29 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mekorot“ di Masa Pandemi

Suara Perubahan by Suara Perubahan
December 22, 2020
in Esai
“Mekorot“ di Masa Pandemi

Ida Bagus Ngurah Sidharta Manuaba

Penulis: Ida Bagus Ngurah Sidharta Manuaba

________

Kenikmatan bermain layang-layang di setiap daerah memang berbeda. Jika di wilayah Denpasar dan Badung yang merupakan bagian dari Bali Selatan menikmati layang-layang dengan keindahan dan gerakannya, maka tak demikian dengan di Buleleng. Di kawasan Bali bagian utara ini orang-orang justru menikmatinya dengan semangat mengadu layang-layang di udara, atau biasa disebut mekorot. Mekorot juga merupakan seni melayangan dari Bali Utara. Selain cara memainkannya perbedaan melayangan khas Bali Utara juga dapat dilihat dari ukuran layangannya yang lebih kecil.

Teringat ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya sudah dikenalkan dengan permainan tradisional ini. Saat layang-layang saya berhasil mengudara dan dengan asiknya saya menarik ulur benang layangan hingga berhasil memotong benang layangan milik lawan, rasanya sangat asik dan seru sekali. Saking asiknya bermain layangan saya pun tak kenal waktu dan terus memainkannya hingga petang menjelang. Alhasil orang tua pun menegur saya karena hanya ingat bermain layangan dan mengabaikan tugas-tugas sekolah. Sebuah pengalaman yang tidak mungkin saya lupakan.

Di era tahun 1990-an mekorot masih menggunakan benang yang berbahan katun yang masih polos tanpa gelasan dari pabrik, sebelum digunakan untuk bermain layangan, benang tersebut harus melalui proses penggelasan secara manual dengan menggunakan teknik melapisi benang tersebut dengan campuran getah/lem dan serbuk gelasan. Seiring dengan kemajuan teknologi, pemakaian benang gelasan berbahan katun dengan proses penggelasan secara manual tersebut sudah mulai ditinggalkan karena ada pengganti benang siap pakai berbahan kenur (senar) yang sudah berisi gelasan dari pabriknya.

Benang dibuat oleh pabrik dan siap pakai ini tentu sangat memudahkan para pecinta layangan, karena sudah siap pakai dan kualitas dari benang tersebut jauh lebih bagus dari benang gelasan tradisional yang dimodifikasi secara manual. Benang gelasan pabrikan ini memang sangat praktis dan kuat, tapi saat pertama kali benang ini di pasarkan, masyarakat tidak mudah menerimanya karena menyebabkan kesulitan dalam mengendalikan layangan di udara. Seiring berjalannya waktu dan pemakaian yang semakin sering para pecinta layangan menjadi terbiasa menggunakan benang gelasan pabrik. Benang berbahan katun gelasan manual pun mulai ditinggalkan. Walaupun terjadi perubahan pada benang layangan teknik mekorot harus tetap dipertahankan. Teknik pada saat kapan untuk mengulur dan menarik benang sehingga bisa didapatkan momen yang tepat untuk menyerang dan mengalahkan lawan.

Mekorot juga dijadikan ajang lomba dan festival. Sebelum adanya festival mekorot, lomba layang-layang mekorot ini bernama met-metan yaitu mengadu layangan dengan ketinggian sangat tinggi dengan menggunakan benang dengan panjang hampir 2000 yard. Festival mekorot ini diselenggarakan tidak saja untuk hiburan, tetapi dijadikan media dan edukasi kepada anak-anak dan generasi muda untuk mengenal permainan tradisional di tengah permainan modern yang belakangan ini populer dimainkan. Misi besar lainnya adalah bagaimana permaianan mekorot ini tetap dilestarikan dan menjadi pendukung dalam atraksi wisata di Bali Utara. Festival permainan tradisional ini sejak pertama digelar memang menjadi perhatian masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke Lovina. Sejumlah wisatawan bahkan ikut tertawa-tawa ketika melihat sejumlah pemain layangan pontang-panting menarik-ulur benang layangan mereka untuk menyelamatkan layangan dari korotan layang-layang lawan. Festival mekorot ini sudah menjadi agenda bagi Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng setiap tahunnya. Di tahun 2019 silam Buleleng berhasil menyelenggarakan lomba mekorot dengan konsep kegiatan yang bertema “Bertarung di Udara, Bersahabat di Darat”.

Namun di era revolusi industri 4.0 saat ini banyak permainan modern berbasis aplikasi seperti mobile legend, free fire dan lainnya mudah diunduh di gawai setiap orang. Game online sangat banyak peminatnya karena kemudahan dalam memainkannya. Game ini juga bisa dimainkan kapanpun dan dimanapun asalkan terkoneksi dengan jaringan internet. Lomba-lomba game online juga mulai bermunculan dikalangan pemuda. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan bagi permainan tradisional melayangan.

Ditambah lagi kondisi pandemi saat ini, yang mengakibatkan banyak pertuntujukan, festival, dan pameran berhenti dilaksakan di Kabupaten Buleleng. Biasanya Kabupaten Buleleng setiap tahunnya ramai dengan festival maupun pegelaran-pegelaran seni yang digelar saat hari-hari istimewa seperti hari ulang tahun Kota Singaraja, hari kemerdekaan Indonesia, tahun baru dan tanggal-tanggal lain yang menjadi agenda Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng.

Untuk mempertahankan budaya melayangan (mekorot) ini hendaknya pemerintah segera membuat rancangan festival yang dapat dilakukan di era new normal. Misalnya seperti membuat aturan batasan jumlah pengunjung saat memasuki area festival. Menyiapkan protokol kesehatan mulai dari sarana cuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak. Dengan demikian pengunjung dapat menyaksikan festival atau lomba mengadu layangan dengan rasa aman dan terhindar dari Covid-19.

Dibalik musibah yang terjadi masih ada hal positif yang didapat. Karena disaat masa pandemi banyak pelajar yang belajar dari rumah dan banyak pekerja yang bekerja dari rumah merekapun memilih untuk menghabiskan waktu dengan bermain layangan. Tidak hanya anak-anak bahkan yang tua-tua juga ikut bermain layangan dan menikmati asiknya mekorot di udara. Hal ini juga memberikan imbas kepada pengerajin dan penjual layangan. Produk yang mereka buat sangat laku dijual. Meskipun tidak ada festival di Lovina, di setiap desa/ kelurahan justru mengadakan lomba mekorot yang ramai diikuti oleh penduduk setempat. Kegiatan seperti ini sangat bagus dilakukan karena mampu memberikan hiburan dan melupakan stres akibat pandemi. Area perlombaan juga dalam skala kecil yaitu desa/kelurahan. [T]

  • Ida Bagus Ngurah Sidharta Manuaba, mahasiswa S2 Ilmu Manajemen Undiksha Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan yang Bersuara, Perempuan yang Berkarya || Pengantar Buku “Suara Tepi Hati”

Next Post

Sebelum Cerpen Lahir dan Sebelumnya Lagi || Catatan Workshop Cerpen Siar Siur Kalangan

Suara Perubahan

Suara Perubahan

Suara Perubahan berisi esai-esai tugas mata kuliah "Change Management" Program S2 Ilmu Manajemen Undiksha Singaraja yang diampu oleh dosen Dr. I Nengah Suarmanayasa, S.E., M.Si.

Related Posts

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails
Next Post
Sebelum Cerpen Lahir dan Sebelumnya Lagi || Catatan Workshop Cerpen Siar Siur Kalangan

Sebelum Cerpen Lahir dan Sebelumnya Lagi || Catatan Workshop Cerpen Siar Siur Kalangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co