2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pecahan Dinamika Ruang pada Rumah-Rumah Ubud

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
March 15, 2021
in Esai
Rumah di Kampung dan Rumah di Kota | Beda Jiwa Beda Rasa

Pada pertengahan tahun 2020, saya beruntung dapat melakukan penelitian tentang identitas tempat kawasan Desa Ubud. Penelitian ini menyoal tentang pengaruh pariwisata terhadap kondisi fisik di sana, mulai dari kondisi fisik yang menyangkut keadaan di desa hingga bagian terkecil seperti kondisi di dalam rumah. Untuk mengetahui kondisi lapangan, saya beresempatan untuk singgah beberapa kali ke rumah-rumah warga, melihat sejauh manakah perubahan terjadi.

Apa saja yang berubah dari rumah yang pada awalnya memakai konsep Asta Kosala-Kosali, dengan segenap bale-balenya, mulai dari Merajan, Bale Daja, Bale Dangin, Bale Dauh, Bale Delod, Jineng, Paon, dan lain sebagainya, dengan rumah Bali di Ubud versi hari ini?

Dari proses pencarian data di lapangan, setelah memasuki beberapa rumah warga, terlihat kebanyakan masih tetap mempertahankan keadaan fisik rumahnya. Hanya saja beberapa bale seperti Bale Dauh dan Bale Delod sudah lebih modern dalam segi bentuk. Sementara Bale Daja dan Bale Dangin masih tetap dipertahankan kearifan tradisinya. Mungkin karena keduanya merupakan bale yang penting dalam kehidupan adat beragama penghuninya.

Bale Dangin digunakan sebagai upacara Manusia Yadnya dan Bale Daja dijadikan sebagai kamar bagi kepala keluarga. Jika kedua bale ini dirubah menggunakan konsep bentuk arsitektur barat misalnya, tentu akan jadi aneh kelihatannya. Ketika upacara pawiwahan misalnya, tukang banten tentu akan kebingungan dimana mesti meletakan banten.

Namun hal ini tidak berlaku dengan Bale Dauh dan Bale Delod. Adanya kebutuhan akan ruang membuat banyak perubahan yang terjadi pada kedua Bale ini. Kebanyakan dikarenakan jumlah keluarga yang semakin berkembang dalam satu rumah. Faktor lain, karena adanya alih fungsi beberapa bagian rumah menjadi ruko. Dua faktor ini yang kebanyakan menjadi alasan mengapa kedua bale tersebut berubah. Keluarga yang semakin membesar dengan kebutuhan ruang yang meningkat sedang luas tanah tetap, akhirnya mengubah kebanyakan bentuk Bale Dauh dan Bale Delod mereka menjadi bangunan yang lebih modern. Bahkan beberapa rumah ada yang membuatnya menjadi tingkat dua atau tiga.

Bagi rumah yang menambahkan fungsinya sebagai ruko, hal ini tak bisa dipisahkan dari konteks pariwisata yang semakin meluas terjadi di Ubud. Banyak pemodal yang siap untuk membayar sewa sepetak tanah untuk dijadikan ruko. Merespon hal tersebut, bagian Bale Dauh dan Bale Delod adalah salah satu yang paling memungkinan untuk disewakan. Masyarakat biasanya akan memundurkan bangunan Bale Dauh dan Bale Delod agar ruko dan bale tidak menjadi satu. Ada juga yang merenovasi rumah menjadi lantai dua. Bagian lantai dua inilah yang kemudian dipakai sebagai ruang privat keluarga.

Pada beberapa kasus, bukan hanya Bale Dauh dan Bale Delod saja yang rupanya menjadi ‘korban’ alih fungsi ruko. Pada kasus tertentu, merajan atau sanggah juga tak luput dari perubahan. Ini biasa terjadi khususnya pada rumah yang terletak di bagian utara atau timur jalan, dimana merajan rumah semestinya berada langsung di sisi jalan. Tentu ini adalah posisi yang sulit. Para pemilik rumah harus memilih, apakah bagian depan rumah tetap digunakan sebagai merajan atau digunakan sebagai ruko?

Karena tidak mungkin mereka memindahkan posisi merajan sedikit mundur hanya untuk sebuah ruko, pada titik tertentu ada proses tawar menawar yang terjadi. Pemilik rumah yang tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menaikkan pendapatan keluarga, di saat yang bersamaan tetap ingin mempertahankan adat dan kepercayaan, akhirnya mengatasinya membuat merajan dipindahkan secara vertikal. Ruko tetap dibangun tetapi bagian atasnya atau lantai duanya adalah merajan.

