24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pecahan Dinamika Ruang pada Rumah-Rumah Ubud

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
March 15, 2021
in Esai
Rumah di Kampung dan Rumah di Kota | Beda Jiwa Beda Rasa

Pada pertengahan tahun 2020, saya beruntung dapat melakukan penelitian tentang identitas tempat kawasan Desa Ubud. Penelitian ini menyoal tentang pengaruh pariwisata terhadap kondisi fisik di sana, mulai dari kondisi fisik yang menyangkut keadaan di desa hingga bagian terkecil seperti kondisi di dalam rumah. Untuk mengetahui kondisi lapangan, saya beresempatan untuk singgah beberapa kali ke rumah-rumah warga, melihat sejauh manakah perubahan terjadi.

Apa saja yang berubah dari rumah yang pada awalnya memakai konsep Asta Kosala-Kosali, dengan segenap bale-balenya, mulai dari Merajan, Bale Daja, Bale Dangin, Bale Dauh, Bale Delod, Jineng, Paon, dan lain sebagainya, dengan rumah Bali di Ubud versi hari ini?

Dari proses pencarian data di lapangan, setelah memasuki beberapa rumah warga, terlihat kebanyakan masih tetap mempertahankan keadaan fisik rumahnya. Hanya saja beberapa bale seperti Bale Dauh dan Bale Delod sudah lebih modern dalam segi bentuk. Sementara Bale Daja dan Bale Dangin masih tetap dipertahankan kearifan tradisinya. Mungkin karena keduanya merupakan bale yang penting dalam kehidupan adat beragama penghuninya.

Bale Dangin digunakan sebagai upacara Manusia Yadnya dan Bale Daja dijadikan sebagai kamar bagi kepala keluarga. Jika kedua bale ini dirubah menggunakan konsep bentuk arsitektur barat misalnya, tentu akan jadi aneh kelihatannya. Ketika upacara pawiwahan misalnya, tukang banten tentu akan kebingungan dimana mesti meletakan banten.

Namun hal ini tidak berlaku dengan Bale Dauh dan Bale Delod. Adanya kebutuhan akan ruang membuat banyak perubahan yang terjadi pada kedua Bale ini. Kebanyakan dikarenakan jumlah keluarga yang semakin berkembang dalam satu rumah. Faktor lain, karena adanya alih fungsi beberapa bagian rumah menjadi ruko. Dua faktor ini yang kebanyakan menjadi alasan mengapa kedua bale tersebut berubah. Keluarga yang semakin membesar dengan kebutuhan ruang yang meningkat sedang luas tanah tetap, akhirnya mengubah kebanyakan bentuk Bale Dauh dan Bale Delod mereka menjadi bangunan yang lebih modern. Bahkan beberapa rumah ada yang membuatnya menjadi tingkat dua atau tiga.

Bagi rumah yang menambahkan fungsinya sebagai ruko, hal ini tak bisa dipisahkan dari konteks pariwisata yang semakin meluas terjadi di Ubud. Banyak pemodal yang siap untuk membayar sewa sepetak tanah untuk dijadikan ruko. Merespon hal tersebut, bagian Bale Dauh dan Bale Delod adalah salah satu yang paling memungkinan untuk disewakan. Masyarakat biasanya akan memundurkan bangunan Bale Dauh dan Bale Delod agar ruko dan bale tidak menjadi satu. Ada juga yang merenovasi rumah menjadi lantai dua. Bagian lantai dua inilah yang kemudian dipakai sebagai ruang privat keluarga.

Pada beberapa kasus, bukan hanya Bale Dauh dan Bale Delod saja yang rupanya menjadi ‘korban’ alih fungsi ruko. Pada kasus tertentu, merajan atau sanggah juga tak luput dari perubahan. Ini biasa terjadi khususnya pada rumah yang terletak di bagian utara atau timur jalan, dimana merajan rumah semestinya berada langsung di sisi jalan. Tentu ini adalah posisi yang sulit. Para pemilik rumah harus memilih, apakah bagian depan rumah tetap digunakan sebagai merajan atau digunakan sebagai ruko?

Karena tidak mungkin mereka memindahkan posisi merajan sedikit mundur hanya untuk sebuah ruko, pada titik tertentu ada proses tawar menawar yang terjadi. Pemilik rumah yang tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menaikkan pendapatan keluarga, di saat yang bersamaan tetap ingin mempertahankan adat dan kepercayaan, akhirnya mengatasinya membuat merajan dipindahkan secara vertikal. Ruko tetap dibangun tetapi bagian atasnya atau lantai duanya adalah merajan.

