24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para Pemuja, Kegelapan dan Mimpi

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
December 14, 2020
in Esai
Atat Yang Bijaksana #1

ILustari tatkala.co | Nana Partha

Jñana. Sederhananya berarti pengetahuan. Orang yang berhasil memahaminya, konon akan terlepas dari suka dan duka. Memahami Jñana bukanlah persoalan mudah. Sulitnya memahami ajaran ini, disebutkan berkali-kali dalam pustaka-pustaka tentang Jñana. Meski sulit, ajaran ini selalu dikatakan sangat utama. Karena keutamaannya itulah, banyak orang mencarinya di balik lempir-lempir lontar, kertas, kayu, bambu, dan seterusnya. Sayangnya, pustaka-pustaka tentang Jñana seperti teka-teki yang tidak pernah selesai.

Bolehlah kita menaruh harapan besar pada otak yang dianugerahkan kemampuan berpikir untuk menjawab teka-teki bersilang itu. Meskipun begitu, kita tak boleh lupa membekali otak dengan makanan, minuman, peta, kendaraan, dan cara merumuskan jawaban. Tanpa semua itu, otak hanya melahirkan kuda-kuda liar yang sulit dijinakkan. Hasilnya, segala jenis bacaan dikiranya jawaban, semua produk intelektual diduga akhir perjalanan. Intinya, jawaban untuk teka-teki silang Jñana tidak dapat ditemukan hanya dengan membolak-balik daun tulis dan kertas gambar. Lalu bagaimana caranya?

Tunggu dulu. Tidak semua pertanyaan harus dijawab langsung. Tiap pertanyaan selalu mengandung maksud yang bahkan tidak pernah terkira sebelumnya. Yang paling berbahaya adalah pertanyaan yang tujuannya bukan untuk mendapatkan jawaban.

Ya, tidak tiap pertanyaan adalah pertanyaan. Sebuah pertanyaan bisa jadi adalah kamuflase dari pernyataan. Pertanyaan semacam itu hanya kamuflase dari segudang jawaban yang tersimpan tidak dalam pertanyaan, tapi dalam otak orang yang bertanya. Wujud awalnya memang seperti pertanyaan. Kemudian ia berubah menjadi pernyataan, lalu berubah lagi menjadi penyanggahan. Tahap selanjutnya, menjadi hinaan. Jika ada yang demikian, sebaiknya tinggalkan. Karena menurut ajarannya, Jñana tidak ada pada orang yang demikian.

Barangkali orang yang begitu, hanya sedang meniru-niru tokoh sekelas Bungkling atau I Ketut Bagus. Tujuannya tentu saja agar terlihat cerdas. Kecerdasan adalah kekuatan. Untuk melegitimasi kecerdasan, maka pertanyaan yang sulit itu dibuat-buat. Hasilnya orang yang bertanya dan yang menjawab, sama-sama bingung. Begitu pula yang membaca tidak kalah bingungnya. Begitulah jadinya, Jñana bukan hanya mempermainkan orang yang bertanya, tapi juga orang yang larut pada pertanyaan. Baik yang bertanya ataupun yang menjawab, keduanya sama-sama korban dari situasi dan produk pikirannya sendiri.

Sama halnya dengan pemuja yang mencari Tuhannya dengan kebodohan dan kepintaran. Pemuja yang bodoh, mencari dengan kebodohannya yang gelap. Pemuja yang cerdas terus menerus bertanya dan mencari Tuhannya dalam kepintarannya yang benderang. Keduanya berakhir pada sisi yang sama, keduanya sama-sama tidak tahu tentang apa yang sesungguhnya mereka cari. Mirip orang pergi berlibur ke pantai yang sepi sunyi, setelah sampai di sana, ia baru bertanya, “apa yang saya cari di tempat ini?”. Keduanya sama-sama mencari, sama-sama bingung, sama-sama tidak menemukan apa-apa.

Isa Upanisad berkata demikian. Mereka yang memuja karena bodoh, masuk ke dalam kegelapan dan kebodohan. Ia yang memuja karena kecerdasannya, akan lebih masuk ke dalam kegelapan. Jadi, dengan kebodohan atau pun dengan kepintaran, pemuja berakhir di tempat yang gelap. Karena kegelapan yang dicapai berakar dari titik pencarian berbeda, apakah kualitas gelap yang dialami keduanya sama?

