17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

3 Juli, Hari Khusus?

dr. I Ketut Arya Santosa by dr. I Ketut Arya Santosa
July 5, 2021
in Esai
3 Juli, Hari Khusus?

Ilustrasi foto dari penulis

Sabtu 3 Juli 2021, tidak ada perayaan Hari Nasional tertentu. Untuk wilayah Jawa dan Bali, hari itu adalah hari pertama penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang akan dilaksanakan sampai tanggal 20 Juli mendatang. Seharusnya itu adalah hari yang khusus bukan? Setidaknya itulah yang saya pikirkan.

Hari itu saya ada janji dengan 2 orang pasien di Apotik MM, satu pasien kontrol dan satu pasien baru yang dijadwalkan pada jam 3 dan 4 sore. Sebelum itu, ada sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Denpasar yang perlu saya ikuti. Sebelum itu lagi, saya menghadiri sebuah diskusi online bersama 4 orang calon dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR) yang sedang menjalani stase di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Bali tempat saya bekerja.

Kemarinnya saya sempat khawatir, apakah PPKM ini akan menghambat saya untuk pergi ke apotik? Rumah saya ada di sebuah desa di Kabupaten Karangasem, Bali, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Sanur, lokasi Apotik MM. Ada 4 wilayah kabupaten yang saya lewati bersama istri untuk mencapai Sanur, sebuah desa wisata yang merupakan kampung halaman bagi istri saya. Keempat kabupaten tersebut adalah, Karangasem, Klungkung, Gianyar, dan Denpasar itu sendiri. Jalur yang kami lewati termasuk jalur yang sehari-hari cukup padat, karena merupakan jalur provinsi yang dilewati oleh berbagai kendaraan. Truk, bus, minibus, sepeda motor, kendaraan umum maupun pribadi, juga Ambulance. Pemandangan touring motor besar atau beberapa penghobi sepeda di masa pandemi bukan hal yang aneh juga.

Hari ini jalanan tampak agak sepi, sesuai ekspektasi. Ini hari Sabtu, malam minggu, yang identik dengan harinya mencari hiburan di luar rumah, atau pulang kampung, atau jalan-jalan ke kota. Biasanya jalanan lebih padat daripada hari-hari biasanya dan Indomaret juga biasanya ramai pengunjung. Wates, Yehmalet sebuah ikon baru wisatawan lokal, biasanya juga lumayan ramai oleh kunjungan orang yang ingin menikmati kuliner di tepi laut. Tentu saja di area sekitar Pura Goa Lawah, dengan suasana magis dan kuliner makanan laut yang sudah terkenal, juga biasanya ramai. Hari ini, nampak seperti bukan hari sabtu, jika dibandingkan dengan sabtu-sabtu bulan lalu.

Ya, jalan lebih sepi kendaraan, perjalanan kami jadi lebih lancar. Saya ingat suasana di bulan April 2020, ketika pandemi baru berusia satu bulan, lengang. Saya begitu takjub terhadap suasana sepi jalanan, seolah jalanan jadi milik berdua, bareng istri. Di satu sisi ada rasa santai dan menyenangkan ketika tidak harus berkonsentrasi penuh pada kendaraan di sekitar. (Adalah cukup menegangkan ketika konsentrasi berkendara harus dibagi dengan mendengarkan celotehan istri, bukan?) Di sisi lain, saat itu ada rasa gelisah yang tak tergambarkan, bahwa suasana lengang itu adalah tidak normal. Hari ini tidak selengang itu.

Memang Bapak Presiden pernah mencanangkan suatu New Normal, dan Bali khususnya sempat direncanakan akan dibuka kembali untuk pariwisata, pada tanggal 1 Juli 2021, dua hari yang lalu. Ya, Bali sudah mulai membangkitkan diri di masa pandemi, termasuk dalam melaksanakan upacara keagamaan. Beberapa hari kemarin, Pura Goa Lawah, sebuah pura besar di wilayah Kabupaten Klungkung, nampak diramaikan umat Hindu. Sebagian besar, atau bahkan mungkin semua, melaksanakan suatu upacara persembahyangan yang merupakan rangkaian upacara Ngaben, yaitu Nyegara Gunung. Ngaben massal banyak dijalani di Bali, karena sangat sesuai prinsip gotong-royong. Di desa saya, ada sebuah klan yang sudah bersiap Ngaben massal, dengan peserta sekitar 30 kepala keluarga.

