2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pecahan Dinamika Ruang pada Rumah-Rumah Ubud

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
March 15, 2021
in Esai
Rumah di Kampung dan Rumah di Kota | Beda Jiwa Beda Rasa

Pada pertengahan tahun 2020, saya beruntung dapat melakukan penelitian tentang identitas tempat kawasan Desa Ubud. Penelitian ini menyoal tentang pengaruh pariwisata terhadap kondisi fisik di sana, mulai dari kondisi fisik yang menyangkut keadaan di desa hingga bagian terkecil seperti kondisi di dalam rumah. Untuk mengetahui kondisi lapangan, saya beresempatan untuk singgah beberapa kali ke rumah-rumah warga, melihat sejauh manakah perubahan terjadi.

Apa saja yang berubah dari rumah yang pada awalnya memakai konsep Asta Kosala-Kosali, dengan segenap bale-balenya, mulai dari Merajan, Bale Daja, Bale Dangin, Bale Dauh, Bale Delod, Jineng, Paon, dan lain sebagainya, dengan rumah Bali di Ubud versi hari ini?

Dari proses pencarian data di lapangan, setelah memasuki beberapa rumah warga, terlihat kebanyakan masih tetap mempertahankan keadaan fisik rumahnya. Hanya saja beberapa bale seperti Bale Dauh dan Bale Delod sudah lebih modern dalam segi bentuk. Sementara Bale Daja dan Bale Dangin masih tetap dipertahankan kearifan tradisinya. Mungkin karena keduanya merupakan bale yang penting dalam kehidupan adat beragama penghuninya.

Bale Dangin digunakan sebagai upacara Manusia Yadnya dan Bale Daja dijadikan sebagai kamar bagi kepala keluarga. Jika kedua bale ini dirubah menggunakan konsep bentuk arsitektur barat misalnya, tentu akan jadi aneh kelihatannya. Ketika upacara pawiwahan misalnya, tukang banten tentu akan kebingungan dimana mesti meletakan banten.

Namun hal ini tidak berlaku dengan Bale Dauh dan Bale Delod. Adanya kebutuhan akan ruang membuat banyak perubahan yang terjadi pada kedua Bale ini. Kebanyakan dikarenakan jumlah keluarga yang semakin berkembang dalam satu rumah. Faktor lain, karena adanya alih fungsi beberapa bagian rumah menjadi ruko. Dua faktor ini yang kebanyakan menjadi alasan mengapa kedua bale tersebut berubah. Keluarga yang semakin membesar dengan kebutuhan ruang yang meningkat sedang luas tanah tetap, akhirnya mengubah kebanyakan bentuk Bale Dauh dan Bale Delod mereka menjadi bangunan yang lebih modern. Bahkan beberapa rumah ada yang membuatnya menjadi tingkat dua atau tiga.

Bagi rumah yang menambahkan fungsinya sebagai ruko, hal ini tak bisa dipisahkan dari konteks pariwisata yang semakin meluas terjadi di Ubud. Banyak pemodal yang siap untuk membayar sewa sepetak tanah untuk dijadikan ruko. Merespon hal tersebut, bagian Bale Dauh dan Bale Delod adalah salah satu yang paling memungkinan untuk disewakan. Masyarakat biasanya akan memundurkan bangunan Bale Dauh dan Bale Delod agar ruko dan bale tidak menjadi satu. Ada juga yang merenovasi rumah menjadi lantai dua. Bagian lantai dua inilah yang kemudian dipakai sebagai ruang privat keluarga.

Pada beberapa kasus, bukan hanya Bale Dauh dan Bale Delod saja yang rupanya menjadi ‘korban’ alih fungsi ruko. Pada kasus tertentu, merajan atau sanggah juga tak luput dari perubahan. Ini biasa terjadi khususnya pada rumah yang terletak di bagian utara atau timur jalan, dimana merajan rumah semestinya berada langsung di sisi jalan. Tentu ini adalah posisi yang sulit. Para pemilik rumah harus memilih, apakah bagian depan rumah tetap digunakan sebagai merajan atau digunakan sebagai ruko?

Karena tidak mungkin mereka memindahkan posisi merajan sedikit mundur hanya untuk sebuah ruko, pada titik tertentu ada proses tawar menawar yang terjadi. Pemilik rumah yang tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menaikkan pendapatan keluarga, di saat yang bersamaan tetap ingin mempertahankan adat dan kepercayaan, akhirnya mengatasinya membuat merajan dipindahkan secara vertikal. Ruko tetap dibangun tetapi bagian atasnya atau lantai duanya adalah merajan.

