29 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangli Abad XII | Dan Potensi Masa Kini

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
January 20, 2021
in Esai
Bangli Abad XII | Dan Potensi Masa Kini

1126 Saka. Bhatara Guru Sri Adikuntiketana memerintahkan agar seluruh penduduk Bangli [karaman i bangli] tidak pergi [henti lungha]. Tidak dijelaskan di dalam Prasasti Kehen C, mengapa banyak penduduk yang pergi meninggalkan desanya ketika itu. Agar permasalahan itu segera selesai, diutuslah Sri Dhanadi Raja Lancana dan Sri Dhana Dewi Ketu untuk mengembalikan penduduk ke desanya. Sri Dhanadi Raja Lancana yang juga disebut Bhatara Parameswara Sri Wirama adalah anak dari Sri Adikuntiketana. Putra raja inilah yang ditugaskan mengembalikan penduduk Bangli, tambahan tugas lainnya adalah menjaga Sang Hyang Mandala di Lokasarana.

Semua tugas yang dilimpahkan kepada Sri Dhanadi Raja Lancana berhasil diselesaikan dengan baik. Putra raja ini pun memberikan anugerah kepada penduduk Bangli, dan juga tugas lain yang menyertainya. Tugas itu di antaranya adalah melakukan pemujaan pada beberapa tempat pemujaan yang disebut Hyang. Pemujaan itu umumnya dilangsungkan pada bulan Purnama [Sukla 15], kecuali saat bulan ke sembilan [sasih kasanga] pemujaan dilakukan saat Tilem [Kresna 15]. Beberapa nama Hyang dan waktu pemujaannya ialah: Hyang Hatu dan Hyang Pasek [Kasa], Hyang Paha Bangli [Karo], Hyang Tgal [Katiga], Hyang Pken Lor [Kapat], Hyang Kehen [Kalima], Hyang Waringin [Kanem], Hyang Pken Kidul [Kapitu], Hyang Wukir [Kaulu], Hyang Kadaton [Kasanga], Hyang Pahumbukan [Kadasa], Hyang Buhitan [Jyesta] dan Hyang Pandem [Sada]. Sayangnya, jejak Hyang ini sangat samar, saya hanya mengenal tiga nama di antara nama-nama Hyang tersebut saat tulisan ini saya ketik.

Tiga nama Hyang yang masih saya kenali adalah Hyang Kehen, Hyang Tegal dan Hyang Wukir. Hyang Kehen yang dimaksudkan adalah Pura Kehen sekarang, Hyang Tegal adalah Pura di Banjar Tegal, sedangkan Hyang Wukir adalah Pura Hyang Ukir di bukit Bangli. Berdasarkan upacara tahunan di ketiga Pura tersebut dan isi prasasti Kehen C, jelaslah ketiganya tepat. Di Pura Kehen, pemujaan dilakukan setiap setahun sekali pada Purnama Kalima. Sedangkan di Pura Hyang Ukir, pemujaan dilakukan pada Purnama Kaulu. Kenyataan ini sekaligus bisa dijadikan petunjuk untuk melacak tempat-tempat Hyang yang dimaksudkan oleh Prasasti Kehen C. Khusus pada pemujaan di Hyang Wukir, Prasasti Kehen C mencatat sebagai berikut:

[…] ka 8 hyang wukir, pamunuh kbo cmeng, wong tanggahan hamdalaken skul rong sata, hawanyan mareng wukir, turunan kulon wong simpa bunut hamdalaken patang sata, hawanya turunan lor wwatan, wong daha mulih amdalaken rong sata, hawanya turunan kidul kulwan wong babalang amdalaken rong sata, hawanya turunan kidul ring tgal bangkag, i ther karaman i bangli amdalaken wolung sata, hawanya turun kidul, kunang yan hana thaninya tan harepa hamdalaken sata wukir, sipaten de karaman i bangli, rong iwu wtuhaning sadana […] [PKC. 4a][1].

[bulan ke delapan Hyang Wukir, membunuh kebo hitam, orang Tanggahan mengeluarkan nasi dua ratus, jalannya ke gunung datangnya dari barat, orang Simpa Bunut mengeluarkan empat ratus, jalannya datang dari timur laut, orang Daha Mulih mengeluarkan dua ratus, jalannya datang dari barat daya, orang Babalang mengeluarkan dua ratus, jalannya datang dari selatan di Tegal Bangkag, lalu penduduk Bangli mengeluarkan delapan ratus, jalannya datang dari selatan, jika ada penduduknya tidak ingin mengeluarkan sata wukir, akan dikutuk oleh penduduk Bangli, dua ribu mengeluarkan dana].

