10 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prasi Bagus Umbara dan Tiga Nama Mantra

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
September 25, 2020
in Esai
Prasi Bagus Umbara dan Tiga Nama Mantra

keterangan gambar: potongan prasi Bagus Umbara koleksi British Library

Saya tidak begitu ngeh dengan prasi atau lontar dengan gambar yang mengilustrasikan cerita dari sebuah geguritan ataupun kakawin, sampai pada akhirnya, seorang kawan, sahabat ngopi, teman berbagi ide dan bertukar pikiran, transaksi literatur sambil ngopi berjam-jam di warung kopi atau dimana saja asal bertemu sambil ngopi yaitu I Gede Gita Purnama alias bli Bayu, beberapa tahun belakangan (entah sudah berapa tahun yang lalu saya sungguh lupa dan susah mengingat tepatnya) yang selalu bersemangat menceritakan perihal prasi dan menyatakan keseriusannya meriset prasi.

Yang pertama sering kali didiskusikan adalah tentang terminologi prasi itu sendiri, asal-muasal, siapa yang mencetuskannya, apakah ini istilah lokal atau serapan, kemudian berlanjut pada kantung-kantung wilayah ditemukannya prasi sejalan kemudian kesejarahan prasi. Yang kedua, sering kali pembicaraan mengarah kepada bagaimana metodenya, teori apa yang relevan, dan di dalam hal ini saya dengan latar belakang seni rupa tentu saja mengarahkannya ke teori-teori yang berkenaan dengan kerupaan semisal, teori bahasa rupanya Primadi Tambrani, Art as Experience-nya John Dewey, teori Ikonografi-nya Erwin Panofsky, dan lainnya. Yang ketiga, kami kemudian membuat semacam persekutuan untuk bertukar informasi jika ada yang menemukan prasi atau yang berkenaan dengan prasi itu sendiri.

Bli Bayu sendiri sudah memulai lebih awal masuk dari museum satu ke museum lainnya, tidak hanya di Bali bahkan Pulau Jawa, tidak hanya prasi berupa fisik yang datanya dikumpulkan akan tetapi juga menjelajah museum-museum virtual, saya ikut ketika diajak masuk ke koleksi lontar perpustakaan lontar Universitas Udayana, begitu juga pada bulan maret 2020 lalu sempat terjun ke Bungkulan atas bantuan Bli Tobing kami bertatap muka dengan seorang guru prasi yaitu I Gusti Bagus Sudiasta dari Jero Gusti Bungkulan.

Apa yang kami dapat? Untuk bli Bayu tentu data-data untuk medukung risetnya, sedangkan saya mendapatkan pengalaman baru, pemahaman baru tentang dunia pernaskahan lontar yang di dalamnya memuat fragmen cerita naratif itu, dan tentu yang terpenting adalah hasrat jalan-jalan sambil Nglesir Visual saya terpenuhi hehehe. beberapa pengalaman baru adalah saya pertama kali melihat langsung prasi yang konon paling indah dari sisi visualnya berjudul Dampati Lelangon, kemudian mengkopi buku Mengenal Prasi terbitan Gedong Kirtya Singaraja 1979 yang ditulis oleh I Ketut Suwidja serta ditunjukan bagaimana perspektif bangunan itu digambarkan dengan pendekatan penggambaran sudut pandang modern pada prasi Bagus Umbara, sampai pada hari sabtu malam, 19 September 2020 ketika liburan semalam bersama keluarga di Singaraja saya mendapat kesempatan mencoba menelusuri nama pembuat prasi Bagus Umbara ini di Desa Penarukan, Buleleng diantar oleh paman dari istri saya yang tinggal di perumahan Penarungan.

