2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pandemi, Bolak-Balik Waktu ke Masa Lalu dan Masa Depan

Santi Dewi by Santi Dewi
July 6, 2020
in Esai
Pandemi, Bolak-Balik Waktu ke Masa Lalu dan Masa Depan

ilustrasi diolah dari foto koleksi penulis

Tak terasa, berbulan-bulan sudah kita terpenjara dalam rumah. Kalaupun keluar, rasanya seperti perang. Harus memakai seragam perang (masker), membawa senjata perang (handsanitizer) atau menyiapkan strategi perang (jaga jarak dan cuci tangan). Namun ada satu hal yang tidak pernah terpenjara dan terbatasi di tengah keterbatasan saat ini. Satu-satunya hal yang justru mendobrak, meradang, dan menerjang seperti kata Chairil Anwar.

Pandemi membuat begitu banyak orang menjadi kreatif, inovatif, produktif dan tif-tif lainnya. Ide-ide bermunculan dari liar pikiran yang tak pernah surut walau dihadang badai pandemi. Contohnya saja banyak sekali orang-orang yang tiba-tiba menjadi bisa memasak, bermunculan video resep-resep masakan di instagram, facebook, dan tak terkecuali tiktok. Tidak hanya video goyang-goyang, mau cari video resep makanan juga banyak lo di tiktok.

Seperti misalnya teman saya, saat ini ia jualan makanan karena terinspirasi dari tiktok, katanya. Atau orang-orang yang memposting hasil masakan mereka dengan presentasi yang sengaja dibuat secantik mungkin dengan angle foto yang membuat orang lain tergiur ketika melihatnya, juga membludaknya pedagang-pedagang online yang memenuhi beranda sosial media.

Semua orang menjadi tiba-tiba bisa dan kreatif di masa pandemi ini. Tentu itu menjadi salah satu sisi baik, karena yang lebih memenjarakan sesungguhnya bukan ketika kita tidak bisa berinteraksi langsung, tapi ketika kita dilarang untuk berpikir. Lagipula, siapa yang melarang orang berpikir? Haha…

Munculnya berbagai wacana video masakan yang ditawarkan untuk mengisi kegelisahan di rumah saja menggugah keinginan saya untuk turut mencoba. Dari awal pandemi sampai saat ini pun saya masih terus mengeksplorasi berbagai masakan. Seperti beberapa waktu lalu misalnya, saya mencoba membuat cilok dengan bumbu kacang. Bahannya sederhana dan mudah saja, sekali tonton tutorialnya, saya langsung eksekusi.

Namun ada yang berbeda pada gigitan pertama. Saat pertama kali mencoba, saya langsung di tarik ke belakang ke masa-masa kecil. Rasanya persis sama seperti pentol buatan nenek yang biasa dijualnya saat mengajar di sekolah dasar dulu, kenyal dan aromanya yang khas dan wangi dari campuran bawang putih dan bumbu lainnya.

Saya langsung teringat pada kenangan itu, dulu nenek adalah seorang guru sekolah dasar, setiap sore ia selalu membuat bulatan-bulatan pentol yang begitu banyak untuk kemudian dijual ke sekolahnya besok pagi. Lalu ketika saya berkesempatan diajaknya ke sekolah, maka di jam istirahat atau pulang sekolah, saya akan merengek meminta pentol kepada nenek yang ia titip di kantin.

Hal yang sama juga terjadi ketika saya memasak be mesisit atau yang biasa disebut ayam suwir. Kali ini tanpa tutorial, saya mencoba menerka bumbu-bumbunya sendiri. Saat ayam dengan bumbu merah itu saya aduk bersama nasi hangat, lagi-lagi saya teringat masa kecil. Saya baru ingat, bahwa dulu saya senang sekali dengan be mesisit.

Pokoknya setiap hari saya harus dibuatkan be mesisit, jika ada be mesisit, maka saya akan makan dengan sangat lahap. Tak peduli dengan lauk lain, bagi saya be mesisitlah yang paling spesial saat itu.

Dulu, saya tergolong anak kecil yang agak susah makan. Beranjak dewasa, saya mulai mengecap berbagai macam makanan hingga akhirnya favorite saya menjadi berubah-ubah. Walau ketika dewasa saya telah mencoba berbagai macam be mesisit dari banyak tangan, namun kesadaran tentang masa kecil justru baru muncul ketika saya membuatnya dengan tangan saya sendiri.

