26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para Pemuja, Kegelapan dan Mimpi

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
December 14, 2020
in Esai
Atat Yang Bijaksana #1

ILustari tatkala.co | Nana Partha

Jñana. Sederhananya berarti pengetahuan. Orang yang berhasil memahaminya, konon akan terlepas dari suka dan duka. Memahami Jñana bukanlah persoalan mudah. Sulitnya memahami ajaran ini, disebutkan berkali-kali dalam pustaka-pustaka tentang Jñana. Meski sulit, ajaran ini selalu dikatakan sangat utama. Karena keutamaannya itulah, banyak orang mencarinya di balik lempir-lempir lontar, kertas, kayu, bambu, dan seterusnya. Sayangnya, pustaka-pustaka tentang Jñana seperti teka-teki yang tidak pernah selesai.

Bolehlah kita menaruh harapan besar pada otak yang dianugerahkan kemampuan berpikir untuk menjawab teka-teki bersilang itu. Meskipun begitu, kita tak boleh lupa membekali otak dengan makanan, minuman, peta, kendaraan, dan cara merumuskan jawaban. Tanpa semua itu, otak hanya melahirkan kuda-kuda liar yang sulit dijinakkan. Hasilnya, segala jenis bacaan dikiranya jawaban, semua produk intelektual diduga akhir perjalanan. Intinya, jawaban untuk teka-teki silang Jñana tidak dapat ditemukan hanya dengan membolak-balik daun tulis dan kertas gambar. Lalu bagaimana caranya?

Tunggu dulu. Tidak semua pertanyaan harus dijawab langsung. Tiap pertanyaan selalu mengandung maksud yang bahkan tidak pernah terkira sebelumnya. Yang paling berbahaya adalah pertanyaan yang tujuannya bukan untuk mendapatkan jawaban.

Ya, tidak tiap pertanyaan adalah pertanyaan. Sebuah pertanyaan bisa jadi adalah kamuflase dari pernyataan. Pertanyaan semacam itu hanya kamuflase dari segudang jawaban yang tersimpan tidak dalam pertanyaan, tapi dalam otak orang yang bertanya. Wujud awalnya memang seperti pertanyaan. Kemudian ia berubah menjadi pernyataan, lalu berubah lagi menjadi penyanggahan. Tahap selanjutnya, menjadi hinaan. Jika ada yang demikian, sebaiknya tinggalkan. Karena menurut ajarannya, Jñana tidak ada pada orang yang demikian.

Barangkali orang yang begitu, hanya sedang meniru-niru tokoh sekelas Bungkling atau I Ketut Bagus. Tujuannya tentu saja agar terlihat cerdas. Kecerdasan adalah kekuatan. Untuk melegitimasi kecerdasan, maka pertanyaan yang sulit itu dibuat-buat. Hasilnya orang yang bertanya dan yang menjawab, sama-sama bingung. Begitu pula yang membaca tidak kalah bingungnya. Begitulah jadinya, Jñana bukan hanya mempermainkan orang yang bertanya, tapi juga orang yang larut pada pertanyaan. Baik yang bertanya ataupun yang menjawab, keduanya sama-sama korban dari situasi dan produk pikirannya sendiri.

Sama halnya dengan pemuja yang mencari Tuhannya dengan kebodohan dan kepintaran. Pemuja yang bodoh, mencari dengan kebodohannya yang gelap. Pemuja yang cerdas terus menerus bertanya dan mencari Tuhannya dalam kepintarannya yang benderang. Keduanya berakhir pada sisi yang sama, keduanya sama-sama tidak tahu tentang apa yang sesungguhnya mereka cari. Mirip orang pergi berlibur ke pantai yang sepi sunyi, setelah sampai di sana, ia baru bertanya, “apa yang saya cari di tempat ini?”. Keduanya sama-sama mencari, sama-sama bingung, sama-sama tidak menemukan apa-apa.

Isa Upanisad berkata demikian. Mereka yang memuja karena bodoh, masuk ke dalam kegelapan dan kebodohan. Ia yang memuja karena kecerdasannya, akan lebih masuk ke dalam kegelapan. Jadi, dengan kebodohan atau pun dengan kepintaran, pemuja berakhir di tempat yang gelap. Karena kegelapan yang dicapai berakar dari titik pencarian berbeda, apakah kualitas gelap yang dialami keduanya sama?

