23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [2] – Herd Immunity dan New Normal

Rsi Suwardana by Rsi Suwardana
June 13, 2020
in Esai
Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Pandemi Covid-19 membuat teori herd immunity banyak didiskusikan oleh akademisi medis juga non-medis, disebarluaskan oleh jurnalis dan medianya, kemudian dikonsumsi oleh warganet sembari mengisi waktu senggangnya kala #dirumahsaja.

Saking hebohnya, bapak saya sampai bertanya apa itu herd immunity; apakah benar konsep itu menegaskan sikap abai pemerintah terhadap warga negaranya. Lewat sambungan telepon, beliau juga melontarkan istilah trendi seperti new normal dan R0 (beliau menyebutnya r-nol, bukan r-nought). Bapak tidak memiliki latar belakang bidang kesehatan, hanya menghabiskan banyak waktu luangnya untuk scrolling aplikasi Facebook, membaca pesan terusan grup Whatsapp, atau kadang menonton Youtube.

Sependek pengetahuan saya, herd immunity terdiri dari dua kata yakni: herd (komunitas), dan immunity (daya tahan). Herd immunity menjelaskan bahwa angka penularan suatu penyakit dapat ditekan serendah-rendahnya apabila sejumlah anggota komunitas telah memiliki daya tahan terhadap penyakit yang dimaksudkan. Kata kuncinya adalah persentase daya tahan anggota komunitas.

Berapa banyak jumlah anggota komunitas yang diperlukan?. Tergantung seberapa tinggi angka penularan penyakit (R0) yang dimaksudkan. Formula untuk menghitung ambang batas persentase herd immunity (H) adalah sebagai berikut:

Ambil contoh Covid-19. Rangkuman beberapa penelitian internasional menyebutkan bahwa rata-rata nilai R0 Covid-19 adalah 3.28. Untuk lebih memudahkan ilustrasi, anggaplah nilai R0 Covid-19 adalah 3. Artinya, tiap satu orang pasien Covid-19 dapat menulari tiga orang lainnya. Jika kita memasukan nilai 3 sebagai R0, maka nilai (H) menjadi 2/3 atau 67%.

Interpretasi dari hasil tersebut adalah: konsep herd immunity akan tercapai apabila dua pertiga masyarakat telah memiliki daya tahan terhadap Covid-19. Perlu dicatat bahwasannya saya bukanlah pakar statistika atau ahli kesehatan masyarakat, hanya lulusan dokter umum sahaja. Besar harapan saya artikel ini akan dibaca dan dikoreksi oleh para cendekiawan terkait.

Kemudian, mari kita kaitkan pada realita dan diskursus publik: apakah kebijakan new normal adalah salah satu implementasi herd immunity?.

Mengutip dari laman Kompas (https://www.kompas.com/tren/read/2020/05/27/193200965/infografik–panduan-protokol-kesehatan-pencegahan-covid-19-untuk-sambut-new), secara harfiah new normal dapat dijelaskan sebagai perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Meski ditambahkan embel-embel “guna mencegah terjadinya penularan Covid-19”, membiarkan masyarakat beraktivitas normal tentu saja memperbesar risiko penularannya jika dibandingkan dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan kata lain, new normal berpotensi meningkatkan kasus infeksi SARS-CoV-2 pada masyarakat.

Beberapa opini dari akademisi menyiratkan penerapan new normal sebagai herd immunity. Meningkatnya kasus infeksi SARS-CoV-2 berarti meningkatnya persentase masyarakat yang akan memiliki daya tahan setelah terinfeksi virus tersebut. Ini adalah pendapat netral, dan jamak digaungkan oleh akun-akun tenaga kesehatan yang aktif di media sosial.

Lain halnya dengan pandangan para partisan politik. Bagi kaum pemuja pemerintah, new normal adalah keniscayaan. Penerapannya akan menimbulkan herd immunity bagi masyarakat yang telah terinfeksi. Mereka juga menambahkan bahwa new normal adalah kebijakan untuk berdamai dengan SARS-CoV-2, demi menyelamatkan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, gembar-gembor para oposan yang mengartikan new normal sebagai new abnormal karena mengindikasikan sikap abai pemerintah terhadap kesehatan warga negaranya. Bagi kelompok oposisi, new abnormal adalah sebuah kenistaan. Meskipun herd immunity dapat tercapai, akan banyak masyarakat Indonesia yang mengidap Covid-19, sebagian kecil diantaranya bisa saja meninggal dunia. Ekonomi bisa dipulihkan secara perlahan, tetapi orang yang sudah meninggal tidak bisa dihidupkan kembali dengan cara apapun.