Pelaksanaan ajaran Agama Hindu di Bali, menurut saya cukup fleksibel dan mampu mengikuti perkembangan zaman, contohnya ya Ngaben massal ini. Nyegara Gunung adalah salah satu proses yang lazimnya dijalani di 2 Pura besar di Bali, yaitu Pura Goa Lawah yang mewakili laut (segara) dan Pura Besakih yang mewakili gunung. Pada beberapa hari kemarin, Pura Goa Lawah tampak cukup ramai pengunjung, namun Hari ini, itu tidak terjadi. Saya berpikir mungkin karena sudah dilakukan penyesuaian terkait hari khusus ini. Check, saya pikir ini bukti bahwa kami umat Hindu di Bali mampu beradaptasi.

Ternyata jalanan yang lebih sepi juga terlihat saat memasuki jalur bypass menuju Kota Denpasar, baik di wilayah Klungkung, Gianyar maupun Kota Denpasar sendiri. Sangat-sangat lancar, damai, namun pikiran saya agak gelisah, sambil memandang kiri kanan, melirik warung, toko, minimarket, apakah mereka buka seperti biasa. Saya merasa agak lapar, dan juga ingat titipan oleh-oleh untuk anak-anak. Melirik titik yang biasanya dihuni pedagang kakilima, lalu mata tertumbuk pada beberapa orang yang mengais rezeki di lampu merah. Ya, di lampu merah di daerah Padanggalak, KFC Sanur, dan lampu merah setelahnya ada seorang anak menjajakan tissue, seorang bapak menjajakan gantungan kunci, dan ada pula seorang anak yang menadahkan tangan.

Saya berpikir, apakah saya perlu bertanya kepada mereka, apakah adik/bapak sudah divaksinasi? Apakah bapak/adik berbekal hand sanitizer? Tentu saja mereka sudah memakai masker, dan itu bagus. Apakah saya seharusnya menelisik, apakah mereka sudah menerapkan protokol kesehatan dengan ketat? Ataukah saya seharusnya berpikir juga, bahwa setiap orang pun harus introspeksi tentang protokol kesehatan ketat. Termasuk saya, istri saya, anda, siapapun. Dari semua kalangan, tanpa kecuali, tanpa alasan. Tanpa harus memikirkan soal sanksi dan hukuman. Atau konspirasi.

Sebelum ke Apotik, saya sempatkan singgah di sebuah toko buku. Istri saya berjanji membeli novel misteri karya penulis Indonesia untuk anak saya yang berusia 12 tahun. Toko buku ini punya kenangan tersendiri, ketika mengingat masa kuliah dulu, 2001 sampai 2007. Sebuah toko buku alternatif, yang lokasinya bukan di Mall. Toko ini sudah menyediakan tempat untuk cuci tangan di dekat pintu masuknya, pengunjungnya pun tidak banyak, walau tidak ada tulisan di depan, bahwa kunjungan ke toko ini dibatasi. Kami berkunjung hanya sekitar 20 menit, cukup untuk memilih 6 buah buku.

Semoga 2 minggu ini cukup. [T]

Tags: pandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gumi Arig”, Gadung Menjadi Aternatif Survive di Nusa Penida

Next Post

Gangguan Produksi Pangan dari Kebiasaan Buruk | Catatan dari Lukisan Kloni Non Organik

dr. I Ketut Arya Santosa

dr. I Ketut Arya Santosa

Lahir di Ulakan, Karangasem, 9 September 1983. Psikiater RS Jiwa Provinsi Bali

Related Posts

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails
Next Post
Gangguan Produksi Pangan dari Kebiasaan Buruk | Catatan dari Lukisan Kloni Non Organik

Gangguan Produksi Pangan dari Kebiasaan Buruk | Catatan dari Lukisan Kloni Non Organik

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co