24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kritik Sastra “Pribumi”: Teoritisasi atau Cita Rasa?

Raudal Tanjung Banua by Raudal Tanjung Banua
February 11, 2020
in Esai
Kritik Sastra “Pribumi”: Teoritisasi atau Cita Rasa?

DALAM buku Tifa Penjair dan Daerahnja (diterbitkan pertama kali oleh Gunung Agung, 1952), H.B. Jassin menyertakan sebuah tulisan yang membuat pembaca—saya bayangkan, seperti saya—tersenyum, tergelitik. Tulisan tersebut berjudul “Gadis Jang Tjantik” (hal. 72, cetakan kedua, 1953):


Pengarang2 kita jang lama melukiskan gadis jang tjantik seperti berikut:


Badannja ramping sebagai pohon pinang;

Rambutnja sebagai majang terurai;

Mukanya berseri sebagai bulan 14 hari;

Alisnya sebagai bentuk tadji;

Hidungnja mantjung sebagai bunga Melur;

Matanja sebagai bintang Timur;

Telinganja sebagai kerang;

Mulutnya sebagai delima merekah;

Giginja sebagai 2 barisan mutiara;

Dagunja sebagai lebah bergantung;

Djarinja sebagai duri landak;

Pepat kukunja sebagai bulan 3 hari;

Pahanja sebagai paha belalang;

Betisnja sebagai perut padi;

Tumitnya sebagai telur burung….


Alangkah tjantiknya gadis ini, djika dilukis oleh si penggambar….


Maka, di halaman berikutnya, Krisnandjaja mewujudkannya dalam bentuk gambar:

Tulisan yang sebelumnya dimuat Pandji Pustaka, 30 Januari 1943 itu, bisa dijadikan sebagai ilustrasi kecil dunia kritik sastra (di) Indonesia. Ia diturunkan di antara 22 judul tulisan lain yang terbilang “serius”, mulai soal pijakan dasar dan ideologi pengarang, aliran-aliran kesusasteraan, ikhtisar pandangan tentang prosa dan puisi, revolusi atau pembaharuan dalam bentuk dan isi, hingga propaganda, ide, tendens, plagiat dan saduran. Pokok pembicaraan tersebut umumnya merujuk kepada gejala perkembangan kesusasteraan di Barat.

Namun Jassin membicarakan dengan gayanya sendiri, sehingga hampir-hampir tidak terasa bahwa selain mengolah pengalaman-pengalamannya sendiri, ia pun mengambil bandingan dari belahan dunia lain. Dan puncaknya, jika bukan antiklimaks, Jassin menghadirkan “Gadis Jang Tjantik”, sebuah upaya yang terkesan “(ber-)main-main”, namun kena sasaran. Cukup mengutip ulang “estetika” usang tentang perempuan dan kecantikan, kemudian ditambah ide nakal mewujudkannya secara harfiah (verbal) dalam bentuk gambar, maka segala hal terpampang: pengandaian kecantikan ala sastra lisan klasik, yang direproduksi terus-menerus oleh para kreator, utamanya Pujangga Baru, tidak saja streotipe—menyiratkan stagnasi—juga membuat rekonstruksi jumud seputar kecantikan perempuan. Apabila ditarik ke kekinian, boleh jadi ini bersinggungan dengan kritik sastra feminis, sekaligus wacana eksplorasi estetika di sisi lain. Ia juga sedang melakukan “dialog kreatif” dengan teori mimesis Aristotelian.

Sampai di sini saya melihat kecerdasan Jassin mengolah ruang-ruang kritik. Ia membuka diri atas gagasan, wacana dan teoritisasi kesusasteraan modern (yang mengacu ke Eropa), tetapi tidak menutup diri pada kemungkinan “slengek’an” ala Timur atau “Indonesiana”. Saya bayangkan, ia seperti koki yang mengolah berbagai bahan dengan cita rasa yang cocok dengan lidah orang sekitar. Bagi saya ini adalah bentuk “pribumisasi” teori dan wacana sastra yang datang dari mana pun, hal yang mengingatkan kita pada sosok Gus Dur dengan “pribumisasi Islam” (paralel jugakah dengan “Islam Nusantara”? Entah).  