Lima nama Desa disebut bertanggungjawab saat pemujaan di Hyang Wukir. Masing-masing mengeluarkan ‘iuran’ nasi [skul]. Empat di antaranya masih dapat dikenali sampai sekarang. Hanya nama Simpa Bunut yang tidak dapat saya identifikasi. Tapi jika dilihat dari penjelasan dalam Prasasti Kehen C, sangat mungkin Simpa Bunut yang dimaksud adalah wilayah Desa Sidem Bunut. Hanya saja, Simpa Bunut dinyatakan datang dari arah lor wwatan [Timur Laut] saat membayar iuran pada Purnama Kaulu ke Hyang Wukir. Letaknya berbeda dengan yang ditunjukkan oleh Peta berikut.

Foto: Sebaran Desa Penanggungjawab Hyang Wukir

[Kehen C, 4a. via Google Earth 21/8/2020; 1:18 pm]

Foto di atas menunjukkan sebaran Desa yang bertanggungjawab pada pemujaan di Hyang Wukir. Keterangan kedatangan dari masing-masing penduduk desa tersebut, bisa dikatakan tepat jika Hyang Wukir dijadikan poros atau pusat. Tentu saja kecuali keterangan tentang Simpa Bunut yang dalam prasasti disebut datang dari Timur Laut [lor wwatan], sedangkan dalam peta di atas letaknya di sebelah Tenggara dari Hyang Wukir. Perbedaan letak ini bisa ditelusuri dengan melakukan studi sejarah, khusus tentang Sidembunut atau Simpa Bunut [Kehen C], yang juga disebut Simpat Bunut [Kehen A]. Studi sejarah tersebut, dapat dilakukan dengan menelusuri sumber-sumber artefaktual dan tekstual. Sebagai bahan awal, dapat diawali dengan membandingkan dua nama Sidembunut pada dua prasasti berbeda berikut ini.

[Simpat Bunut: Prasasti Kehen A, 1][2]

[Simpa Bunut: Prasasti Kehen C, IVa.2][3]

Kedua foto prasasti di atas, menunjukkan dua nama berbeda. Data ini bisa dijadikan bahan studi bagi siapa saja yang ingin menelusuri sejarah Bangli secara umum, dan Sidembunut secara khusus. Kedua prasasti tersebut, jika dibaca-baca dengan hati-hati dapat memberikan informasi yang sangat penting. Informasi itu bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran sejarah, serta pengembangan potensi daerah Kabupaten Bangli. Apakah peluang studi ini akan disia-siakan sekali lagi?

Selain Simpa Bunut, Prasasti Kehen C juga memuat beberapa nama Desa dan batas wilayah [sima] Bangli pada tahun 1204 M. Batas wilayah Bangli, menurut keterangan prasasti, dibagi menjadi delapan wilayah [asta desa]. Batas di Timur Laut adalah sebuah tempat bernama Gulinggang. Di selatan dari Gulinggang, adalah Sumaniha. Di Sumaniha ini, terdapat patirthan bernama Makara Dewi. Patirthan Makara Dewi adalah patirthan bagi Bhatara Guru dan Sri Paduka Parameswari.

Jika datang ke Selatan dari gunung atau bukit, ada tempat bernama Jelit Pande. Di tempat ini terdapat sebuah goa bernama Guwa Mreku. Goa ini adalah Pakacahan dari Parameswari. Sayang sekali, dalam Kamus Bahasa Bali Kuno-Indonesia yang disusun oleh sebuah Tim Penyusun [1985] kata pakacahan dan kemungkinan kata dasarnya kacah, tidak saya temukan. Jadi, terjemahan terhadap istilah ini belum tuntas.

Ke selatan dari Guwa Mreku, ada tempat bernama Kajaksan, Salawungan, Tabu Pecuk, Patapan, dan Sambhawa. Di sebelah timur dari tempat-tempat tersebut adalah sungai bernama Er Banyu yang berurutan dengan Tegal Halangalang, Cahum, dan Susut. Di Tenggara, ada tempat bernama Panunggekan. Di Selatan terdapat Palak Pangawan Slat. Di sebelah Barat Daya, terdapat tempat bernama Tanah Pasih. Di sebelah Barat adalah sungai Er Sangsang, Sima Pringadi, Candi, Wukir Mangun, Talengis, Nasi Kuning, Er Sana. Sebelah Barat Laut terdapat Siddhawahas. Sebelah Utara terdapat Bantas.

