6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pandemi, Bolak-Balik Waktu ke Masa Lalu dan Masa Depan

Santi Dewi by Santi Dewi
July 6, 2020
in Esai
Pandemi, Bolak-Balik Waktu ke Masa Lalu dan Masa Depan

ilustrasi diolah dari foto koleksi penulis

Tak terasa, berbulan-bulan sudah kita terpenjara dalam rumah. Kalaupun keluar, rasanya seperti perang. Harus memakai seragam perang (masker), membawa senjata perang (handsanitizer) atau menyiapkan strategi perang (jaga jarak dan cuci tangan). Namun ada satu hal yang tidak pernah terpenjara dan terbatasi di tengah keterbatasan saat ini. Satu-satunya hal yang justru mendobrak, meradang, dan menerjang seperti kata Chairil Anwar.

Pandemi membuat begitu banyak orang menjadi kreatif, inovatif, produktif dan tif-tif lainnya. Ide-ide bermunculan dari liar pikiran yang tak pernah surut walau dihadang badai pandemi. Contohnya saja banyak sekali orang-orang yang tiba-tiba menjadi bisa memasak, bermunculan video resep-resep masakan di instagram, facebook, dan tak terkecuali tiktok. Tidak hanya video goyang-goyang, mau cari video resep makanan juga banyak lo di tiktok.

Seperti misalnya teman saya, saat ini ia jualan makanan karena terinspirasi dari tiktok, katanya. Atau orang-orang yang memposting hasil masakan mereka dengan presentasi yang sengaja dibuat secantik mungkin dengan angle foto yang membuat orang lain tergiur ketika melihatnya, juga membludaknya pedagang-pedagang online yang memenuhi beranda sosial media.

Semua orang menjadi tiba-tiba bisa dan kreatif di masa pandemi ini. Tentu itu menjadi salah satu sisi baik, karena yang lebih memenjarakan sesungguhnya bukan ketika kita tidak bisa berinteraksi langsung, tapi ketika kita dilarang untuk berpikir. Lagipula, siapa yang melarang orang berpikir? Haha…

Munculnya berbagai wacana video masakan yang ditawarkan untuk mengisi kegelisahan di rumah saja menggugah keinginan saya untuk turut mencoba. Dari awal pandemi sampai saat ini pun saya masih terus mengeksplorasi berbagai masakan. Seperti beberapa waktu lalu misalnya, saya mencoba membuat cilok dengan bumbu kacang. Bahannya sederhana dan mudah saja, sekali tonton tutorialnya, saya langsung eksekusi.

Namun ada yang berbeda pada gigitan pertama. Saat pertama kali mencoba, saya langsung di tarik ke belakang ke masa-masa kecil. Rasanya persis sama seperti pentol buatan nenek yang biasa dijualnya saat mengajar di sekolah dasar dulu, kenyal dan aromanya yang khas dan wangi dari campuran bawang putih dan bumbu lainnya.

Saya langsung teringat pada kenangan itu, dulu nenek adalah seorang guru sekolah dasar, setiap sore ia selalu membuat bulatan-bulatan pentol yang begitu banyak untuk kemudian dijual ke sekolahnya besok pagi. Lalu ketika saya berkesempatan diajaknya ke sekolah, maka di jam istirahat atau pulang sekolah, saya akan merengek meminta pentol kepada nenek yang ia titip di kantin.

Hal yang sama juga terjadi ketika saya memasak be mesisit atau yang biasa disebut ayam suwir. Kali ini tanpa tutorial, saya mencoba menerka bumbu-bumbunya sendiri. Saat ayam dengan bumbu merah itu saya aduk bersama nasi hangat, lagi-lagi saya teringat masa kecil. Saya baru ingat, bahwa dulu saya senang sekali dengan be mesisit.

Pokoknya setiap hari saya harus dibuatkan be mesisit, jika ada be mesisit, maka saya akan makan dengan sangat lahap. Tak peduli dengan lauk lain, bagi saya be mesisitlah yang paling spesial saat itu.

Dulu, saya tergolong anak kecil yang agak susah makan. Beranjak dewasa, saya mulai mengecap berbagai macam makanan hingga akhirnya favorite saya menjadi berubah-ubah. Walau ketika dewasa saya telah mencoba berbagai macam be mesisit dari banyak tangan, namun kesadaran tentang masa kecil justru baru muncul ketika saya membuatnya dengan tangan saya sendiri.