Coba tanyakan apa arti gelap kepada Lubdaka. Sebab ia konon menjadi pemuja pada saat gelap. Di malam gelap itulah, Lubdaka yang berpakaian serba gelap konon mendapatkan anugerah. Apalah anugerah jika bukan cahaya. Di dalam deskripsi tentang penyatuan antara pemuja dengan pujaan yang dicapai melalui yoga, berulangkali disebutkan penyatuan itu dicirikan oleh cahaya permata [manik sphatika]. Narasi yang lain menyebutkan kalau keadaan tercapainya penyatuan dianalogikan seperti langit yang terang benderang.

Jñana adalah busur yang bisa digunakan untuk melepaskan anak panah agar tepat sasaran. Itu kata Tattwa Jñana. Bayangkan seorang pemburu membawa anak panah, lalu melepaskannya dengan tangan kosong untuk memburu seekor tikus yang jauh. Lemah dan tidak tepat sasaran. Maka, agar anak panah itu melesat dengan kuat bertenaga dan tepat, diperlukan busur. Busur itulah Jñana, anak panah adalah pragoyasandhi. Agar sasaran tertembus dengan tepat, bukan hanya alat yang penting, tapi kualitas pemburunya. Syaratnya sudah dijelaskan jauh-jauh hari oleh Mpu Kanwa, yakni pemusatan batin. Sakatilinganing ambek tan wyarthan dadi kapitut [semua yang dipusatkan dalam batin tidak mungkin lenyap, segala tujuan tercapai]. Jangan lupa, batin pun hanya alat.

Material itulah alat. Ialah Panca Maha Bhuta. Tanah, air, cahaya, udara, langit, itu semua alat. Yang ada di dalamnya juga alat. Aroma, rasa, warna, sentuhan, suara, itu semua alat. Buktinya semua unsur itu selalu disebut-sebut dalam ritual. Bukankah bunga mengandung aroma dan warna? Bukankah segala jenis tarian itu gerak bayu [udara]? Suara-suara seperti suara gambelan, kulkul, mantra, dan seterusnya juga alat.

Alat-alat itu tidak hanya diperlukan dan dipakai saat upacara beramai-ramai. Orang yang mendiamkan tubuhnya dengan mengendalikan nafas di kesunyiannya sendiri pun memerlukan alat material itu. Dalam banyak sekali pustaka, tubuh ini konon juga dibentuk atas unsur-unsur yang sama dengan jagat. Jadi tubuh ini juga alat pemujaan. Dengan mengendalikan nafas, dikontrolnya pikiran. Tapi nafas juga alat. Setelah nafas benar-benar terkendali, konon muncullah suara-suara halus. Dan suara adalah alat. Karena suara itu sulit untuk dilihat dan dibayangkan dalam pemusatan pikiran, maka ia dibuat tertulis dengan aksara. Jadi aksara hanya alat.

Meskipun demikian, semua alat itu memiliki fungsinya masing-masing. Alat-alat itu, kadang saya bayangkan seperti mainan anak-anak. Seorang anak yang ingin bermain dan membahagiakan dirinya, bebas memilih alat apa yang akan dimainkannya. Maka tidak aneh, jika banyak anak-anak bermain, dan membandingkan mainan siapa yang paling bagus. Sebagaimana umumnya permainan, suatu saat akan terasa membosankan. Setelah bosan, apa yang akan dilakukannya untuk mendapatkan kebahagiaan? Mungkin salah satu caranya adalah membuang semua mainan, lalu bermain petak umpet dengan dirinya sendiri. Dipejamkan mata mereka, lalu asik menerka dan menghitung, berapa banyak kunang-kunang yang menari-nari di depan matanya yang tertutup. Terlalu lama asik menghitung, tiba-tiba semua kunang-kunang hilang dan pandangan mata jadi gelap. Mereka menangis sejadi-jadinya. Air matanya terlanjur menetes. Dibukanya kedua mata yang tadi tertutup. Barulah mereka sadar, ternyata semua itu hanya mimpi. [*][T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masjid dan Gerakan Masyarakat di Sekelilingnya || Catatan dari Kampung di Singaraja

Next Post

Budaya Kitab dan Laku yang Hilang

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Mewarisi Ketakutan, Merawat “Kebutaan”

Budaya Kitab dan Laku yang Hilang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co