Beberapa nama tempat yang disebutkan, masih bisa dikenali sampai sekarang. Sayangnya, tidak banyak informasi yang bisa saya dapatkan dalam penelusuran singkat ini. Batas-batas wilayah ini masih bisa ditelusuri lagi dan ditentukan titik koordinatnya. Dengan begitu, kita akan mendapatkan rekam jejak Bangli pada tahun 1204 Masehi. Keterbatasan informasi semacam yang saya temukan ini, mestinya bisa teratasi dengan melakukan penelusuran lanjutan. Hasil penelusuran itu dapat memperkaya data dalam laman resmi Pemerintah Kabupaten Bangli.[4] Dengan begitu, informasi penting ini bisa diketahui oleh siapa saja yang ingin mengetahui Bangli lebih dalam.

Bangli adalah butiran emas yang hilang. Nilai historis, culture, ekonomi, politik, yang diwariskan dari masa lalu, sudah terlupakan. Kutipan prasasti Pura Kehen C, hanya termuat dalam penjelasan mengenai sejarah Bangli. Seterusnya, di dalam laman yang sama, tidak ada lagi penjelasan sosial budaya yang memberikan informasi menarik terkait Bangli sebagai Kabupaten. Bukankah budaya adalah akar pariwisata?

Secara umum dapat dinyatakan bahwa potensi-potensi pokok kebudayaan Bali yang dapat mendukung pengembangan pariwisata budaya. Pertama, menampakkan diri sebagai satu sistem yang penuh vitalitas, selektif, dan adaptif. Kedua, unik dengan identitas yang jelas. Ketiga, merupakan kebudayaan ekpresif yang memiliki landasan etika dan estetika yang kuat. Keempat, merupakan satu sistem yang dinamik. Kelima, memiliki akar dan daya dukung lembaga-lembaga tradisional yang kokoh. Keenam, memperlihatkan kekayaan variasi serta kaya akan konsepsi-konsepsi yang dapat dipakai sebagai landasan pembangunan [Oka, 2002: 123].

Keenam potensi pokok tersebut, bisa ditemukan di Bangli dengan sangat mudah. Point pertama, dapat ditemukan dalam ritus religi masyarakat Bangli secara umum. Jika ingin mendapatkan contoh sederhana, bisa ditemukan dalam pelaksanaan pemujaan di beberapa Hyang yang terdapat di Bangli. Contoh kecilnya adalah pemujaan di Hyang Kehen atau Pura Kehen. Pada Karya Agung Panca Wali Krama Ngusabha Betara Turun Kabeh di Pura Kehen Bangli, mendapat dana Hibah sebesar Rp. 1.800.000.000,- dengan nomor SP2D: 04716/SP2D/LS-BR/PPKD.HIBAH/2018/ 6 Agustus 2018[5]. Itu artinya, ada perhatian pemerintah terhadap warisan sosio-religius berupa pemujaan di Hyang Kehen. Perhatian sejenis ini, mestilah dilanjutkan dan ditingkatkan tidak hanya pada tataran aktifitas religius. Jika dahulu perhatian sejenis diberikan oleh penguasa atau raja, maka pada masa kini perhatian diberikan oleh pemerintah Kabupaten. Inilah bukti bahwa memang benar kebudayaan di Bangli memiliki sistem yang penuh vitalitas dari sudut pandang sejarah, dan juga adaptif.

Point kedua adalah kejelasan identitas dan keunikannya. Identitas Bangli sudah sangat jelas jika ditelusuri dalam beberapa tinggalan prasasti. Bahkan prasasti berangka tahun 804 Saka, yang diakui sebagai prasasti tertua di Bali, terdapat di Kabupaten Bangli. Point ketiga sampai keenam, tidak lagi perlu dijelaskan secara spesifik. Sebab di wilayah Kabupaten Bangli, terdapat beragam tradisi, ritual, tarian, sastra, geliat ekonomi, pertanian, peternakan, yang barangkali sudah didaftar secara runut oleh pemerintah. Intinya, Bangli adalah emas yang bisa diolah agar lebih bernilai dan berharga.