Beranjak dari be mesisit, beberapa tahun kemudianselera saya berpaling hati pada olahan ikan. Pindang bumbu merah sempat menjadi primadona lidah saya dulu. Tepatnya entah kapan saya mulai menyukainya, tapi yang pasti saya sangat suka pindang bumbu merah buatan kompyang saya, atau kalau di bahasa Indonesia berarti buyut.

Lagi-lagi ketika mencoba membuatnya sendiri beberapa waktu lalu dengan bermodalkan kekuatan kira-kira dan perasaan, saya berhasil membuat cita rasa yang sangat sama dan pas tanpa kekurangan sedikit pun. Sama sekali tidak ada bedanya dengan buatan kompyang dulu. Alhasil saya terheran-heran, saya merasa seolah-olah memakan masakan kompyang.

Lah, terus kok bisa masak tanpa liat resep atau diajari? Kenangan tersebut tiba-tiba bermunculan melalui masakan-masakan yang saya buat. Ingatan tentang masa kecil dibangkitkan kembali justru saat pandemi. Saya pun menaruh curiga pada diri saya, bahwa jangan-jangan diam-diam saya telah merekam apa yang saya lihat saat kecil di otak saya meski saya tidak pernah diajari memasak, meski saya hanya sliweran saja melihat orang tua memasak tanpa keinginan bertanya. Apa yang hanya saya lihat dulu ternyata menjadi tabungan yang mengendap di kepala dan kemudian terpanggil kembali ketika saya menuangkannya ke dalam laku.

Pandemi mengingatkan saya pada kenangan-kenangan masa kecil, dan mungkin dua atau tiga puluh tahun lagi apa yang saya kerjakan saat masa pandemi ini akan menjadi kenangan di masa depan. Seperti orang-orang yang beternak lele dalam ember misalnya, mungkin saat ini lele-lele tersebut masih berenang berhimpit-himpitan dalam ember, namun siapa tau saja lima atau delapan tahun kedepan orang-orang tersebut akan memiliki usaha ternak lele sukses dan lele-lele tersebut akan berenang-renang ria di dalam puluhan tambak yang luas sebelum akhirnya mati disantap juga.

Maka beberapa tahun ke depan akan ada kalimat-kalimat seperti ini “Gara-gara pandemi, saya jadi ketagihan beternak lele dan sukses hingga sekarang” atau “Gara-gara pandemi, pengeluaran saya jadi hemat karena tidak perlu membeli ikan” atau bahkan “Semenjak pandemi, aku jadi bisa memasak berbagai macam masakan dari seluruh dunia”. Ah, rasanya akan ada begitu banyak kalimat kalimat “sejak pandemi” atau “gara-gara pandemi” yang akan menyelip di tengah-tengah obrolan ketika apa yang terjadi kini akan menjadi kenangan di masa mendatang.

Hal-hal lampau yang terasa baru atau hal-hal baru yang terasa lampau mungkin saja tidak benar-benar baru dan lampau. Bahwa sesungguhnya kedua hal tersebut adalah bagian pengalaman yang secara sadar atau tidak akan tersimpan di alam bawah sadar kita. Pandemi melahirkan begitu banyak cerita-cerita mengejutkan.

Cerita-cerita soal bagaimana kita menanam keinginan yang mungkin baru sempat terisi saat pandemi, penemuan-penemuan baru dari hasil penyadaran lebih dekat pada rumah, menemukan sisi-sisi lain diri yang tidak pernah kita temukan sebelumnya dan merawat ingatan pada kenangan yang mungkin hampir terlupakan. Pandemi bagi saya justru menjadi momen kembali pulang. Pulang pada kenangan, pulang pada harapan, pulang pada diri sendiri. [T]

Tags: gaya hidupKreativitaspandemi
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Bapak, Ingat Padanya Membuka Keharuanku…

Next Post

Merantau Memang Tidak Mudah, Namun Itu Bukan Alasan

Santi Dewi

Santi Dewi

Lahir di Kalimantan, 02 Mei 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Saat ini aktif dalam Teater Kampus Seribu Jendela. Suka menyanyi, teater, dan melukis wajah.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Merantau Memang Tidak Mudah, Namun Itu Bukan Alasan

Merantau Memang Tidak Mudah, Namun Itu Bukan Alasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co