24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangli Abad XII | Dan Potensi Masa Kini

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
January 20, 2021
in Esai
Bangli Abad XII | Dan Potensi Masa Kini

1126 Saka. Bhatara Guru Sri Adikuntiketana memerintahkan agar seluruh penduduk Bangli [karaman i bangli] tidak pergi [henti lungha]. Tidak dijelaskan di dalam Prasasti Kehen C, mengapa banyak penduduk yang pergi meninggalkan desanya ketika itu. Agar permasalahan itu segera selesai, diutuslah Sri Dhanadi Raja Lancana dan Sri Dhana Dewi Ketu untuk mengembalikan penduduk ke desanya. Sri Dhanadi Raja Lancana yang juga disebut Bhatara Parameswara Sri Wirama adalah anak dari Sri Adikuntiketana. Putra raja inilah yang ditugaskan mengembalikan penduduk Bangli, tambahan tugas lainnya adalah menjaga Sang Hyang Mandala di Lokasarana.

Semua tugas yang dilimpahkan kepada Sri Dhanadi Raja Lancana berhasil diselesaikan dengan baik. Putra raja ini pun memberikan anugerah kepada penduduk Bangli, dan juga tugas lain yang menyertainya. Tugas itu di antaranya adalah melakukan pemujaan pada beberapa tempat pemujaan yang disebut Hyang. Pemujaan itu umumnya dilangsungkan pada bulan Purnama [Sukla 15], kecuali saat bulan ke sembilan [sasih kasanga] pemujaan dilakukan saat Tilem [Kresna 15]. Beberapa nama Hyang dan waktu pemujaannya ialah: Hyang Hatu dan Hyang Pasek [Kasa], Hyang Paha Bangli [Karo], Hyang Tgal [Katiga], Hyang Pken Lor [Kapat], Hyang Kehen [Kalima], Hyang Waringin [Kanem], Hyang Pken Kidul [Kapitu], Hyang Wukir [Kaulu], Hyang Kadaton [Kasanga], Hyang Pahumbukan [Kadasa], Hyang Buhitan [Jyesta] dan Hyang Pandem [Sada]. Sayangnya, jejak Hyang ini sangat samar, saya hanya mengenal tiga nama di antara nama-nama Hyang tersebut saat tulisan ini saya ketik.

Tiga nama Hyang yang masih saya kenali adalah Hyang Kehen, Hyang Tegal dan Hyang Wukir. Hyang Kehen yang dimaksudkan adalah Pura Kehen sekarang, Hyang Tegal adalah Pura di Banjar Tegal, sedangkan Hyang Wukir adalah Pura Hyang Ukir di bukit Bangli. Berdasarkan upacara tahunan di ketiga Pura tersebut dan isi prasasti Kehen C, jelaslah ketiganya tepat. Di Pura Kehen, pemujaan dilakukan setiap setahun sekali pada Purnama Kalima. Sedangkan di Pura Hyang Ukir, pemujaan dilakukan pada Purnama Kaulu. Kenyataan ini sekaligus bisa dijadikan petunjuk untuk melacak tempat-tempat Hyang yang dimaksudkan oleh Prasasti Kehen C. Khusus pada pemujaan di Hyang Wukir, Prasasti Kehen C mencatat sebagai berikut:

[…] ka 8 hyang wukir, pamunuh kbo cmeng, wong tanggahan hamdalaken skul rong sata, hawanyan mareng wukir, turunan kulon wong simpa bunut hamdalaken patang sata, hawanya turunan lor wwatan, wong daha mulih amdalaken rong sata, hawanya turunan kidul kulwan wong babalang amdalaken rong sata, hawanya turunan kidul ring tgal bangkag, i ther karaman i bangli amdalaken wolung sata, hawanya turun kidul, kunang yan hana thaninya tan harepa hamdalaken sata wukir, sipaten de karaman i bangli, rong iwu wtuhaning sadana […] [PKC. 4a][1].