Gejala Dua Kutub

Jika disederhanakan, dalam keseluruhannya, gejala dua kutub kritik sastra Indonesia mulai tampak dalam Tifa Penjair dan Daerahnja ini. Tulisan yang saya sebut “serius” memiliki korelasi dengan kritik sastra akademis. Bukan hanya objek kajiannya yang diperhitungkan, juga sistematika dan struktur penulisannya (betapa pun tidak terlalu baku, jika tak ingin tampil kaku), lengkap dengan bahan rujukan atau referensi (dalam hal ini, Jassin banyak merujuk buku-buku Belanda). Sedangkan yang saya sebut “main-main”—bukan, “bermain-main”!—menemukan kontekstualisasinya dalam kritik sastra non-akademis. Dalam kritik jenis ini, kritikus secara intim dan pribadi mengungkapkan pandangannya terhadap objek kajian, sebuah tema. Hasilnya bisa sangat khas, terlebih secara umum bermediumkan esei atau surat upaya yang memang dianggap lebih bernilai personal.

Sungguh pun demikian, dalam upayanya bersikap “akademis” yang diasumsikan kritis-aplikatif (dari hal-hal teoritis), toh tulisan Jassin terasa sangat apresiatif, suatu pendekatan yang beresiko “subjektif” dalam resepsi sastra. Tapi lewat itulah Jassin memberi penghormatan pada sastra Indonesia yang sedang bertumbuh, dengan sikap akomodatif, seolah hendak ia nyatakan ulang seruan Chairil,” semua harus dicatet, semua dapat tempat.”

Kelak, rintisan Jassin berjejak pada kritik sastra mutakhir, pada sejumlah sosok: Ajip Rosidi, Korrie Layun Rampan, Linus Suryadi, untuk menyebut beberapa nama. Mereka ini dikenal sebagai kritikus “akomodatif”, bukan lantaran mereka berasal dari luar kampus sastra, melainkan terletak pada cara mereka meresepsi sastra. Itulah sebabnya, sosok yang berada di dalam kampus sastra pun, juga terpindai sebagai kritikus “akomodatif” seperti Maman S. Mahayana dan Suminto A. Sayuti.

Apakah ini sesuatu yang buruk? Jelas tidak. Integritas H.B. Jassin dan kebersetiaan sosok-sosok setelahnya meninggalkan hasil tak sedikit. Bahwa di dalam perkembangannya ada kekurangan dan rasa kurang puas, semisal anggapan subjektivitas, itu hal yang wajar. Bukankah sikap “subjektif” pun perlu dalam penilaian? Dan benarkah ada penilaian yang sepenuhnya objektif? Bukankah ada konteks di dalam teks? Karenanya, saya mengapresiasi Suminto ketika mengakui bahwa ia memang menerima semua teks dengan hati terbuka (kata lain dari akomodatif), meski dengan resiko kritiknya dianggap kurang tajam.

Ada pula yang menganggap kritik jenis ini cenderung intuitif, hal yang tentu dengan sendirinya akan tertolak jika non-intuitif dipercaya melekat pada segala sesuatu yang referensial, yang representatif. Kurang apa Maman dan Suminto dengan teori dan rujukan? Kurang apa Rosidi dan Korrie dengan pengalaman dan gagasan? Soalnya mungkin sejauh mana teori, rujukan, pengalaman dan gagasan itu diolah secara khas; bercita rasa. Boleh jadi gerutuan atau rasa kurang puas selama ini terkait soal cita rasa ini: hambar, hambar belaka…

Di sisi lain, ada anggapan bahwa kritikus semacam H.B. Jassin dan turunannya itu, besar bukan semata lewat kerja tekstual, tapi melalui kerja-kerja eksternal (ekstra?). Mereka bekerja sebagai redaktur majalah sastra yang pandangannya bisa cepat tersebar melalui semacam “catatan kebudayaan” atau berdasarkan karya yang diturunkan. Atau mereka bekerja sebagai pengampu sastra di perguruan tinggi yang gagasan mereka mau tidak mau menular kepada para mahasiswa. Sosok ini pun aktif melakukan kerja-kerja ekstra seperti menyunting buku, membuat antologi serta terlibat dalam berbagai peristiwa sastra.

Apabila semua itu benar, maka menurut saya tidak ada yang salah. Peran Jassin sebagai redaktur misalnya, menghasilkan surat-surat sastra bernilai istimewa, buah korespondensinya dengan sastrawan dari berbagai pelosok tanah air. Surat-surat tersebut tentu saja bernilai kritik, bahkan sangat aplikatif—sesuatu yang kini langka. Pertanggungjawaban Jassin atas karya-karya yang dipilih dilakukan dengan cara yang khas tanah air; turun berbaur, jemput bola dan tegur sapa. Begitu pula kehadiran sejumlah antologi monumental seperti Laut Biru Langit Biru Ajip Rosidi, Cerita Pendek Indonesia Mutakhir Satyagraha Hoerip, Tonggak Linus Suryadi, Antologi Cerpenis Perempuan Indonesia Korrie Layun Rampan, berhasil mengisi rumpang dunia literatur kita. Termasuk seri proses kreatif sastrawan Apa dan Bagaimana Saya Mengarang susunan Pamusuk Eneste menghasilkan dereten “kritik dari dalam” yang dilakukan sendiri oleh para pengarang. Peran ganda pengarang di Indonesia—sebagai kreator sekaligus kritikus—bukan hal baru sebagaimana dengan baik diperankan Subagio atau Sapardi Djoko Damono.

