23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Dengan Gangguan Jiwa, Siapa Bilang Kebal Corona?

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
July 3, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Ada anggapan salah atau mitos di masyarakat mengatakan bahwa orang dengan gangguan jiwa, saya tidak mau atau menghindari kata-kata “orang gila” karena sejak undang-undang kesehatan jiwa disahkan di Indonesia nama resminya adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tidak bisa sakit dan selalu bahagia, bahkan banyak yang menjadikannya meme di media sosial untuk hal tersebut.

Sebenarnya itu salah, beberapa penelitian mengatakan bahwa angka harapan hidup untuk orang dengan gangguan jiwa berat justru 5-10 tahun lebih pendek daripada populasi umum. Kualitas hidup mereka juga cenderung jauh lebih buruk daripada umumnya masyarakat. Kalau ada anggapan bahwa orang-orang dengan gangguan jiwa bahkan yang tanpa keluarga, dan menggelandang di jalan itu kebal terhadap sakit karena memang kita tidak mengikuti secara detail apa yang terjadi pada mereka.

Sebetulnya sangat ironis jika kita melihat data bahwa provinsi Bali memiliki angka tertinggi untuk orang dengan gangguan jiwa berat yaitu 11 perseribu jumlah rumah tangga. Anggaplah misalnya dalam satu rumah tangga rata-rata berisi 3-4 orang, maka kurang lebih 4 per 1000 jumlah penduduk. Kalau penduduk Bali adalah 5 juta maka saat ini ada 20.000 orang dengan gangguan jiwa berat. Apabila penanganannya tidak intens maka sebagian dari mereka akan menggelandang di jalanan.

Kenapa saya membahas topik ini? Karena hari ini saya mendapatkan satu orang, Mr. X dalam artian ODGJ yang menggelandang di jalan tanpa keluarga bahkan tidak tahu namanya  kemungkinan besar mengalami positif Covid-19 dan perlu dirawat. Anda bisa membayangkan bagaimana sulitnya merawat pasien Covid-19 yang mengalami gangguan jiwa berat dan tanpa keluarga.

Mungkin kalau masyarakat umum yang mengalami kita bisa saja memberitahu untuk isolasi, kemudian protokol apa yang perlu dilakukan dan sebagainya. Tetapi tentu saja kesulitan dalam merawat penderita Covid-19 sekaligus orang dengan gangguan jiwa berat tanpa keluarga menjadi berlipat ganda, seperti di beberapa RSJ di Jawa Timur yang merawat ODGJ positif Covid-19.

Bagaimana fasilitas kesehatan harus ideal untuk menangani hal ini? Sebab ODGJ juga mempunyai hak, jadi selain dirawat untuk Covid-19 nya tentu juga gangguan jiwanya perlu diobati walaupun tidak jelas identitasnya. Menurut peraturan di negara kita orang Indonesia bukan saja orang yang mempunyai KTP tetapi orang yang tinggal dan hidup di Indonesia mempunyai hak untuk itu, termasuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Sebenarnya ada masalah cukup besar umumnya di Indonesia tetapi di Bali juga mendapatkan fokus masalah yang sama, di mana penanganan orang dengan gangguan jiwa yang menggelandang ini tidak mempunyai jalan keluar, bisa saya katakan demikian karena menurut undang-undang harusnya ada satu Panti Bina Laras yang bahkan kini aturannya mesti ada di setiap kota kabupaten.

Kita di Bali jangankan di kota kabupaten, di satu provinsi saja tidak punya. Memang mulai ada semacam panti misalnya di Tabanan tetapi hanya dengan kapasitas 4 orang dan itupun justru digunakan untuk orang-orang yang mempunyai keluarga. Sedangkan Panti Bina Laras  diperuntukkan bagi yang identitasnya tidak jelas dan tanpa keluarga. Bahayanya adalah ketika seperti pandemi sekarang, orang yang mengalami gangguan jiwa berat dan menggelandang tentu sangat beresiko tinggi kemudian mengalami penyakit menular dan menularkan kepada banyak orang.

