2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ngusaba Kadasa” ala Desa Kedisan | Dimulai Yang Muda, Diselesaikan Yang Muda

IG Mardi Yasa by IG Mardi Yasa
April 10, 2021
in Khas
“Ngusaba Kadasa” ala Desa Kedisan | Dimulai Yang Muda, Diselesaikan Yang Muda

Suasana upacara ngusaba kadasa di Desa Kedisan, kintamani, Bangli

Kadasa dalam  Bahasa Jawa Kuna disebut sebagai istilah waisaka massa, yang  jatuh pada bulan Maret–April. Dalam perhitungan Bali bahwa pada bulan Maret–April disebut sebagai sasih kadasa  atau bulan kesepuluh. Dalam sasih kadasa ini banyak Desa Adat yang melaksanakan Piodalan. Salah satunya Desa Adat Kedisan di wilayah Kintamani, Bangli.

Desa Adat Kedisan dalam melaksanakan  ngusaba kadasa  sangat berbeda dengan desa-desa yang lain.  Saya sebagai warga Desa Adat Kedisan sangat merasakan perbedaan itu. Perbedaannya terletak pada ritual acaranya. Ritual dimulai oleh deha truna (kawula muda) dan muput-nya juga oleh deha truna.

Sebelum ngusaba kadasa digelar terdapat sejumlah rangkaian upacara lain. Misalnya ngusuba embah/piodalan Ida Bhatara Bujangga Sakti tudak luah. Dari sana diberlakukan upacara ngempet.

Ngempet intinya sebuah upacara sebagai penanda atau simbol penting bahwa deha truna Desa Adat Kedisan dilarang menikah sebelum melakukann sebuah upacara ngerebeg. Upacara ngerebeg dilaksanakan pada tileming sasih jaista.

Upacara ngerebeg diikuti oleh daha truna dengan mengelilingi desa sebanyak tiga kali dimulai dari Pura Desa/Bale Agung, Pura Dalem Pingit, dan Pura Puseh. Sebelum acara ngerebeg dilakukan dahulu acara maprani. Acara maprani diikuti oleh Krama Desa Adat Kedisan yang jumlahnya 185 KK dengan menggunakan sistem tegak.

Suasana upacara ngusaba kadasa di Desa Kedisan, Kintamani, Bangli

Upacara ngusaba kadasa di Desa Kedisan dilaksanakan setiap tahun. Setiap dua tahun sekali upacara ngusaba kadasa dilengkapi dengan upacara ngantukang. Ngantukang dilakukan untuk mengganti penyungsung Ratu Wayan dan Ratu Ketut. Upacara ngusaba kadasa yang disertai dengan ngantukang dilaksanakan selama tujuh hari yang bertempat di Pura Dalem Pingit.

Dipuput oleh Deha Truna

Ngusaba kadasa di Desa Kedisan adalah ngusaba yang dilakukan dalam kurun waktu tiga hari atau bisa sampai tujuh hari. Sesuai dresta Desa Kedisan, warga yang memiliki andil terpenting dalam upacara itu adalah deha truna. Dari awal mulai ngusaba sampai akhir deha truna yang memiliki andil terpenting dalam menyelesaikan upacara.

Dalam sebuah pembagian ayah-ayahan (tugas), deha truna mendapatkan ayah-ayahan yang amat penting untuk dilaksanakan. Karena deha truna mendapatkan tugas untuk membuka upacara dan mengakhiri upacara.  Deha truna menjadi ujung tombak dari keberhasilan upacara ngusaba kadasa.

Selain deha truna, semua elemen masyarakat tentu saja diikut sertakan dalam menyelesaikan sebuah upacara. Namun, yang terpenting sekali adalah deha truna. Bahwa deha truna–lah yang bisa muput upacara karena mereka dianggap sebagai abdi serta tulang punggung Desa Adat Kedisan.

Deha truna sebagai pemuput, artinya tidak muput seperti pemangku ataupun sang dwijati. Akan tetapi, deha truna muput dengan menggunakan sebuah mantra yang terdapat di dalam hati dan tidak menggunakan bajra dan segala macamnya.