 Upaya menyusun antologi utama di negeri ini, pastilah melibatkan banyak pihak, banyak komunitas, dan biasanya swadaya, yang hanya mungkin tercapai dalam suasana guyub. Begitu pun peran ganda pengarang cum kritikus, atau sebaliknya. Tugas itu tentu tidak ringan, namun terbukti bisa ajeg sejak bertahun-tahun lalu, seiring lahirnya karya-karya mereka dari genre yang lain. Tinimbang sebagai beban, tugas itu kemudian dinikmati sebagai kerja kreatif, sehingga bukanlah ujug-ujug ketika Budi Darma mengatakan bahwa kritik sastra itu juga merupakan genre kreatif sebagaimana puisi, drama dan prosa. Kerja guyub dan “rida menerima segala tiba” ini, apakah namanya jika bukan “pribumisasi”?

Citra dan Cita Rasa    

Di kutub lain, lihatlah kritik A. Teeuw yang kadung dianggap berjenis akademik. Padahal dalam Pokok dan Tokoh (Jajasan Pembangunan, 1952), selera “berkisah” Teeuw sangat kental—hal yang tentu berseberangan dengan kritik “sekolahan” yang strukturnya dianggap ketat. Namun cara Teeuw justru sangat komunikatif; struktur penceritaannya mudah diikuti, teoritisasi lebur dalam teks. Kajian tentang periodeisasi sastra modern Indonesia, mulai Pujangga Baru, Balai Pustaka, Seri Cerita Roman dan Angkatan 45, jelas-jelas dominan dari pendekatan ekstrinsik, yakni sosok biografis sastrawannya. Dan bukankah unsur ekstrinsik dalam kritik cenderung dianggap milik kritik non-akademis?

Ini pula yang tampak pada sosok Subagio Sastrowardoyo dan Budi Darma, dua nama yang representatif sebagai contoh. Di dalam khazanah kritik sastra kita, nama kedua orang ini dianggap berwibawa terutama kaitannya dengan keluasan wawasan dan sejumlah teori yang dikuasainya. Citra yang terbangun ialah bahwa kedua orang ini merupakan kritikus “akademis”, terpelajar. Era 80-an sosok Subagio tak ubahnya Jassin. Barangsiapa yang dibicarakan olehnya, akan ada jaminan namanya tergerek. Konon, kemunculan D. Zawawi Imron di tengah belantara sastra kita tak lepas dari kecermatan Subagio membicarakannya. Begitu pula Budi Darma, ulasannya yang bernas disampaikan dengan cara dingin tanpa beban, khas cerpen-cerpennya dalam Orang-orang Bloomington.

Apa yang menarik dari sini? Pertama, citra yang terbangun ternyata tidak paralel dengan pola yang digunakan. Citra boleh saja akademis, namun pola kritik yang digunakan bisa sangat longgar, terbukti kritik-kritik terbaik Subagio dan Budi Darma muncul dalam bentuk surat upaya (esei) yang enak dinikmati, sama enaknya ketika mereka menulis kritik dalam bentuk kertas kerja (makalah). Subagio bahkan menampik penghilangan unsur ekstrinsik pengarang dari ranah kritik sastra. Padahal penghilangan  unsur ekstrinsik itu merupakan konsepsi dasar Kritik Baru (New Criticism) yang berkembang di Amerika Serikat dan kemudian memengaruhi kritikus Aliran Rawamangun yang dikenal sangat akademis.

Kedua, cita rasa mereka dapat dinikmati juga dalam karya-karya pada genre yang lain. Cara ungkap Subagio dalam puisi terasa hadir di dalam esei dan cerpennya; antara cerpen dan esei Budi Darma memiliki semacam benang merah (soliloqui?), jika bukan gagasan, ya, cara ungkap yang identik (kembar-siam?). Dengan memadukan semua kekuatan dalam beberapa genre, muncul juga pandangan minor tentang skala prioritas, sebagaimana anggapan pembesaran peran kritikus lewat kerja-kerja ekstra-ekstrinsik di atas. Akan tetapi hal itu ternyata berjalan dengan baik, sehingga kedudukan mereka dalam dua atau lebih genre dapat diterima, meski skala prioritas akhirnya ikut menentukan. Potensi menulis cerpen pada diri Subagio misalnya, menyusut, seiring membesarnya peran dia sebagai penyair dan kritikus.

