24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

EURO 2020 | Membayangkan Apa Kira-Kira Diobrolkan Ronaldo, Mbappe, Kane dan Kawan-Kawan?

Komang Adnyana by Komang Adnyana
June 11, 2021
in Esai
EURO 2020 | Membayangkan Apa Kira-Kira Diobrolkan Ronaldo, Mbappe, Kane dan Kawan-Kawan?

Foto-foto diambil dari Google

Akhirnya, setelah tertunda setahun, EURO 2020 dimulai, Sabtu 12 Juni 2021 dini hari. Lalu bayangkan, anda duduk di salah satu tempat, dekat salah satu venue pertandingan yang tersebar di beberapa negara, sebut saja di sebuah restoran dan melihat beberapa bintang-bintang sepakbola dunia itu berkumpul beberapa hari jelang turnamen. Apa yang kira-kira ingin anda dengar? Apa yang kira-kira mereka bicarakan di tengah pentas akbar sepakbola antar timnas Eropa ini yang juga menemukan paradoksnya di tengah masa pandemi?

***

Restoran itu tak kecil, namun tak begitu besar-besar amat. Kante, sudah ada disitu lebih dulu, di salah satu meja. Dengan senyumnya yang seperti biasa, lebar, dan sederhana. Mobil mini coopernya terparkir di luar. Dia tak sendirian, ada rekan senegaranya di Prancis, Mbappe. Anak muda, penyerang ajaib. Kante duduk, memandang ke luar jendela, saat deruan sebuah mobil sport terdengar nyaring. Ronaldo, dengan gaya rambut perlentenya yang khas, keluar dari mobil. Melangkah dengan gagah. Mbappe menoleh, dan tersenyum.

“Wah, wah, sudah lama kalian?” Ronaldo menyapa keduanya.

“Lumayan,” Mbappe menjawab, sambil melirik minuman di gelasnya.

Kante hanya tersenyum. Menyambut dengan mempersilahkan duduk.

“Aha, ini dia jagoan kita! Aku melihatmu di Liga Champions!” Seru Ronaldo, kepada Kante. Tumben dia memuji. Bahkan dengan Messi saja dia dulu seringkali jutek.

“Tapi bisakah kau menghentikan aku nanti?” Belum juga duduk, Ronaldo sudah menunjuk Kante. “Bagaimana kira-kira?”

Kante lagi-lagi tersenyum, dengan sederhananya. “Kita lihat saja nanti.” Dalam benak Kante, dia membayangkan Ronaldo dan timnya Portugal, belum lagi Jerman, lalu ada Hungaria. Grup F memang grup maut. Pikirnya. Bagaimana Prancis bisa lolos?

“Wah, kita akan beradu cepat nanti ya?” Ronaldo melirik Mbappe, lalu menepuk punggungnya. Si pemuda menatapnya balik. Sumringah. Ada gosip yang bilang Ronaldo akan bergabung ke klubnya sekarang, PSG. Sebaliknya dia pindah ke Madrid. Tapi begitulah sepakbola.  

“Ah, iya. Iya. Pastikan juga Ruben Dias siap siaga.” Mbappe menjawab dengan tak kalah percaya diri. Dias yang dimaksud tentu saja rekan setim Ronaldo. Yang baru saja meraih gelar Liga Inggris bersama Manchester City. Bek tangguh yang dikalahkan klub Kante, Chelsea di final Liga Champions. Tapi Mbappe juga tahu, Portugal tak cuma Ronaldo dan Dias, ada Bernardo Silva, ada Joao Felix, ada Bruno Fernandez, ada Diego Jota. Ditambah status mereka sebagai juara bertahan.

Tapi Prancis adalah juara dunia 2018. Mereka tak kalah kuat. Mereka sudah membuktikannya tiga tahun lalu. Tim ini sedang menemukan momentum. Mbappe meneguk minumannya. Anak muda ini menahan dirinya. Meski banyak pujian mengatakan dialah suksesor persaingan mega bintang sepakbola dunia di tahun-tahun mendatang, setelah selama ini selalu saja didominasi oleh duel Ronaldo dan Messi.