Beranjak dari be mesisit, beberapa tahun kemudianselera saya berpaling hati pada olahan ikan. Pindang bumbu merah sempat menjadi primadona lidah saya dulu. Tepatnya entah kapan saya mulai menyukainya, tapi yang pasti saya sangat suka pindang bumbu merah buatan kompyang saya, atau kalau di bahasa Indonesia berarti buyut.

Lagi-lagi ketika mencoba membuatnya sendiri beberapa waktu lalu dengan bermodalkan kekuatan kira-kira dan perasaan, saya berhasil membuat cita rasa yang sangat sama dan pas tanpa kekurangan sedikit pun. Sama sekali tidak ada bedanya dengan buatan kompyang dulu. Alhasil saya terheran-heran, saya merasa seolah-olah memakan masakan kompyang.

Lah, terus kok bisa masak tanpa liat resep atau diajari? Kenangan tersebut tiba-tiba bermunculan melalui masakan-masakan yang saya buat. Ingatan tentang masa kecil dibangkitkan kembali justru saat pandemi. Saya pun menaruh curiga pada diri saya, bahwa jangan-jangan diam-diam saya telah merekam apa yang saya lihat saat kecil di otak saya meski saya tidak pernah diajari memasak, meski saya hanya sliweran saja melihat orang tua memasak tanpa keinginan bertanya. Apa yang hanya saya lihat dulu ternyata menjadi tabungan yang mengendap di kepala dan kemudian terpanggil kembali ketika saya menuangkannya ke dalam laku.

Pandemi mengingatkan saya pada kenangan-kenangan masa kecil, dan mungkin dua atau tiga puluh tahun lagi apa yang saya kerjakan saat masa pandemi ini akan menjadi kenangan di masa depan. Seperti orang-orang yang beternak lele dalam ember misalnya, mungkin saat ini lele-lele tersebut masih berenang berhimpit-himpitan dalam ember, namun siapa tau saja lima atau delapan tahun kedepan orang-orang tersebut akan memiliki usaha ternak lele sukses dan lele-lele tersebut akan berenang-renang ria di dalam puluhan tambak yang luas sebelum akhirnya mati disantap juga.

Maka beberapa tahun ke depan akan ada kalimat-kalimat seperti ini “Gara-gara pandemi, saya jadi ketagihan beternak lele dan sukses hingga sekarang” atau “Gara-gara pandemi, pengeluaran saya jadi hemat karena tidak perlu membeli ikan” atau bahkan “Semenjak pandemi, aku jadi bisa memasak berbagai macam masakan dari seluruh dunia”. Ah, rasanya akan ada begitu banyak kalimat kalimat “sejak pandemi” atau “gara-gara pandemi” yang akan menyelip di tengah-tengah obrolan ketika apa yang terjadi kini akan menjadi kenangan di masa mendatang.

Hal-hal lampau yang terasa baru atau hal-hal baru yang terasa lampau mungkin saja tidak benar-benar baru dan lampau. Bahwa sesungguhnya kedua hal tersebut adalah bagian pengalaman yang secara sadar atau tidak akan tersimpan di alam bawah sadar kita. Pandemi melahirkan begitu banyak cerita-cerita mengejutkan.

Cerita-cerita soal bagaimana kita menanam keinginan yang mungkin baru sempat terisi saat pandemi, penemuan-penemuan baru dari hasil penyadaran lebih dekat pada rumah, menemukan sisi-sisi lain diri yang tidak pernah kita temukan sebelumnya dan merawat ingatan pada kenangan yang mungkin hampir terlupakan. Pandemi bagi saya justru menjadi momen kembali pulang. Pulang pada kenangan, pulang pada harapan, pulang pada diri sendiri. [T]

Tags: gaya hidupKreativitaspandemi
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Bapak, Ingat Padanya Membuka Keharuanku…

Next Post

Merantau Memang Tidak Mudah, Namun Itu Bukan Alasan

Santi Dewi

Santi Dewi

Lahir di Kalimantan, 02 Mei 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Saat ini aktif dalam Teater Kampus Seribu Jendela. Suka menyanyi, teater, dan melukis wajah.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Merantau Memang Tidak Mudah, Namun Itu Bukan Alasan

Merantau Memang Tidak Mudah, Namun Itu Bukan Alasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co