Budi Darma, sebagaimana Teeuw, memang berlatar pendidikan sastra. Oleh karena itu ulasan mereka sarat dengan kode-kode dan teori (di tangan Umar Junus kode-kode itu lebih “rumit” lagi). Apa yang membuat sosok ini terhubung dengan cita rasa “pribumi” menurut saya nilai komunikasinya. Meskipun banyak nama, literatur dan teori yang diusung, tapi itu bukan tujuan, melainkan gagasan di sebaliknya. Kutipan hanyalah pendukung gagasan bernas mereka (dalam esei Budi Darma ia hanya “berkelabat lewat”). Selebihnya, bahan-bahan itu dipresentasikan lewat bahasa dan gaya mereka sendiri. Teeuw yang cenderung formal-struktural, Budi Darma “jungkir-balik”, Junus “bau mitos”. Tidak soal. Satu hal: mereka komunikatif.

Lebih kurang ini pula yang berhasil dilakukan Subagio, meskipun ia bukan dari kalangan berpendidikan formal sastra. Memang, sebagaimana dalam kritik non-akademis, citra kritikus akademis juga bisa lekat pada sosok di luar spesialis ilmu sastra. Selain Subagio, kita punya Ignas Kleden yang berlatar sosiologi, atau fenomena Afrizal Malna yang menulis kritik-kritik eksprimental di koran-koran. Mereka—tentu banyak mereka yang lain— membangun gaya dan bahasanya sendiri dalam cita rasa Timur yang dekat, akrab.

Sikap Ilmiah Terhadap Sastra

Jadi jelas bahwa proses pribumisasi kritik sastra itu ada dan terus berlangsung. Kita juga bisa menilik dari persfektif dan isu-isu yang diangkat, terasa sangat khas Indonesia. Sebut saja soal relegiusitas, perkara identitas, lokalitas-globalitas, kritik sosial hingga proses kreatif penciptaan. Tentu saja isu-isu tersebut populer juga di belahan bumi lain, namun dalam konteks Indonesia ada khazanah tempatan yang melingkupi. Sastra dan relegiusitas, misalnya. Mangunwijaya menganggap relegiusitas terkait dengan sikap sosial; Abdul Hadi W.M. menghubungkan dengan sufisme dan tasauf Wujudiyah; Kuntiwijoyo memaklumatkan sastra profetik; Emha Ainun Nadjib melihat ketuhanan dalam universitalitas sastra Islami.

Begitu pun soal identitas dan lokalitas terasa sangat khas ketika Subagio memotret penyair Indonesia sebagai manusia perbatasan; Goenawan menganalogkan pergulatan penyair sebagai si Malin Kundang; Abdul Hadi menyeru kembali ke akar, kembali ke sumber; Faruk menelisik sosiologi dan ideologi sastra dari teks-teks sastra lawasan, Ariel Haryanto, dkk menggelorakan sastra dan tanggung jawab sosial dalam wacana sastra kontekstual.

Muncul pula wacana eksprimentasi, eksplorasi estetik dan warna lokal, dalam ulasan di koran-koran (seiring tumbuh-kembangnya sastra koran). Agus Noor, Seno Gumira, Beni Setia, Adi Wicaksono hingga generasi Binhad Nurrohmat, Damhuri Muhamad, Aninditya S. Thayf muncul dengan esei sastra di koran-koran minggu. Betapa pun sebagian pihak menyebut itu bukan kritik sastra, namun nyatanya kehadiran esei semacam itu mengisi kekosongan kritik mutakhir kita. Jika merujuk Subagio, jenis esei sastra di koran tersebut sahih disebut kritik, sebagaimana resensi buku, komentar sastra, pengalaman pribadi pengarang dan sebagainya (1989: 38).

Diakui atau tidak, ulasan di koran-koran bisa menjadi pendorong kepengarangan seseorang; ia menciptakan mood ketika dibaca ulang di balik tumpukan koran bekas atau kliping tua. Ia mengisi celah kekosongan kritik yang belum menemukan bahasa yang padan di lingkungan ilmiah. Misalnya saja dalam isu warna lokal, yang rujukannya ke Barat sukar jika bukan mustahil. Hanya saja itu mungkin bukan kritik yang “ideal”, apalagi saat kita menghadapkan wajah ke institusi studi sastra: Fakultas Sastra.