Ronaldo merapikan rambutnya. Lalu memesan minuman. Dia menaikkan kakinya. Pandangannya beralih ke areal parkir. Satu persatu bintang-bintang lainnya berdatangan. Muller, si anak hilang dari Jerman yang kini masuk timnas lagi, muncul bersama rekan setimnya Kroos, Werner, dan Serge Gnabry, pemuda yang pantas diperhatikan dari Tim Panser di turnamen kali ini.

Ada juga Harry Kane, bersama Mount dan Phoden. Anak-anak Inggris ini turun dari satu mobil yang sama. Dan ternyata tanpa Jude Bellingham, anak muda yang juga disebut-sebut harus diperhatikan di turnamen ini. Disusul kemudian oleh Hazard, Lukaku dan De Bruyne, rombongan skuad Belgia. Berikutnya berdatangan bintang-bintang matador, Spanyol, Thiago, Ferran Tores, dan Morata.

Sorak sorai mewarnai pertemuan itu. Restoran seketika gaduh. Beberapa beradu kepalan tangan, beberapa hanya saling tunjuk, beberapa duduk berdekatan, tapi tentu, dengan standar prokes. Lalu minuman pun dipesan. Pelayan mulai sibuk. Di luar, angin sore cukup sejuk. Pohon palma menjulang tinggi dengan daunnya yang lebar-lebar.

Obrolan-obrolan kecil dimulai. Berkelompok-kelompok kecil. Lalu saling menimpali. Saling menyahuti. Tak ketinggalan juga saling mengejek. Tiba-tiba Mount menjadi pusat perhatian dengan gurauannya.

“Hai, Kroos, masihkah kau tidak kehilangan tidurmu setelah kalah di Liga Champions?” Mount terkekeh. Dia ingat postingan Kroos sebelum semifinal Liga Champions yang bilang dia tak pernah tak bisa tidur terkait dengan sepakbola, meski kalah sekali pun.

“Ha…ha. Aku tak pernah sampai tak bisa tidur. Tetap demikian. Tak akan pernah.” Kroos bicara begitu sambil melirik Kante, orang yang menghentikan lini tengah Madrid ketika itu. Kroos sudah kenyang prestasi, dia sudah pernah merasakan berbagai gelar di level klub maupun bersama timnas, sewaktu Jerman sedang moncer-moncernya.

“Jerman lagi regenerasi. Lihat saja. Bisa saja kita akan berjumpa di fase knockout. Itu pun kalau Inggrismu bisa lolos.” Kroos tentu saja masih ingat, sebagai juara bertahan, Jerman bahkan sudah angkat koper di fase penyisihan grup Piala Dunia tiga tahun lalu. Dia tak mau hal itu terjadi lagi.

“Apakah tropi akan pulang ke Inggris?” Tiba-tiba, Modric, si gelandang kreatif veteran dari Kroasia nongol di depan pintu. Kehadirannya disambut mereka-mereka yang sudah ada di dalam.

“Football is coming home?” Yang lain kemudian menimpali pertanyaan Modric. Tawa dan ejekan tumpah ruah. Iya, iya, semua orang tentu ingat, Inggris sudah tidak pernah menjuarai turnamen besar sejak 1966. Seruan football coming home di Piala Dunia tiga tahun lalu hanya berhasil membuat The Three Lions jadi semifinalis, dikalahkan Modric dan timnya di semifinal.

Lalu Mount menunjuk-nunjuk Foden dan Kane. Kane mengangkat minumannya. Tak diragukan lagi Kane adalah striker hebat. Di Rusia tiga tahun lalu, dia meraih Sepatu Emas sebagai pencetak gol terbanyak. “Menyenangkan kalau sepatu emas itu bisa kusandingkan dengan tropi. Bukankah semifinal dan final akan di Wembley? Football is coming home mate!” Seru kane, merujuk Wembley, kandang kebesaran Inggris.

Yang segera ditanggapi dengan senyum kecut oleh Ronaldo. Di usianya yang ke-35 sekali pun, naluri membunuhnya di depan gawang masih amat brutal. Lalu yang lain menoleh Mbappe. Yang lain lagi menoleh Lukaku. Harusnya ada satu lagi yang mereka toleh kalau omong-omong soal pencetak gol terbanyak.

“Dimana Lewandowski? Apakah dia tidak datang. Ah, sayang sekali!” Lukaku mengeluh.