Dan dalam persembahyangannya tidak menggunakan bunga pacar atau bunga yang mudah kita temukan di pasar atau di warung-warung.  Bunga yang digunakan hanyalah bunga tunjang langit.  Dalam muput, para deha truna melakukannya bersama linggih dane Jro Peduluan Desa Adat Kedisan. 

Suasana upacara ngusaba kadasa di Desa Kedisan, kintamani, Bangli

Sebagai Ajang Pemuliaan Desa

Upacara ngusaba Desa Adat Kedisan adalah sebagai pemuliaan desa. Tepat sehari sebelum acara makiis atau upacara pemuput yang dilakukan oleh deha truna, linggih dane jro peduluan diikuti oleh pengayah lainnya mempersiapkan sarana yang akan digunakan untuk makiis dan sarana yang dihaturkan pada saat itu.

Sebelum acara tersebut dimulai didahului dengan acara mendak (menjemput) Ratu Puseh. Yang konon Ratu Puseh sebagai pamuput acara ngusaba kadasa secara niskala yang sakala-nya di-puput oleh deha truna. Setelah mendak Ratu Puseh dilakukan upacara mamando. Dimana mamando ini diikuti oleh 185 KK yang didahului dengan mengelilingi Pura Dalem Pingit sebanyak tiga kali dan dilangsungkan menuju Pura Dalem Kahuripan.

Setelah upacara mamando dilaksanakan sebuah upacara nyolahang (menarikan) Ratu Keker. Dimana yang menyolahang tersebut adalah seorang Jro Kubayan. Pada saat Jro Kubayan nyolahang Ratu Keker menggunakan gelungan yang terbuat dari ental, kerikan kayu tulak, daun andong, dan lumut kayu.

Pada saat nyolahang tersebut diikuti oleh Jro Paduluan dan Jro Dangka ke cabang desa. Dimana ketika upacra nyolahang  Ratu Keker diikuti dengan sapaan “baas barak baas putih, nyen negak ia sugih. Dari sapaan itu, dapat saya ketahui bahwa jro peduluan berseta pengayah sedang meminta anugrah kepada bhatara agar di Desa Kedisan tidak kekurangan sandang, pangan, dan papan. Karena dapat saya lihat bahwa dari atribut yang digunakan oleh Jro Kubayang adalah semuanya alami bahkan mudah didapatkan.

Suasana upacara ngusaba kadasa di Desa Kedisan, kintamani, Bangli

Besoknya digelar upacara ngelurang atau makiis. Dimana makiis yang bertujuan untuk melebar semua sarana yang digunakan dalam upacara ngusaba kadasa. Pada saat makiis ini Jeo Kubayan mucuk membawa satu pohon pisang yang bernama biu kayu yang diukir menyerupai Naga Basukih. Naga Basukih konon seekor naga yang mampu memberikan kemuliaan. Dari sanalah saya berasumsi bahwa upacara ngusaba kadasa yang digelar adalah sebagai ajang untuk kemuliaan desa beserta isinya.

Pada ngusaba pun digelar upacara matetanduran. Yang mana matatanduran ini adalah pica (anugerah) dari Ratu Wayan dan Ratu Ketut. Dengan mendapatkan pica ini diharapkan bahwa di Desa Kedisan tidak kekurangan sandang pangan dan papan. Selain itu, dengan pica ini diharapkan bahwa Desa Kedisan mendapatkan sebuah kemulian dari Ida Bhatara yang berstana di Pura Dalem Pingit. [T]

Tags: BangliDesa KedisanKintamaniupacara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepuluh Ribu Mangrove dari Somethinc untuk Desa Bedono, Demak, Jawa Tengah

Next Post

Puisi-puisi Ruhma Ruksalana Huurul’in | Lakon Penari, Hikayat Serdadu

IG Mardi Yasa

IG Mardi Yasa

Lahir dan besar dan tinggal di Bukit Tunggal, sekarang sedang menempuh pendidikan.

Related Posts

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
0
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

Read moreDetails

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

by Emi Suy
November 1, 2026
0
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

Read moreDetails

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
0
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

Read moreDetails

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
0
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

Read moreDetails

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Ruhma Ruksalana Huurul’in | Lakon Penari, Hikayat Serdadu

Puisi-puisi Ruhma Ruksalana Huurul’in | Lakon Penari, Hikayat Serdadu

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co