Sebelumnya, informasi mengenai nama pencipta prasi Bagus Umbara ini memang tercatat pada buku I Ketut Suwidja yang dikutip dari bukunya Dr. C Hooykass berjudul Bagus Umbara Prince of Koripan terbitan British Museum, London 1968. di halaman 7 Suwidja menulis bahwa “…gambar prasi Bagus Umbara ini mula-mula berasal dari Mis Helen Eva Yates yang datang ke Bali pada tahun 1928, atas bantuan Residen Bali dan Lombok Mr. H. Caron, ia telah menemui senimannya sendiri yang ada di sebuah desa dekat Singaraja. Rupa-rupanya seniman yang menggambar prasi ini bernama Bagus Ktut Mantra, dari Desa Penarukan, Buleleng. Desa ini dekat sekali dengan kota Singaraja. Pada tahun 1-1-1919 ia yang terkenal di Buleleng karena prestasinya telah diangkat menjadi pegawai negeri dengan jabatan sebagai sedahan dan sempat berfoto bersama dengan pemerintah pada waktu itu.” Sabtu malam itu saya tidak mengingat pada buku nama yang tertera adalah Bagus Ktut Mantra, justru yang familiar di ingatan saya hanya nama Mantra.

Secara kebetulan, bibi dari istri saya yang sekarang tinggal di Banjar Liligundi, suaminya yang akrab disapa Aji Dodek adalah keturunan dari seseorang yang bernama Mantra atau tepatnya Bagus Nyoman Mantra dari Desa Penarukan, jadi dapat ditebak bagaimana gembiranya hati ini bahwa ini akan mudah untuk ditelusuri dan diketemukan, dan hal ini sudah saya kabarkan pula kepada bli Bayu. Namun sewaktu penelusuran ke Desa Penarukan pada hari Sabtu malam itu sekali lagi saya katakan bahwa saya lupa pencipta prasi Bagus Umbara dalam buku Suwidja itu bernama tengah Ketut bukan Nyoman.

Saya diantar oleh paman istri saya ke saudaranya Aji Dodek yang bernama Dewa Bagus Made Putrayasa atau Aji Putrayasa di Desa Penarukan, darinya saya mendapatkan info bahwa ada tiga orang yang bernama Mantra pada generasi kakeknya. Wow, lagi-lagi kejutan tak terduga di malam minggu. Mantra yang pertama adalah Bagus Nyoman Mantra berprofesi sebagai seorang Balian, orang yang sakti pada masanya, mampu membuat hujan dan membuat hujan reda seketika, informasi yang terpenting adalah bahwa di rumah Bagus Nyoman Mantra ini banyak sekali tersimpan lontar, namun sayang tidak ada yang melanjutkan karena cucu perempuan satu-satunya sudah menikah keluar ke Desa Bungkulan. Mantra yang kedua adalah kakyang dari Aji Dodek dan Aji Putrayasa juga bernama Bagus Nyoman Mantra adalah seorang pegawai negeri pada masanya sebagai sedahan desa di Penarukan, dari informasi Aji Putrayasa bahwa tidak ada lontar lagi di rumahnya terlebih ayahnya adalah seorang tentara di Desa Penarukan. Mantra yang ketiga tidak begitu jelas gelar nama tengahnya apakah memakai wayan, nyoman, made, ketut yang jelas juga bernama depan Bagus dan bernama belakang Mantra, akan tetapi tidak begitu populer untuk Mantra yang ketiga ini. Yang jelas mereka bertiga hidup satu zaman.

Hari ini Minggu, 20 September 2020 sambil menulis catatan ini saya membuka kembali buku Suwidja dan alangkah tercengangnya ketika membaca bahwa yang membuat prasi Bagus Umbara adalah Bagus Ktut Mantra. Sebelum menulis saya mengira-ngira dulu, membuat hipotesis, serta mencoba mengurai persoalan sekaligus menghubung-hubungkan antara prasi Bagus Umbara dengan tiga Mantra. Yang pertama, apakah Mis Helen Eva Yates pada 1928 itu salah menulis nama? Karena sesuai informasi dari mertua saya di Penarukan, dan Aji Dodek sekaligus Aji Putrayasa yang notabena adalah cucunya menyatakan bahwa kakeknya bernama Bagus Nyoman Mantra dulu adalah seorang pegawai sedahan?

Yang kedua, apakah Bagus Nyoman Mantra yang pertama sebagai pencipta prasi Bagus Umbara dengan dalih yang sama bahwa Mis Helen Eva Yates salah menuliskan nama? Akan tetapi beliau adalah seorang balian, orang sakti, konon perwajahannya berambut putih panjang, berkumis dan berjenggot, meskipun dirumahnya konon terdapat banyak lontar akan tetapi tidak berprofesi sebagai pegawai sedahan.