Benarkah new normal adalah herd immunity?.

Frase herd immunity pertama kali tercantum dalam publikasi W.W.C Topley dan G.S Wilson tahun 1923 yang berjudul The Spread of Bacterial Infection: the Problem of Herd-Immunity. Topley dan Wilson meneliti tentang penyebaran infeksi dan angka kematian pada mencit yang terpapar bakteri Bacillus enteritidis. Jenis bakteri ini dilaporkan beberapa kali mengontaminasi bahan makanan pada awal abad ke-20.

Topley dan Wilson membagi mencit menjadi dua kelompok besar, yakni mencit dengan vaksinasi B. enteritidis dan tanpa vaksinasi. Dari penelitian ini didapatkan bahwa tidak terjadi penyebaran infeksi pada kandang yang seluruhnya beranggotakan mencit dengan vaksinasi sebelumnya. Angka kematian pada kandang yang berisi campuran mencit dengan-dan-tanpa vaksinasi lebih rendah jika dibandingkan dengan kandang yang hanya berisikan mencit tanpa vaksinasi, yakni 53.3% dibandingkan 70%. Kesimpulannya adalah vaksinasi B. enteritidis berpotensi memutus rantai penularan dan menekan angka kematian akibat infeksi bakteri terkait.

Berdasarkan kajian historis di atas, menurut hemat saya, menggunakan istilah herd immunity tanpa mengaitkannya dengan vaksin seperti membuat kopi tanpa menyeduhnya dengan air panas. Apa yang kita bisa seruput?, serbuk kopi yang kering dan pahit itu?.

Kata kunci dari herd immunity adalah persentase daya tahan anggota komunitas. Membiarkan masyarakat terinfeksi oleh SARS-CoV-2 secara alamiah, belum tentu bisa menghasilkan daya tahan yang diharapkan. Poin ini sekaligus menjadi koreksi dari opini-opini ilmiah yang mengaitkan antara new normal dan herd immunity. 

Infeksi alamiah suatu penyakit akan merangsang aktivasi sistem imunitas. Salah satu komponen sistem imun adalah antibodi, yakni protein yang dihasilkan oleh sel limfosit B (salah satu sel imun).

Sebuah penelitian dari Amerika Serikat menyebutkan bahwa infeksi SARS-CoV-2 merangsang pembentukan antibodi spesifik. Antibodi berfungsi untuk mengenali bagian tertentu dari virus SARS-CoV-2, kemudian mengaktifkan sistem imun tubuh untuk menghalau infeksi virus ini. Logikanya, adanya antibodi spesifik memungkinkan orang menjadi ‘kebal’ terhadap paparan infeksi berulang SARS-CoV-2.

Secara teori memang demikian, meski sebenarnya tidak sesederhana itu. Antibodi bisa memberikan perlindungan maksimal jika konsentrasi (titer) dalam darah mencukupi. Belum ada penelitian yang menyimpulkan konsentrasi minimal antibodi yang diperlukan untuk menimbulkan kekebalan terhadap infeksi berulang SARS-CoV-2.

Penelitian yang sama juga menyebutkan bahwa titer antibodi memiliki korelasi positif dengan lama gejala dan derajat keparahan penyakit. Artinya, titer antibodi yang tinggi cenderung terjadi pada pasien Covid-19 dengan derajat keparahan sedang atau berat, sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit. Penelitian ini tidak mengikutsertakan pasien Covid-19 tanpa gejala atau asimtompatis.

Jadi, belum jelas apakah pasien yang memiliki gejala ringan atau tanpa gejala dapat menghasilkan konsentrasi antibodi yang adekuat untuk menimbulkan kekebalan di kemudian hari. Apakah kita harus membiarkan pasien Covid-19 jatuh dalam tingkat keparahan sedang atau berat agar dapat menimbulkan kekebalan?. Tentu saja tidak.

