26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Ambil Hatimu dengan Tanganku Sendiri

Julio Saputra by Julio Saputra
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Kadek Heny Sayukti

TAK tahukah kau bahwa aku sangat mencintaimu? Ya, aku mencintamu. Sangat mencintaimu. Dan apa kau tahu yang selama ini aku inginkan? Ya, aku ingin memiliki hatimu selamanya. Aku ingin kau menjadi milikku selamanya. Kau dengar? Selamanya. Ya. Selamanya.

Aku harus berterima kasih pada hujan yang membuat kita bertemu, dulu, setahun lalu. Bayangan itu masih sangat jelas. Ya, jelas sekali. Kenangan saat kita pertama kali bertemu, masih selalu tergambar, masih selalu tergambar nyata di mataku.

Malam itu, aku, seorang mahasiswa baru, merasa sangat bersyukur digiring oleh hujan untuk berteduh di beranda toko bunga. Karena, berteduh juga kau, seorang wanita cantik dan manis. Ah, maaf sebelumnya. Mungkin ini sedikit berlebihan. Tapi jujur saja, kaulah wanita termanis dan tercantik yang pernah kutemui.

Aku memberanikan diri menyapamu. Kau tampak sedikit kedinginan. Kau balas menyapaku sambil tersenyum. Tak kuduga. Kau ternyata gadis ramah, ya? Ah, aku masih tak habis pikir, bagaimana bisa kita berdua lupa membawa mantel malam itu? Apa memang jodohmu adalah aku, atau jodohku adalah kau? Mungkin keduanya, ha ha ha.

Sambil bertanya-tanya aku menikmati pertemuan kita saat itu. Kita bercakap-cakap sambil menunggu hujan reda. Percakapan itu, entah apa yang kita percakapkan, bagiku membuat suasana jadi hangat. Udara dingin yang dibawa hujan seperti hilang entah ke mana.

Seandainya saja toko bunga itu tidak tutup, aku akan membelikanmu bunga paling cantik, yang sama cantiknya dengan parasmu. Tapi, jika toko itu buka, tentu kita tak bisa berteduh berdua di berandanya.

Aku bahagia sekali, dan yang paling membuatku bahagia: kau memberiku nomor telepon. Kau memberikannya tanpa ragu. Pertemuan itu merupakan pertemuan paling indah untukku. Pertemuan singkat yang tentu saja tak bisa kulupakan. Apakah kau juga begitu?

Sejak hari itu, aku percaya diri mengirimimu pesan singkat. Kau membalasnya seperti yang aku harap. Ah, betapa senangnya.

Kau ingat, bukan? Awalnya hanya percakapan kita basa-basi, sampai akhirnya kita mulai membicarakan diri kita masing-masing. Ya, kita mencoba mengetahui diri masing-masing. Mengenal lebih dalam, dan lebih dalam lagi. Terkadang kita juga membicarakan hal konyol. Bergosip seperti pasangan lain. Terkadang juga aku meneleponmu sampai beratus-ratus ribu pulsa kuhabiskan. Aku benar-benar gila karenamu.

Aku juga tak akan lupa pertama kali kita jalan bersama. Saat itu, sungguh, aku sudah menganggapnya sebagai kencan pertama. Apa kau juga begitu? Semoga saja.

Kita pergi berdua ke pantai yang paling terkenal di kota itu. Tentu saja pantai itu adalah tempat yang indah untukku. Dan menjadi tambah indah karena hadirmu. Ya, karenamu, duniaku menjadi semakin indah. Indah sekali.

Aku ingat sekali, saat berjalan menyusuri pantai, debur ombak bersuara seperti bersorak riang untuk kebersamaan kita. Iya, aku merasa begitu. Apa kau juga sama?

Aku juga tak lupa dengan kepiting-kepiting kecil yang tiba-tiba keluar dari lubangnya saat kita berjalan. Mereka seperti menyambut dengan senang hati kebersamaan kita. Oh iya, aku harap kau juga merasa begitu. Pasti akan terasa sangat membahagiakan

Hidupku berubah karenamuu. Iya, karenamu. Aku tersenyum sepanjang waktu setiap teringat kau. Hari-hari pun terasa sangat singkat saat bersamamu. Kaulah motivasi bagiku untuk menjadi diri lebih baik. Ya karena aku ingin menjadi hati untukmu dan aku harus menjadi hati yang terbaik bagimu. Dan aku juga ingin memiliki hatimu selamanya.