Coba tanyakan apa arti gelap kepada Lubdaka. Sebab ia konon menjadi pemuja pada saat gelap. Di malam gelap itulah, Lubdaka yang berpakaian serba gelap konon mendapatkan anugerah. Apalah anugerah jika bukan cahaya. Di dalam deskripsi tentang penyatuan antara pemuja dengan pujaan yang dicapai melalui yoga, berulangkali disebutkan penyatuan itu dicirikan oleh cahaya permata [manik sphatika]. Narasi yang lain menyebutkan kalau keadaan tercapainya penyatuan dianalogikan seperti langit yang terang benderang.

Jñana adalah busur yang bisa digunakan untuk melepaskan anak panah agar tepat sasaran. Itu kata Tattwa Jñana. Bayangkan seorang pemburu membawa anak panah, lalu melepaskannya dengan tangan kosong untuk memburu seekor tikus yang jauh. Lemah dan tidak tepat sasaran. Maka, agar anak panah itu melesat dengan kuat bertenaga dan tepat, diperlukan busur. Busur itulah Jñana, anak panah adalah pragoyasandhi. Agar sasaran tertembus dengan tepat, bukan hanya alat yang penting, tapi kualitas pemburunya. Syaratnya sudah dijelaskan jauh-jauh hari oleh Mpu Kanwa, yakni pemusatan batin. Sakatilinganing ambek tan wyarthan dadi kapitut [semua yang dipusatkan dalam batin tidak mungkin lenyap, segala tujuan tercapai]. Jangan lupa, batin pun hanya alat.

Material itulah alat. Ialah Panca Maha Bhuta. Tanah, air, cahaya, udara, langit, itu semua alat. Yang ada di dalamnya juga alat. Aroma, rasa, warna, sentuhan, suara, itu semua alat. Buktinya semua unsur itu selalu disebut-sebut dalam ritual. Bukankah bunga mengandung aroma dan warna? Bukankah segala jenis tarian itu gerak bayu [udara]? Suara-suara seperti suara gambelan, kulkul, mantra, dan seterusnya juga alat.

Alat-alat itu tidak hanya diperlukan dan dipakai saat upacara beramai-ramai. Orang yang mendiamkan tubuhnya dengan mengendalikan nafas di kesunyiannya sendiri pun memerlukan alat material itu. Dalam banyak sekali pustaka, tubuh ini konon juga dibentuk atas unsur-unsur yang sama dengan jagat. Jadi tubuh ini juga alat pemujaan. Dengan mengendalikan nafas, dikontrolnya pikiran. Tapi nafas juga alat. Setelah nafas benar-benar terkendali, konon muncullah suara-suara halus. Dan suara adalah alat. Karena suara itu sulit untuk dilihat dan dibayangkan dalam pemusatan pikiran, maka ia dibuat tertulis dengan aksara. Jadi aksara hanya alat.

Meskipun demikian, semua alat itu memiliki fungsinya masing-masing. Alat-alat itu, kadang saya bayangkan seperti mainan anak-anak. Seorang anak yang ingin bermain dan membahagiakan dirinya, bebas memilih alat apa yang akan dimainkannya. Maka tidak aneh, jika banyak anak-anak bermain, dan membandingkan mainan siapa yang paling bagus. Sebagaimana umumnya permainan, suatu saat akan terasa membosankan. Setelah bosan, apa yang akan dilakukannya untuk mendapatkan kebahagiaan? Mungkin salah satu caranya adalah membuang semua mainan, lalu bermain petak umpet dengan dirinya sendiri. Dipejamkan mata mereka, lalu asik menerka dan menghitung, berapa banyak kunang-kunang yang menari-nari di depan matanya yang tertutup. Terlalu lama asik menghitung, tiba-tiba semua kunang-kunang hilang dan pandangan mata jadi gelap. Mereka menangis sejadi-jadinya. Air matanya terlanjur menetes. Dibukanya kedua mata yang tadi tertutup. Barulah mereka sadar, ternyata semua itu hanya mimpi. [*][T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masjid dan Gerakan Masyarakat di Sekelilingnya || Catatan dari Kampung di Singaraja

Next Post

Budaya Kitab dan Laku yang Hilang

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails
Next Post
Mewarisi Ketakutan, Merawat “Kebutaan”

Budaya Kitab dan Laku yang Hilang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co