[bulan ke delapan Hyang Wukir, membunuh kebo hitam, orang Tanggahan mengeluarkan nasi dua ratus, jalannya ke gunung datangnya dari barat, orang Simpa Bunut mengeluarkan empat ratus, jalannya datang dari timur laut, orang Daha Mulih mengeluarkan dua ratus, jalannya datang dari barat daya, orang Babalang mengeluarkan dua ratus, jalannya datang dari selatan di Tegal Bangkag, lalu penduduk Bangli mengeluarkan delapan ratus, jalannya datang dari selatan, jika ada penduduknya tidak ingin mengeluarkan sata wukir, akan dikutuk oleh penduduk Bangli, dua ribu mengeluarkan dana].

Lima nama Desa disebut bertanggungjawab saat pemujaan di Hyang Wukir. Masing-masing mengeluarkan ‘iuran’ nasi [skul]. Empat di antaranya masih dapat dikenali sampai sekarang. Hanya nama Simpa Bunut yang tidak dapat saya identifikasi. Tapi jika dilihat dari penjelasan dalam Prasasti Kehen C, sangat mungkin Simpa Bunut yang dimaksud adalah wilayah Desa Sidem Bunut. Hanya saja, Simpa Bunut dinyatakan datang dari arah lor wwatan [Timur Laut] saat membayar iuran pada Purnama Kaulu ke Hyang Wukir. Letaknya berbeda dengan yang ditunjukkan oleh Peta berikut.

Foto: Sebaran Desa Penanggungjawab Hyang Wukir

[Kehen C, 4a. via Google Earth 21/8/2020; 1:18 pm]

Foto di atas menunjukkan sebaran Desa yang bertanggungjawab pada pemujaan di Hyang Wukir. Keterangan kedatangan dari masing-masing penduduk desa tersebut, bisa dikatakan tepat jika Hyang Wukir dijadikan poros atau pusat. Tentu saja kecuali keterangan tentang Simpa Bunut yang dalam prasasti disebut datang dari Timur Laut [lor wwatan], sedangkan dalam peta di atas letaknya di sebelah Tenggara dari Hyang Wukir. Perbedaan letak ini bisa ditelusuri dengan melakukan studi sejarah, khusus tentang Sidembunut atau Simpa Bunut [Kehen C], yang juga disebut Simpat Bunut [Kehen A]. Studi sejarah tersebut, dapat dilakukan dengan menelusuri sumber-sumber artefaktual dan tekstual. Sebagai bahan awal, dapat diawali dengan membandingkan dua nama Sidembunut pada dua prasasti berbeda berikut ini.

[Simpat Bunut: Prasasti Kehen A, 1][2]

[Simpa Bunut: Prasasti Kehen C, IVa.2][3]

Kedua foto prasasti di atas, menunjukkan dua nama berbeda. Data ini bisa dijadikan bahan studi bagi siapa saja yang ingin menelusuri sejarah Bangli secara umum, dan Sidembunut secara khusus. Kedua prasasti tersebut, jika dibaca-baca dengan hati-hati dapat memberikan informasi yang sangat penting. Informasi itu bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran sejarah, serta pengembangan potensi daerah Kabupaten Bangli. Apakah peluang studi ini akan disia-siakan sekali lagi?

Selain Simpa Bunut, Prasasti Kehen C juga memuat beberapa nama Desa dan batas wilayah [sima] Bangli pada tahun 1204 M. Batas wilayah Bangli, menurut keterangan prasasti, dibagi menjadi delapan wilayah [asta desa]. Batas di Timur Laut adalah sebuah tempat bernama Gulinggang. Di selatan dari Gulinggang, adalah Sumaniha. Di Sumaniha ini, terdapat patirthan bernama Makara Dewi. Patirthan Makara Dewi adalah patirthan bagi Bhatara Guru dan Sri Paduka Parameswari.

Jika datang ke Selatan dari gunung atau bukit, ada tempat bernama Jelit Pande. Di tempat ini terdapat sebuah goa bernama Guwa Mreku. Goa ini adalah Pakacahan dari Parameswari. Sayang sekali, dalam Kamus Bahasa Bali Kuno-Indonesia yang disusun oleh sebuah Tim Penyusun [1985] kata pakacahan dan kemungkinan kata dasarnya kacah, tidak saya temukan. Jadi, terjemahan terhadap istilah ini belum tuntas.