Hal lain yang tak kalah unik untuk dicermati adalah ketika melihat perkembangan pola natah pada rumah-rumah di Ubud. Pola Asta Kosala Kosali dengan sikut satak, sekarang sudah berubah dalam beberapa pola yang berbeda. Ada yang Bale Delod-nya bertingkat, ada yang beberapa balenya sudah tidak ada, ada penambahan bale yang baru untuk memenuhi kebutuhan ruang, ada juga yang memiliki ruko pada satu bagian sisi rumah, ada juga penambahan bale untuk homestay, dan masih banyak lainnya. Semua perubahan pada akhirnya mempengaruhi luas natah dan sirkulasi antara ruang di natah Bali. Ini adalah salah satu kenyataan yang tidak dapat dihindari, begitu pikir saya.

Namun pikiran inipun sirna segera, ketika mendatangi sebuah rumah di kawasan sebelah barat Lapangan Ubud, yang menghubungkan Mongkey Forest dengan Catus Pata. Pada rumah yang terletak di sebelah barat jalan itulah kekagetan saya bermula. Bagian depan rumah jika dilihat dari pinggir jalan memang tidak terlalu terlihat hal yang berbeda. Ada sebuah gerbang masuk yang diapit oleh dua buah ruko. Di atas ruko sebelah utara, akan terlihat merajan dengan beberapa pepohonan. Sekilas tak ada yang aneh dari bangunan itu.

Ketika memasuki rumah tersebut, di dalamnya begitu gelap seperti sebuah basement. Melewati jalan yang seperti lorong itu, pada bagian belakang kita akan disambut beberapa homestay, lengkap dengan kolam renang. Lalu, hal yang mengejutkan terjadi setelah ini. Awalnya saya sempat berpikir di manakah bale mereka? Bale tempat tidur mereka? Apakah bale-bale itu juga sudah berubah menjadi kamar atau bangunan modern?

Setelah diajak oleh mpu-nya rumah melihat homestay, saya diajak untuk melihat bagian lantai dua rumah tersebut. Betapa terkejutnya saya ketika melihat lantai dua rumah adalah sepetak natah utuh, lengkap dengan Bale Daja, Bale Dangin, Bale Dauh, Bale Delod, Jineng, Paon, Bale tambahan, dan merajan. Ada yang masih berbentuk bale-bale, ada juga yang sudah memiliki lantai tingkat di atasnya. Saya tidak menyangka bahwa keseluruhan natah akan di angkat ke lantai dua. Uniknya, ketika pertama kali menginjakan kaki di lantai dua dari rumah itu, saya merasa seperti ada di lantai dasar sebuah rumah. Tidak ada kesan bahwa saya ada di lantai dua rumah. Persepsi saya seolah dirubah tiba-tiba oleh pola dan desain ruang yang ada.

Mungkin inilah yang namanya pengalaman ruang. Desain, pola dan bentuk ruang mampu masuk saya rasakannya secara langsung dengan tubuh. Mengalaminya dengan semua indra. Karena uniknya situasi dan kondisi yang dialami saat itu, akhirnya sensasi yang hadir itupun tersimpan. Sampai saat ini, pengalaman memasuki ruang itu masih terngiang di kepala. Rumah yang mengejutkan buat saya dan saya rasakan dengan tubuh sendiri. Pada saat itu saya sadar dan merasakan bahwa arsitek memang harus sering jalan-jalan. Banyak melihat bangunan dan merasakannya langsung dengan tubuh sendiri.

Pada akhirnya saya merasa bahwa Arsitektur juga seperti mahluk hidup. Ia juga beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Pola natah yang biasa tertulis dalam buku-buku Arsitektur Bali biasanya berhenti pada sebuah gambar sketsa jaman dahulu yang masih menunjukkan bahwa bale menggunakan atap ilalang, tembok tanah, dan bentuk klasiknya lainnya. Sedang pada realitas di lapangan, hal ini tampak sudah kian ditinggalkan. Masuknya gagasan dan material baru, bertambahnya kebutuhan penghuni, lalu berubahnya kondisi sekitar, membuat terjadi proses tawar menawar yang melahirkan dinamika dalam arsitektur. Rumah-rumah Ubud adalah salah satu pecahan dinamika arsitektur Bali yang sedang melakukan adaptasi dengan berbagai persoalan, antara kearifan lokal masa lalu dan dollar wisata yang masuk berdesakan di tengah natah para penghuninya. [T]

Denpasar, 2021

Tags: arsitekturbalitata ruangUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Next Post

Tahun ‘Caka’ Tidak Ada

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Tahun ‘Caka’ Tidak Ada

Tahun ‘Caka’ Tidak Ada

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co