Hal lain yang tak kalah unik untuk dicermati adalah ketika melihat perkembangan pola natah pada rumah-rumah di Ubud. Pola Asta Kosala Kosali dengan sikut satak, sekarang sudah berubah dalam beberapa pola yang berbeda. Ada yang Bale Delod-nya bertingkat, ada yang beberapa balenya sudah tidak ada, ada penambahan bale yang baru untuk memenuhi kebutuhan ruang, ada juga yang memiliki ruko pada satu bagian sisi rumah, ada juga penambahan bale untuk homestay, dan masih banyak lainnya. Semua perubahan pada akhirnya mempengaruhi luas natah dan sirkulasi antara ruang di natah Bali. Ini adalah salah satu kenyataan yang tidak dapat dihindari, begitu pikir saya.

Namun pikiran inipun sirna segera, ketika mendatangi sebuah rumah di kawasan sebelah barat Lapangan Ubud, yang menghubungkan Mongkey Forest dengan Catus Pata. Pada rumah yang terletak di sebelah barat jalan itulah kekagetan saya bermula. Bagian depan rumah jika dilihat dari pinggir jalan memang tidak terlalu terlihat hal yang berbeda. Ada sebuah gerbang masuk yang diapit oleh dua buah ruko. Di atas ruko sebelah utara, akan terlihat merajan dengan beberapa pepohonan. Sekilas tak ada yang aneh dari bangunan itu.

Ketika memasuki rumah tersebut, di dalamnya begitu gelap seperti sebuah basement. Melewati jalan yang seperti lorong itu, pada bagian belakang kita akan disambut beberapa homestay, lengkap dengan kolam renang. Lalu, hal yang mengejutkan terjadi setelah ini. Awalnya saya sempat berpikir di manakah bale mereka? Bale tempat tidur mereka? Apakah bale-bale itu juga sudah berubah menjadi kamar atau bangunan modern?

Setelah diajak oleh mpu-nya rumah melihat homestay, saya diajak untuk melihat bagian lantai dua rumah tersebut. Betapa terkejutnya saya ketika melihat lantai dua rumah adalah sepetak natah utuh, lengkap dengan Bale Daja, Bale Dangin, Bale Dauh, Bale Delod, Jineng, Paon, Bale tambahan, dan merajan. Ada yang masih berbentuk bale-bale, ada juga yang sudah memiliki lantai tingkat di atasnya. Saya tidak menyangka bahwa keseluruhan natah akan di angkat ke lantai dua. Uniknya, ketika pertama kali menginjakan kaki di lantai dua dari rumah itu, saya merasa seperti ada di lantai dasar sebuah rumah. Tidak ada kesan bahwa saya ada di lantai dua rumah. Persepsi saya seolah dirubah tiba-tiba oleh pola dan desain ruang yang ada.

Mungkin inilah yang namanya pengalaman ruang. Desain, pola dan bentuk ruang mampu masuk saya rasakannya secara langsung dengan tubuh. Mengalaminya dengan semua indra. Karena uniknya situasi dan kondisi yang dialami saat itu, akhirnya sensasi yang hadir itupun tersimpan. Sampai saat ini, pengalaman memasuki ruang itu masih terngiang di kepala. Rumah yang mengejutkan buat saya dan saya rasakan dengan tubuh sendiri. Pada saat itu saya sadar dan merasakan bahwa arsitek memang harus sering jalan-jalan. Banyak melihat bangunan dan merasakannya langsung dengan tubuh sendiri.

Pada akhirnya saya merasa bahwa Arsitektur juga seperti mahluk hidup. Ia juga beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Pola natah yang biasa tertulis dalam buku-buku Arsitektur Bali biasanya berhenti pada sebuah gambar sketsa jaman dahulu yang masih menunjukkan bahwa bale menggunakan atap ilalang, tembok tanah, dan bentuk klasiknya lainnya. Sedang pada realitas di lapangan, hal ini tampak sudah kian ditinggalkan. Masuknya gagasan dan material baru, bertambahnya kebutuhan penghuni, lalu berubahnya kondisi sekitar, membuat terjadi proses tawar menawar yang melahirkan dinamika dalam arsitektur. Rumah-rumah Ubud adalah salah satu pecahan dinamika arsitektur Bali yang sedang melakukan adaptasi dengan berbagai persoalan, antara kearifan lokal masa lalu dan dollar wisata yang masuk berdesakan di tengah natah para penghuninya. [T]

Denpasar, 2021

Tags: arsitekturbalitata ruangUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Next Post

Tahun ‘Caka’ Tidak Ada

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Tahun ‘Caka’ Tidak Ada

Tahun ‘Caka’ Tidak Ada

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co