Sejauh mana Fakultas Sastra menjadi agen pribumisasi kritik sastra? Atau pertanyaan lain: bisakah Fakultas Sastra melahirkan teori sastra sendiri?

Melihat kinerja Fakultas Sastra yang terseok-seok, pertanyaan itu mungkin belum kelewat urgen. Yang mendesak ialah merenungkan harapan Subagio: sikap ilmiah terhadap sastra. Sudahkah Fakultas Sastra memiliki sikap ilmiah terhadap sastra?

Pembuktiannya bisa dengan cara sederhana. Tengoklah koleksi perpustakaan, kertas kerja para dosen, skripsi/tesis/disertasi mahasiswanya. Adakah penghargaan, standar layak, rasa keingintahuan yang besar serta menampilkan kebaruan? Jika belum, berarti masih jauh panggang dari api.

Terkait penciptaan teori sastra sendiri bukan perkara gampang, meski bukan tak mungkin. Subagio telah memberi ancangan cukup komprehensif terkait kemungkinan itu (lihat, “Mencari Jejak Teori Sastra Sendiri”, 1989: 53). Secara tersirat ia akui bahwa teori sendiri itu belum ada, kecuali baru berupa pernyataan afirmatif, tapi saya mencatat beberapa contoh mengarah ke sana. Istilah “sampakan” yang pernah digunakan Kirdjomuljo untuk naskah dan pentas Teater Gandrik, misalnya, saya kira lebih familiar bagi publik, tinimbang membahasakannya dalam teori Brechtian. Begitu pula “teori” pasemon Goenawan. Sejumlah istilah “bebas” Afrizal seperti “arsitektur teks”, “oto-puisi”, “anatomi cerpen” dan seterusnya, ternyata bisa menggambarkan kompleksitas teks dan kepengarangan mutakhir kita. Begitu juga istilah “fakta-fiksi” Seno dan Agus Noor, sama khasnya dengan fenomena sastra koran.

Tentu ada juga istilah pasaran, seperti “sastrawangi” yang kemudian berpretensi atau direpresentasikan sebagai varian kritik sastra feminis. Ada pula gejala praktis seperti istilah short-story (cerita pendek) hendak diganti dengan istilah “prosa(is)” sebagaimana dilakukan Agus Noor atau “petilan dari karya yang lebih luas” Nirwan Dewanto. Padahal, istilah cerita pendek itu sudah baku, lengkap dengan konvensi yang teruji waktu. Upaya merombaknya hanya mungkin dilakukan dengan proses yang juga teruji.

Istilah “kritik sastra pribumi” pun, tanpa mengabaikan potensi dan kemungkinannya, menurut saya cenderung problematis. Misalnya saja jika kita melihat hasil kerja para Indonesianis. Ulasan, kertas kerja, disertasi dan penelitian yang mereka lakukan justru terasa sangat “pribumi” tinimbang yang dilakukan orang Indonesia sendiri. Ini juga akan bermasalah dengan sinonim bawaan, “pribumi dan non-pri”. Saya kok lebih nyaman dengan ungkapan “pribumisasi kritik sastra”. Selain toh kita belum memiliki teori sastra sendiri, juga menyiratkan proses dan pergulatan cita rasa.     

Intinya, memang tidak mudah memiliki teori sastra sendiri. Sebagai gambaran, Soedjatmoko, yang dianggap intelektual besar Indonesia tidak pernah mencipta teori—sebagian menganggap itu kekurangannya. Sungguh pun begitu, pikirannya bisa sampai dan diapresiasi berbagai kalangan. Oleh karena itu, kita tak perlu memaksakan diri mencipta teori sastra sendiri (untuk menjadi tuan di rumah sendiri?). Setidaknya, sembari menunggu, nikmati saja dulu kritik sastra (bercita rasa) pribumi…

Tags: kritikkritik sastrasastra
Share177TweetSendShareSend
Previous Post

Kampus Merdeka Untuk Desa

Next Post

Tentang Capung – Pendidikan Ekologi dari Dinding Kulidan Kitchen and Space

Raudal Tanjung Banua

Raudal Tanjung Banua

Lahir di Sumatera Barat, pernah merantau ke Bali dan kini tinggal di Yogyakarta. Menulis cerpen dan puisi sembari mengelola Komunitas Rumah Lebah, Penerbit Akar Indonesia, dan Jurnal Cerpen Indonesia.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Tentang Capung – Pendidikan Ekologi dari Dinding Kulidan Kitchen and Space

Tentang Capung - Pendidikan Ekologi dari Dinding Kulidan Kitchen and Space

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co