Sekali lagi kukatakan, hari-hariku terasa saat singkat saat bersamamu. Setahun sudah tak terasa. Cepat sekali. Kita sudah sangat dekat dan mesra. Sama seperti pasangan-pasangan dimabuk asmara lainnya. Kita seperti sudah dalam status berpacaran saja, ya? Aahh, aku menganggapnya begitu, apa kau juga sama? Haha. Aku penasaran.

Kalau begitu aku harus “menembakmu”. Iya, memintamu menjadi pacarku. Ah, bukan pacar. Langsung saja menjadi pendamping hidupku. Aku sudah merasa sangat bahagia. Aku juga merasa kita sangat pantas. Setahun sudah cukup bagiku. Ahhh, aku benar-benar tak sabar untuk mendengar kau  menerima lamaranku.

Oh ya, kau harus tahu, suatu malam aku membeli bunga paling cantik di toko bunga yang pernah kita datangi untuk berteduh. Aku juga membeli sebuah cincin berlian lengkap dengan kotak kecil beludru warna merah. Seperti yang kerap kulihat di film-film drama romatis.

Kau pasti akan sangat kaget dan sedikit tidak percaya aku bisa romantis seperti itu. Tunggu dulu, tentu saja itu romatis bukan? Aku semakin tidak sabar menemuimu untuk mengucapkan kata-kata yang sudah kusiapkan dengan sangat sempurna.

Aku bergegas menuju rumahmu. Berjalan kaki. Tentu saja aku punya alasan kenapa aku berjalan kaki ketimbang naik sepeda motor. Supaya bunga-bunga cantik yang kubeli tidak rusak diterpa angin. Haha, aku pintar bukan? Tentu saja. Bunga-bunga untukmu harus masih terlihat segar, cantik, dan menawan.

Di sepanjang jalan menuju rumahmu aku selalu tersenyum. Aku tak henti-hentinya membayangkan masa depanku bersamamu. Berapa anak yang akan kita punya? Ke mana kita akan liburan setiap hari jadian kita? Ah, aku juga membayangkan setiap hari akan mengecup keningmu di setiap bangun tidurmu. Haha, aku benar-benar bahagia.

Nah, bagian ini kurasa harus kuceritakan dengan sedikit berbisik kepadamu. Kau harus tahu bahwa aku sangat mencintaimu dan kau harus tahu aku ingin memiliki hatimu dan juga sebaliknya. Dan yang paling harus kau tahu, aku melihatmu bersama lelaki lain di teras rumahmu malam itu. Ya, saat aku sampai di depan rumahmu.

Kau pasti bertanya kenapa kau tak menyadari kedatanganku? Apa kau benar-benar tidak sadar? Ah, mungkinkah karena kau sibuk bercumbu dengannya. Aku bisa menyaksikan betapa lenturnya lidahmu beradu dengan lidahnya. Pasti nikmat sekali bukan?

Aku tak habis pikir, kenapa kau tega melakukan itu? Kebahagiaanku sirna tiba-tiba. Angan-angan indahku entah lari ke mana. Sekarang, kau malah mencari pembenaran bahwa kita tidak berada dalam hubungan yang resmi. Dan kau berkata bahwa aku terlalu mengharapkan sesuatu yang hanya ada dalam bayang-bayang.

Ah, maaf sekali, Sayangku, aku sudah terlanjur membunuh lelakimu kemarin. Pembunuhan ini sudah kurencanakan sejak malam itu. Apa? Kau berkata aku tak punya hati? Benar, hatiku sudah hilang. Hatiku sudah hancur ditikam dustamu. Apa kau tahu? Aku selalu ingin memiliki hatimu selamanya.

Aku ingin hatimu menjadi milikku selamanya. Dan sekarang, di tengah hujan yang pernah mempertemukan kita dulu, sebelum aku benar-benar mengambil hatimu dengan tanganku sendiri, apa ada yang ingin kau katakan? Jika tidak, aku bisa langsung mulai. Aku mulai, Sayang. Aku ambil hatimu, dengan tanganku sendiri. (T)

Tags: Cerpen
Share39TweetSendShareSend
Previous Post

Di Mana Kertha Gosa, Di Mana Pengadilan Agama dan Adat itu Kini?

Next Post

Muhammad Daffa# Pada Usia 17 Tahun, Menanti Musnah

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

Muhammad Daffa# Pada Usia 17 Tahun, Menanti Musnah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co