“Apa itu berarti kau tidak menghitung dirimu sendiri?” Thiago, si gelandang Liverpool dan Spanyol yang dianggap sebagai penerus Iniesta ini menyela. Di Grup E nanti, Lewandowski dan timnya Polandia adalah salah satu lawan Spanyol. Tentu, Thiago dapat merasakan ancaman Lewandowski pada lini belakang mereka. Musim ini saja mantan rekan setimnya di Munich itu mencetak 41 gol di Bundesliga, yang berhasil mematahkan rekor 49 tahun Gerd Muller.

Lukaku menarik napas. Dia melirik rekan setimnya, Hazard dan De Bruyne. Hazard seperti tenggelam di Madrid, sejak pindah dari Chelsea dua tahun lalu. Sinarnya meredup. De Bruyne? Selalu moncer bersama City, tapi barangkali dia masih sedikit sensitif. Meski juara Liga Inggris, dia kalah di Liga Champions. Tapi Lukaku tentu tidak lupa Belgia tidak hanya punya mereka, ada Mertens dan gelandang Youri Tielemans, meski harus diakui lini pertahanan mereka cukup menua. Dan harus diakui pula, inilah kesempatan terakhir bagi tim Belgia yang disebut-sebut sebagai Golden Generations untuk benar-benar berprestasi. Beruntung di fase grup mereka hanya akan menghadapi Denmark, Rusia dan Finlandia.

 “Kau mencetak banyak gol dan membawa Inter juara musim ini. Tenang saja. Rileks. Kau bisa saja lebih bagus dari Lewandowski,” seru Hazard.

“Iya, iya. Ingat Lewandowski tiga tahun lalu?” seru yang lain. Merujuk Piala Dunia di Rusia

“Betul. Bahkan Lewandowski tak mencetak satu gol pun. Tak satu gol pun! Padahal hanya melawan Senegal, Kolombia dan Jepang!”

Komentar itu disambut tawa yang lain. Ada yang terpingkal-pingkal, ada yang tersenyum satir, ada yang menertawakan entah apa.

“Jadi tak adakah tim yang bisa bergantung pada satu pemain di sepakbola kita sekarang? Tak bisakah?” Muller menengahi. Pesepakbola ini sudah dicoret dari timnas Jerman sejak performa buruk di Piala Dunia, dan kini Joachim Loew memanggilnya kembali. Tentu, dia punya pembuktian khusus.

“Hei, Ronaldo! Kenapa kau diam saja!” Kroos tiba-tiba menyenggol Ronaldo, mantan rekannya di Madrid dulu.

“Kau pikir Portugal juara 2016 lalu karena siapa, hah?” Kroos kembali melemparkan pertanyaan ke semuanya, sekaligus bernada menyindir.

Ronaldo seperti masih berpikir. Dia hanya senyum-senyum. Gelasnya sudah kosong. Dia melambaikan tangan kepada pelayan. Seorang gadis muncul dari belakang meja bar, membawakannya minuman.

Ronaldo barangkali tengah menimbang, Portugal, dengan beberapa pemain bintang lain di timnya, masih sangat ketergantungan pada dirinya. Kalau Kante bisa mematikannya, kalau Kroos dan rekan-rekannya bisa mematikannya di fase grup nanti, apakah teman-temannya yang lain bisa bermain sebagaimana mestinya dan menghentikan ketergantungan itu?

Bisakah Portugal meladeni kedalaman skuad Prancis? Disitu ada Griezmann, disitu ada Pogba, ada Varane. Dan masih banyak lagi. Dan prestasi sebuah negara kerap kali mengikuti siklus generasinya. Ingat Spanyol yang mondominasi semua turnamen dari 2008 sampai 2012, lalu babak belur dan perlu regenerasi. Ingat juga Jerman yang juara dunia pada 2014, menembus semifinal euro 2016, lalu terpuruk lagi. Mungkinkah ini momen bagi Prancis?

Setelah meneguk minumannya, alih-alih menjawab soal itu, dia malah bertanya. “Eh, Morata, kok tidak ada pemain Madrid di skuad Spanyol?” Morata yang ditanya begitu tampak kaget.

“Kenapa kau bertanya padaku?” Morata menjawab sekenanya. Melemparkan camilan di meja.

“Apa kau pikir karena kita sama-sama di Juventus aku akan membocorkan konflik internal di negaraku? Hah?” Morata kembali melemparkan camilan ke arah Ronaldo, dan dalam sepersekian detik Ronaldo sudah bangkit, mengayunkan kakinya dengan cantik, dan seketika camilan berbentuk roti bulat itu sudah melesak tepat masuk ke tong sampah yang tegak berdiri di sudut ruangan.