Yang ketiga, apakah Bagus Mantra yang disebutkan nomor tiga tersebut yang membuat prasi Bagus Umbara menimbang bahwa tidak jelas nama tengahnya apakah wayan, made, nyoman, ketut? Bisa-bisa saja nama tengahnya ketut, akan tetapi menurut informasi tidak ada hal yang menonjol dari Mantra yang ketiga ini, jadi agak bertolak belakang dengan keterkenalannya pada masa kolonial sebagai seorang yang berkat prestasinya.

Atau yang keempat, jangan-jangan setelah lontar prasi Bagus Umbara berpindah tangan dari Mis Helen Eva Yates kepada pemegang selanjutnya terjadi kesalahan menulis nama? Hal ini mengingatkan saya pada bulan maret bersama bli Bayu juga yang kebingungan mencari nama Ida Bagus Sudiasta yang beralamat disekitar Gedong Kirtya sebagai pembuat prasi yang tersimpan di Museum Bali ternyata salah menulis nama dan alamat, yang seharusnya bernama I Gusti Bagus Sudiasta dengan alamat Gedong Kirtya Singaraja kemudian ditulis Ida Bagus Sudiasta sedangkan jika turuti google map alamat yang tercatat lokasi tepatnya adalah di patung monumen I Gusti Anglurah Panji Sakti yang sedang menaiki kuda tersebut. Hehehe.

Atau yang kelima, memang ada nama Bagus Ktut Mantra yang memang berprofesi sebagai seniman prasi dan pegawai sedahan? Jika iya, maka ada dua orang yang berprofesi sebagai sedahan dari Desa Penarukan  dan pada masa yang sama pula.

Opsi yang manapun saya rasa sama-sama kuat, dan hal terpenting adalah walau prasi Bagus Umbara yang asli kini tersimpan di British Library, kita masih dapat melihat kopian prasinya yang kini terpajang di ruang display pameran lontar di perpustakaan Gedong Kirtya, Singaraja. Oh iya, sampai tulisan ini selesai diketik dan dimuat di laman web tatkala.co, saya belum menghubungi bli Bayu, sebab saya ingin spoiler dulu kebingungan saya ketika menganalisa dan hendak memutuskan lebih dari itu agar semakin yaahuuuu diskusi panjangnya nanti sewaktu ngopi.

Pohmanis, 21 September 2020

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Google Doodle Mengenang Benyamin Sueb

Next Post

Komunitas Omah Laras dan Panggung yang MenghidupkanTopeng-topeng Mati

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails

Terbang di Atas Sepi

by Angga Wijaya
May 8, 2026
0
Terbang di Atas Sepi

“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang...

Read moreDetails

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

by I Gede Joni Suhartawan
May 8, 2026
0
Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

DATA BPS Februari 2026 membuat kita harus berhenti pura-pura tidak hirau: tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK  8.62%..! Tertinggi dari semua...

Read moreDetails

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

by Agung Sudarsa
May 8, 2026
0
Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh...

Read moreDetails

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

by Asep Kurnia
May 7, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila...

Read moreDetails

Tengah Malam Rokok Habis                           

by Angga Wijaya
May 7, 2026
0
Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

Read moreDetails

KENAPA MASYARAKAT BALI MENSAKRALKAN MANGROVE (Prapat/Pedada/Pidada)?

by Sugi Lanus
May 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai...

Read moreDetails
Next Post
Komunitas Omah Laras dan Panggung yang MenghidupkanTopeng-topeng Mati

Komunitas Omah Laras dan Panggung yang MenghidupkanTopeng-topeng Mati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026
Panggung

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca
Esai

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

by Angga Wijaya
May 10, 2026
Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi
Pameran

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna
Esai

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
Puting Beliung | Cerpen Supartika
Cerpen

Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

by I Putu Supartika
May 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

by Sugi Lanus
May 9, 2026
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot
Esai

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
Terbang di Atas Sepi
Esai

Terbang di Atas Sepi

“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang...

by Angga Wijaya
May 8, 2026
Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single
Pop

Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single

SETELAH mencuri perhatian sebagai unit rock tunanetra asal Bali lewat single “Keidela”, “I’m a Fire”, dan “3”, kini Filla memasuki...

by Dede Putra Wiguna
May 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co