Mengenai beberapa prasasti yang terdapat di wilayah Kabupaten Bangli, tampaknya dapat dibuat duplikat dari masing-masing prasasti tersebut. Prasasti, selain sebagai data sejarah yang sahih, juga sekaligus sebagai warisan kekayanan intelektual. Kekayaan intelektual ini, terlalu bernilai untuk dipunggungi. Jika pun tidak dapat dibuatkan duplikat, skema lain seperti digitalisasi bisa menjadi salah satu solusi lain. Ada banyak skema yang bisa ditempuh demi pewarisan sejarah kepada pewarisnya yang sah. Oleh sebab itu, gagasan-gagasan demi pembangunan intelektual di Bangli sangat layak untuk dieksekusi. Berawal dari dunia ide yang konon abstrak, bisa diwujudnyatakan dalam bentuk yang real.

Langkah pertama mesti dipijakkan melalui studi komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak. Beberapa tinggalan tekstual berupa prasasti pada media logam maupun batu, bisa dibaca ulang dengan bantuan dari ahli-ahli pada bidangnya. Dengan demikian, pembangunan daerah dapat dilakukan tanpa tercerabut dari akar sejarah dan budayanya. Akar budaya yang kuat, hanya mungkin didapat dengan pengetahuan sejarah yang kuat. Pengetahuan sejarah yang lengkap, tidak didapat di bangku sekolah, tapi museum. ‘Bangli’ mesti dimuseumkan! Jadi, konklusi dari tulisan ini berbentuk pertanyaan: Atas nama intelektualitas, mari kita bertanya kepada kepekaan sosial dan kultural. Dimanakah nama Bhatara Guru Sri Adikunti Ketana, Sri Dhanadi Raja Lancana, dan Sri Dhana Dewi Ketu diabadikan di Kabupaten Bangli sekarang? [T]

Bibliografi

Goris, R. 1954. Prasasti Bali I-II. Bandung: Masa Baru.

Granoka, Ida Wayan dkk. 1985. Kamus Bali Kuno-Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Oka, Ida Bagus. 2002. “Potensi dan Tantangan Masa Depan dalam Pengembangan Pariwisata Budaya di Bali”. Dalam Menuju Terwujudnya Ilmu Pariwisata di Indonesia, suntingan I Gusti Ngurah Bagus. Denpasar: Program Studi Magister [S2] Kajian Budaya Universitas Udayana.

Tim Penyusun. 1977. “Laporan Penelitian Epigrafi Bali Tahap I, No. 11”. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Departemen P&K.


[1] Berita Penelitian Arkeologi No 11, Laporan Penelitian Tahap I [1977]

[2] Koleksi Universitas Leiden, bandingkan Goris [1954: 58] dan Tim [1977: 20].

[3] Koleksi Universitas Leiden, bandingkan Tim [1977: 22]

[4] Laman ini bisa ditemukan pada link: http://banglikab.go.id/index.php/home

[5]     Kompilasi Laporan Pertanggung Jawaban Raelisasi dan Penggunaan Oleh Penerima Dana Hibah dan Bantuan Sosial Periode Januari-September Tahun Anggaran 2018 [diunduh 19 ‎Agustus ‎2020, ‏‎11:36:32 am]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi Ini Tak Ada Ogoh-ogoh

Next Post

Lomba Tari Bali dan Lomba Busana | Festival Budaya XI Pasemetonan Jegeg Bagus Tabanan

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
0
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

Read moreDetails

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
0
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

Read moreDetails

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

by Angga Wijaya
April 28, 2026
0
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

Read moreDetails

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

by Asep Kurnia
April 27, 2026
0
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

Read moreDetails

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
0
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

Read moreDetails

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

by Isran Kamal
April 27, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

Read moreDetails

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

by Sugi Lanus
April 27, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

Read moreDetails

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

Read moreDetails

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
0
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

Read moreDetails

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
0
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

Read moreDetails
Next Post
Lomba Tari Bali dan Lomba Busana | Festival Budaya XI Pasemetonan Jegeg Bagus Tabanan

Lomba Tari Bali dan Lomba Busana | Festival Budaya XI Pasemetonan Jegeg Bagus Tabanan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan
Esai

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi
Esai

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

by Angga Wijaya
April 28, 2026
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
Esai

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

by Asep Kurnia
April 27, 2026
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali
Persona

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi
Panggung

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan
Esai

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co