Edan! Seluruh bintang di restoran itu bertepuk tangan. Ronaldo melakukan selebrasi ala binaragawan, sebagaimana yang kerap ditunjukkannya di lapangan.

Restoran kembali bergemuruh. Suara meja diketuk tak henti-henti. Suara gelas beradu berdenting. Entah kenapa, tak ada pemain Italia disitu. Mungkin mereka lagi sibuk. Mungkin mereka fokus berlatih. Italia sedang memasuki era baru setelah hanya sanggup sampai di perempatfinal Euro 2016, lalu bahkan tak lolos ke Piala Dunia 2018. Tiga tahun terakhir Roberto Mancini sedang melakukan perubahan.

“Aku rindu Chiellini. Bonucci juga,” lalu Morata tiba-tiba menjadi melankolis.

Giliran Thiago yang memercikinya dengan minuman. “Bukankah kalian sama-sama di Juventus, jangan lebay!”

“Ada Turki juga disitu. Tim kuda hitam. Tapi sungguh, tiba-tiba aku rindu Van Dijk,” giliran Thiago yang melankolis, mengingat bek tangguh, teman satu timnya di Liverpool, yang masih cedera.

Lalu satu persatu bintang-bintang itu melemparinya.

“Tidak bisakah kalian menjauhkan sentimen klub disini? Beruntung Belanda tanpa Van Dijk, jadi seandainya kami bertemu mereka entah di fase apa, bisa lebih mudah. Bukan begitu?” Tiba-tiba Werner berseru. Anggap saja Belanda jadi juara Grup C, lalu Jerman bisa lolos ke 16 besar dengan mengandalkan status sebagai peringkat ketiga terbaik di Gruf F saja misalkan, tentu saja pertemuan itu tak bisa dihindari.

“Iya, iya, iya. Sebaiknya kau perbaiki dulu finishing-mu yang buruk itu. Ha..ha…ha.” Kroos mendekati Werner, mengusap kepala juniornya itu.

“Hah…tidakkah ada diantara kalian yang mau bahas Covid?” Ronaldo mengejutkan rekan-rekannya.

Kante hanya tersenyum.

Yang lain melongo. Covid?

“Apa yang harus dibicarakan dari Covid? Bukankah semua sudah mengetahuinya?” yang lain menimpali.

“Apa yang harus dikatakan lagi?”

“Apakah kita harus berlutut sebelum kick off?” kembali muncul pertanyaan.

“Bukankah sudah ada tim yang menolak?”

“Perlawanan antirasisme yang tidak mempan!”

“Kenapa?”

“Kenapa?”

“Aku rindu penonton!”

“Aku rindu kegaduhan!”

“Aku rindu mereka yang di tribun!”

“Siapakah diantara kita yang akan jadi juara?”

“Iya.”

“Siapa ya?”

“Aku takut tiba-tiba positif!”

“Aku juga.”

“Aduh!”

“Astaga!”

Restoran itu masih gaduh. Angin tetap sejuk di luar. Bayangan pohon palma di rerumputan sudah memudar. Seolah mempersilahkan siapa saja melanjutkan obrolan ini sendiri-sendiri, di kepalanya masing-masing. Dengan bayangannya masing-masing.

***

Ah, saya termasuk salah satu yang membayang-bayangkan obrolan itu. Tak ada restoran. Tak ada pelayan, tak ada minuman, tak ada suara gaduh, tak ada percakapan-percakapan. Bukankah idola dan tim kesayangan kita, juga ideologi-ideologinya, lebih sering merasuk ke kepala kita? [T]

Tags: EURO 2020olahragasepakbolaulasan sepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bincang-Bincang Kecil Proses Menulis | Resah Penulis Sastra di Singaraja

Next Post

Anjing Mana yang Akan Kau Beri Makan? | Cerpen Kadek Indra Putra

Komang Adnyana

Komang Adnyana

Penikmat cerita, yang belajar lagi menulis cerita.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Anjing Mana yang Akan Kau Beri Makan? | Cerpen Kadek Indra Putra

Anjing Mana yang Akan Kau Beri Makan? | Cerpen Kadek Indra Putra

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co