Hal lain yang tak kalah unik untuk dicermati adalah ketika melihat perkembangan pola natah pada rumah-rumah di Ubud. Pola Asta Kosala Kosali dengan sikut satak, sekarang sudah berubah dalam beberapa pola yang berbeda. Ada yang Bale Delod-nya bertingkat, ada yang beberapa balenya sudah tidak ada, ada penambahan bale yang baru untuk memenuhi kebutuhan ruang, ada juga yang memiliki ruko pada satu bagian sisi rumah, ada juga penambahan bale untuk homestay, dan masih banyak lainnya. Semua perubahan pada akhirnya mempengaruhi luas natah dan sirkulasi antara ruang di natah Bali. Ini adalah salah satu kenyataan yang tidak dapat dihindari, begitu pikir saya.

Namun pikiran inipun sirna segera, ketika mendatangi sebuah rumah di kawasan sebelah barat Lapangan Ubud, yang menghubungkan Mongkey Forest dengan Catus Pata. Pada rumah yang terletak di sebelah barat jalan itulah kekagetan saya bermula. Bagian depan rumah jika dilihat dari pinggir jalan memang tidak terlalu terlihat hal yang berbeda. Ada sebuah gerbang masuk yang diapit oleh dua buah ruko. Di atas ruko sebelah utara, akan terlihat merajan dengan beberapa pepohonan. Sekilas tak ada yang aneh dari bangunan itu.

Ketika memasuki rumah tersebut, di dalamnya begitu gelap seperti sebuah basement. Melewati jalan yang seperti lorong itu, pada bagian belakang kita akan disambut beberapa homestay, lengkap dengan kolam renang. Lalu, hal yang mengejutkan terjadi setelah ini. Awalnya saya sempat berpikir di manakah bale mereka? Bale tempat tidur mereka? Apakah bale-bale itu juga sudah berubah menjadi kamar atau bangunan modern?

Setelah diajak oleh mpu-nya rumah melihat homestay, saya diajak untuk melihat bagian lantai dua rumah tersebut. Betapa terkejutnya saya ketika melihat lantai dua rumah adalah sepetak natah utuh, lengkap dengan Bale Daja, Bale Dangin, Bale Dauh, Bale Delod, Jineng, Paon, Bale tambahan, dan merajan. Ada yang masih berbentuk bale-bale, ada juga yang sudah memiliki lantai tingkat di atasnya. Saya tidak menyangka bahwa keseluruhan natah akan di angkat ke lantai dua. Uniknya, ketika pertama kali menginjakan kaki di lantai dua dari rumah itu, saya merasa seperti ada di lantai dasar sebuah rumah. Tidak ada kesan bahwa saya ada di lantai dua rumah. Persepsi saya seolah dirubah tiba-tiba oleh pola dan desain ruang yang ada.

Mungkin inilah yang namanya pengalaman ruang. Desain, pola dan bentuk ruang mampu masuk saya rasakannya secara langsung dengan tubuh. Mengalaminya dengan semua indra. Karena uniknya situasi dan kondisi yang dialami saat itu, akhirnya sensasi yang hadir itupun tersimpan. Sampai saat ini, pengalaman memasuki ruang itu masih terngiang di kepala. Rumah yang mengejutkan buat saya dan saya rasakan dengan tubuh sendiri. Pada saat itu saya sadar dan merasakan bahwa arsitek memang harus sering jalan-jalan. Banyak melihat bangunan dan merasakannya langsung dengan tubuh sendiri.

Pada akhirnya saya merasa bahwa Arsitektur juga seperti mahluk hidup. Ia juga beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Pola natah yang biasa tertulis dalam buku-buku Arsitektur Bali biasanya berhenti pada sebuah gambar sketsa jaman dahulu yang masih menunjukkan bahwa bale menggunakan atap ilalang, tembok tanah, dan bentuk klasiknya lainnya. Sedang pada realitas di lapangan, hal ini tampak sudah kian ditinggalkan. Masuknya gagasan dan material baru, bertambahnya kebutuhan penghuni, lalu berubahnya kondisi sekitar, membuat terjadi proses tawar menawar yang melahirkan dinamika dalam arsitektur. Rumah-rumah Ubud adalah salah satu pecahan dinamika arsitektur Bali yang sedang melakukan adaptasi dengan berbagai persoalan, antara kearifan lokal masa lalu dan dollar wisata yang masuk berdesakan di tengah natah para penghuninya. [T]

Denpasar, 2021

Tags: arsitekturbalitata ruangUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Next Post

Tahun ‘Caka’ Tidak Ada

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Tahun ‘Caka’ Tidak Ada

Tahun ‘Caka’ Tidak Ada

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co