “semakin tidak tahu” saja yang hadir, maka sejatinya sang pembelajar tidak pernah bergerak dari tempatnya berdiri. Keseimbangan “semakin tahu” dan “semakin tidak tahu” adalah roda yang akan tetap menjaga manusia agar terus berkembang dan berjalan mengarungi semesta. Proses yang terus berjalan tanpa henti akan menjadikan manusia seperti angsa yang bijaksana: dapat memilah makanan di antara lumpur yang kotor. Lebih jauh lagi, kebijaksanaan tersebut akan membuat manusia menjadi indah seperti teratai: memiliki bunga idealisme yang tetap indah dengan cara berkompromi dan hidup dari realita rawa – rawa yang semrawut. [T]

___

Baca esai dan opini lain dari penulis dr. Krisna Aji, SpKJ.

Tags: Hari SaraswatihinduilmuPengetahuansainsSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Balinisasi atau Indonesianisasi Konsep Hindu Bali?

Next Post

Ada Apa dengan Tahu? | Sebuah Kisah Inspiratif dari Niseko, Jepang

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Ada Apa dengan Tahu? | Sebuah Kisah Inspiratif dari Niseko, Jepang

Ada Apa dengan Tahu? | Sebuah Kisah Inspiratif dari Niseko, Jepang

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co