Ke selatan dari Guwa Mreku, ada tempat bernama Kajaksan, Salawungan, Tabu Pecuk, Patapan, dan Sambhawa. Di sebelah timur dari tempat-tempat tersebut adalah sungai bernama Er Banyu yang berurutan dengan Tegal Halangalang, Cahum, dan Susut. Di Tenggara, ada tempat bernama Panunggekan. Di Selatan terdapat Palak Pangawan Slat. Di sebelah Barat Daya, terdapat tempat bernama Tanah Pasih. Di sebelah Barat adalah sungai Er Sangsang, Sima Pringadi, Candi, Wukir Mangun, Talengis, Nasi Kuning, Er Sana. Sebelah Barat Laut terdapat Siddhawahas. Sebelah Utara terdapat Bantas.

Beberapa nama tempat yang disebutkan, masih bisa dikenali sampai sekarang. Sayangnya, tidak banyak informasi yang bisa saya dapatkan dalam penelusuran singkat ini. Batas-batas wilayah ini masih bisa ditelusuri lagi dan ditentukan titik koordinatnya. Dengan begitu, kita akan mendapatkan rekam jejak Bangli pada tahun 1204 Masehi. Keterbatasan informasi semacam yang saya temukan ini, mestinya bisa teratasi dengan melakukan penelusuran lanjutan. Hasil penelusuran itu dapat memperkaya data dalam laman resmi Pemerintah Kabupaten Bangli.[4] Dengan begitu, informasi penting ini bisa diketahui oleh siapa saja yang ingin mengetahui Bangli lebih dalam.

Bangli adalah butiran emas yang hilang. Nilai historis, culture, ekonomi, politik, yang diwariskan dari masa lalu, sudah terlupakan. Kutipan prasasti Pura Kehen C, hanya termuat dalam penjelasan mengenai sejarah Bangli. Seterusnya, di dalam laman yang sama, tidak ada lagi penjelasan sosial budaya yang memberikan informasi menarik terkait Bangli sebagai Kabupaten. Bukankah budaya adalah akar pariwisata?

Secara umum dapat dinyatakan bahwa potensi-potensi pokok kebudayaan Bali yang dapat mendukung pengembangan pariwisata budaya. Pertama, menampakkan diri sebagai satu sistem yang penuh vitalitas, selektif, dan adaptif. Kedua, unik dengan identitas yang jelas. Ketiga, merupakan kebudayaan ekpresif yang memiliki landasan etika dan estetika yang kuat. Keempat, merupakan satu sistem yang dinamik. Kelima, memiliki akar dan daya dukung lembaga-lembaga tradisional yang kokoh. Keenam, memperlihatkan kekayaan variasi serta kaya akan konsepsi-konsepsi yang dapat dipakai sebagai landasan pembangunan [Oka, 2002: 123].

Keenam potensi pokok tersebut, bisa ditemukan di Bangli dengan sangat mudah. Point pertama, dapat ditemukan dalam ritus religi masyarakat Bangli secara umum. Jika ingin mendapatkan contoh sederhana, bisa ditemukan dalam pelaksanaan pemujaan di beberapa Hyang yang terdapat di Bangli. Contoh kecilnya adalah pemujaan di Hyang Kehen atau Pura Kehen. Pada Karya Agung Panca Wali Krama Ngusabha Betara Turun Kabeh di Pura Kehen Bangli, mendapat dana Hibah sebesar Rp. 1.800.000.000,- dengan nomor SP2D: 04716/SP2D/LS-BR/PPKD.HIBAH/2018/ 6 Agustus 2018[5]. Itu artinya, ada perhatian pemerintah terhadap warisan sosio-religius berupa pemujaan di Hyang Kehen. Perhatian sejenis ini, mestilah dilanjutkan dan ditingkatkan tidak hanya pada tataran aktifitas religius. Jika dahulu perhatian sejenis diberikan oleh penguasa atau raja, maka pada masa kini perhatian diberikan oleh pemerintah Kabupaten. Inilah bukti bahwa memang benar kebudayaan di Bangli memiliki sistem yang penuh vitalitas dari sudut pandang sejarah, dan juga adaptif.