Hal ini sebenarnya sudah diantisipasi misalnya oleh teman-teman di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali yang ada di Rumah Berdaya Denpasar. Jadi ketika awal pandemi teman-teman ini justru membuat masker. Jadi orang dengan gangguan jiwa berat juga bisa pulih dan berdaya, mereka yang berdaya justru membuat masker atau mengumpulkan donasi bahkan untuk APD petugas layanan kesehatan yang selama ini melakukan melakukan kunjungan rumah untuk memastikan pengobatan terhadap ODGJ di seluruh kota Denpasar.

Kami sadar bahwa ketika yang terinfeksi Covid-19 adalah orang dengan gangguan jiwa berat penanganan dan kesulitannya akan berlipat ganda. Namun, ini  membutuhkan solusi jangka panjang. Sampai saat ini yang terjadi adalah orang dengan gangguan jiwa berat yang menggelandang dibawa ke rumah sakit jiwa akhirnya menjadi penghuni abadi di dalam rumah sakit jiwa.

Kita harus tahu bahwa tempat mereka sesungguhnya bukanlah di rumah sakit jiwa seumur hidup tapi musti ada di Panti-panti Bina Laras. Kalau tidak bisa dalam satu kabupaten/kota setidaknya dalam satu provinsi (Bali) itu mempunyai Panti Bina Laras. Karena mereka tetap manusia dan mempunyai hak-hak di mana mereka termasuk difabilitas psikososial. Jadi yang disebut difabilitas bukan bukan hanya yang mempunyai cacat fisik ataupun cacat panca indra tetapi juga juga orang-orang yang mengalami keterbatasan dalam hal psikososial.

Jadi hal-hal ini sangat dibutuhkan kedepannya bahwa provinsi Bali mempunyai Panti Bina Laras tapi hanya khusus untuk orang-orang yang menggelandang dan tidak mempunyai keluarga. Ketika saya menginginkan adanya Panti Bina Laras bukan berarti saya ingin semua orang gangguan jiwa termasuk yang mempunyai keluarga ditelantarkan oleh keluarganya.

Perlu kebijakan yang meliputi berbagai aspek. Bagi keluarga-keluarga yang sampai saat ini merawat orang dengan gangguan jiwa juga membutuhkan bantuan jaring pengaman sosial. Mereka sudah melakukan kewajiban dalam merawat keluarganya walaupun mengalami gangguan jiwa berat untuk tetap bisa mempunyai kemampuan dan daya upaya untuk terus merawat keluarganya yang mengalami gangguan jiwa berat.

Namun bagi yang menggelandang dan tidak mempunyai keluarga tentu negara juga harus mengupayakan, apalagi sudah tertera dalam peraturan yaitu Panti Bina Laras. Agar jangan sampai ada lagi isu-isu liar yang mengatakan bahwa beberapa ODGJ istilahnya hanya “ekspor-impor”, ditangkap di kota A atau ditangkap di kota kabupaten B kemudian dilepas di kabupaten atau kota yang lain.

Hal itu tidak menyelesaikan masalah, apalagi di tengah pandemi saat ini. Jadi sebenarnya orang dengan gangguan jiwa berat ketika ditangani dengan baik juga mempunyai masa depan dan bisa pulih kembali. Mudah-mudahan kita semua bisa melalui pandemi ini dengan baik dan senantiasa dalam keadaan mantap jiwa dan raga. Salam Mantap Jiwa. [T]

Tags: covid 19kesehatankesehatan jiwavirus corona
Share354TweetSendShareSend
Previous Post

Tujuan Pulang Kampung yang Tidak Terduga

Next Post

Setara: Monumen Pandemi Dialog Dini Hari

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Setara: Monumen Pandemi Dialog Dini Hari

Setara: Monumen Pandemi Dialog Dini Hari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co