Selain itu, perlindungan yang diberikan karena adanya antibodi bisa saja bersifat sementara. Para ilmuwan belum bisa mengatakan secara pasti berapa lama antibodi terhadap SARS-CoV-2 bisa bertahan di dalam darah. Implikasinya adalah: jika konsentrasi antibodi menghilang dalam kurun waktu tertentu, maka daya tahan terhadap SARS-CoV-2 hanya berlangsung selama tenggat waktu tersebut.

Terakhir, sel-sel pertahanan tubuh itu ibarat prajurit tempur. Bisa saja si prajurit akan menghianati jenderalnya, bukan?. Adanya antibodi dapat memicu reaksi pertahanan tubuh yang berlebihan, sehingga pada akhirnya justru memperparah kondisi pasien Covid-19. Dunia kedokteran menyebut fenomena ini dengan istilah cytokine storm (badai sitokin). Banyak publikasi dan kajian ilmiah yang menyebutkan bahwa badai sitokin adalah salah satu penyebab utama kematian pada kasus Covid-19.

Seluruh teori dan istilah di atas pastinya akan sangat susah dicerna oleh kalangan awam. Dunia medis pun masih terus memutakhirkan konsep dan alur penanganan pandemi Covid-19. Satu konsep berhasil dibuktikan, satu lainnya bisa saja tumbang karena tidak ditunjang data-data penelitian yang valid.

Kesimpulannya, menurut opini saya, penerapan new normal bukanlah implementasi dari herd immunity—setidaknya sampai benar-benar terbukti bahwa infeksi alamiah SARS-CoV-2 bisa menghasilkan kekebalan, atau program vaksinasi masuk dalam penerapan new normal.

Para peneliti di seluruh dunia tengah berusaha untuk membuat vaksin SARS-CoV-2 dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya. Proses ini biasanya memakan waktu hingga bertahun-tahun. Namun, dengan kemajuan teknologi biologi molekular dan bioinformatika, diharapkan vaksin SARS-CoV-2 bisa diciptakan selang 1-2 tahun kedepan.

Aktivitas ekonomi tentu tidak bisa berhenti sepenuhnya hingga dua tahun kedepan, hanya untuk menunggu tersedianya vaksin SARS-CoV-2. Apakah new normal adalah sebuah keniscayaan atau kenistaan?. Diperlukan kolaborasi pemikiran lintas disiplin ilmu untuk dapat menemukan titik temu antara aspek kesehatan dan ketahanan ekonomi masyarakat. Yang jelas, masalah sebesar pandemi Covid-19 tidak akan selesai hanya karena puja-puji atau caci-maki terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Daftar bacaan:

  • Formula untuk menghitung ambang batas herd immunity dikutip dari makalah Paul E.M Fine, yang berjudul Herd Immunity: History, Theory, Practice (1993). https://academic.oup.com/epirev/article-abstract/15/2/265/440430?redirectedFrom=fulltext
  • Makalah dari W.W.C Topley dan G.S Wilson (1923) dapat diakses pada tautan berikut ini: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2167341/
  • Penelitian dari Amerika Serikat tentang antibodi pasca infeksi SARS-CoV-2 dilakukan oleh Davide F. Robbiani, dkk (2020). Publikasinya belum melalui fase tinjauan sejawat (peer-reviewed). Meskipun demikian, sebuah critical appraisal telah dilakukan oleh akademisi dari Universitas Oxford untuk menguji keabsahan penelitian ini.  Penelitian dan appraisal-nya dapat dibaca pada tautan berikut ini: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7263513/ – https://www.immunology.ox.ac.uk/covid-19/covid-19-immunology-literature-reviews/convergent-antibody-responses-to-sars-cov-2-infection-in-convalescent-individuals
  • Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya, yakni pendahuluan terkait pandemi Covid-19. Artikel tersebut dapat dibaca melalui tautan berikut: https://tatkala.co/2020/06/08/covid-19-sebuah-pandemi-sebuah-cerita-1/.

Tags: covid 19Herd ImmunityNew Normalpandemi
Share68TweetSendShareSend
Previous Post

Nusa Penida, Kecamatan Rasa Kepulauan – Istimewakah?

Next Post

Geger Kampung, Kebiasaan Indekos dan Usaha Bangun Pagi

Rsi Suwardana

Rsi Suwardana

Lulus sebagai dokter umum tahun 2018, memiliki ketertarikan dalam bidang mikrobiologi

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Geger Kampung, Kebiasaan Indekos dan Usaha Bangun Pagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co