Point kedua adalah kejelasan identitas dan keunikannya. Identitas Bangli sudah sangat jelas jika ditelusuri dalam beberapa tinggalan prasasti. Bahkan prasasti berangka tahun 804 Saka, yang diakui sebagai prasasti tertua di Bali, terdapat di Kabupaten Bangli. Point ketiga sampai keenam, tidak lagi perlu dijelaskan secara spesifik. Sebab di wilayah Kabupaten Bangli, terdapat beragam tradisi, ritual, tarian, sastra, geliat ekonomi, pertanian, peternakan, yang barangkali sudah didaftar secara runut oleh pemerintah. Intinya, Bangli adalah emas yang bisa diolah agar lebih bernilai dan berharga.

Mengenai beberapa prasasti yang terdapat di wilayah Kabupaten Bangli, tampaknya dapat dibuat duplikat dari masing-masing prasasti tersebut. Prasasti, selain sebagai data sejarah yang sahih, juga sekaligus sebagai warisan kekayanan intelektual. Kekayaan intelektual ini, terlalu bernilai untuk dipunggungi. Jika pun tidak dapat dibuatkan duplikat, skema lain seperti digitalisasi bisa menjadi salah satu solusi lain. Ada banyak skema yang bisa ditempuh demi pewarisan sejarah kepada pewarisnya yang sah. Oleh sebab itu, gagasan-gagasan demi pembangunan intelektual di Bangli sangat layak untuk dieksekusi. Berawal dari dunia ide yang konon abstrak, bisa diwujudnyatakan dalam bentuk yang real.

Langkah pertama mesti dipijakkan melalui studi komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak. Beberapa tinggalan tekstual berupa prasasti pada media logam maupun batu, bisa dibaca ulang dengan bantuan dari ahli-ahli pada bidangnya. Dengan demikian, pembangunan daerah dapat dilakukan tanpa tercerabut dari akar sejarah dan budayanya. Akar budaya yang kuat, hanya mungkin didapat dengan pengetahuan sejarah yang kuat. Pengetahuan sejarah yang lengkap, tidak didapat di bangku sekolah, tapi museum. ‘Bangli’ mesti dimuseumkan! Jadi, konklusi dari tulisan ini berbentuk pertanyaan: Atas nama intelektualitas, mari kita bertanya kepada kepekaan sosial dan kultural. Dimanakah nama Bhatara Guru Sri Adikunti Ketana, Sri Dhanadi Raja Lancana, dan Sri Dhana Dewi Ketu diabadikan di Kabupaten Bangli sekarang? [T]

Bibliografi

Goris, R. 1954. Prasasti Bali I-II. Bandung: Masa Baru.

Granoka, Ida Wayan dkk. 1985. Kamus Bali Kuno-Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Oka, Ida Bagus. 2002. “Potensi dan Tantangan Masa Depan dalam Pengembangan Pariwisata Budaya di Bali”. Dalam Menuju Terwujudnya Ilmu Pariwisata di Indonesia, suntingan I Gusti Ngurah Bagus. Denpasar: Program Studi Magister [S2] Kajian Budaya Universitas Udayana.

Tim Penyusun. 1977. “Laporan Penelitian Epigrafi Bali Tahap I, No. 11”. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Departemen P&K.


[1] Berita Penelitian Arkeologi No 11, Laporan Penelitian Tahap I [1977]

[2] Koleksi Universitas Leiden, bandingkan Goris [1954: 58] dan Tim [1977: 20].

[3] Koleksi Universitas Leiden, bandingkan Tim [1977: 22]

[4] Laman ini bisa ditemukan pada link: http://banglikab.go.id/index.php/home

[5]     Kompilasi Laporan Pertanggung Jawaban Raelisasi dan Penggunaan Oleh Penerima Dana Hibah dan Bantuan Sosial Periode Januari-September Tahun Anggaran 2018 [diunduh 19 ‎Agustus ‎2020, ‏‎11:36:32 am]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi Ini Tak Ada Ogoh-ogoh

Next Post

Lomba Tari Bali dan Lomba Busana | Festival Budaya XI Pasemetonan Jegeg Bagus Tabanan

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Lomba Tari Bali dan Lomba Busana | Festival Budaya XI Pasemetonan Jegeg Bagus Tabanan

Lomba Tari Bali dan Lomba Busana | Festival Budaya XI Pasemetonan Jegeg Bagus Tabanan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co